
Raka masih menumpang di rumah sahabatnya, Candra. Dulu, mereka tidak begitu akrab. Tapi hobi mereka sama. Suka dengan binatang peliharaan.
"Lo beneran Ka?" Candra memungut kembali hiasan aquarium yang jatuh saat dibersihkan. Sedari tadi, Raka terus mencurahkan isi hatinya.
"Jadi, Papi lo itu emang beneran orang kaya?"
"Ya menurut lo? Dia aja ngasih uang banyak banget. Tapi gue tetep masih jengkel." Raka yang tidak tahu diri justru duduk nyaman sambul minum es coklat.
"Lo beneran orang yang nggak tahu diri banget si!" pekik Candra.
"Ya masa Papi gue bisa enak-enak liburan tuh ke Eropa sama istri barunya. Nah gue? Lo tahu nggak si kandang sapi? Eyang gue juga galak banget!"
"Gue pikir kaya gituan cuma ada di sinetron loh."
Ia menyesal untuk beberapa hal. Menggagalkan pertunangan karena alasan yang sangat konyol.
"Beneran lo percaya gituan? Nuri pikir lo ternak tuyul loh?" Candra tidak sengaja mendengar ketika Nuri dan kembarannya sedang menggosipi Raka.
"Ngawur! Gini-gini gue ada akhlak ya!" ucap Raka sewot.
"Lo cemburu Nuri punya pacar bule?"
Tidak perlu ditanya. Raka hampir meledak menahan amarah.
"Iya gue masih sayang Nuri. Emang bule itu beneran suka? Lo kaya nggak tahu bule aja si."
"Ya emang nggak tahu. Gue taunya mah ikan koi tuh yang blasteran." Candra memang polos.
Raka yang lumayan jenuh juga karena menumpang di rumah Candra. Ia ingin pergi ke luar.
"Mau kemana lo?" tanya Chacha dengan ketusnya di depan pagar rumah.
"Jalan lah, gabut tau!"
"Harusnya lo minta maaf tuh ke orang tua Nuri, lo harus jelasin kaya yang lo bilang ke Bang Nanda semalam."
"Gampang si, rencana gue mau ke Paris dulu."
Tidak terlalu peduli dengan urusan Raka. Chacha lebih peduli dengan Nuri yang sedang sedih di Paris.
Nuri
Cha, gue sedih banget.
Masa Jay nggak ngebelain gue pas pacar temannya tuh banding-bandingin gue sama mantan dia yang dulu😭
Padahal siang tadi abis bilang dia cinta aku😓
Membaca chat Nuri, Chacha ikut sedih. Meski hubungan mereka tergolong baru, tapi terlalu sakit jika benar Jay memang kurang peduli.
"Menurut lo, apa Nuri bahagia Cha?" Raka masih berdiri di dekat mobilnya. "Gue yakin, bule itu cuma pelarian aja."
Chacha hanya menyeringai. Ia tidak mungkin bilang Nuri sedang sedih karena Jay.
"Menurut lo, gimana?"
"Gue emang dulu pelit. Gue nggak terlalu bisa jadi pacar yang baik. Mana gue batalin tunangan gara-gara weton kan. Harusnya gue lebih percaya aja sama perasaan gue."
Chacha tersenyum. Ia senang Raka sudah menyadari kesalahannya di masa lalu. Orang bisa belajar dari kesalahan untuk memperbaiki diri. Lebih tepatnya lagi untuk menata hidup dari penyesalan yang menghantui.
"Cha, gue mau tanya nih."
"Apaan?"
"Nuri masih suka BTS? Apa gue harus bergaya kaya Kim siapa tuh yang dia suka?" Raka memasang wajah lugu ketika bertanya.
"Taehyung sama lo jauh lah. Gile aja lo, Ka. Mau memaksakan diri jadi KTH! Hahaha!" Chacha tertawa geli.
"Bener kata Mas Dika, enak jadi diri sendiri ngapain cosplay jadi orang lain kan?"
Chacha menyentil dahi Raka karena di depan rumahnya sedang ada acara cosplay.
"Apaan si!" ujar salah seorang cosplayer saat mendengar ocehan tidak penting Raka. "Cosplay ya jadi orang lain lah dasar bego!"
"Makanya mulut lo tuh nggak usah iseng deh, Ka."
__ADS_1
"Wibu emang serem," gumam Raka.
Nuri sudah dua hari tidak membalas pesan Jay apalagi untuk mengangkat telepon. Ia sedang menyibukkan diri untuk melatih kemampuannya. Membuat aneka roti yang ia pelajari dari buku resep Chef Eric.
"Susan, aku boleh pinjam *mixer* yang di lemari nggak?"
"Boleh, Nuri. Pakai saja." Susan bersiap untuk pulang dengan Andre.
"Terima kasih!"
Ia harus produktif meski sedang patah hati. Pelajaran di kelas memasak Chef Eric sangat santai, tidak ada bentakan.
"Pie apel yang kamu buat enak." Chef Eric memuji muridnya.
"Makasih, Chef." Nuri lebih bersemangat karena pujian tulus.
"Jay suka pai apel. Kamu bisa membuatkannya, dia ahli dalam menilai pai apel mana yang enak. Seluruh toko roti di daerah ini sudah pernah ia datangi demi pai apel."
"Aku baru tahu, Chef. Terima kasih infonya." Ia tidak ingin menunjukan raut kecewa apalagi sedih.
Ia sudah selesai dengan jam kerjanya. Waktunya untuk istirahat sejenak sambil memikirkan makan malam apa yang enak.
*Masa bodo lah!
Ngapain juga mikirin orang yang nggak tegas sama perasaannya*!
"Kayaknya kamu masih kesal?" Saki yang tidak sengaja lewat di dekat Nuri.
"Nggak usah di bahas lagi!" jawab Nuri ketus.
Meski harga dirinya sudah terluka, ia masih memiliki nurani untuk memaafkan. Minimal, Louis atau Eva datang meminta maaf.
"Benci sedikit." Tatapan matanya kosong, ia sedang memikirkan banyak hal. Perbedaan antara ia dengan Jay. "Kami ada di bumi yang sama dengan kemewahan yang berbeda."
Saki tertawa kecil. Ia sudah bekerja lumayan lama di kedai kopi, sering juga melihat Jay yang mampir untuk beli americano dingin.
"Harusnya kemarin kamu udah berdamai kan?"
__ADS_1
"Terlalu malas untuk damai kalau dia aja masih suka mantannya."
"Kamu tahu dari mana?"
"Tatapan matanya. Ekspresi Jay berbeda saat temannya menyebutkan nama Lusi."
Benar. Bagi kaum hawa, lebih baik merelakan sebelum terlambat. Banyak hal buruk jika dipaksa untuk jatuh cinta dengan membawa cinta di masa lalu.
Nuri tidak terlalu pintar dalam hubungan. Ia sering putus di tengah jalan dengan beragam alasan konyol.
"Kalau kita saling cinta ayo kita putus aja. Kan kalau takdir juga pasti ketemu." Alasan dari mantan pertama Nuri, Riza, nyatanya setelah putus dia duluan yang mempunyai pacar baru.
"Pacaran cuma pegangan tangan doang? Apaan banget si, nggak ada serunya!" ucap mantan kedua Nuri, Deny. "Minimal bobok bareng dong!" ledeknya lagi.
"Lo bobok sama emak lo aja, njir!\*" Nuri kesal, ia menampar pipi kiri mantan kekasihnya saat itu. Baginya, lebih baik menjomblo daripada kehilangan martabat sebagai seorang wanita. Mahkota.
Raka berbeda. Ia adalah pemuda yang lumayan polos, pelit dan mempunyai akhlak.
Terbangun dari lamunan mengenai kisah cinta kelam di masa lalu. Nuri langsung mencuci muka dan mengambil kuas masker. Meksi sedang *badmood*, wajib untuk memperhatikan kulit wajah. *Glowing* butuh usaha, bukan butuh tuyul.
"Serem!"
Ia lalu beranjak ke ruang tengah. Di sofa yang ia duduki masih tersisa wangi parfum Jay yang maskulin dan mewah.
"*Aku kangen kamu, Jay*..."
Nuri tidak ingin menangis. Ia sudah lelah untuk berjuang lebih apalagi bertahan.
Jay memencet bel di pintu samping toko. Ia juga merasa bersalah selama dua hari. Diamnya hanya untuk menunggu amarah Nuri reda.
"Jay?"
"Nuri... "
\*Bersambung
Helo gaes gimana suka nggak? Terus dukung ya dengan cara like dan comment.
Saranghae🤣😍*
__ADS_1