Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 32


__ADS_3

Nanda meregangkan otot lengannya. Ternyata perjalanan bisnis memang bekerja di luar kantor dengan latar berbeda.


"Duh, capeknya."


Tatapan matanya memang tajam ketika fokus, tapi Nanda juga sangat imut ketika menguap karena ngantuk berat.


"Huamm...."


Semakin dewasa seorang pria lebih membutuhkan kenyamanan daripada bertahan dengan hati terpaksa.


"Jadi inget seseorang," gumamnya.


Dulu, ada seseorang yang menemani hidupnya. Mantan kekasih di masa lalu saat menempuh pendidikan magister di Australia. Gadis cantik yang mengejarnya terlebih dulu. Lucu. Nanda dulu terkenal acuh.


"Kenapa kamu mengejarku?"


Gadis beruntung itu bernama Alicia. Selain cantik, hidungnya tinggi dan memiliki lesung pipi yang menjadi idaman kaum hawa. Rambutnya panjang berwarna merah plum.


"Memang suka seseorang harus pakai alasan tertentu?" Alicia hanya tertawa ketika ketahuan.


"Harus jelas asal sukanya," ucap Nanda.


"Aku juga nggak tau kenapa. Tapi, saat melihatmu berjalan, membaca buku dan duduk diam semua menarik. Apa aku penguntit?"


Kamu sangat jelas.


"Aku yakin banyak juga yang menyukaimu." Nanda saat itu lumayan terkenal karena wajahnya mirip aktor terkenal Korea, Park Seo Joon. "Kamu mirip banget Park Seojun!"


Nuri dan Chacha juga sering mengatakan hal yang sama. Nggak aneh, cuma rada malu aja kalau cewek secantik dia bilangnya blak-blakan.


"Oh, jadi kamu suka karena aku mirip dia?" Nanda memasang ekspresi tegas. "Nggak tulus!"


Semenjak hari pertama mengobrol, hari-hari berlalu dengan cepat. Mereka memutuskan menjalin hubungan. Alicia adalah kekasih kedua Nanda. Semenjak lulus SMA, Nanda sudah sibuk memikirkan karir. Hidup tanpa cinta kekasih bukan masalah. Masih ada keluarga, cinta mereka lebih solid.


"Kamu kok dulu bekerja di Korea saat usia masih muda?" Alicia penasaran.


"Semua gara-gara Toto!" Nanda sangat marah jika ingat apa yang sudah pamannya lakukan. Meninggalkan hutang banyak atas nama ayahnya. "Dia kabur ke Eropa, kalau nanti ketemu aku akan buat perhitungan."


Alicia memeluk Nanda. "Sudahlah, Sayang. Kamu hebat banget berjuang untuk membantu keluarga."


Pertama kalinya, orang lain memuji perjuangannya. "Terima kasih... aku pasti terlihat memalukan sekarang kan?"


Alicia mengeluarkan sapu tangan mahal miliknya. Ia menghapus air mata kekasihnya. "Puk... puk...."


"Aku percaya kamu adalah lelaki baik yang sangat mencintai keluarga."


"Aku juga mencintaimu."


Memori tentang kekasih hati selalu menjadi hal yang paling indah. Berpisah karena maut jauh lebih baik. Meski tidak ada yang baik dari sebuah perpisahan.


Nanda akan membaik dengan sendiri. Setelah cukup tidur, ia mulai meninjau kembali laporan. Ada yang menganggu pikiran, tempat kerja Jay termasuk salah satu hotel termahal di Paris.


"Kayaknya lagi banyak pikiran deh, kenapa Nda?" Cyntia juga sedang meninjau laporan, tapi fokusnya justru terhadap pria tampan yang sedang bengong.


"Hotel tempat Jay kerja ini mahal banget tarif permalamnya."


"Kamu juga harus tahu, susah lo masuk sana." Cyntia hanya pernah membaca postingan anonim di forum kerja.


Nanda juga mengamati penampilan kekasih adiknya. Dia pasti bukan orang biasa. Jelas sekali, mana ada orang biasa yang memakai pakaian, sepatu dan kaca mata mahal.


"Kamu mau tau nggak, Nda? Kemarin saat pacar adikmu datang. Harga outfit dia hampir 4 milyar rupiah." Cyntia juga tidak menduga, tapi itu memang fakta. Dia juga seorang fashion holic.


Nanda semakin berpikir, apa Jay serius dengan Nuri? Awas saja sampai melukai adiknya atau kejadian seperti Raka terulang. Dia akan maju sebagai pedang untuk melampiaskan amarah. Tidak ada kakak yang baik-baik saja ketika adik perempuannya menangis karena lelaki.


Mereka yang lumayan kepo, akhirnya membuka instagram Jay. Tidak banyak postingan. Hanya ada inisial "N" di bio, dan yang lebih mengejutkan lagi. Jay banyak ditandai oleh rumah mode terkenal dunia. Merek jam tangan mahal asal Paris juga ikut menandai.


"Gilaaa, ini mah the real sultan fix!"

__ADS_1




Kondangan.



Nuri dan Jay tiba tepat waktu. Acara sudah berlangsung dengan santai, tidak banyak tamu yang datang. Berbeda sekali dengan kondangan Nuri saat di Indonesia.



"Jay!" Chef Eric dan Paul berjalan menghampiri.



Nuri mengecek ponsel. Chacha tidak datang karena mengantuk. Tapi, kenapa Raka dan Candra yang justru datang?



"Hei, ngapain lo?" Nuri mencubit tangan Candra.



Raka tertegun melihat betapa cantik Nuri saat memakai make up. Sangat cantik. "Nuri?"



"Kondangan di Paris rasanya beda." Candra mulai menikmati acara, meski awalnya mengantuk.



"Ri, lo dandan ya? Cantik banget sumpah!" Raka tidak dapat menutupi ekspresi bahagia. Sungguh indah melihatnya dari dekat.



Jay sedang mengobrol dengan Chef Eric, Paul dan karyawan toko lainnya. Nuri memutuskan untuk duduk bergabung dengan Raka dan Candra.




"Nggak terlalu paham bahasa Prancis gue si, tapi intinya mereka nggak gibah."



Raka melirik ke arah Jay. Mereka memang rival, tapi Raka sedikit mengakui gaya Jay. Berkelas dan memiliki selera *fashion* tinggi.



"Ri, maaf gue mau tanya, eh tolong tanyain. Cowok lo beli bajunya di online shop mana? Ada promo free ongkir nggak ya?"



Nuri dan Candra saling tatap. Kagum dengan pertanyaan inovatif dari seorang Raka Januar.



"Wow! Lo masih tetep doyan promo gratis ongkir? Lo pikir syopi ada di mari, Bro?" Candra tertawa ringan. Raka memanglah seorang yang gila belanja online.



"Yang jelas, online shop dia sama kita kaum jelata beda." Nuri menunduk, memang benar sekelas Jay tidak akan membeli barang murah meriah. Tidak seperti dirinya dan jutaan penduduk Indonesia lainnya. "Kami cinta promo gratis ongkir dan potongan harga."



"Jay mana mau pakai baju kaya kita ya yang murah meriah? Hahaha." Raka tidak bisa membayangkan jika Jay memakai pakaian muraj seharga lima puluh ribu atau 3 dolar lebih.

__ADS_1



Setelah menunggu lumayan lama. Nuri bisa menemui Susan dan Andre. Hadiah untuk Susan sudah Jay kirim sejak dua hari lalu.



"Terima kasih, hadiahnya keren.''



"Terima kasih juga karena Jay mau datang."



Nuri sangat beruntung. Seperti mendapat jackpot, tapi ia malah mendapatkan seorang Jay Jang Clarkson.



Saat mereka berdiri di tempat yang berbeda meski dalam satu acara yang sama. Ada perasaan aneh yang Nuri mulai rasakan. Jarak.



"*Salut, Jay*!"



"*Bonjour*."



Dari jarak beberapa meter saja, Nuri sudah mulai merasakan betapa karismatik seorang Jay Jang Clarkson. "Rasanya kaya nggak mungkin, tapi apa beneran ini yang namanya karismatik?"



"Hei," Jay tiba-tiba datang dan membangunkan lamunan Nuri.



"Kamu tadi minum *wine*?"



"Nggak. Aku kan nggak bawa sopir, jadi cuma minum jus stroberi di pojok sana." Jay menunjuk ke arah meja jamuan makan. Tingkahnya sangat imut. Tidak seperti pria berusia 28 tahun lebih.



Ada jejak jus stroberi di dekat bibir Jay. Warnanya sama merah senada dengan bibirnya. Nuri menghapus jejak jus dengan tisu makan. "Kaya anak kecil deh."



Raka melihatnya dari jarak dekat. Cemburu memang menyebalkan. Tapi, ada seorang perempuan dengan tatapan tajam yang juga melihat ke arah Jay.



"Dia bukan mantan Jay yang waktu itu kan? Kok kelihatan serem si pas ngeliatnya?"



"Beda, mantan Jay kan yang mirip personil blekping. Ni cewek yang natep wajahnya si cantik tapi tatapannya serem!" Candra juga merasakan hal serupa. Raka memang peka untuk hal-hal di luar normal.



"*Do you know? He is happier. Jay with his new girlfriend*."



"*Who are you*?"

__ADS_1



*Bersambung*...


__ADS_2