
*Mengandung sedikit keuwuan, bagi jomblo jangan skipš¤£*
Senja yang mereka tunggu di sela-sela kecemasan.
"Kapan Nuri akan bangun?" Jay menatap lembut ke arah sang istri.
"Anda harus lebih bersabar lagi, Tuan Jay." Dokter Mark adalah dokter yang merawat Nuri selama dua tahun lebih.
"Nuri... "
Seisi rumah tidak bisa menyangkal betapa setia Jay, selama dua tahun ia selalu berjuang keras. Tidak pernah sekalipun ada niatan untuk mendua. Padahal normalnya seorang laki-laki jelas ingin menikah lagi, untuk memenuhi kebutuhan birahi. Tapi, sekali lagi, Jay Jang bukanlah pria sembarangan. Jika itu bukan Nuri, dia tidak akan membuka pintu hati. Kesempatan wanita lain untuk mendekati Jay tipis.
"Jay," Louis dan Eva datang untuk menjenguk. Sebagai seorang teman dekat, mereka juga terpukul melihat keadaan Nuri. Tidak ada yang menyangka wanita ceria sepertinya tidur begitu lama.
"Aku benar-benar terpukul melihatnya begini, Jay. Dia sangat ceria." Eva harus mengakui kepribadian Nuri lebih menyenangkan daripada dirinya sendiri.
"Kamu harus kuat!" Louis memeluk Jay.
Dukungan demi dukungan selalu mengalir untuk Jay maupun Nuri. Mereka sedang menghadapi masa sulit. Jika salah satu menyerah, hasilnya akan buruk.
"Jay, kamu makan dulu." Sebagai seorang ibu, Celine juga ikut bersedih. "Setidaknya beberapa suap ya? Masa harus disuapin?"
Jay mengangguk, ia mempersilahkan sang ibu menyuapinya. Terkesan seperti anak kecil, tapi bagi seorang ibu, putra pertama selalu menjadi anak kecil di hatinya.
"Aku hanya berharap Nuri bangun... "
"*Mommy* *too*,"
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Jay akan mengadakan rapat online melalui zoom. Setidaknya Jack, atasan sekaligus kakak yang sangat baik. Ia tidak pernah memaksa Jay untuk perjalanan bisnis lagi.
"Aku sudah mengirimkan melalui email. Tolong cek lagi ya, Kak."
"Baiklah, Jay. Kamu tidak usah memaksakan diri mengerjakannya terburu-buru. Jaga kesehatanmu juga."
"Terima kasih, Kak."
__ADS_1
Setahun pertama adalah pukulan paling keras untuk Jay. Ia hanya melihat kisah yang sama di dalam drama. Tidak terpikir sedikitpun, di dunia nyata pun banyak kasus serupa.
"Kamu nggak papa, Jay?" Athena juga berkunjung dengan Danny.
"Apa perlu kita mengganti dokternya?" Danny bertanya dengan tulus. "Seorang kenalanku mengenal dokter langganan kerajaan Inggris."
"Dokter Mark juga sudah sangat baik menangani Nuri. Terima kasih kalian sudah rutin datang setiap enam bulan sekali."
Athena ikut prihatin begitupun dengan Danny. Meski di masa lalu hubungan kedua sepupu itu tidak terlalu baik. Danny sebenarnya memiliki hati yang lembut, ia sangat sensitif. Mendengar Jay dan Nuri kecelakaan saja, ia sempat geger.
"Padahal kalian baru beberapa kali bertemu, kenapa rasanya Nuri seperti adik kandung kalian?"
"Kamu yang kuat Jay." Danny menepuk bahu lebar adik sepupunya. "Lihat, kumis tipismu jelek sekali. Nuri pasti akan sedih melihat suaminya kacau begini bukan?"
"Ahh iya... kamu juga absen dua kali di acara *fashion week*?"
Jika di masa lalu Jay menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian karya desainer, menghadiri acara *fashion week* karena ia adalah pelanggan VVIP beberapa rumah mode terkenal dunia. Tidak lupa juga, ia turut berinvestasi di salah satu rumah mode tersebut.
"Terima kasih, Athena. Oh iya, bagaimana keadaan butik?"
"Sangat lancar, akhir-akhir ini kami banjir orderan karena kolaborasi dengan penyanyi k-pop. Seperti saranmu juga."
Setelah mengantar Danny dan Athena sampai depan gerbang. Jay juga menunggu kedatangan kakak ipar, Bang Nanda. Seharusnya mereka sudah tiba sejak enam jam yang lalu. Tidak ada kabar lagi.
Ponselnya bergetar, kali ini, ia harap tidak ada kabar buruk atau apapun.
"Jay, ini Raka."
"Iya, bagaimana?"
"Bang Nanda...."
Jay langsung mengejar penerbangan paling cepat. Karena pesawat jet milik keluarga sedang dibawa pergi oleh Danny. Ia terpaksa ikut penerbangan biasa.
__ADS_1
"Arthur tolong jaga Nuri beberapa hari ya. Aku harus melayat."
Arthur selalu dapat dipercaya dalam segala situasi. "Hati-hati, Tuan. Jangan sampai Anda lupa makan."
"Hmm."
Petir yang menyambar di kala hujan badai saja tidak menyeramkan bagi Nuri. Tapi mendengar kabar kepergian sang kakak dan kakak ipar, hatinya remuk.
"Kenapa kamu belum ngomong, Jay?!" Nuri baru pernah bertanya dengan nada tinggi kepada suaminya. "Kamu..."
Jay berlutut, ia terus memegang kedua tangan sang istri. "Marah saja padaku, Nuri. Tolong jangan menyalahkan dirimu."
"Harusnya... aku... "
Nuri menatap dengan tatapan super pilu, tidak pernah terbayangkan kehilangan seorang kakak yang sangat berharga dalam hidupnya. Seandainya itu hanya mimpi, ia juga tidak ingin bangun.
"Aku akan mengatakannya setelah kondisi kamu stabil, tapi kamu mencari tahu sendiri kan?" Jay adalah pria logis, dia sudah menduga kejadian tersebut.
"Aku pikir, aku mulai gila. Banyak ingatan yang menyimpang dari mimpiku, Jay. Aku pikir dalam mimpiku aku mulai gila karena kehilangan kamu Jay... "
"Kamu bermimpi begitu, Nuri?" Jay mengelap air mata sang istri. "Itu hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan oke?"
Nuri yang terus menangis karena merasa bersalah. Yang lebih membuatnya sedih lagi, yaitu jenazah sang kakak yang hancur dan menyisakan beberapa bagian tubuh akibat kecelakaan pesawat.
"Jay, aku hanya merasa... "
Jay mendekap istrinya semakin erat. Tidak ada yang perlu ditakutkan selama mereka bersama. Kadar cinta Jay tidak pernah berkurang untuk Nuri.
"Apalagi dua tahun lebih mendengarmu begitu kelelahan menjagaku, bekerja dan melakukan banyak hal. Jay... aku sangat berterima kasih." Nuri menangis histeris, ia bertemu dengan suami yang sangat setia dan hebat.
"Dulu, dua tahun juga aku pernah memutuskan hubungan sepihak dan membuat kamu kacau kan? Mungkin Tuhan sedang mengajariku untuk bersabar."
Dalam mimpi, ia menikah dengan Mark dan memulai kehidupan yang bahagia. Anehnya dalam kehidupan nyata, Mark adalah dokter yang merawat Nuri. Dokter pribadi yang Jay sengaja pilihkan. Ada sesuatu yang masih tidak Nuri mengerti dari tatapan Mark kepadanya.
"Kalau Chacha, kamu tahu dia kenapa Jay?"
Jay merasa tidak enak menceritakan masalah rumah tangga orang lain tapi ini demi sang istri tercinta. "Yang aku dengar dari Raka, Johan itu mendadak berubah semenjak ikut geng selebgram sama youtubers."
"Anehnya dalam mimpiku mereka malah punya anak, Jay."
Jay merangkul istrinya. Setelah sore tadi mereka berdebat kecil, Jay diam-diam menyuruh penata rambut untuk datang ke rumah. Jay ingin tampil tampan di depan sang istri.
"Oh iya, Jay. Kamu habis potong rambut ya? Soalnya beda dari kemarin loh?" Nuri juga mengamati jika sang suami lebih tampan dari sebelumnya.
"Nggak kok, Bae. Kamu terlalu memuji... hehehe."
Sudah dua tahun lebih Jay menahannya. Rasa rindu yang semakin menggebu terhadap Nuri. Dan nafkah batin yang belum tersalurkan.
Jay mengangkat tubuh sang istri menuju ke kamar tamu, kamar terdekat dari ruang tamu. Ia sudah tidak bisa menunda lagi.
"Maafkan aku, Jay. Kamu pasti puasa lama banget ya?"
"Hmm, lama. Kaya jaman bujangan." Jay memasang ekspresi yang berbeda ketika serius.
Nuri melingkarkan tangannya ke leher sang suami. "Aku juga kangen kamu... "
Jay melepas piyama sang istri dan mencium bibir dengan sangat lembut. "*Amazing!"
"Saranghae, Jay Jang."
Bersambung*...
__ADS_1