
*Pembaca diharap bijak ya*
"Apa kamu suka?" Mark masih berada di ruang kuliah meski usai mata kuliah yang ia ajarkan. Ia terlihat asyik menatap ponsel sambil tersenyum.
Dari kejauhan. Rachel dan teman-temannya memperhatikan gelagat dosen idola mereka.
"Aku baru melihat Profesor Mark seperti itu, Rachel."
"Ya, sama. Aku juga." Semenjak menikah, Rachel agak kesal. Dulu, mereka lumayan dekat dan sering ngobrol. Apalagi, klub olahraga yang Rachel ikuti dibawah Mark.
"Apa kalian belum tahu? Profesor sudah menikah diam-diam."
"Kamu tahu ini, Rachel?"
Rachel tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Kesal sekali jika mengingat wanita yang merebut dosen kesukaannya.
Mark masih tersenyum licik setelah mendengar umpatan hati sang istri.
"Kamu mengumpat ya?''
"Permisi, Prof. Anda salah kirim kayaknya." Nuri menanggapinya dengan santai.
"Itu pas untuk kamu. Aku mau pergi ke seminar dulu. Bye."
Setelah mengakhiri panggilan singkat, Mark bergegas menuju ke ruang seminar. Ia harus menghadiri seminar antar jurusan.
Seminar yang diisi oleh salah satu pengembang aplikasi terkenal di dunia sangat diminati. Dulu, Mark pernah magang di perusahaan pembuat software. Tidak terlalu lama, tapi ia banyak menemukan koneksi dalam industri.
"Senior, terima kasih. Materinya sangat bagus." Mark menghampiri seniornya.
"Wah, aku jadi terharu nih. Bagaimana kalau kita minum kopi?"
Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima ajakan seniornya. Mereka hanya minum kopi di kedai kopi kampus.
"Lihat, kamu sudah memakai cincin nikah. Tapi tidak mengundangku?''
"Ah, ini. Sebenarnya ini mendadak, Senior. Istriku sangat sibuk sekarang, lain kali aku akan mengenalkanmu."
"Oh, Mark. Apa menjadi dosen merupakan impianmu sejak kecil?"
Pertanyaan yang menjebak. Mark sendiri masih merasa kurang, ia belum bisa menjadi guru yang baik. Tapi, jika mengingat masa lalu. Mungkin menjadi dosen adalah pilihan yang tepat.
"Aku suka belajar, aku juga suka mengajar. Dulu, saat SMA bahkan menjadi guru les untuk anak SMP."
Cerita perjuangan yang menguras tenaga saat itu. Setelah kematian orang tua kandungnya, Mark sebatang kara. Anak kecil yang menatap sendu usai pemakaman orang tua.
"Mark, ayo ikut Kakek." Saat itu, Kakek Taylor menggenggam tangan Mark.
Kakek Taylor bukanlah orang kaya, dia hanya mengelola sebuah restoran kecil makanan khas Asia. Pendapatannya tidak menentu.
"Mark, maaf, uang Kakekmu tidak cukup untuk membayar biaya les." Dengan wajah penuh penyesalan, Kakek Taylor hanya membawa buku-buku pelajaran bekas yang ia dapatkan dari tetangga. "Mungkin, kamu cuma butuh buku-buku ini saja."
"Tidak masalah, Kek." Mark menerima buku-buku besar yang seharusnya belum ia baca saat itu. "Ini buku mahasiswa."
Semenjak hari itu, ia bertekad untuk belajar lebih giat dan mendapatkan beasiswa hingga jenjang S2.
"Selamat Kakek, Mark mendapatkan beasiswa penuh untuk masuk SMA."
Kakek Taylor menangis, bagaimana bisa Mark begitu mandiri. "Kamu tidak mau membebani Kakekmu ini ya?"
"Tidak juga, Kek. Sekolah ini adalah sekolah terbaik di negara ini yang menawarkan beasiswa. Aku dengar banyak juga orang Asia yang bersekolah di tempat ini."
Remaja lain mungkin sedang menikmati masa cinta monyet, Mark lebih menyukai belajar dan juga membantu sang kakek di restoran.
"Selamat ya, Mark." Ucapan dari tetangga ruko, dia adalah Bibi Ami, pemilik toko roti.
"Terima kasih, Bibi Ami."
Sambil membaca buku pelajaran, ia juga menjaga kasir restoran. Sesekali, ia berdiri dan melakukaj peregangan.
"Apa dia cucu Anda?"
"Tentu."
"Beruntungnya, Kakek Taylor. Memiliki cucu yang sangat tampan dan rajin."
Pukul lima pagi, mereka akan pergi ke pasar untuk membeli keperluan restoran, memastikan bahan-bahan segar.
"Pagi, Paman Alex." Mark menyapa pemilik toko di pasar.
"Hei, Mark, Kakek Taylor."
"Hei, Mark!''
Ia sudah dikenal oleh semua penjual sayuran di pasar. Mark yang sopan dan tampan.
Mark mendapatkan email dari ibu mertua, tepatnya Ny. Estella. Masih seputar Barens Property.
__ADS_1
"Ah, ini sangat melelahkan." Mark masih meninjau beberapa aspek, ia mengamati ada sesuatu yang ganjil.
Ia membaca kembali beberapa dokumen yang Ny. Estella juga kirimkan.
"Aku harus minum kopi," Mark menyalakan mesin kopi, ia menyeduh kopi hitam pahit agar matanya tetap terjaga.
Ia memutuskan untuk duduk dekat jendela kamar. Kamar yang begitu luas dan mewah.
"Berasa kaya bujangan."
Nuri sudah menjelaskan mengenai foto pernikahannya di masa lalu. "Aku tidak memasangnya di rumah ini."
Bagi Mark, tidak masalah. Tapi, melihat foto pernikahannya sendiri merasa bahagia.
"Cantik banget," Mark mengusap wajah sang istri meski dalam pigura.
Di satu sisi, ia juga memikirkan perkataan Lisa. Setelah pertemua kemarin, Mark merasa bersalah karena begitu cepat menikah. Lisa adalah cinta pertamanya.
"Kamu bisa mencintainya Mark secepat itu? Apa kamu yakin itu cinta?"
"Apa kalian sudah pernah melakukannya? Belum kan? Kamu belum bisa melupakanku, Mark."
Sudah beberapa minggu Nuri pergi untuk melakukan perjalanan bisnis JJ. Dia tetaplah seorang pria normal. Tentu, sangat merindukan istrinya apalagi di malam hari.
"Apa tadi kamu meneleponku di jam kerja?" Vin, sang sahabat baik baru saja pulang bekerja. Zona waktu mereka terpaut lumayan lama.
"Vin, seminggu yang lalu dia menemuiku dan memintaku untuk kembali bersama."
"Lisa benar-benar gila semenjak mengetahui kamu menikah, Mark! Jangan kembali, kamu harus tunjukan kalau kamu bahagia dengan pilihanmu saat ini, Nuri Barens."
"Istriku sudah lama pergi. Aku merasa seperti bujangan."
"Aku pikir bisnis perusahaannya sangat keren ya?"
"Keren?" Mark tersenyum sengit
Dua hari lagi akan diadakan perkemahan di kampus. Dosen muda juga boleh membawa pasangan mereka.
"Tuan, saya permisi." Asisten rumah tangga akan pulang di malam hari.
"Hati-hati di jalan, Bibi."
Mark kembali ke kamar. Hari yang begitu melelahkan, ia tertidur pulas.
__ADS_1
Semilir angin dari jendela yang sedikit terbuka, membangunkannya. Mark membuka matanya perlahan, ada seseorang yang sedang ia rindukan.
"Nuri?"
Mark memakai kaca mata, ia memastikan lagi kalau itu bukanlah fantasi liarnya saja. Mana mungkin itu sang istri. Memakai pakaian yang ia pesan sebulan yang lalu. Sebuah *lingerie* mahal berwarna hitam. Mark sangat menyukai warna hitam.
"*Honey*?"
Mark mendekat, ia melepas kancing kemeja satu persatu sambil memastikan benar itu sang istri. Jika mimpi, ia akan melanjutkannya sampai pagi.
"Mark, aku pikir kamu masih ngantuk?"
Yang ada di pikiran Mark hanyalah satu, istrinya sangat cantik dengan rambut yang terurai, bibir berwarna *peach* dan wangi parfum yang ia selalu rindukan.
"Aku ke kamar mandi dulu."
"Aku tunggu."
Mark bergegas menyikat gigi, mencuci muka dan menyemprot parfum di seluruh tubuhnya. Ketika ia membuka pintu, tidak ada sang istri yang seharusnya duduk menunggu.
"Nuri..."
Mark terlalu berharap, ia lalu memutuskan untuk menenangkan diri dan menatap ke jendela. "*Ah, ini gila. Mulai memikirkan sesuatu yang erotis tentangnya*."
Beberapa menit berlalu, Nuri datang membawakan dua cangkir teh hijau panas.
"Jika ini bukan mimpi... "
"Aku buat teh dulu tadi, maaf ya Mark."
"Untuk apa minta maaf?" Mark merangkul sang istri.
Nuri menekan tombol agar pintu terkunci otomatis.
"*Let's go*!"
Mark mengangkat tubuh sang istri, lalu mencium bibir dan lehernya. "Kamu sangat cantik."
"*Really*?"
Mark tidak bisa lagi menahan.
"Kalau kamu masih malu, aku akan menutup matamu.'' Mark menutupi mata Nuri dengan telapak tangannya.
"\*I love you... "
__ADS_1
Bersambung\*...