Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 23


__ADS_3

Orang tua Chacha bukan hanya takjub dengan jati diri Raka yang ternyata seorang pangeran, mereka tidak percaya seorang tuan muda kaya ternyata suka dengan makanan rakyat biasa.


"Masih doyan cireng, Ka?" Bapak Chacha, Pak Amir sampai geleng-geleng kepala.


"Tante pikir selera kamu udah berubah juga lo."


"Nggak lah Om, Tan. Kalau bisa itu getuknya sekalian dong.'' Raka meringis tidak tahu malu. Tidak ada yang menolak oleh-oleh.


"Gue juga mikir, lo beneran kaya atau ternyata semua ini hanyalah mimpi. Hahaha!" Candra geli sendiri melihat kerakusan Raka.


Mereka sedang bersiap untuk pergi ke Paris. Chacha sudah tahu dimana sahabatnya bekerja. Mereka juga sudah memesan penginapan termurah.


"Kasihan Raka, kalau kita nginep di hotel ini." Chacha menunjuk sebuah hotel mewah dengan tarif ratusan juta rupiah per malam.


"Bener juga Sis, gile ni hotel harganya kaya mobil aja." Candra juga ikut. Ia sedang berusaha mengembangkan bisnis, mungkin ikan hias Eropa juga lebih indah. Bisa jadi sebuah terobosan.


"Kalau bisa nyari yang paling deket deh sama tempat Nuri, gue nggak bisa bahasa Prancis loh." Raka masih sibuk mengecek isi koper.


Ada yang sebenarnya mengganjal. Raka sering mengamati sosial media Jay. Untuk ukuran orang sepertinya, apa benar serius dengan Nuri? Dia sudah menjadi pecundang karena dulu meninggalkan gadis seperti Nuri.


Ternyata patah hati itu memang rasanya menyebalkan.


"Apa si yang masih jadi beban lo, Ka?"


"Gue cuma mau mastiin dia emang bener bahagia aja."


Bukan sok puitis, untuk beberapa orang, hanya dengan melihat seseorang yang kita sukai bahagia itu lebih dari cukup. Tidak ada keinginan lain.


"Kenapa lo nggak coba mup on?" Candra tidak tahu rasanya galau, ia sendiri belum pernah pacaran. Kalau suka pernah.


"Gue bakal lakuin kok, Bro. Asal kali ini beneran Nuri bahagia." Raka tersenyum tipis. Ia sebenarnya bukanlah orang yang mudah berpaling.


"Cewek yang kemarin nyamperin lo... lumayan kan?"


Oh, kemarin. Mantan customer Raka. Dia sebenarnya lupa siapa nama perempuan kemarin. Dulu bahkan kini, masih selalu Nuri yang ada dalam pandangannya.


Mereka sedang menunggu Chacha yang membeli camilan untuk Nuri.


"Yuks!" Chacha melambaikan tangan, ia terlihat sangat modis. "Cuss otewe Paris!" Chacha menggandeng kedua lelaki tersebut.


Mereka duduk berdekatan meski dalam pesawat. Candra yang sering begadang langsung tertidur begitu pesawat lepas landas. Sementara Raka tidak lupa berdoa untuk keselamatan para penumpang. Ini juga pertama kalinya naik pesawat.


"Rileks," ucap Chacha. Ia berlagak seperti orang yang sering naik pesawat. Padahal baru pertama kali.


Memandang langit biru yang sangat dekat. Banyak sekali hal-hal indah yang terlihat menawan ketika berada di atas awan. Sesuatu yang tidak mungkin manusia ciptakan.




Berkat koyo pemberian Saki, Nuri merasa dapat tidur nyenyak dan bangun lebih pagi. Ia lalu keluar. Suara mobil pengiriman bahan baku roti dan suara Chef Eric yang lumayan keras.



"Pagi, Chef. Kenapa pagi-pagi begini udah berteriak?" Nuri masih setengah sadar.



"Maaf, Nuri. Aku pasti berteriak keras ya? Soalnya kurirnya sedikit eh, dia tidak dapat mendengar dengan baik dan lupa bawa note kecil." Terlihat sangat merasa bersalah, Chef Eric akhirnya menuliskan lewat ponsel daftar pesanan toko.



"Oh, Chef. Biar aku saja yang mengurus sisanya."



Chef Eric masih harus mengurus banyak hal di pagi hari. Apalagi jadwal acara hotel yang menginginkan kue lezat buatan toko sudah mengantri.



Nuri awalnya canggung. Kurir pengiriman tampak ramah, dia juga sering tersenyum.



"Maaf, apa kamu tidak membawa alat bantu dengar?"



Pemuda tersebut mengangguk. Ia memang lupa tidak membawanya. Nuri pernah melihat Susan berbincang mulus tanpa hambatan dengan dia.


__ADS_1


"Terima kasih!"



Saki yang sedang membuang sampah pun ikut bergabung. Paginya selalu lebih bersemangat jika mengobrol dengan Nuri.



"Aku tahu kenapa Jay Jang menyukaimu."



"Apa dia bilang padamu?" Nuri malu, tapi ia juga penasaran.



Tunggu Nuri sering bepikir, Jay Jang begitu terkenal di kompleks.



"Caramu memperlakukan orang." Agak malu untuk mengakuinya, Saki juga baru pernah bertemu gadis seperti Nuri.



"Aku?"



"Aku yakin sikapmu lebih baik dari gadis lain."



Tidak ingin terlalu percaya diri. Nuri juga belajar hal tersebut dari orang tua dan kakaknya.



"Saki, percaya atau nggak, kamu kok mirip sama artis si?"



Giliran Saki yang tertawa. Sudah banyak yang bilang begitu termasuk pegawai boba.




"Pegawai yang mirip Kim Taehyung? Dia beneran bukan member BTS lagi nyamar kan?!"



Hanya dengan lelucon seputar hobi Nuri, Saki sudah sangat terhibur.



Nuri terlihat cantik saat tersenyum di pagi hari. Saat terbaik adalah melihatnya tertawa riang cukup untuk menyemangati hari Saki.



Pukul sembilan pagi. Suasana toko roti maupun kedai sangat ramai pengunjung. Sudah ratusan kali Nuri mengucapkan terima kasih dalam tiga bahasa.



"Kamu capek?" Susan memberinya sebotol soda.



"Terima kasih, Susan." Nuri seperti biasa, selalu mengantuk di sore hari.



"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?"



"Tinggal menunggu acara saja. Kamu harus datang bersama Jay ya."



"Tentu."


__ADS_1


Pukul empat sore. Toko sudah tutup karena sedang menyelesaikan beberapa pesanan hotel. Nuri ikut membantu mengemas. Banyak sekali jenis kue di dunia ternyata. Pengetahuannya sekarang makin luas.



"Nanda nanti bakal jengukin adek, jadi adek tunggu aja." Membaca pesan *whatsapp* dari Ibu, membuat hatinya lega. Meski tidak sering telepon, ada ikatan batin yang lebih kuat. Rindu dalam doa yang terucap.



Semakin hari, ia mengerti. Menggapai mimpi memang tidak semudah menonton drama. Banyak keringat dan tangisan yang ia korbankan.



"Bisa nggak ya gue bikin toko roti?"



Terkadang ada perasaan untuk menyerah. Usianya sudah pantas untuk menikah.



Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, Nuri pergi membeli kopi susu di kedai sebelah.



"Tunggu ya," Saki dengan sigap melayani Nuri.



Sepuluh menit kemudian. Saki datang membawakan pesanan Nuri. Tampak jelas dari sorot mata temannya, sedang banyak pikiran.



"Kamu terlihat banyak pikiran. Ada apa?"



"Hmm, nggak mungkin aku bilang nggak ada apa-apa. Aku sedang banyak berpikir. Saki, jarak antara kami begitu besar. Belum lagi, bagaimana ya cara mewujudkan mimpiku? Aku ingin punya toko roti." Wajah Nuri tidak seceria pagi hari.



Saki tidak tersenyum. Dia juga mengalami hal yang sama. Butuh waktu untuk mewujudkan mimpi. Termasuk melanjutkan S2 di Paris.



"Memang nggak mudah... tapi kita harus berusaha. Nggak apa, kalau belum tercapai. Mungkin bukan waktunya."



"Wow, kamu bijaksana sekali."



Baru melihat Nuri tersenyum. Dua orang datang menghampiri meja tempat ia makan.



"Kamu yang namanya, Nuri?"



Eva datang bukan bersama Louis melainkan mantan kekasih Jay, Lusi. Nuri pernah melihat foto Lusi.



"Iya, memang kenapa?" tanyanya dengan nada menantang.



"Putus dengan Jay!" Gadis berambut blonde, wajahnya mirip salah satu personel Blackpink.



Yang lebih mengesalkan lagi adalah ekspresi wajah Eva. Mereka lebih muda, tapi rasanya Nuri ingin sekali marah dan berkata kasar.



"\*Hey, bitc\*\*!"



Bersambung\*...

__ADS_1


__ADS_2