Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 17


__ADS_3

"Dia lagi!"


Nuri enggan membuka pintu. Ia justru bangkit untuk melihat kalender. Kelas gratis Chef Eric hanya tersisa sepuluh hari lagi.


"Nyatanya nggak ada duit, ya udah kerja aja deh di toko kue. Mumpung udah bikin visa juga."


Masih mengintip Jay dari jarak jauh. Ia ingin menguji seberapa sabar Jay menghadapinya. Dulu, Raka pintar mengambil hati dengan membelikan seblak dari kedai gaul.


"Gue kangen banget makan cilok Mas Al," batinnya.


Toko roti tempatnya bekerja tutup jam lima sore. Dalam satu hari, toko dengan bangunan klasik yang terletak tidak jauh dari sungai Seine menghasilkan omset tinggi. Dua kali pemanggangan, ia tidak mampu menghitung berapa ratus roti yang terjual. Nuri hanya tahu, roti sisa dan roti untuk pekerja berada di rak terpisah.


"Gue kalau pulang ke Indonesia jelas bikin toko roti deh, gue namain toko roti glow."


Ia mengintip sedikit, apakah Jay masih bertahan untuk menunggu. Salah. Jay sudah bergeser ke toko sebelah.


"Dasar nggak setia!" ia kesal lalu membuka pintu.


Jay terlihat elegan hanya dengan meminum kopi. Tidak salah jika ia termasuk manusia mempesona bagi banyak gadis.


"Lihat, dia sangat santai. Seperti nggak pernah ada beban hidup."


Tidak terlalu takjub tapi sedikit iri hati. Nuri yang dulu saat SMA di cemooh banyak teman di kelas dan wali kelasnya karena mengemukakan sebuah cita-cita.


"Ya, anak-anak. Silahkan kalian kemukakan cita-cita atau keinginan kalian dalam hidup untuk acuan masa depan kalian." Motifasi dari Pak Sarwo, wali kelas Nuri saat itu.


Tiba giliran Nuri untuk maju. Beberapa tidak terlalu menggubris Nuri ketika bangkit dari kursinya untuk melangkah ke depan papan tulis.


"Cita-cita dalam hidupku adalah menjadi pribadi yang tidak terlalu mencolok tapi menarik perhatian orang-orang." Nuri sangat percaya diri.


"Maksud kamu dalam hal apa, Nuri?" tanya Pak Sarwo.


"Begini, Pak. Dalam hal pertemanan. Aku tidak ingin mencolok sebagai seseorang yang sangat pandai bergaul. Tapi, ingin menarik perhatian orang lain untuk berteman." Nuri secara tidak langsung sedang mengakui bahwa dirinya sangat payah dalam berteman di kelas.


"Nuri.... " Chacha memasang wajah terharu namun juga nelangsa.


"Nikah aja lo sama orang tajir, Ri. Impian lo tercapai! Lihat tuh Nia Ramadhani." Ucap Firdha dengan tatapan meledek.


Nuri menandai orang-orang seperti Firdha, terobsesi menikah dengan tuan muda kaya.


"Dasar cewek yang suka ngejar Tuan Muda."


Bel istirahat berbunyi. Ia akan pergi bersama Chacha ke perpustakaan untuk membaca novel atau komik sebagai pelepas penat.


"Arggggh!" ungkapnya dengan nada kesal.


"Kenapa lo?" Chacha masih sibuk memilah buku mana yang akan ia pinjam.


"Gue nggak abis pikir, Cha. Kenapa si dalam setiap novel asing yang gue baca pasti karakter cowoknya kalau nggak direktur ya tuan muda kaya raya!"


Iya benar. Bukan hanya mereka yang merasakan hal yang demikian.


"Makanya Ri, kita sebagai kaum yang levelnya biasa-biasa aja mana bisa? Giliran dapat yang tampan rupawan dan kaya, nanti dikiranya pake jompa-jampi kan?" Chacha menatap Nuri dengan tampang sangat pasrah, ia sangat menyadari level.


"Boro-boro ngarep jadi istri CEO kaya di drama Korea. Mas-mas di toko roti aja kayanya kalau liat gue gedeg gitu." Nuri menelan ludah. Ia juga menyadari bahwa dirinya cupu.


"Perasaan lo aja kali, Ri."



Jay bukan menyerah. Ia hanya haus.



"Kamu pacarnya Nuri kan?" tanya Saki dengan nada sopan.



"Iya. Kamu teman Nuri?"



Saki mengangguk. Sebenarnya, ia sudah mendengar rumor kalau adik sepupu Eric itu sangat kaya. Bukan hanya rumor, tapi penampilannya memang mencolok.



"Aku juga orang Asia kok," ucap Jay, ia menyodorkan tangannya.

__ADS_1



"Saki, Jepang." Saki menjabat tangan kanan Jay. Mereka resmi saling memperkenalkan diri.



Setelah dua gelas es americano habis. Jay juga lapar, ia memesan roti bakar. Kedua matanya masih memantau layar ipad. Ada beberapa pekerjaan yang harus tetap dipantau meski berada di luar hotel.



"Apa kalian sudah baikan?" Saki datang untuk mengantarkan pesanan Jay.



"Belum," jawabnya singkat.



*Pantas saja mereka belum baikan. Yang satu sangat sibuk dengan pekerjaan, yang satu sedang bergelut dengan tekadnya untuk mogok*.



"Apa Nuri cerita sesuatu?" Jay meletakan ipad di meja, ia sudah selesai.



"Iya. Katanya kamu sedang bingung dan kurang tegas. Dia kecewa karena kamu lebih membela temanmu."



Saki adalah tipe lelaki yang jujur. Ia juga sangat suka membantu orang lain. Tapi, sekarang ia lebih ke arah peduli. Gadis baik dan imut seperti Nuri terlalu jahat untuk di abaikan.



"Dia berpikir kaya gitu?" Jay yang tidak terlalu peka, tapi merasa bersalah.



Lima menit kemudian. Nuri datang untuk membeli kopi susu.




Nuri melirik ke arah sudut kafe. Jay sedang bersama Saki.



Gawat. Ia masih berencana untuk ngambek tapi terancam gagal.



"Oh, Jay." Nuri tidak berkutik.



"Duduk," Jay mengisyaratkan kepadanya untuk duduk di sebelah.



"Kalian bicaralah, aku akan lanjut bekerja." Saku pamit, ia perlahan melanjutkan kerja.



Canggung.



Mereka duduk sebelahan. Untuk beberapa saat memang rasa kesal di hati Nuri masih tersisa. Tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Ia juga merindukan Jay.



"Kamu pesan apa?" Jay membuka obrolan dalam suasan yang canggung.



"Kopi susu hangat," ucapnya pelan.

__ADS_1



Obrolan cepat berhenti. Rasanya ada yang kurang. Nuri ternyata tidak membawa ponsel. Dalam situasi yang canggung, ponsel pintar adalah teman terbaik.



"*Duh asem banget pake lupa bawa hape kan jadi kegok, mana nggak bisa main sosmed apa liat live bias gue huhuhu*."



"Maaf ya untuk kejadian kemarin." Jay menunduk, ia juga malu. Meski bahasa Indonesianya lumayan lancar, tapi sifat pemalu masih mendominasinya. "Aku salah karena biarin kamu dihina begitu. Aku udah marahin Eva karena dua keterlaluan."



Nuri juga merenung selama dua hari. Ia juga salah karena terpancing emosi, ia yang seharusnya lebih dewasa tapi malah cepat terbawa perasaan yang berlebihan.



"Aku juga salah, aku nggak bersikap dewasa banget..."



Jay meraih kedua tangan Nuri, ia merasa sifat kekasihnya wajar.



"Sekarang kita udah baikan kan?" Jay lagi-lagi gemas dengan senyum Nuri. Senyum yang dua hari ini ia rindukan.



"Kalau soal mantanmu ngajak balikan aku udah nggak mau pikirin, Jay. Aku mau mikirin hal baik aja."



"Aku nolak balikan karena kamu."



"Ya kan harusnya emang gitu? Emang kalau nggak ada aku, kamu mau balikan?" Nuri sedikit sewot.



"*Keep calm, Bae*."



Jay bukan seorang yang romantis. Ia tidak bisa seperti lelaki lain yang membawakan buket bunga. Ia lebih memilih untuk mengerti apa yang kekasihnya suka.



Raka tiba-tiba ingin pergi ke mall. Ia mengajak Candra untuk jalan-jalan dengan mobil BMW baru miliknya.


"Lo kayaknya puas banget, Bro?" Raka mengamati Candra yang kegirangan.


"Naik mobil mewah kaya gini ya gue puas, Bro. Biasa naik angkot. Hahaha!"


"Bisa ae lo."


Mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu di foodcourt karena kebetulan jam makan siang. Banyak makanan enak dan es segar yang menggoda mata.


"Mbak, gue es krim vanila stroberi ya!" Raka sangat antusias.


"Duh mas stroberinya tinggal satu nih, udah di pesen adiknya." Mbak penjual es krim menunjuk ke bawah.


Raka menyadari ada sosok anak kecil yang terus mencubit.


"Duhh!" ia mengeluh keras.


"Rasain..." anak kecil tersebut menjulurkan lidahnya dan beranjak pergi.


Dug! Hua! Hiks!


Bocah kecil itu terpeleset usai memasang wajah puas karena berhasil membuat Raka kesal.


"Hahaha!" Raka tertawa lebih dahulu sebelum membantu si kecil.


Memang begitu. Kebanyakan orang sering tertawa hanya dengan melihat orang lain terpeleset.

__ADS_1


"Biadap banget gue ngetawain orang kepleset, eh tapi nyatanya lucu. Celana dia sobek!''


Sepertinya bukan hanya Raka yang tertawa. Dari balik antrian bakso, Candra juga terpingkal.


__ADS_2