
"Mereka bilang ini akan sembuh lebih cepat jika minum obat."
Nuri yang tak kuasa menahan tawa, ia sampai menutupi wajah dengan masker hitam. "Aku akan mentraktirmu makan enak, membelikanmu hadiah yang kamu mau."
Ada sesuatu yang Mark inginkan, tapi terlalu malu untuk membelinya secara langsung. "Aku ingin membeli lego keluaran terbaru."
"Baiklah, aku akan membelinya."
Nuri membuka pintu mobil merci mahal miliknya, tiba-tiba seorang gadis menahannya.
"Apa yang terjadi dengan dosen kami, Nona?"
Mark sudah menyadari kehadiran mahasiswinya sejak menyelesaikan administrasi. "Aku hanya menjalani operasi kecil, mengambil cuti sejenak.''
"Berapa lama, Anda mengambil cuti? Kami muak dengan Pak Tua itu."
"Ehem... " Nuri memberikan kode.
"Seminggu, aku harus menyelesaikan masalah pribadi juga. Baiklah, Rachel, apa kamu juga bertemu psikiater di hari sabtu?"
"Iya, dia menjadwalkan terapi. Tapi, tunggu, siapa wanita yang bersama Anda?" Rachel mengamati penampilan yang mencolok mulai dari long dress floral milik Gucci keluaran terbaru, sepatu hak tinggi Gucci dan tas Kelly Hermes rose gold yang dibandrol seharga dua juta dolar.
"Dia?'' Mark ragu untuk mengatakan, Nuri menyuruhnya untuk tidak mengatakan kepada siapapun selain keluarga maupun kerabat.
"Aku adalah istrinya." Nuri mengatakan dengan lantang.
"Wow, aku pikir Anda memiliki selera yang bagus. Bertemu wanita kaya raya dan menikah diam-diam. Tapi, maaf, aku tidak percaya." Rachel tidak semudah yang Nuri kira. Ia telah lama memperhatikan Mark, mereka berasal dari negara yang sama.
"Benarkah itu, Pak Dosen?" Rachel menekan Mark. "Seharusnya seluruh kampus membicarakan ini kan? Tidak ada postingan apapun."
Rachel hanya pernah melihat Lisa yang datang ke kantor Mark, saat itu ia percaya mereka terlibat dalam sebuah hubungan romantis. Tapi, kali ini lain. Wanita kaya yang mendorong kursi roda tampak sangat misterius.
"Aku sudah mengambil cuti, ini hanya pernikahan sederhana."
"Sepertinya tunangan Anda cepat sekali berganti ya?" Rachel ingat, seseorang bernama Lisa memiliki tinggi kurang lebih 1,7 meter. Tidak seperti yang mendorong kursi roda. "Apa Anda yakin? Dia tidak memaksa?" Rachel berbisik.
Nuri mengerutkan alis, ia hanya gemas kenapa gadis muda itu sangatlah berisik. "Tidak ada paksaan dalam pernikahan. Jangan terlalu banyak halusinasi."
Bukan berhalusinasi, Rachel yang sudah memendam rasa sejak lama bahkan belum ada kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Ia merasa ditikung. Gadis-gadis di kampus akan sangat terluka jika ia membuka mulut mengenai pernikahan sang dosen impian.
"Baiklah, semoga kalian berbahagia." Rachel merasa ada yang aneh dengan Mark, ia terlihat seperti kesakitan tetapi juga malu. "Semoga Anda juga lekas sembuh."
Nuri membawa masuk Mark ke dalam mobil, ia membantunya. "Kamu nggak tahu, gadis tadi menyukaimu?"
Mark hanya tertawa, dia tahu. Ia hanya membiarkan saja tidak menggubris mahasiswi-mahasiswi di kampus yang mulai menaruh rasa. Lisa dulu sangat membenci pekerjaannya.
"Tahu. Aku tahu dan bisa membedakannya."
Semenjak memutuskan untuk menikah, ia hanya fokus untuk segera menyelesaikan persyaratan. Mark juga telah mengabari kakek dan sahabat dekatnya.
"Aku senang akhirnya kamu akan menikah. Tapi, benar ini bukan Lisa? Apa kamu berselingkuh, temanku?"
"Aku bertemu dengannya saat Lisa membuangku di pinggir jalan."
"Sunguh mulia sekali saudari ipar."
Nuri menyetir dengan santai, ia mendengarkan percakapan Mark dengan sahabatnya. Berbeda dengan orang di masa lalu, Mark tidak pernah mendapat telepon dari rumah mode terkenal ataupun orang kaya lain. Ia sangat bebas ketika mengobrol dengan orang terdekatnya.
"Maaf, kakek belum bisa berkunjung. Kakek ikut bahagia untuk kalian. Sampaikan salam untuk istrimu." Sama dengan sang sahabat yang tidak bisa datang, Kakek Taylor awalnya juga mengira Mark akan menikahi Lisa. Mereka sudah lama bersama.
"Hmm... "
Mark mematikan ponselnya, ia tidak mungkin membiarkan Nuri mendengar semua hal tentang Lisa. Mark mulai penasaran dengan sosok mendiang suami Nuri.
"Aku boleh bertanya?"
__ADS_1
"Silahkan," ucap Nuri.
"Bagimana sosok dia, mantan suamimu?"
Nuri tersenyum, ia memang sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. Ia memperlihatkan foto di masa lalu. Foto yang pernah diambil secara mendadak usai pernikahan.
"Aku tahu pria ini, dia pria kaya yang Lisa sering bicarakan sebagai mantan pacar Lusi. Aku juga pernah melihat mereka di depan kamar hotel kan?"
Mark dihadapkan sebuah kenyataan yang mencengangkan. Ia ingat jelas beberapa tahun lalu betapa gemas melihat Jay Jang dengan istrinya di depan kamar hotel.
"Jay itu sangat mencintai istrinya. Lusi menyerah mengejarnya. Wanita tadi sangat beruntung bukan?"
Astaga.
"Bagaimana ini? Apa aku mencuri istrinya sekarang?"
Setelah beberapa hari, Mark sudah pulih total dan bersiap untuk melangsungkan pernikahan. Ia sangat gugup.
"Tenanglah, aku datang untuk memberi semangat." Emran bersama istrinya datang.
Keluarga besar Nuri tidak hadir semua, hanya dua orang ibu yang membuat Mark bingung.
"Aku memiliki empat orang ibu. Aku harap kamu tidak terlalu kaget." Nuri mengatakan sebelum acara dengan wajah yang sangat datar.
"Oke, aku paham. Urusan keluarga memanglah rumit."
Setelah menerima banyak ucapan selamat dan resmi menjadi suami istri, Mark merekatkan kembali koyo hangat di pundaknya. Ia sangat lelah.
"Mark, aku adalah ibu tiri Nuri. Istri dari ayah kandungnya. Panggil saja Tante Estella." Tante Estella menarik Mark untuk bicara hal penting usai pernikahan.
Yang pertama ia bicarakan adalah status Nuri sebagai pewaris Barens Property. Berikutnya, ia menitipkan Nuri kepada Mark.
"Keluarga mantan suaminya masih menjaga Nuri dengan sangat baik. Dia sudah berjuang melawan trauma karena kematian mendadak Jay. Aku harap, kamu menandai beberapa hal tadi. Jaga dia, ayahnya sangat mencintainya."
__ADS_1
"Baiklah, Tante Estella. Aku mengerti. Tentang Barens Property, aku akan meninjaunya."
Tante Estella pamit setelah membicarakan masalah utama. Nuri masih menyapa kerabat dari mantan suaminya. Mark tidak berani menganggu, ia memilih ke kamar untuk beristirahat.
Dua puluh menit kemudian. Nuri datang ke kamar, ia melihat Mark tidur.
"Maaf ya, aku banyak tamu tadi." Nuri memegang tangan Mark.
Mark tidak sepenuhnya tidur, ia lalu membuka mata dan berbalik badan. "Aku mengerti."
"Terima kasih, kamu sangat pengertian, Mark."
Tidak ada yang terjadi di malam pertama mereka. Mereka hanya tidur seranjang tanpa beperlukan.
"Pagi." Mark bangun lebih pagi, ia merasa karena situasi harus menunda kewajibannya.
"Apa kamu marah?" Nuri langsung beranjak, ia mengusap wajah suaminya. Ternyata Mark lebih tampan dari Jay jika diamati.
"Kita memang sudah menikah, tapi aku rasa kita harus pacaran dulu kan sebelum sampai ke tahap itu?" Mark membawakan secangkir air hangat untuk istrinya.
"Benar." Nuri meminum air hangat lalu bergegas mandi.
Setelah empat puluh menit mandi, ia terkejut melihat Mark yang menunggunya dan membawakan sarapan.
"Kamu benar-benar cantik." Mark seperti terbius oleh istrinya, padahal Nuri hanya mengenakan piyama dan mengikat rambutnya.
"Apa kamu baru sadar?"
"Aku tidak menyangka kita hanya beda satu tahun, padahal wajahmu terlihat seperti mahasiswi di tahun awal." Benar, Mark mengerti kenapa Jay Jang saat itu hanya menatap istrinya. Sangat cantik dan berkelas.
Nuri terus tersenyum, ia bahagia tapi ia juga bingung harus bagaimana. Terkadang ia malu karena statusnya seorang janda.
"Aku juga bukan seorang lajang yang perjaka. Jadi, kita sebenarnya sama kan?"
__ADS_1
*Bersambung*...