
Raka semakin menyadari posisi dirinya. Nuri tidak bisa menerimanya kembali, cukup sebagai teman tidak bisa lebih.
"Kenapa lo?" Johan datang dengan tampang tengilnya di pagi hari. "Enak banget ya menikah, bangun pagi mau kerja udah di manjain istri. Hahaha."
"Berisik lo, Han."
"Ka, emang lo dulu gagalin lamar Nuri karena lo percaya sama omongan Mbah Sosro, tetangga kita itu?" Chacha sudah menceritakan kisah Raka dan Nuri secara detail tanpa dilebih-lebihkan.
Raka mengangguk setuju. Entah, dulu semua bermula dari kecemasan sebelah pihak. Pardi, asisten Eyang Raka yang menceritakan kisah beda weton yang seram. Ngeri, Raka lebih baik cari aman dan konsultasi dengan Mbah Sosro, sesepuh yang terkenal juga seorang indigo.
"Lo waras nggak si Ka? Lo masih percaya gituan? Lo juga pasti belum denger cerita asli tentang Mbah Sosro kan?" Johan gemas, ia tidak habis pikir, Raka lulusan kampus negeri yang terkenal di tanah Jawa.
"Ya, gue ngeri awal denger. Pardi eh, Mbah Sosro bilang harus disyaratin kalau mau nerusin pernikahan. Syaratnya nunggu Nuri jadi janda." Dengan wajah polos bercampur otak yang luar biasa aneh dalam berpikir.
"Hahaha, bego lo! Maksud dia biar lo bawa sesajen. Lagian, Mbah Sosro katanya pro kok nggak bisa si nangkep tuyul?"
Johan masih tidak habis pikir, orang seperti Raka adalah anak Pak Hendri, pengusaha kaya termasuk sepuluh besar orang terkaya di Indonesia.
"Pantesan Papi lo cuma ngasi kafe bukans saham! Hahaha!" Johan tertawa sangat keras.
"Ganti topik deh."
Kali ini, Johan yang penasaran dengan sosok Jay. Nuri yang sangat enerjik dan ceria di masa lalu menjadi kurang bersemangat. Perubahan drastis.
"Kalau mantan Nuri yang namanya Jay, dia kemana si? Gue kasian liat Nuri, dulu dia kan paling enerjik."
"Nah itu Han, gue aja gagal paham. Padahal pas di Paris, dia tuh keliatan banget bucin. Aneh ya kalau tiba-tiba pergi abis kondangan."
Nah, kejadian yang lumayan menyedihkan tapi juga membuat banyak orang bingung. Kemana Jay Jang Clarkson? Louis, Eva, Lusi dan Saki bahkan sudah ikut membantu Nuri menemukan jejak Jay.
"Gue denger, mereka udah seriusan mau nikah kan apa lamaran?" Johan hanya mendengar kisah Jay dari istrinya. Tapi melihat ekspresi Raka yang juga terpukul.
"Kasian, Nuri. Tapi menurut gue sesibuk apapun seorang cowok, tetep kan orang yang kita sayangi harus jadi prioritas."
Setuju. Entah apa yang Jay sedang lakukan sampai tega melupakan Nuri, meninggalkan dengan seenak hati. Awas jika kembali juga semau hatinya. Raka akan membuat perhitungan yang serius. Mereka hanya beda tinggi badan, bukan nyali.
"Gue boleh berpikiran aneh nggak si?"
"Mau ngomong apa lagi lo, Han?"
"Kayaknya si Jay lagi nyari harta karun. Hahaha."
Raka tidak ingin menanggapi kegilaan sahabatnya. Ia lebih memilih untuk berkeliling kafe, ke dapur. Nuri tampak nyaman bekerja dengan dua baker bawahannya. Tidak seperti awal bekerja, tatapannya sangat suram.
Bukan orang yang baik di masa lalu, karena meninggalkan Nuri hanya karena perkataan orang lain yang belum tentu benar. Tapi melihat Nuri terpuruk karena merindukan Jay, lebih menyakitkan daripada ditolak. Perasaan memang cepat berubah. Tapi itu tidak berlaku untuk Nuri.
"Ri, lo udah dapat kabar belum dari Paris?''
"Belum, Ka. Gue juga udah jarang buka sosial media. Capek juga kalau melihat sesuatu yang nggak jelas."
__ADS_1
"Lo harus tetep menjalani hidup, percaya rencana Tuhan lebih indah daripada rencana kita." Raka hanya bisa memberikan dorongan moral kepada sahabatnya, eh mantan kekasih yang masih ia sukai.
Setelah menyelesaikan puluhan pesanan kue ulang tahun, Nuri istirahat sejenak. Dia menatap ponsel pintarnya, masih sama. Belum ada notifikasi dari Jay.
Waktu berjalan cepat. Hari mulai berganti, tren juga ikut berganti. Tapi hati Nuri masih tetap memilih bertahan untuk Jay.
"Ri, lo buruan cek video bias lo!" Chacha berlari dari ruangan manajemen kafe.
Nuri langsung menurut, ia mengecek video baru dari idola kesayangannya. Eh, tunggu, wajahnya tidak asing. Seperti pernah bertemu di suatu tempat.
"Apa-apaan ini?" Chacha ikut penasaran dan nimbrung.
"Kisahnya dua tahun lalu, di Paris. Menurutku kekasihnya itu sangat tampan, aku saja yang dinobatkan sebagai pria tertampan mengakuinya. Kekasihnya pernah membeli semua boba di hari mereka bertengkar karena hal sepele. Dia mendatangiku dan bertanya, hei apa kamu yang bernama ini? Kekasihku sangat mengidolakanmu, aku merasa terharu saat itu. Dan belum lama ini aku bertemu dengannya di Jeju. Dia menyapaku lebih dulu dan bertanya tentang konser grup kami. Kalian tahu apa yang menarik? Dia bilang, dia sangat merindukan kekasihnya. Dan mereka adalah inspirasiku menulis lagu Ending."
Dua tahun tidak pernah memberi kabar, tiba-tiba dua orang yang ada di hati Nuri membuat sebuah kejutan. Jeju adalah lokasi hotel keluarga Jay, hotel warisan dari kakeknya. Setidaknya mendengar kabar Jay masih hidup lebih menyenangkan dari mendapat uang triliun rupiah.
"Beneran Ri, bias lo ketemu sama Jay? Ini si namanya jekpot!" Chacha langsung memeluk sahabatnya. "Jay pasti ingin lo tau, dia juga kangen kok."
"Gue nggak marah Jay pergi, gue marah sama diri gue sendiri Cha. Kenapa dulu pas gue beli boba sama Saki, gue nggak sadar dia adalah idol yang menyamar. Hiks!"
Ah iya, dulu juga Chacha mampir di kedai boba yang sama. Tapi, ia lebih bodoh lagi karena sempat ngobrol dan menyesal karena tidak mendapatkan tanda tangan seorang penyanyi kelas dunia.
"Goblok banget gue asli..."
__ADS_1
"Sama. Kenapa malah yang nyadar harus Jay si?"
Saling meratapi kebodohan mereka sambil membantu jaga kasir. Pelanggan kafe ikut tertawa karena umpatan Chacha yang unik dan bar-bar.
"Kak, abis liatin video idol kok sampe segitunya?" Seorang pelanggan yang cepat tanggap tanpa malu bersuara.
"Iya nih, soalnya ganteng." Nuri menjawab dengan santai. Wajahnya masih merah karena mengingat Jay selalu membuatnya terpesona.
"Gue mau jawab ganteng, suami gue denger ntar bisa cemburu nih, hehe." Chacha juga cepat tanggap, Johan berada di dekat mereka. Tidak mungkin banyak bertingkah.
Melihat ekspresi bahagia Nuri, rona pipi merahnya. Chacha yakin, Jay hanya sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Tidak ingin melibatkan Nuri.
Setelah situasi membaik. Chacha mendekat ke tempat suaminya duduk. "Yang, udah makan belom?"
"Belom nih, ambilin dong. Mager nih aku, hehehe."
Raka juga berada di dekat pasangan pengantin baru. Duh, rasanya mesra dan tampak hangat. Melihat saja sudah ikut bahagia apalagi merasakan sendiri. Pasti lebih bahagia.
"\*Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?"
Bersambung...
\*Extra\*
Jay masih bantuin Vincenzo nyari emas jadi aku umpetin dulu hahaha😂🤣\*~
__ADS_1