Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 65 (S2)


__ADS_3

"Kamu nggak papa, Dek?"


"Aku bukan adikmu."


Setelah panggilan dengan sang kakak yang ternyata bukan kakak kandung, Nuri menangis histeris di ruang kedap suara.


"Jay... "


"Kenapa hidupku begitu menyedihkan?"


"Semenjak kepergianmu semua menjadi berantakan... "


Arthur tidak terlalu paham pembicaraan Nuri dengan kedua ibunya, ia hanya mengerti Nuri sedang butuh waktu untuk sendiri. Menenangkan diri.


"Nyonya, ayo sarapan." Arthur mengetuk pintu tiga kali.


"Makanlah jika kamu lapar, aku akan pergi ke perpustakaan sebentar."


"Hmm... "


"Percayalah, ayah sangat mencintaimu. Ayah mencarimu kemana-mana." Nuri membaca sedikit buku harian milik ayah kandungnya. Ibu Siska yang memutus komunikasi karena ia sudah menikah lagi dan hidup bahagia di Jeju.


"Maafin Mami, Nuri."


"Maaf, maaf, maaf. Apa itu cukup?"


"Kamu melewati hidup yang sangat berat di usia semuda ini."


Nuri mengambil buku harian sang ayah, ia membacanya semalaman. Derai air mata, perasaan kecewa yang sangat mendalam terhadap sang ibu yang memutus jalur komunikasi.


"Papa yakin Nuri pintar bahasa Inggris nantinya dan bisa baca buku ini saat Papa sudah pergi dari dunia ini. Papa minta maaf, tidak ada saat Nuri membutuhkan pelukan Papa."


Halaman demi halaman yang semakin menyakitkan.


"Papa sudah berjuang selama ini, berjuang melawan penyakit jantung dan juga mencari ibumu untuk menemukan putri cantik Papa."


Nuri meledakkan air matanya, ia menangis semalaman. Untunglah di ruangan tersebut, ada kulkas tempat menyimpan air mineral.


"Ini tempatmu untuk menangis sepuasnya tanpa perlu cemas." Athena yang menyiapkan semua ini, ia sangat perhatian dan mengerti penderitaan Nuri.


"Jay, kapan terkahir kali kamu menangis dan sedih karena kenyataan hidup atau hal yang menyakitkan?"


"Dulu, saat ada masalah besar di keluarga kami. Rasanya aku ingin mengakhiri hidup. Tapi, aku sadar ada banyak tanggung jawab. Memberi makan banyak orang di masa depan."


"Benarkah?"


"Hmm, iya. Saat berpisah denganmu, itu juga siksaan."


Nuri hanya mengingat lagi percakapan indah dengan suaminya di masa lalu. Jay selalu bisa memberikan ketenangan di waktu yang menyakitkan.


"Papa memberikan banyak sekali kekayaan. Aku mungkin udah jadi Super Rich Bae kamu, Jay."


Nuri membuka pintu, ia lalu turun untuk sarapan. Andres sudah menunggunya dengan jadwal harian yang padat.


"Anda bilang mau mencari asisten pribadi dari Asia kan? Aku sudah memilihkan beberapa kandidat, termasuk yang bisa menyetir dan berpendidikan."


"Baiklah."


Benar, Nuri harus menatap lurus ke depan. Lebih baik ia gila kerja, mempelajari banyak hal tentang properti dan hal baru terkait bisnis. Tidak ada lagi pikiran kecewa yang akan membuat pikirannya ruwet.


"Ayo, Andres."


"Baik, Bu Direktur."




Setahun telah berlalu dengan cepat karena ia menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, lembur dan perjalanan bisnis.



"Mimi, tolong majukan jadwal rapatku."



"Baik, Bu."



Akhir tahun adalah waktu yang paling karyawan idamkan untuk libur, Nuri memilih untuk bekerja lembur di malam pergantian tahun.



"Anda tidak mengambil libur?"



Nuri hanya tersenyum, ia menatap ke arah jendela ruangan. Indah sekali banyak lampu-lampu hias menyambut pergantian tahun.


__ADS_1


"Banyak yang harus aku urus."



Tidak banyak, ia hanya ingin menghindar. Rasa sakit dalam hatinya sudah mencapai level maksimal setahun lalu, ketika sang ibu kandung datang.



"Aku hanya mengambil cuti di pertengahan tahun." Nuri hanya mengambil seminggu cuti untuk pergi ke makam sang suami.



"Baiklah, Bu." Mimi segera pergi, ia sudah mendengar dari Andres kisah hidup sang atasan yang sangat menyedihkan.



Nuri merasa bersalah karena tidak dapat hadir di acara pernikahan Raka dan Asty, bahkan ia belum sempat menjenguk keponakan barunya.



"Aku dan Cyntia kangen kamu, Nuri. Kapan kamu jengukin keponakan tampanmu ini?"



"Tunggu beberapa bulan lagi, Bang." Meski bukan adik kandung, Bang Nanda tetap memperlakukan Nuri sama sejak dulu. Jauh lebih baik dari beberapa orang yang kasar terhadap saudari mereka sendiri.



"Nuri, semoga awal tahun ini, lo cepet mudik."



Nuri tersenyum, ia tidak membalas pesan Chacha karena harus meninjau laporan. Untunglah di masa lalu, ia mengambil kursus bahasa Inggris.



Pukul sebelas malam, Nuri meninggalkan kantor. Di malam yang lebih dingin dari biasanya, banyak orang-orang terlihat sedang menikmati waktu bahagia mereka.



"Andai Jay masih ada... "



Lampu-lampu yang menyala mengingatkannya di masa lalu, saat ia bergandengan dengan Jay menelusuri jalan di dekat tembok cinta.




Lagi, ia mulai berhalusinasi tentang Jay. Perawatan psikis yang ia jalani selama dua tahun lebih, belum menunjukan hasil. Masih saja melihat bayangan Jay di waktu malam.



"Selamat tahun baru, Bu." Petugas keamanan menyapa Nuri di depan gerbang.



"Iya, selamat tahun baru."



Nuri berjalan menuju tempat ia menunggu taksi. Banyak sekali pasangan yang berlalu di depannya.



"Apa yang kamu lakukan di malam tahun baru?"



"Aku lembur. Apa yang kalian lakukan?"



"Ayolah, aku dan Danny sedang pergi ke Jerman untuk mengurus permintaanmu.''



"Maaf ya, aku selalu merepotkan kalian."



Athena adalah orang yang baru ia kenal belum lama namun sangatlah tulus. Ada sisi baik yang jarang orang lain ketahui tentang mereka.



Nuri masih menunggu taksi di halte seberang kantor. Hanya dua orang yang sedang duduk diam. Tanpa ada basa-basi percakapan.



"Hufh... " ia menghela nafas panjang, melihat di dekatnya. Seorang pria muda yang duduk diam dengan tatapan kosong.

__ADS_1



Pria dengan mantel berwarna coklat tua itu menunduk dan sesekali mengecek ponselnya. Seperti sedang menunggu seseorang untuk datang.



"Lisa, akhirnya kamu menelponku." Saat itu, Nuri tidak sengaja mendengar percakapan pria tersebut dengan kekasihnya.



"Aku rasa kita harus mengakhirinya sekarang! Aku lelah!"



"Apa maksudmu?"



"Aku akan pergi menemuimu dan menjelaskannya. Aku melihatmu di halte depan kantor JJ."



Nuri menerima pesan kalau taksi sedang mengalami kendala karena macet di jalan.



Dan ia juga menjadi saksi dari orang yang dicampakan di awal tahun baru.



"Lisa, kenapa kamu memakai baju tipis?" Pria baik itu melepaskan mantelnya. "Ini sangat dingin, Sayang."



Wanita yang bernama Lisa itu tampaknya sudah muak. "Hentikan, kumohon?"



"Aku benar-benar lelah dengan hubungan kita. Pernahkah kamu menatapku dengan benar? Pernahkah kamu memahamiku selama ini? Aku selalu tertekan karena kamu sangat baik." Lisa menangis, ia mengutarakan isi hatinya selama ini.



"Maaf, aku terlalu sibuk bekerja... "



"Cukup! Kita lebih baik seperti dulu, saat menjadi teman di masa kuliah. Tidak lebih."



"Jika ini keputusan kamu, aku akan terima ini semua, Lisa."



"Kamu selalu membuatku terlihat buruk sampai akhir!"



Lisa pergi, ia yang berderai air mata segera menancap gas dan berlalu dari pandangan Nuri.



Yang membuat Nuri semakin merasa tidak enak, ia adalah saksi mata atas kehancuran hati seseorang.



"Aku yakin kamu pasti merasa tidak enak?" Pria yang telah diputuskan itu tidak lagi menunduk, ia menatap ke arah Nuri. "Apa kamu juga orang Asia yang bekerja di perkantoran kota?"



Nuri mengeluarkan sapu tangan dari saku. "Bukannya lebih baik menghapus air mata dulu."



Memalukan. Seorang pria dewasa dicampakan lalu menangis di depan wanita. "Terima kasih, Nona. Apa kamu juga sendiri?"



Pertanyaan itu mengejutkan. Nuri hanya mengangguk.



"Maukah pergi minum teh denganku?"



*Bersambung...



\*Hai readers tercinta, jangan lupa berikan kritik dan saran kalian ya! Di S2 banyak sekali kejutan, dan harus say good bye to Jay banget.😭*\*

__ADS_1


__ADS_2