Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 85 (S2)


__ADS_3

Jay sudah mempersiapkan mudik dengan sangat baik. Melihat dua hari lalu sang istri yang pucat, sedih dan sempoyongan mendengar kabar kepergian sang kakak.


"Jay, kamu sudah mengabari orang tuaku ya?"


"Tentu. Mereka menyuruhku untuk terus memantau kamu."


Pantas, ketika Nuri menghubungi ibunya, beliau seperti tidak terkejut. Berkat doa yang mereka panjatkan setiap hari. Bahkan di sepertiga malam, mereka tetap meminta dengan tahu diri agar putrinya kembali membuka mata.


Di hari yang sangat berduka setelah kehilang putra sulungnya. Ayah dan Ibu Nuri tidak pernah putus untuk berharap bahwa keajaiban pasti ada untuk sang putri.


"Apa yang mereka lakukan?" Jay bertanya kepada Om Toto saat itu.


"Solat tahajud tepat di sepertiga malam. Wakty terbaik untuk berdoa. Aku ikut prihatin, Jay." Om Toto menatap dari dekat saudaranya dengan sangat sabar mengahadapi kenyataan hidup. Kehilangan Nanda, putra sulung kesayangan dan juga Cyntia, menantu cantik yang sangat baik.


"Benarkah itu waktu terbaik?"


"Tentu, Jay."


Jay mempraktikan sendiri setelah bertanya juga kepada Raka.


"Aku harap setelah ini, Nuri akan bangun lagi."


"Tentu, Jay. Semua orang juga ikut berdoa untuk Nuri."


Saat kembali dari Indonesia, Jay rutin bangun di waktu sepertiga malam. Mereka bilang Tuhan pasti mengabulkan doa hamba-Nya.


"Aku hanya ingin melihatnya bangun, lebih bahagia dan terus bersama hingga kami menua." Jay mengelap wajah sang istri dengan hati-hati. Sudah lebih dari setahun.


Begitu melihat sang istri yang kembali seperti sedia kala meski banyak menangis karena kehilangan saudara kesayangannya.


"Nggak akan ada yang merubah perasaanku untukmu, Jay."


"I know it, Bae. I love you so much, Bae."


Nuri tidak akan lagi memikirkan mimpi buruk itu. Yang harus ia hadapi hanyalah kenyataan. Bagaimana menata hidup lebih baik. Mungkin hati orang tuanya lebih berduka, karena kehilangan anak sulung lebih berat dari kehilangan sebongkah berlian.


Yang ia harus lakukan adalah lebih berbakti kepada sang suami. Jay telah melewati banyak kesulitan, membayangkannya saja Nuri tidak tega.


"Jay... "


Dia memang pusat perhatian. Orang-orang di bandara banyak yang menatap ke arah Jay. Mungkin mereka juga terkejut melihat istri pria tampan itu sangat biasa. Perasaan cemas yang selalu sama seperti dulu. Tapi, Nuri adalah pemenang di hati Jay.


"Bae?'' Jay menyadari kalau sang istri sedikit melamun. "Apa si yang kamu lamunkan?"


"Kenapa si kamu selalu jadi pusat perhatian sejak dulu? Apa pakaian kamu yang mencolok ya?"


Jay tertawa, dia tidak memakai sesuatu yang berlebihan. Hanya mengenakan kaos berwarna cream, celana jeans dan sneaker**s. Gaya berpakaian sederhana ala Jay.


"Apa kamu selebriti?"


Jay tersenyum, dua orang gadis muda yang penasaran mengiranya selebriti. "Bukan."


"Kamu sangat tampan dan keren."


"Benarkah? Istriku juga keren bukan?" Jay merangkul Nuri untuk perlindungan diri.


"Kalian pasangan visual."

__ADS_1


Nuri tertawa geli, tapi ia juga dulu berpikiran sama. Jay yang ia nikahi memanglah bukan orang sembarangan.


"Sebentar, Bae.'' Jay teringat sesuatu. Ia belum lama ini membaca email dari salah satu desainer terkenal mengenai toko di bandara yang menjual karya edisi terbatas untuk pasangan.


Nuri melihat sekeliling, banyak toko brand mewah. Mata Jay sudah fokus menuju satu toko. "Kamu mau beli apa?"


"Wait, Bae."


Jay berlari, ia harus mendapatkan item incarannya sejak bulan lalu. Nuri juga sangat patuh, tidak akan mengeluh.


Setengah jam berlalu. Nuri masih menunggu sang suami sambil membaca mangatoon. Ia sudah melewatkan banyak episode. Tidak, bahkan ratusan episode komik kesukaan.


"Loh mereka kok udah punya anak aja si?"


"Anaknya kembar duhh ucul banget..."


Sambil membuang waktu menunggu sang suami yang belanja barang mewah, Nuri sampai memasang banyak ekspresi bahagia. Tokoh komik favoritnya sudah mempunyai anak kembar yang menggemaskan.


Nuri akhirnya berjalan menuju depan toko. Jay sudah melambaikan tangan.


"Lihat, pria itu jajannnya lebih mahal daripada mobil biemweh."


Kehadiran Jay di toko menjadi perbincangan banyak pengunjung wanita. Pria yang mencuri perhatian karena menggunakan black card.


"Wahh, beli juga buat pacarnya ya?"


"Buat istriku."


Jay tidak ingin lagi menanggapi wanita lain yang terus bertanya padahal tidak saling kenal. Jadi ia memanggil sang istri untuk menjemputnya sekalian membawakan belanjaan.


"Okay*!"


Nuri juga paham dengan keadaan. Jay tidak nyaman dengan banyak perhatian dari wanita asing.


"Kamu belanja banyak banget?"


"Kita langsung pakai ini nanti."


"Ahaha, senengnya punya suami super kaya." Nuri meledek.


"Nuri ya?"


Nuri langsung menoleh, ia mengenal wanita yang juga berada di toko yang sama. "Firda? Lo juga belanja sampe Swiss?"


"Aha, nggak woy! Gue abis liburan sama adik ipar gue, Ri. Lo nggak papa? Gue denger lo kecelekaan parah?" Firda tidak sengaja mendengar pegawai kafe glowing yang membicarakan kecelakaan Nuri.


"Alhamdulillah gue baik-baik aja, Da."


Firda memperhatikan secara detail, Nuri memang sudah berubah banyak. Jika di masa lalu ia hanya mengenakan tas murahan, sekarang sudah mengenal tas mahal dari Paris. Tak luput dari pandangan, suami Nuri yang sangat elegan. Mengenakan kaos LV berwarna cream.


"Suami lo modis banget, Ri. Apa dia juga dapat endorse kaya si Johan, suaminya Chacha?"


Nuri tertawa sengit. "Mana mungkin mereka sama. Jay berbeda dari Johan."


"Oh iya, Ri. Lo udah tahu belum pelakor yang ngerebut suaminya Chacha?"


Jujur, ia penasaran. Tapi lebih baik tidak mendengar dari Firda.

__ADS_1


"Oh, I'm so sorry." Jay menarik tangan sang istri, pesawat mereka sebentar lagi akan berangkat. Jay juga paham dengan pembicaraan mereka. "Ayo, Bae."


"Hmm, ayo. Gue duluan, Da. Sampe jumpa."




Chacha sudah menerima dua pesan dari Nuri. Mereka dalam perjalanan menuju Indonesia. Beruntungnya memiliki sahabat seperti Nuri Diswari.



Jika mengingat di masa lalu, memang hanya Nuri yang selalu mengertinya. Memahami.



"Memang aku lah yang tidak menarik lagi di mata Johan kan, Ka?" Chacha sedang duduk santai di ruangan kerja Raka. Ada juga Asty dan Bagas yang ikut menemani obrolan.



"Kalau dibilang nggak menarik lagi itu salah, Cha. Gue pikir Johan aja kadang yang belum dewasa."



Candra juga merasakan sakit, bagaimanapun Chacha adalah kembarannya. "Johan mulai berubah."



Chacha menghela nafas sambil menatap langit sore yang cemerlang. Tidak seperti biasanya, hari dengan langit indah membuat suasan hati membaik. Meski ditinggalkan tanpa alasan oleh Johan.



"Gue mau nungguin Nuri." Chacha ijin untuk meninggalkan ruang kerja.



Raka pernah menemui Johan secara pribadi. Asty juga menyadari ada sesuatu yang janggal dengan Johan.



"Mas, kayaknya ada yang aneh deh. Masa kemarin aku nggak sengaja liat postingan instagram Mas Johan dia ada foto selfie mesra gitu sama cewek."



Raka tidak tahu jalan pikiran sang sahabat. "Mungkin nggak si dia kepelet?"



"Yaelah jaman sekarang masih main kayak gitu? Apa banget si?!"



Menyadari kalau di masa lalu, Raka pernah datang ke rumah Mbah Sosro. Malu.



*Bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2