
"Iya, Cha. Lo nggak harus rame-rame kesini. Nanti kafe bisa kewalahan. Doain aja ya biar Nuri lebih tegar lagi." Nanda baru saja memberitahu Chacha.
Melihat seorang yang paling berharga dalam hidupnya harus menanggung beban yang sangat berat. Adik kecil yang dulunya sangat periang, bertingkah imut ketika menginginkan sesuatu. Kini tampak lemah tak berdaya. Hatinya juga sangat teriris melihat kepergian Jay yang begitu miris.
"Sayang?" Cyntia membawakan teh jahe panas untuk suaminya.
"Oh, iya. Bagaimana Nuri?"
Cyntia menaruh teh jahe di dekat meja, ia lalu memeluk sang suami. "Aku tahu ini berat untuknya, untukmu dan juga untukku. Nuri butuh waktu sendiri."
Nanda dapat merasakan kesedihan yang jelas di mata Nuri, begitu juga Cyntia. "Aku cuma nggak percaya ini, mereka baru menikah beberapa bulan... "
Cyntia harus akui, ia juga tidak pernah menyangka kalau Jay Jang akan meninggal begitu mendadak. Tidak ada yang tahu kapan kematian akan datang, maut tidak pernah menyapa. Ia akan datang untuk setiap orang yang hidup di bumi.
"Jay pernah berjanji padaku, dia jagain Nuri selama sisa hidupnya. Dia menepati janjinya."
"Aku yakin Nuri sangat beruntung memiliki suami seperti Jay, begitu juga seorang kakak seperti kamu, Sayang."
Nanda tersenyum meski matanya sembab. Ibu juga sudah mencoba bicara dengan Nuri. Tidak banyak yang dapat dibicarakan. Nuri hanya diam dan menangis.
"Dek, kamu harus kuat demi Jay ya?" Ibu memeluk Nuri erat.
Nanda mengintip dari balik pintu. Ada foto pernikahan Nuri dan Jay yang sangat indah di ruang tengah. Mereka mengambilnya di Swiss.
"Cantik dan tampan."
Dulu, Nuri pernah bilang padanya. Ia mempunyai mimpi yang mungkin terdengar gila.
"Aku bakalan tinggal di Swiss sampe tua, Bang. Lihat aja nanti ya!"
"Kamu sangat suka Swiss, bukannya Korea ya? Kan suka banget nonton drama Gu Jun Pyo?"
Nanda tidak pernah menertawakan apapun tentang impian seseorang, hanya saja ia ikut menyadarkan sang adik.
"Kamu mau nikah sama orang Korea emang?"
"Ga masalah, asal saling cinta kan?"
Hingga suatu hari, Nuri mengenalkan Nanda kepada Jay di Paris. Ia tidak pernah mengira jika sang adik bertemu dengan pria impiannya. Nuri terkenal sangat mencintai lelaki tampan sejak SMA. Mantan kekasihnya adalah salah satu anak hits di masa itu.
"Hello, my name is Jay Jang Clarkson."
Nanda masih ingat saat mereka berjabat tangan beberapa tahun lalu. Jay sangat sopan, elegan dengan pakaian mewahnya. Yang paling menganggu Nanda adalah parfum mahal yang kentara sekali.
Rumah dua lantai yang sangat besar hanya ditempati oleh dua orang, terkadang asisten rumah tangga datang di sore hari untuk membantu mencuci dan membersihkan rumah.
"Ini ruang kerjanya?" Nanda tidak berniat masuk, ia tidak ingin menganggu Nuri yang ingin seorang diri.
Nanda ikut bergabung bersama keluarga Jay. Ia baru pertama kali menyapa. Pasangan suami-istri dengan gaya yang elegan, pakaian mahal tampak ramah.
"Maaf baru menyapa kalian."
"Nggak masalah. Kami juga mengerti betapa Nuri sangat terpukul. Sebelumnya, perkenalkan, aku adalah Danny dan ini istriku, Athena." Danny mengenalkan sang istri dengan bangga. Meski tidak sedekat Eric, Danny terkadang saling mengirim hadiah di hari ulang tahun Jay.
"Jay adalah temanku sejak kecil. Ada satu lagi teman baiknya yang juga akan datang, Louis namanya." Athena memantau layar ponselnya, ia sedang menunggu kedatangan Louis dan Eva.
__ADS_1
"Kakek bilang, saat ulang tahun Jay, tepat 20 tahun. Jay mendaftar sebagai relawan donor organ." Danny yang baru saja mendengar kabar dari kakek mereka. Ia tidak tega untuk menyampaikan kepada Nuri.
"Apa Nuri sudah tahu semua ini?"
"Aku tidak berani memberitahu kalau organ suaminya akan disumbangkan untuk orang lain. Bagaimana bisa aku mengatakannya sekarang?" Athena sudah pernah menanyakan ini hal serupa kepada Jay, kenapa ia mendaftar pendonor organ saat usia dua puluh tahun.
Nanda tidak tahu ada seseorang yang berhati sangat baik. Tidak, dia seperti malaikat. Jay begitu memikirkan orang lain bahkan di akhir hidupnya.
"Dia bilang... ini untuk membantu orang lain. Ia ingin menjadi seorang manusia yang berguna." Athena menangis, ia menahannya sejak tadi. Jay juga adalah cinta pertamanya.
Danny tidak lagi marah seperti dulu. Ia justru merasa bersalah karena sering membuat Jay kesal.
"Dia adalah sepupu terbaik yang kami miliki." Eric datang membawakan minuman dan camilan. Semua orang tampak sedih.
"Makanlah, kalian semua butuh energi.''
Arthur mengetuk pintu kamar Nuri. Ia datang membawakan sesuatu.
"Paman Arthur?" Nuri yang sedang dalam kondisi berkabung, tidak lagi memperhatikan penampilan.
"Nyonya, jangan memanggilku Paman. Aku merasa tidak enak."
"Apa kamu tidak tidur?" Arthur hanya menerka, terlihat sekali dari wajah Nuri. "Jika kamu menganggapku Paman, ijinkan aku untuk membantumu."
"Aku tidak pernah membayangkan ini, Paman. Aku tidak pernah mengira kemarin adalah hari terakhirnya... "
Arthur yang jauh lebih lama mengurus Jay juga tidak pernah mengira, anak kecil yang dulunya sering merajuk telah pergi meninggalkan dunia ini begitu cepat dari orang tua sepertinya.
"Tuan benci dipanggil tuan muda. Dia sering menyuruhku untuk memanggilnya Jay."
"Jay adalah alasan aku bisa bertahan sampai kemarin, Paman. Bukankah takdir begitu kejam untuk kami? Kami pernah berpisah, lalu bersama kembali dan menikah. Kali ini kami tidak akan pernah bertemu lagi, Paman." Nuri yang banjir air mata tidak tahan lagi, ia mengeluarkan semua emosinya di depan Arthur. Jay pernah mengatakan padanya, selain jago memasak, Arthur merupakan lulusan psikologi dari kampus ternama.
Pasti berat untuk melalui malam seorang diri. Arthur pernah menemani Jay yang sangat ketakutan ketika kecil. "Arthur, bukankah mereka sangat jahat?"
__ADS_1
Ratapan seorang anak kecil yang sangat menyanyat hati Arthur. "Kenapa Anda mengatakan begitu, Tuan Muda?"
"Kakek bilang tidak menyukai *Mommy*, karena itu, hubungan *Daddy* dengannya sangat buruk kan?"
"Nyonya, ada beberapa hal penting yang ingin saya sampaikan jika Anda sudah tenang."
"Hmm."
Setelah mengantarkan dokumen yang Jay pernah siapkan sebelum mereka menikah. Arthur lebih sibuk dari siapapun, ia harus mengurus beberapa dokumen usai kematian Jay. Pergi memjemput orang tua Jay. Dan ia harus mengurus pemakaman Jay.
"Andres?"
Andres yang sudah sejam menunggu Arthur sambil memegang secangkir kopi. "Paman, kenapa lama?"
Mereka sudah saling mengenal, terkadang Andres pergi minum dengan Arthur semenjak Jay menikah.
"Bagaimana?" Arthur tampak serius, tatapan matanya sangat tajam. "Apa katanya?"
"Polisi benar, ini memang kecelakaan. Bos murni menyelamatkan nyawa wanita itu. Aku juga mengecek cctv di depan toko, ada sesuatu yang aneh dengan wanita ini, Arthur." Andres sudah berjam-jam melakukan pencarian terkait kecelakaan Jay yang begitu mendadak.
"Swiss sangat aman, tidak ada jejak pembunuhan di kota tempat Jay tinggal. Tapi wanita ini berbeda, Arthur."
"Apa maksudmu, Andreson?"
Andres menyelidikinya, wanita yang Jay selamatkan bukanlah wanita biasa.
\*Bersambung...
__ADS_1
\*Jangan lupa like, vote and support ya guys. Khamsahamida😍\*\*