Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 66 (S2)


__ADS_3

"Maaf Pak, taksinya kami batalkan. Tapi aku akan mengganti biayanya."


Sopir taksi tidak mengeluh setelah menerima pembayaran.


Anehnya, Nuri mengiyakan ajakan pria asing yang baru dicampakan tersebut. "Aku akan membayar tagihannya sendiri."


"Tidak, aku yang mengajakmu. Oh ya, siapa namamu? Apa kamu juga dari Asia?"


Nuri sejenak terdiam. Nama panjang seperti apa yang harus ia beritahu, Nuri Diswari, Nuri Jang Clarkson atau Nuri Baren. "Panggil saja Nuri. Aku sedang mengurus nama marga belakangan ini."


"Apa kamu sudah menikah? Maaf, aku lancang ya?"


"Aku seorang janda tenang saja."


"Benarkah? Kalau begitu, mari kita berkenalan. Namaku Mark Taylor Lee, panggil saja Mark."


Mereka berjabat tangan dengan natural dan saling memandang dalam beberapa detik.


"Apa pekerjaanmu, Nuri?" Mark penasaran, ia dapat melihat penampilan mewah yang lumayan mencolok. "Aku melihatmu keluar dari gedung JJ tadi."


"Kamu dapat melihatnya di kartu ini." Nuri menunjukan kartu identitas pegawai.


Mark membacanya lebih teliti, ia sampai menggunakan kaca mata. "Apa kamu seorang eksekutif di kantor JJ?"


"Ya seperti itu, dulu suamiku bekerja di kantor ini juga. Dia sudah pergi untuk selamanya, tapi aku akan berjuang sepenuhnya untuk membuatnya bangga."


Sambil menyeruput teh lavender, Nuri mengamati sekitar. Banyak sekali orang yang masih menikmati kembang api dengan pasangan mereka.


"Kenapa dia memutuskanmu, Mark?"


"Ini salahku, karena tidak bisa memahami dirinya dengan baik."


Tidak ada yang kurang secara fisik, Mark sangat tampan dengan tinggi 1,9 meter. "Tidak ada yang kurang dari penampilan kamu. Kamu bahkan lebih tampan dari bos kami."


"Ada,"


"Apa itu?"


"Tidak semua pria tampan dan tinggi itu besar di keluarga kaya dan menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarga mereka."


Kenyataan hidup memanglah berbeda dari novel yang indah tentang romansa pria tampan yang kaya. Mark mengetahui benar posisinya, itu menjengkelkan. Bukan salahnya lahir dan dibesarkan oleh keluarga sederhana.


"Keluarga kami tinggal di Hong Kong sekarang, kakek bilang ia akan memulai menjalankan restoran Korea. Orang tuaku sudah tidak ada lagi, mereka pergi lebih dahulu dari kakek. Kecelakaan kereta tepatnya."


Nuri tersentuh mendengar cerita Mark, tapi ia harus mengakui dengan tampang seperti Mark setidaknya ia harus debut menjadi idol atau aktir di negeri ginseng. "Aku yakin banyak agensi hiburan yang merekrutmu kan untuk debut?"


"Benar, dua puluh agensi pernah mencoba merayuku tapi aku menolak, aku tidak tertarik menjadi terkenal. Aku hanya ingin belajar dan menghasilkan uang banyak untuk kakek."


"Apa pekerjaanmu, Mark? Oh ya, aku lupa memberitahu usiaku sudah 30 tahun."


"Pekerjaan yang sangat berbeda denganmu tentunya. Seharusnya kamu bisa menebaknya kan?"


Nuri mengambil kartu identitas yang masih Mark kenakan di lehernya. "Kamu seorang dosen?"


"Ya begitulah, mengajar banyak siswa."


"Wow, ini keren! Kamu menjadi profesor di usia muda?"


"Di usia 27 tahun."


Nuri memberikan tepuk tangan meriah, baru kali ini ia bertemu dengan pria cerdas berpendidikan tapi tidak berdaya usai putus cinta. "Apa dia adalah mantan mahasiswi di kampusmu?"


"Bukan. Lisa adalah adik kelasku saat SMA. Sebenarnya ibuku orang asli Incheon, ayah berasal dari Hong Kong. Kakek yang merawatku adalah kakek angkat, dia mantan tetangga kami di Australia."


Nuri mendengarkan dengan seksama, aneh, kenapa ia merasa nyaman mendengarkan kisah hidup orang cerdas seperti Mark.


"Maaf ya aku terlalu banyak bicara?" Mark merasa tidak enak, pasti Nuri risih. "Aku akan mengantarmu pulang."


"Baiklah."


Setibanya di depan gerbang rumah Nuri. Mark berpamitan. "Sampai jumpa lagi, Nuri. Ah maksudku, Bu Direktur."


"Terima kasih,"

__ADS_1




Sebulan telah berlalu usai pertemuan Nuri dengan Mark. Ia kembali sibuk dengan segudang aktifitas kantor. Tidak ada waktu untuk libur di akhir pekan.



"Anda benar-benar pekerja teladan, Bu Direktur."



"Terima kasih, Andres. Kamu juga karyawan terbaik bulan ini kan?"



Andres dan Mimi adalah kaki tangan Nuri.



"Mimi, tolong cek lagi jadwal akhir bulan ini. Apa saja kegiatan sosial dan humas JJ?"



"Baik, Bu." Mimi hanya perlu menekan tombol klik di ipad dan muncul semua jadwal kegiatan divisi terkait. "Ada satu kegiatan di universitas Zurich, Anda bisa datang. Biasanya Pak Jack akan datang, Bu. Jurusan ilmu komunikasi dan media sering sekali mengundang JJ."



Tiba-tiba ia teringat oleh Mark, kartu identitas yang pernah ia tunjukan. Dosen di fakultas ilmu komunikasi dan media Zurich.



"Aku akan datang."



Nuri ditemani beberapa anggota tim humas datang ke kampus Zurich. Salah satu kampus terbaik di Swiss.




"Seandainya dulu gue agak pinter, pasti bisa kuliah deh disini." Nuri bergumam, ia takjub dengan suasana kampus di luar negeri. Jay belum pernah membawanya ke kampus.



Dalam beberapa menit, ia sudah lelah berjalan dengan sepatu hak tinggi. Untungnya Mimi menyiapkan sneakers putih kesukaan Nuri.



"Duh... " sambil mengikat tali sepatu, Nuri menatap ke arah air mancur. "Keren banget kalau foto di dekat air mancur."



Nuri sudah memberitahu Mimi dan Andres, ia ingin sekali berjalan-jalan di sekitar kampus. Setengah hari menikmati waktu menjadi mahasiswa palsu.



"Tampan sekali!"



"Selamat siang, Pak Dosen."



Ia lalu memperhatikan seseorang yang belum lama ini telah ia temui, Mark. "Dia sangat populer."



"Apa Bapak akan menghadiri seminar dengan JJ?" tanya salah seorang mahasiswi kepada Mark.


__ADS_1


"Mungkin, tapi aku harus mengisi kuliah di jurusan sebelah." Mark tersenyum manis, ia memang tidak mendapat jadwal untuk seminar karena haruz mengisi kelas kosong di jurusan lain.



"Selamat mengajar, Pak!"



"Baiklah, terima kasih." Mark bergegas, ia melihat ke arah jam tangan waktu kelas umum beberapa menit lagi. Ia tidak boleh terlambat.



Mark mengajar di kelas umum dengan pengantar bahasa Inggris. Banyak mahasiswa berasal dari Asia, Afrika dan Amerika yang mengikuti kelas umum Mark. Dia juga merupakan dosen populer karena ketampanan, cara penyampaian materi yang cepat dipahami.



"Berikutnya kita akan membahas dampak media untuk bisnis digital... "



"Sejauh ini, apa kalian paham?"



"Paham, Pak!"



"Saranghae, Mr. Mark!" Beberapa mahasiswi berteriak sambil memberikan jari berbentuk hati.



Kelas umum telah berakhir, tanpa Mark sadari, Nuri duduk di bangku belakang. Ia ikut mencatat materi kuliah, berpura-pura menjadi mahasiswa, tak lupa mengenakan kaca mata bulat hitam dan mengikat rambutnya. Tidak ada yang tahu, pewaris Barens Property mengikuti kelas umum.



"Apa Anda bisa membantuku untuk menemukan lingkungan yang tepat, Pak?" seorang mahasiswi menghampiri Mark di depan.



"Aku sarankan untuk betah di dorm, ya."



"Sulit untuk gadis Asia sepertiku beradaptasi dengan cepat, Pak."



"Rachel, percayalah dulu aku juga sepertimu. Asalkan kamu membuka diri, akan banyak teman datang." Mark lagi-lagi tersenyum, lalu ia baru menyadari Nuri duduk di bangku dan tersenyum.



"Terima kasih, Pak. Aku permisi!" Rachel pergi, ia berlari menuju ke ruangan lain untuk mengikuti kelas selanjutnya.



"Kamu?"



Nuri bangkit dari tempat duduk dan melepas kaca mata. "Kelasmu sangat menarik, aku tidak menyangka orang yang seumuran denganku bisa mengajar dengan keren."



"Permisi, aku lebih muda darimu satu tahun." Mark meledek Nuri.



"Benarkah? Kamu keren banget, Mark. Aku pikir seperti novel kampus, ada dosen tampan dan mahasiswi manis yang berpacaran."



\*Dia tertawa.

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2