
"Jay, berisik sekali! Kamu lagi dimana?"
Jay mematikan panggilan video dari Mommy. Meski sudah mengetik pesan untuk minta maaf karena tidak sopan. Jay benar-benar di tengah keramaian.
"Dimana Nuri?"
Ia langsung mencari sosok berbadan mungil dengan rambut hitam, tidak juga nampak. Nuri pergi bersama Bibi Amelia, Jay berpisah di tengah keramaian. Ia tidak menyangka istilah pesta diskon memiliki dampak mengejutkan.
"Ya ampun!" beberapa ibu-ibu semakin kuat berteriak. Lantang sekali.
"Ini sepatu zara dua tahun lalu!"
"Ini juga mantel koleksi lima tahun lalu dari Chanel!"
"Ini benar-benar surga belanja!"
Jay ingin memastikan bahwa barang yang mereka jual asli. Kalau dilihat harga memang tidak wajar.
"Bibi, aku mendapatkan tas gucci!"
"Lihat, Nak. Aku juga mendapatkan panci edisi terbatas!"
Kegilaan yang memang terjadi di akhir pekan. Anehnya banyak pemuda yang juga ikutan belanja, memborong dan bahkan ada yang membawa truk.
"Apa kamu akan menjualnya kembali?"
"Tentu, sudah dua tahun aku menjalankan bisnis ini dan semakin kaya hahaha!"
Jay semakin tidak mengerti. Ada apa dengan mereka semua? Ini seperti mimpi tapi begitu nyata. Ia masih sibuk mencari sang istri.
"Nuri?"
Nuri terlihat sangat antusias, tidak, dia bahkan lupa kalau dompetnya ada di dalam tas bahu Jay.
Jay hanya bisa melihat dari jarak lumayan jauh. Nuri terlihat bahagia, ia sudah tidak gelisah lagi memikirkan hal random. Memang wanita lebih bahagia jika belanja.
"Tolong, ada yang pingsan!"
Jay segera berlari. Ia melihat petugas kesehatan swalayan sudah berjaga sejak tadi. Seorang wanita tua pingsan karena kelelahan belanja.
"Anda baik-baik saja?"
"Aku sangat lelah belanja."
Jay masih bertanya-tanya dalam benak. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dari acara pesta diskon. Beberapa wanita lanjut usia pingsan. Tergeletak karena kelelahan.
"Bukankah ini aneh?" Jay melontarkan pertanyaan kepada seorang pemuda yang sedang berdiri di dekatnya.
"Mungkin kamu belum pernah merasakan puncak dari acara ini kan?"
Merasa semakin tenggelam dalam hal yang tidak benar. Jay mengirim pesan kepada Arthur.
"Bukannya itu surga belanja, Bos?" Arthur yang penasaran langsung menyalakan panggilan video. Ia juga menikmati pemandangan ramai.
"Kelihatannya ini surga belanja. Tapi, aku merasa ini tidak benar. Kamu tahu? Edisi terbatas dari jaket Bugatti dijual sangat murah!"
"Bukannya itu menyenangkan. Coba saja Bos nikmati waktu, istri Anda pasti juga gemar belanja?"
Benar. Nuri sangat menyukai barang-barang yang dijual murah namun memiliki spesifikasi kelas dewa. Jay masih ingat di masa lalu, ia melihat tas Nuri yang seharga secangkir kopi di kedai Saki.
Ah, ingatan yang sangat menganggu.
"Apa ini benar?"
Jay melanjutkan langkahnya. Ia kehilangan Nuri. Tidak ada teriakan seantusias tadi. Beberapa stan juga sudah kosong, tidak ada barang tersisa.
"Apa pria tadi yang membawa truk memborong semua?"
Jay masuk ke tengah pusat swalayan. Ada beberapa stan masakan Asia. Nasi goreng juga ada. Sudah lama sekali, ia tidak makan nasi goreng selain masakan Nuri.
"Ramen?" Jay langsung gembira, ia mencium aroma ramen Jepang yang sangat menggoda.
"Kimchi juga ada?"
"Apa ini yang dinamakan surga kuliner?"
Sambil menunggu sang istri. Jay makan seorang diri, ia membawa dua ponsel. Satu, untuk memantau pekerjaan. Banyak email penting yang harus tetap dibaca di akhir pekan. Banyak juga pengajuan obligasi yang tertunda.
"Perusahaan di Indonesia juga ada yang mengajukan kerja sama."
__ADS_1
Nuri kelabakan. Ia harus membayar di kasir, tapi ia tidak juga menemukan suaminya.
"SOS!"
Nuri hampir menangis, ia sudah lelah karena menghabiskan waktu untuk belanja berlebihan. Sesuatu yang berlebihan memang tidaklah baik bukan?
"Kamu coba telepon suami tampanmu saja!" Bibi Amelia memberikan saran yang tepat.
Bahkan ponsel Nuri berada di dalam tas Jay. Sudah tamat. Ia harus membayar tagihan yang lumayan banyak.
"Maaf, Sayang. Uangku tidak bisa untuk membayar semua belanjamu."
Akhirnya, Nuri membawa dua troli besar dan menunda untuk pergi ke kasir. Ia juga harus menahan malu mengembalikan beberapa barang yang sudah ia ambil.
"Jadi inget dulu belanja di alpa juga kaya gini gara-gara saldo m-banking menipis."
"Duh lumayan malu ya, wanita muda itu tadi terlihat rakus sekali padahal."
Nuri tidak terlalu rakus padahal, ia hanya gelap mata dengan sesuatu yang dijual lebih murah. Bukankah semua wanita juga demikian?
"Ah, kampret!"
"Masa si?" Nuri juga penasaran, ia mendekat. Ternyata, seseorang yang ia kenal. Jay Jang Clarkson.
"Hah? Konyol sekali melihat suami sendiri makan dengan tenang di saat sang istri menahan malu."
"Wah, apa dia pangeran?"
"Apa dia idol Korea blasteran surga?''
"Lihat ponselnya berwarna ungu manis sekali ya?"
"Lihat outfit dia sangat menawan bukan?"
Nuri seperti jatuh cinta lagi. Seolah angin berhembus ikut merayakan perasaan bahagia. Jay yang duduk dengan tenang. Ia mengenakan celana berwaran krim coklat dengan atasan biru muda dari rumah mode LV.
"Oh, baiklah. Kamu dimana?" Jay tidak mengetahui Nuri berada tidak jauh darinya. Ia hanya menerima panggilan telepon dari sang istri. Padahal, Nuri meminjam telepon petugas lobi.
"Kamu sudah kenyang?" Nuri datang mengejutkan Jay.
__ADS_1
*Perasaan ini apa ya? Aku merasa seperti jatuh cinta semakin dalam dengan Jay. Apalagi pesonanya di jarak pandang yang jauh. Dia benar-benar menawan*.
"Sayang," Jay menyambut Nuri. Beberapa wanita yang terus menatapnya berangsur pergi.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku ingin nasi goreng juga." Nuri tampak kelelahan, wajahnya berkeringat banyak. Mungkin parfum mahalnya masih semerbak harum.
"Kamu lelah?" Jay menyeka keringat di dahi sang istri, ia mengelapnya dengan tisu. "Kamu pasti mencari dompet dan ponsel?"
"Kamu melepas mantelmu, Jay?"
"Aku rasa itu hilang di dekat area parkir. Hehehe."
Beberapa orang juga terpesona dengan pemandangan manis mereka. Jay memang terlihat dingin terhadap wanita lain, tapi saat bersama Nuri, semuanya menjadi lebih indah. Es batu bahkan mencair di dekat lampu kecil bukan?
"Ayo kita bayar dulu." Nuri menggenggam erat tangan suaminya. Tidak pernah ia menyangka, kalau hidup bersama dengan Jay adalah anugerah.
"Aku akan membawa satu troli." Jay langsung mendorong troli menuju kasir. Ia juga banyak tersenyum karena banyak makan enak. Dan juga, melihat tatapan Nuri. Tatapan yang sama saat mereka dulu saling jatuh cinta di Paris.
Setelah menyelesaikan pembayaran. Jay memutuskan untuk memanggil taksi. Ia tidak rela membuat istrinya membawa banyak belanjaan.
"Lega... " Nuri menyender di bahu Jay. Ia tidak menyangka menghabiskan akhir pekan dengan belanja.
"Bibi Amelia?" Jay melihat Bibi Amelia menunggu taksi lain.
"Terima kasih, Jay. Kamu mau menemaniku."
"Hmm."
Nuri terlelap, ia sangat lelah. Sopir taksi terus memuji cara Jay memperlakukan istrinya.
"Kamu sangat mencintainya?"
"Terlihat jelas?" Jay terus menepuk bahu sang istri agar tidurnya pulas.
"Kamu suami yang sangat baik ya?"
Jay hanya tersenyum. Ia juga berharap dapat menjadi ayah yang baik di masa depan.
__ADS_1
*Bersambung*...