
"Hongpingpah!"
Jay kalah dalam permainan kanak-kanak dengan sang istri. Terpaksa ia harus memasak. Menu yang menjadi taruhan bukan menu yang merepotkan, sebatas nasi goreng telur.
Kalau di masa lalu, Nuri adalah penyelamat Jay di kala asam lambung menyerang dengan tidak sopan. Tapi berkat itu, Jay sadar satu hal. Nuri tidak terlalu pandai memasak, ia hanya seorang pro dalam bidang baking.
"Kamu kenapa si nggak suka masak, Bae?"
"Masakanku sama kamu masih waras masakanmu. Demi keselamatan lambung kita juga kan?"
Jay masih memotong sayuran sebagai bahan pelengkap. Nuri juga sibuk dengan mixer yang ia pinjam dari dapur hotel.
"Kita kok kaya saingan ajang memasak ya?"
"Masa sih?'' Nuri agak cuek, ia harus memastikan bahan-bahan tercampur halus.
Atmosfer yang berdeda. Kalau biasanya dua sejoli ini bermesraan layaknya pengantin baru, kali ini lain. Seperti adu bakat dalam kelas memasak. Nuri dengan sungguh-sungguh ingin membuat kue untuk sang suami. Jay juga tidak mau kalah, ia sengaja memamerkan skill memasaknya. Mereka saling tatap sejenak.
"Apa kamu juga dulu punya cita-cita jadi Chef?"
"Tentu tidak, Nyonya Jang. Saya hanya seorang suami rumah tangga."
Nuri tertawa geli mendengar jokes Jay. "Hahaha! Kenapa istrimu tidak tahu diri sekali, Tuan Jang? Apa dia merasa berkuasa di rumah?"
"Dia adalah ratu rumah! Dia bahkan membuatku selain memasak juga harus menemani hobinya!"
"Sialan sekali wanita itu ya!"
Jay tertawa sangat keras. Masa-masa indah bersama sang istri tidak mungkin ia rusak dengan kegundahanannya. Ada rasa bersalah yang sengaja ia tutupi.
"Jay?" Nuri sedikit mengamati wajah sang suami yang memasang ekspresi berbeda.
"Bae, ayo kita nonton film."
Setelah makan, mereka sepakat untuk menonton film di hotel saja. "Kita nggak usah ke bioskop, cukup di sini."
"Ada apa?"
Setengah jam pertama, Jay hilang fokus. Pikirannya bukan tertuju dengan film bagus besutan sutradara ternama asal almamaternya melainkan satu kabar yang mematahkan segala teka-teki.
"Jay ini gila! Apa benar Mark menyukai istrimu? Apa dia merawatnya?"
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Pria gila! Apa kamu nggak tahu Jay? Dia juga ahli melakukan hipnotis! Dia kan juga seorang terapist kejiwaan!"
Satu persatu mulai terbongkar. Ada penyebab kenapa Nuri bisa mengalami mimpi buruk yang sangat panjang.
"Apa di dalam mimpi buruk itu kalian menikah dan hidup bahagia?" Jay tidak ingin menanyakan hal tersebut tapi demi Nuri, istri tercinta.
Nuri terdiam. Jika diingat memang agak aneh kenapa sang suami bertanya hal yang sedang ia coba lupakan. "Kenapa?"
"Jawab aku, Nuri. Apa kehidupan di dalam mimpi itu membuatmu senang?"
"Nggak!" Nuri agak histeris.
Jay memeluk sang istri. Nuri juga merasakan ada kejanggalan dengan perawatan Mark, tetapi apa daya. Bagaimanapun tangan dingin Mark telah membuatnya normal kembali.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu pikir hidupku baik-baik saja jika kehilangan kamu, Jay?"
"Maaf, Bae." Jay memeluk Nuri, ia menyeka air mata sang istri. "Maafkan pertanyaanku tadi. Aku tahu satu hal. Kamu tulus mencintaiku."
"Sebenarnya aku nggak mau ngomongin ini, tapi mumpung kamu bahas Dr. Mark. Dia setiap hari mengirimiku pesan dan bertanya kondisiku. Awalnya aku pikir ini wajar, tapi aneh karena isi pesannya akhir-akhir ini."
"Benarkah, Bae? Maafkan aku, Sayang. Pertanyaanku pasti melukai kamu tadi ya?"
"Hmm... "
"Kamu gila!" Vin mencerna curahatan hati sang sahabat. "Kamu menyukai Nyonya Jang? Apa kamu tahu siapa itu Jay Jang Clarkson?"
__ADS_1
"Aku tahu dia, suami buruk itu." Mark tersenyum sengit.
"Kamu masih berpacaran kan dengan Lisa?"
"Lisa dan aku sudah berakhir, Vin. Dia sekarang berpacaran dengan pria kaya dari Paris."
"Astaga!"
Mark menutup panggilan dari Vin. Setelah menyelesaikan pekerjaan, ia masih harus mengerjakan pekerjaan sampingan yang menghasilkan banyak uang.
Hidup yang ia jalani tidak seperti si cucu konglomerat, Jay Jang Clarkson. Mark harus berjuang keras agar bisa kuliah dengan jalan beasiswa prestasi. Bahkan salah satu yayasan yang menyediakan dana pendidikan gratis saat itu milik keluarga kakek Jay.
"Ini yayasan milik keluarga Jay Jang Clarkson itu kan?"
Mark muda yang saat itu bermodal nekat mendaftarkan diri beasiswa. Yayasan pendidikan terkenal tersebut menawarkan bantuan yang nyata.
"Apa fakultas kedokteran benar tujuan kamu?" saat itu Jay bertanya kepadanya sambil membaca biodata Mark.
"Benar."
"Baiklah. Semoga kamu menjadi dokter yang berbudi suatu hari nanti."
Saat bertemu kembali, ia melihat wajah putus asa Jay. Istrinya tidak sadarkan diri. Orang-orang bilang mereka adalah pasangan yang serasi dan romantis.
"Kak Jay hampir gila karena kecelakaan istrinya." Lisa pernah memberitahunya.
"Kenapa? Apa dia begitu mencintai wanita itu?"
"Tentu! Dia adalah istri idamannya."
Berkat bujukan Lisa dan juga Profesor Johnny, Mark akhirnya setuju untuk merawat istri Jay Jang.
"Tolong bantu dia untuk cepat sembuh, Profesor."
Wajah Jay saat itu tidak secerah saat mereka pertama kali bertemu di yayasan. Wanita yang membuat pria hebat seperti Jay takluk juga wanita yang hebat.
"Dia... " saat mengecek kondisi Nuri untuk pertama kali, Mark agak ragu. "Tidurnya terlihat lelap sekali."
__ADS_1
Hari demi hari membuat Mark lebih intens untuk mengunjungi Nuri. Wajah cantik, imut dan menggemaskan sepertinya jarang sekali ditemukan.
"Cantik sekali, Nyonya Jang."
"Setelah ini, Anda harus bangun dan melihat matahari yang indah dari atas gunung."
Mark menyebut dirinya sendiri gila. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menggunakan terapi dan sugesti untuk berkenalan dengan Nuri Jang.
"Suatu hari nanti kamu akan berterima kasih dan mencariku."
Kondisi Nuri mulai membaik dan dengan kesabaran semua pihak akhirnya ia kembali siuman.
"Jay... Jay... Jay... " dan nama pertama yang ia panggil tetaplah Jay.
"Anda sudah bangun?"
"Dokter tolong panggilkan suamiku!" Nuri yang bangun terus menerus mencari Jay. Dengan wajah yang sangat bingung ia terus menangis.
Jay datang dan langsung memeluk istrinya. "Nuri!"
"Jay!"
Pelukan yang begitu indah dan membuat orang-orang terharu terlebih Mark yang ikut larut dalam air mata.
Jika mengingat kisah itu, Mark juga merasa sedikit cemburu. Apa ini keterlaluan?
"Mark!" Jay Jang berdiri di depan kantor Mark, menyeret Mark ke dekat lorong dekat lobi rumah sakit.
"Apa yang kamu mau sebenarnya?!" Jay menarik kerah jas dokter Mark.
"Ceraikan Nuri. Kamu adalah pria terburuk yang pernah ada!"
"Apa maksudmu?"
"Kamu adalah pria brengsek, Jay Jang. Kamu meninggalkan istrimu lagi kan? Sama seperti kamu meninggalkan anakmu di masa lalu!"
"*What the hell?!"
__ADS_1
Bersambung*...