
Pagi yang lebih sejuk terus membuat tidurnya pulas. Nuri masih menatap ke arah jendela kamar. Ia berada di dalam ruangan yang sangat hangat, ranjang mewah dan suami yang begitu tulus mencintainya.
Aku hanya mendengar ini dari orang yang menikah puluhan tahun. Rasa cinta seorang istri untuk suaminya akan bertambah dari hari ke hari. Namun, rasa cinta seorang suami mampu bercabang. Meski tidak semuanya demikian.
"Kamu nggak perlu tegang begitu mau bertemu dengan kakek." Jay tidak ingin ada penyambutan berlebihan. Kakek juga sebenarnya tidak terlalu menyukai hal-hal yang berlebihan.
"Hmm, aku memang nggak akan masak. Aku udah pesan ke restoran langgananmu."
"Nuri, ada yang ingin aku tanyakan. Kalau nanti aku lebih dulu pergi dari dunia ini. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menikah lagi?" Jay membelai rambut sang istri. Tatapannya sangat menenangkan.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
Jay memeluk Nuri. Entahlah, tiba-tiba melintas saja dalam benak. Sesuatu yang sudah lama ia ingin tanyakan. "Pasti salah satu dari kita akan pergi lebih dulu kan?"
Ada perasaan sedih yang tiba-tiba hadir. Nuri menangis tanpa bersuara. Ia membenarkan pernyataan Jay. Kematian itu pasti. Kenyataan hidup yang harus salah satu dari mereka lewati. Jay hanya menanyakan hal yang wajar.
"Aku... nggak tahu Jay, hidup tanpa kamu... "
"Kenapa kamu menangis?" Jay menyeka air mata sang istri. "Aku cuma iseng bertanya."
"Berpisah denganmu di masa lalu, membuat hidupku seperti mati rasa."
Jay semakin merasa bersalah. Ia memeluk lebih erat Nuri. "Maaf, Sayang."
"Kamu adalah alasan hidupku lebih kuat. Kamu juga alasan aku banyak tersenyum."
Dalam hidup Jay, bertemu dengan Nuri adalah salah satu keajaiban, tidak, takdir yang sudah Tuhan atur. Wanita pertama dalam hidupnya yang mencintai Jay begitu tulus.
"Terima kasih untuk semuanya."
Nuri bergegas mandi. Ia harus menyiapkan banyak hal, membersihkan kamar tamu dan juga menata meja makan.
"Apa makanan ini untuk menyambutnya?" Jay baru turun setelah satu jam mandi dan bersiap.
"Wah, lihat. Siapa yang berlebihan sekarang? Kamu saja pakai setelan dari Dior untuk menyambut beliau kan?"
"Ini hadiah darinya setahun lalu."
Nuri hanya memakai dress panjang bermotif bunga dengan scarf senada melilit di lehernya. "Bagaimana penampilanku?"
Jay mendekat, ia mengambil selimut di dekat sofa dan membalut kepala sang istri. "Aku pernah melihat ibumu memakai begini."
"Oh itu, hijab yang dipakai ibuku. Kalau yang kamu lihat setiap hari namanya mukena."
"Kamu sangat cantik." Jay mendekap Nuri, ia dapat merasakan aroma parfum yang begitu kuat. "Parfum kesukaanku."
"Benarkah? Ada apa ini, Sayang? Kenapa kamu jadi begini?"
"Aku juga nggak tahu. Aku merasa selalu merindukan istriku."
Mereka tersenyum bersama. Semua hal memang mengalir begitu indah dan natural. Terkadang, Jay menolak perjalanan dinas karena tidak ingin meninggalkan Nuri sendirian.
"Arthur, tolong wakilkan aku." Jay dapat mengandalkan Arthur, dia adalah asisten terbaik dengan gaji yang lebih tinggi dari manajer.
"Bos, bisakah kamu memberiku kebebasan sebentar? Aku baru saja menikmati waktu romantis." Meski banyak mengeluh, Arthur tetap saja menurut. Gajinya saja sudah lebih besar dadi manajer di kantor Jay.
"Arthur, ada sesuatu yang kamu harus katakan dengannya." Jay memberikan sebuah kode. "Aku baru mengiriminya email, tapi dia sepertinya sangat sibuk akhir-akhir ini."
"Anda tidak bercanda? Aku harus menemuinya? Bos, aku saja sangat merasa minder satu meja dengannya."
Celine sedang menikmati masa bahagia menjadi seorang ibu kembali. Ya, meski bukan adik kandung Jay.
"Kamu sangat menyukai dia?"
"Ibu, aku masih tidak percaya kalau wajahnya mirip sekali dengan Jay waktu kecil."
__ADS_1
Banyak sekali foto kecil Jay yang masih Celine simpan di ponselnya hingga kini. Jay sangat penurut. Anak kecil yang sering menemani sang ibu melihat acara peragaan busana bergengsi.
"Jay sekarang sudah menjadi seorang suami. Aku saja tidak menyangka dia akan sedewasa ini."
"Sebenarnya, aku merasa kasihan. Beban kerja Jay semakin bertambah, Ibu tahu kan keluarga mertuaku? Dia selalu memberikan tekanan pada Jay dibawah nama Clarkson." Celine meneteskan air mata jika ia kembali ingat cara ayah mertuanya memperlakukan Jay.
"Menurutku, tradisi keluarga kaya seperti mereka berbeda sekali dengan keluarga kaya asal Asia. Ibu yakin, ayah mertuamu sangat menyukai Jay."
Celine mengecup kening sang bayi cantik, Arine. "Aku juga merasa begitu, tapi saudara suamiku tidak terlalu menyukai Jay."
Bahasan dari dua orang ibu yang memiliki kecemasan berbeda. Meski Jay tidak sering menelepon sang nenek karena sibuk. Ia rutin mengirim hadiah di hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan dan hari natal.
"Aku jadi ingin pergi mengunjungi Jay dan Nuri. Ibu tahu kan? Aku baru bertemu Nuri sekali, rasanya ini tidak benar kan?"
"Tidak perlu merasa begitu. Kamu sudah menjadi ibu mertua yang sangat baik, kamu bahkan sering mencemaskan menantumu melebihi anakmu."
Celine memegang tangan sang ibu. Ia memeluknya, tiba-tiba air mata menetes. Semenjak ayahnya membagi harta warisan, hubungan Celine dan sang kakak tidak terlalu baik.
"Kamu sudah menghubungi kakakmu?"
Dari informasi yang ia dapat, Hana dimarahi habis-habisan ketika sampai di Korea. Apalagi saat membenarkan fakta ia berkencan dengan pemuda kaya asal Eropa.
"Nyonya, sepertinya tuan Jang sangat marah." Celine dekat dengan asisten rumah tangga sang kakak.
"Tolong kabari jika sesuatu yang membahayakan Hana terjadi."
Hana bukan susah diatur, ia memiliki mimpinya sendiri. Dengan berani, ia mengutarakan mimpinya. Seperti Jay di masa lalu. Tapi, Jay tetap menurut karena takut dengan sang kakek.
"Ayah, aku sudah memutuskan untuk masuk agensi hiburan."
"Apa?! Kamu bercanda?!"
"Aku sudah menandatangani kontrak, tinggal Ayah lanjutkan untuk persetujuan. Ini adalah agensi hiburan terbaik di negeri ini."
"Hana Jang!"
Hana yang awalnya kurang sopan, berbicara dengan nada tinggi. Kali ini, ia memohon di bawah kaki sang ayah.
__ADS_1
"Hentikan, bangunlah... "
"Ayah juga mengakuinya kan?" Hana menangis histeris.
"Ayah Hana," sang istri ikut menangis. "Hana juga berhak bermimpi kan? Sudah cukup kamu memberi tekanan untuk putra kita."
"Baiklah, Ayah akan menerima semua ini. Ayaj akan pastikan perusahaan ini memang benar baik."
Setelah pertengakaran hebat mereda. Hana diantar oleh sang ayah menuju perusahaan hiburan. Meski, ayahnya sendiri sudah memiliki satu perusahaan hiburan besar. Hana enggan untuk berada di bawah kekuasaan sang ayah.
"Hmm, aku sudah memutuskan ini. Ayah nggak usah cemas begitu?"
"Dasar anak nakal! Setelah kamu berkencan dengan Hans, cucu bangsawan terkaya di Eropa. Kali ini ingin jadi penyanyi."
"Terimakasih, Ayah."
Celine sering datang untuk menjenguk Hana. Ia juga memantau hasil kelas olah vokal dan kelas etika.
"Tante?"
"Aku nggak nyangka kalau Tanteku itu salah satu dewan direksi di kantor!"
"Jay nggak memberitahumu ya?"
"Oppa semakin menyebalkan setelah menikah."
Celine mencubit pipi sang keponakan. Kabar sudah mulai beredar tentang Hana, putri konglomerat yang akan debut menjadi penyanyi.
"Aku melihat gadis seusiaku, 19 tahun, sering menghabiskan akhir pekan dengan direktur agensi, Celine Jang. Ini adalah fakta kalau salah satu keluarga Jang akan menjadi bintang bukan?" seseorang menuliskan di situs penggemar, ia juga menyelipkan foto jarak jauh wajah Hana.
"Wah, dia cantik sekali! Aku saja baru tahu kalau kakak sepupunya (Jay Jang) masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Bukankah wajah dia lebih tampan dari aktor top?"
"Bukankah ini gadis yang sekolah di Swiss? Aku pernah liburan di rumah saudaraku di Swiss. Aku melihat gadis ini bersama kekasihnya, mereka sangat mesra, berpelukan dan berciuman di danau yang indah. Kekasihnya pemuda Eropa yang sangat tampan."
Sebuah tulisan yang membuat Hana mulai dibicarakan banyak orang di internet.
*Bersambung*...
__ADS_1