Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 51


__ADS_3

Holla guys, maaf baru update.


Bulan ini usahain buat rajin update, jangan lupa vote and like ya, GUMAWO!😂😍



Sudah seratus satu hari usia pernikahan Nuri dan Jay. Ada rasa cemas yang mulai menghampiri. Setelah mendengar cerita tetangga sebelah.



"Semua akan berbeda jika sudah menginjak usia 2 atau 5 tahun pernikahan."



Ingin melupakan, tapi selalu terbayang ekspresi bibi sebelah rumah. Nuri masih mengikuti Jay, mereka masih tinggal di benua Eropa. Hana sudah kembali ke Korea. Urusan percintaannya pun berjalan baik.



"Benarkah berbeda?" Nuri menatap lesu layar ponselnya. Ada beberapa notifikasi dari akun instagram palsunya. Akun untuk seorang fans idol.



"Huh, rasanya masih kepikiran." Kali ini, ia merebahkan diri, menyalakan pemurni udara. Aroma lavender sangat pas untuk relaksasi.



"Album BTS baru lagi?"



Ia sudah menyiapkan sekuat tenaga untuk memesan online. Butuh beberapa bantuan dari sang sahabat, Chacha.



"Udah gue orderin, ntar gue kirim deh ke Eropa."



"Maaaaaciw, Cha! Kamu emang yang terbaek!"



Terkadang, Chacha mengirim foto suasana kafe. Ada rindu yang menggebu dengan dapur dan pemanggang roti. Tempat jajahan Nuri yang selalu menyenangkan hati.



Semenjak menikah, ada beberapa hal yang tidak berubah. Nuri tetap leluasa berkomunikasi dengan keluarga, ayah, ibu dan kakaknya juga rajin video call.



Nuri sudah merasakan bosan di rumah besar, tapi ia juga takut menghadap kakek Jay. Sesuai rencana, beliau akan datang berkunjung dengan beberapa kerabat. Banyak yang harus Nuri persiapkan untuk menyambut keluarga Jay yang sangat elegan.



"Jay, apa makanan dan camilan kesukaan kakek?"



Jay melepas kacamata sejenak, ia berpikir. "Aku aja udah mulai lupa, apa kesukaannya. Kami kan nggak akur."



"Hebat!" Nuri menepuk halus pundak sang suami. "Jay, akurlah. Beliau sampai menyempatkan untuk berkunjung."



Jay terkadang diam, ia tidak ingin membahas hal yang tidak ia sukai. Seperti anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.



"Mendekatlah," Jay memeluk erat istrinya. Beban pekerjaannya semakin bertambah usai menikah. "Kamu mau jadi sekretaris pribadi?"



"Heol! Kamu pikir ini drama romantis perkantoran?"



"Aku butuh kamu."



"Jay, ada yang ingin aku tanyakan."


__ADS_1


Jay menatap Nuri penuh cinta, tatapannya selalu sama. Begitu indah. "Apa, Sayang?"



"Kamu jarang liat status watsup? Masa aku nggak pernah liat suamiku *view* si?"



Jay tertawa. Astaga, hanya karena hal sepele Nuri terlihat sangat panik. "Bukannya kamu udah tahu? Aku kan memang nggak pernah liat status."



Menyebalkan bukan? Untuk kaum hawa, hal-hal kecil sangat meresahkan. Jay begitu santai sambil tersenyum. Nuri memang tahu, ia hanya ingin sedikit perhatian lebih setelah menikah.



"Kenapa?" Jay mencubit pipi istrinya.



"Kamu nyebelin, Jay."



"Kemarin malam kamu masih manggil Oppa sambil mendesah kan?" Jay meledek, ia ingin mencairkan suasana hati Nuri.



"Bar-bar abis!" Nuri mencubit perut Jay.



Mungkin jawaban dari penantian begitu indah. Disatukan dalam pernikahan. Menghabiskan banyak waktu untuk berdua, meski hanya saling tatap dan bercanda.



"Ada apa? Aku perhatikan, kamu kaya mikir berat."



"Jay, kamu memang hebat. Kamu bisa baca pikiran sekarang? Apa kamu cenayang, Beb?"




"Bibi sebelah rumah kita bercerita banyak hal kemarin. Katanya kalau usia pernikahan udah dua tahun atau lima tahun banyak yang berubah, banyak cobaan."



"Kamu takut menghadapinya atau kamu nggak percaya sama aku?"



Tatapan tegas Jay mengisyaratkan sedikit kecemasan. Tidak ada pernikahan sempurna, bahkan orang tua Jay sering bertengkar karena hal sepele tapi ayahnya selalu mengalah.



"Nuri, tolong jangan terlalu berpikir buruk. Aku itu pemimpin keluarga kita, percaya suamimu. Aku juga sangat mempercayaimu."



Nuri merasa malu, kenapa ia gampang termakan kisah orang lain. Ia mengenggam tangan suaminya dan menciumnya.



"Aku mencintaimu, Jay."



"Aku lebih mencintaimu, Nuri."



Udara sangat dingin ketika malam hari. Jay memutuskan untuk tidur lebih awal, Nuri masih menonton drama kesukaannya.



"Kamu nggak ngantuk?" Jay tidak pernah memarahi Nuri dengan hobinya, tapi ia selalu memberikan kode.



"Udah ngantuk kok." Nuri paham, wajah Jay akan berubah jika ia menemani tidur.


__ADS_1


"Jay, kamu harus rajin minum suplemen, vitamin dan jangan kebanyakan minum kopi."



"Hmmm... "



"Mamamu bilang kamu harus rajin cek kesehatan, perutmu sering bermasalah. Terus, kamu harus tidur teratur."



Jay tersenyum sengit, ia masih ingat beberapa hari lalu. "Kamu yang sering membuatku kurang tidur kan?"



"Aku masih nggak percaya, Jay. Kamu melakukannya kemarin."



Mereka tidak membicarakan tentang hubungan ranjang, tapi kegilaan Nuri yang meminta naik sepeda berdua usai subuh.



"Aku jarang naik sepeda."



"Aku suka naik sepeda, apalagi saat pagi buta denganmu. Rasanya pagiku menjadi lebih berbeda. Aku banyak bersyukur."



Tanpa terasa, Jay yang memegang tangan Nuri terlelap. Nuri membelai wajah sang suami dengan lembut.



Akhir pekan. Nuri sudah bersiap dengan sepeda gunung berwarna ungu muda. Ia sedang menunggu Jay di gerbang.


"Kamu mau kemana, Ny. Jang?" Bibi sebelah rumah, Ny. Amelia menyapanya.


"Oh, Bibi. Aku akan bersepeda dengan suamiku. Kalau, Anda?"


"Aku akan pergi ke swalayan, akhir pekan banyak sekali diskon produk rumah tangga. Kamu harus berburu juga. Tapi, aku yakin suamimu tidak akan mau."


Nuri mengamati, bukan hanya Bibi Amelia saja, tapi beberapa tetangga juga mengatakan hal serupa tentang Jay.


"Suamimu sangat kaya. Apa dia makan menggunakan piring desainer?"


"Aku pernah melihat Tn. Jang keluar dengan mantel yang seharga rumahku."


"Ini gila! Sepupuku bilang, dia membeli saham penerbangan terbaik di dunia!"


"Apa suamimu pernah belanja ke swalayan, aku yakin dia tidak akan mau memakai baju khas swalayan."


Jay sering dihakimi dan juga dipuji. Nuri terkadang diam, ia tidak ingin menceritakan betapa mewah suaminya. Bukan salah Jay, ini murni kebiasaan keluarganya.


"Halo," Jay keluar dan ikut menyapa.


"Aku sangat kagum melihatmu, di usia muda berwajah sangat tampan dan sangat kaya, Nak."


"Oh, jangan begitu Bibi."


"Bersepeda ke swalayan saja, kalian akan takjub dengan diskon yang aku katakan. Mari."


Nuri sebenarnya lebih penasaran soal diskon swalayan di akhir pekan. Banyak sekali ibu-ibu kompleks, pemuda-pemudi yang juga pergi ke arah swalayan di akhir pekan.


"Apa disana ada pesta diskon, Bi?" Jay juga penasaran.


"Iya, tapi untuk pria muda kaya apa akan sanggup berdiri di tengah pesta diskon?" Bibi Amelia meledek Jay. Ia memperhatikan setiap detail pakaian Jay, mungkin harganya sudah seharga rumahnya.


"Jay, ayo kita belanja di swalayan."


"Oke.''


Hanya butuh lima belas menit mereka sampai. Nuri tidak mampu berkata-kata lagi, memang benar pesta diskon.


"Apa ini yang dinamakan pesta diskon?" Jay menatap dengan takjub, ia baru pertama kali melihat antrian kasir sampai halaman parkir.


"Wow, ini apaan?" Nuri sangat tersentuh. Ternyata swalayan yang ia kunjungi bukanlah swalayan biasa.


Jay hanya menatap dalam diam. Ia melihat seorang pria tua membawa banyak barang belanjaan sang istri dan seolah mengatakan sebuah pesan, "Ini adalah siksaan untuk para suami!"


"What?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2