
Nuri sampai di Paris Orly Airport. Bersama rekan satu yayasan yang sama.
"Salam kreatif dan ceria!" ucap Pak Bagus lagi. "Pemuda kreatif dan ceria, kita sudah sampai di bandara nih. Tinggal nunggu bus jemputan datang."
"Salam ceria Pak!" jawab Nuri loyo. Ia melihat sekitar, tidak ada jejak Jay. "Kemana si dia?"
"Kita selfie dulu yuk?" Pak Bagus menggiring semua untuk mengabadikan momen indah.
Nuri juga mengambil selfie sendiri. Ia akan mengirimkan ke Chacha.
Chisss! Jekrek! Lagi ayo lagi!
Setelah puas selfie, ia pergi ke toilet. "Duh gimana nih.." Nuri panik, ia justru kedatangan tamu bulanan lebih awal. Perutnya juga melitit. "Apa yang harus aku lakukan?" Tidak ada Chacha di dekatnya.
Dengan perut yang sakit, wajah pucat pasi, ia mencoba mencari letak minimarket bandara. "Mau minta tolong tapi gue nggak bisa bahasa Prancis.."
"Ya Tuhan..."
Lalu secercah harapan datang. Ia melihat Jay. "Jay!" ia melambaikan tangan.
Jay sedang bersama seseorang. Ia menyadari kalau Nuri itu sedang meminta tolong karena ia menuliskan di layar hp, "TOLONG!!!"
Jay berjalan menuju arah Nuri. "What's wrong?"
"Anu...aku..." Nuri yang terlihat lesu karena haid, ia berbisik lirih, "Tolong belikan aku pembalut..aku nggak bisa bahasa Prancis..."
"Are you okay?" Jay memapahnnya menuju kafe bandara. "Duduk disini dulu, aku pergi ke minimarket depan." ia berlari secepat pelari pro.
Nuri yang memang sedang tersiksa, ia hanya duduk sambil mengelus perutnya. "Hiks..." ia mencium bau wangi makanan kafe. "Laper..."
Pak Bagus sudah mengirimkan alamat asrama untuk pelatihan, ia membebaskan untuk peserta jalan-jalan sebentar. "Yang penting jam 10 malam kalian harus di asrama ya."
Banyak sekali komentar yang Nuri dapatkan usai memosting foto dirinya di Paris. Beberapa adalah sahabat, saudara dan mantan rekan kerja.
comment:
@chachaqyuet: gaya bener lo mak!🤣🤣🤣
@anandabaktidswr : wah udah sampe juga
@jakasintingggg : wahh si nuri makin glow up di Eropa
@jendralkancil: kaget si mbak sampe di Eropa beneran
@dianiswa: waduhh si adeknya teteh udah sampe di Paris juga
@rakapratamajanuar : wihh ngejar oppa sampe ke Eropa sadissstt
Raka masih bisa membuatnya kesal di awal PMS. "Sialan banget emang Raka." ia meghela nafas, karena semakin kesal semakin juga pegal.
Jay datang setelah 10 menit lebih mencari pembalut wanita. "Aku nggak tahu kamu suka merek apa.."
"Nggak papa..aku mau ke toilet dulu kamu tungguin tas ya, kalau ada telfon angkat aja bilang aku di toilet.."
__ADS_1
Jay yang sedang mengecek isi laptopnya apakah aman merasa risih dengan ponsel Nuri yang terus berdering. "Udah ke empat kalinya deh.." ia mencoba angkat. "Halo?"
"Woyy Ri lo apa-apaan nih kirim foto kece bengini!" Chacha yang penasaran langsung mengubah panggilan ke panggilan video.
Kaget.
"OH MY GOD!!!!" teriak Chacha. "Maaf, Nuri dimana ya?" Chacha kaget, ia lebih seperti melihat seorang Oppa dalam kenyataan.
"Orangnya lagi di toilet."
Chacha menangkap layar alias screenshoot saat Jay menerima panggilan. "Ommo! Apa dia artis?"
Nuri melihat Jay yang sedang memegang ponselnya. Ia langsung berjalan cepat.
"Ri!!!!" suara menggelegar Chacha membuatnya malu. "Sumpah gue kaget pas vc yang ngangkat cogan!"
"Lo kaget Cha? Gue lebih kaget lagi karena lo VC."
"Lo dapat cogan se glowing dan tajir darimana Ri? Apa selama ini lo mempelajarai jurus jurus ajian tertentu?" Chacha tertawa ngakak.
"Gue belajar jadi cantik puas lo Cha! Gue mau otw ke asrama dulu ya, Bye! Saranghae!"
Ia mematikan panggilan video. Merasa sangat malu tapi juga sangat berterima kasih karena Jay menolongnya dua kali. "Thanks ya..Jay."
"Nevermind.." ucap Jay dengan santai.
Sekali lagi ia memperhatikan Jay. Orang yang sangat tenang dan mempesona, berbeda dengan seseorang dari masa lalunya. "Hisss!!!" ia kesal tiap bayangan wajah Raka hadir kembali dalam ingatan.
"Ayo makan sesuatu di Paris."
"Ah nggak usah.."
Mendengar penolakan Nuri meski perutnya terus bunyi membuat Jay sedikit gemas. "Berapa usiamu?"
"Dua puluh enam tahun..kalau kamu?"
"Aku 28 tahun."
Masih ada kesempatan untuk memanggil Oppa. Nuri meringis. Ia membayangkan lagi kalau memanggil Jay dengan sebutan Oppa. "Kiyowo.."
Jay dijemput oleh mobil mewah merekan Eropa. Ia benar-benar seseorang yang elit. Lagi dan lagi, ia marah karena dulu mengenal Raka si pelit terlebih dahulu.
"Ri, lo ada uang nggak?" Raka sering meminta uang dengan jurus andalannya. "Aduh gue ada COD nih tapi duit abis buat dikirim sama bayar air nih.."
"Berapa si?" Nuri adalah tipe wanita yang ringan tangan dan cepat tanggap. "Bilang aja lo mau minta duit apa ngutang?"
"Cuma 300 ribu doang beb, gue ganti besok abis kita gajian oke?" ia tersenyum manis dan sok polos.
"Tapi lo beliin gue nasi padang buruan!"
"Asyiaaaaap bos!" Raka tipe yang melakukan apa saja asal pasangan bahagia.
Tapi masih menjadi misteri kenapa Raka tiba-tiba memutuskan gadis secantik dan seimut Nuri menjelang hari pertunangan.
__ADS_1
"Kayaknya kamu banyak pikiran?" Jay membuka obrolan. Ia memerhatikan Nuri yang melamun semenjak naik mobil.
"Bisa beri aku coklat?" ia cemberut sambil menahan nyeri akibat haid.
Jay menghentikan mobil tiba-tiba. Ia turun untuk mencari toko coklat terdekat.
"Untuk ukuran orang asing dia baik banget si..." Nuri merasa bahagia di atas rasa nyeri.
Sopir ikut tertawa melihat Nuri yang senyum-senyum. Ia tidak paham apa yang Nuri katakan.
Sopir Jay memutar lagu *Dynamite~~
"Dyna...nana..nana..light it up like dynamite*.."
Nuri langsung menangkap sinyal bahwa sopir Jay adalah seorang kpopers. "Hah!! Kaget banget asli woy!"
"*Sir, are u army?"
"Yes, my daughter is army too*."
Sebuah plot twist yang tidak terduga terjadi.
Jay datang dengan membawa banyak coklat. "Pilih yang kamu suka."
"Aduh gimana nih aku suka semua hehehe."
"Sisain juga untuk anak Pak Sopir oke." Jay menepuk bahu Nuri. "Dia juga gadis kecil."
Ia mengantar Nuri sesuai alamat yang Pak Bagus bagikan di grup whatsapp.
"Apa benar ini?" Jay seperti melihat bangunan yang sangat sederhana yang pernah ia lihat semenjak di Paris.
"Iya beneran kok!" Nuri dengan bahagia tetap menyambut ceria asrama yang akan ia tempati.
"Apa kamu yakin?"
"Yakin."
"Dimana teman-temanmu yang lain?" Jay membantu Nuri membawakan koper. "Ini lebih seperti rumah gelandangan deh."
"Apa?''
Nuri juga melihat ke sekitar, ia mencoba untuk realistis. Di yayasan, hanya ia yang mengambil jurusan baker. Ia mulai berasumsi aneh.
"Nuri, sebutkan nama lembaga pelatihan yang kamu ikuti?"
Ia menunjukan surat penerimaan ke Jay.
"Kamu ditipu."
"APA!!!!"
__ADS_1