
Nuri makin gelisah.
Pikirannya sedang menjurus ke hal ngawur, ia berjalan dengan takut dan Jay menabraknya.
"Apa yang kamu lakukan, Jay?" tanya ia penuh kecemasan.
Nuri mulai membayangkan kalau balas budi memang harus segera dibalas. Tapi, ia adalah gadis cantik yang memiliki harga diri tinggi. Ia akan menolak permintaan Jay dengan cara yang halus.
Jay yang tidak sengaja jatuh dan kebetulan bahu nuri yang kecil mampu menopangnya.
"Aku ingin makan," gumamnya.
"Apa?" Nuri paham situasi, apalagi perut Jay yang berbunyi. Ia segera memapah Jay menuju ke dekat dapur.
"Aku belum sempat makan berat," ucap Jay. Wajahnya memang tampan, tapi ia lebih pucat dari tadi siang.
"Hei, Jay! Kamu tahu tiga istilah ini? Harta, tahta dan asam lambung!" teriak Nuri.
Jay yang memang memiliki asam lambung, harus akui ia sering telat makan karena pekerjaan di hotel menumpuk belum lagi tadi siang membantu Nuri kesana kemari mencari sebuah pencerahan.
Nuri mengambil beberapa bahan makanan di kulkas, ia akan memasakan sesuatu untuk menghilangkan lapar Jay. "Anggap aja balas budi gue kan," gumamnya.
Masakan yang ia hidangkan tidak terlalu buruk tidak juga menarik. Hanya telor goreng yang ia hias dengan saos tomat bergambar senyum.
"Sesuatu yang dibuat tulus, jangan melihat penampilannya oke?" Nuri membantu Jay untuk menuangkan kecap.
Jay menerima dengan pasrah, ia tidak mungkin menelfon Eric untuk minta sisa roti toko. Masakan yang sangat seadanya dan memang tidak terlalu menarik terpaksa ia lahap.
"Apa kamu sering masak untuk pacarmu?" tanya Jay, ia sedikit penasaran betapa menderita kekasih Nuri harus melahap masakan buatannya.
"Dulu si..dia malah nggak mau makan masakanku, malah lebih enak warung pinggir jalan katanya."
"Pria yang sangat jujur," ucap Jay pelan.
"Aku cuma suka membuat kue.."
"Tapi bagaimanapun, wanita kan akan menikah dan menjadi istri kan?"
"Aku yakin ada pria yang baik akan memasakan untukku," ungkap Nuri.
"Aku harap kamu segera bertemu dengannya."
"Udah kok," imbuh Nuri.
Jay yang telah kenyang memilih untuk pulang, ia mengendarai mobil sport warna biru. Nuri yang diam-diam memotret saat Jay tadi makan, hanya bisa tertawa geli mengedit foto Jay.
Jay sebenarnya ingin sekali makan sesuatu yang lezat, tapi Eric sudah pulang dan kebetulan ada Nuri. "Sebenarnya masakan dia nggak enak."
Ia tidak mungkin menolak niat baik Nuri untuk membantu menolong perutnya, tapi rasanya aneh di lidah. Perasaan ingin sekali mual dan makin tak karuan.
Nuri masih terjaga hingga subuh, ia menonton drama kesukaannya.
Ponselnya berdering.
"Halo?"
"Halo apa benar ini Nona Nuri? Kami dari IGD klinik ingin mengabari kalau pacarmu sedang di rawat."
"What!" teriak Nuri.
Ia langsung mengambil jaket tebal dengan piyama panjang, ia berlarian menuju klinik yang paling dekat dengan toko kue.
"*Apa Jay keracunan gara-gara masakanku?"
"Aku harus bagaimana menghadapi ini*?"
Ia berlarian tak karuan, dengan wajah histeris dan ketakutan. Jay adalah penyelamatnya di Paris yang tak sengaja ia nistakan dengan editan foto. Perasaan bersalah makin menyerang Nuri. Ia berlari hingga di depan klinik.
"Maaf Sus, pasien bernama Jay dimana?" ia bertanya di meja resepsionis klinik.
"Yang keracunan makanan bukan?" Suster mengantar Nuri hingga ruangan Jay.
Jay mengenakan pakaian klinik dengan wajah yang masih tampan namun di infus makin menyiksa batin Nuri.
"Anda pacarnya?" tanya suster yang lain.
"Aku...yang masakin dia makanan tadi.."
Tidak banyak pasien di klinik, beruntunglah perawat dan dokter pandai bahasa Inggris. Nuri yang tidak terlalu mahir bahasa Prancis sangat merasa tertekan mendegar lagu yang diputar oleh klinik.
__ADS_1
Ia menelepon Chef Eric untuk meminta ijin menemani Jay di klinik, bagaimanapun ini ulah Nuri.
"Nuri?" Jay bangun dan menatap ke sekitar. Ia masih merasakan lemas dan pusing.
"Tolong bantu," ucap Jay dengan lembut.
Nuri membantu Jay untuk duduk dan mengambilkan ponsel.
Jay langsung mengabari hotel untuk cuti.
"Apa kamu nggak ngabarin Ibumu?"
"Untung kamu ingatkan," masih dengan suara yang lirih.
"Mom?"
"Ya Sayangku, dimana kamu?"
"Klinik, lagi main sebentar gara-gara asam lambung."
"Kamu nggak kekurangan uang kan?"
"*Get well soon, Honey*."
Luar biasa. Nuri yang mendengar percakapan Jay dengan Ibunya yang tampak seperti dengan teman. Ia berasal dari keluarga kaya, pasti tidak akan paham dengan derita gadis sederhana sepertinya.
"Aku udah mengikuti instagram kamu, Jay."
"Aku jarang main sosmed." Jay memang memiliki waktu senggang di akhir pekan, sosial media baginya tidak terlalu penting.
"Aku sering main sosmed."
"Aku nggak tanya, Nuri." Jay berbaring kembali. Ia ingin sekali tidur lebih lama di siang hari, sesuatu yang pengangguran sering nikmati di hari formal.
Nuri yang dengan santai asyik menatap layar hp, ia sedang menonton episode terbaru drama Korea, begitu asyik dan tertawa tanpa beban.
Di episode yang ia tonton kali ini sang tokoh utama memilih kembali dengan cinta masa kecilnya tanpa mempedulikan betapa sakit hati wanita yang menjadi tokoh utama.
"Bawang banget si..." ia mengelap air mata yang jatuh.
__ADS_1
Jay yang sebenarnya tidak tidur, hanya mencoba memejamkan mata. "*Dia kenapa lagi*?"
Hal yang paling menjengkelkan untuk para pecinta drama adalah di telfon ketika sedang asyiknya masuk ke dalam cerita dan menikmati alur.
"Ada apa lagi?" Nuri dengan jutek menerima panggilan whatsapp dari Raka.
"Lo jutek amat si Ri,'' ucap Raka.
"Gue lagi nonton drama!" teriak Nuri.
"Gini, gue mau bayar utang yang sejuta." Raka lumayan bersikap hemat akhir-akhir ini dan mulai mengurangi belanja online lewat aplikasi. Ia ingin menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bisa dibanggakan meski oleh mantan.
"Lo masih kurang tuh yang jam tangan," sahut Nuri.
Raka menyadari kalau Nuri memang masih menyimpan rasa sayang dan juga rasa dendam yang bercampur menjadi satu perpaduan yaitu jutek.
Jay yang masih melanjutkan pura-pura tidur sebenarnya mendengarkan Nuri, ia ingin sekali tertawa karena ekspresi jutek Nuri.
"Gimana di Paris?" Raka basa-basi agar percakapan mereka semakin lama.
"Keren," jawabnya lesu.
Jay benar-benar haus, ia sudah tidak tahan lagi dan menyuruh Nuri.
"\*One bottle, please..give me."
"Okay, wait\*."
Kali ini, Raka benar-benar kepikiran mendengar percakapan Nuri dan seorang bule barusan.
"Lagi dimana lo sampai disuruh nuangin minuman sebotol?" tanya Raka penuh curiga.
"Lagi di kamar nih, nungguin bayi besar." Nuri sengaja memancing amarah Raka.
"Wah hebat banget lo, Nuri. Baru beberapa hari udah bobo sama bule Paris." Raka kesal dan mematikan panggilan.
"Hahaha!" Nuri tertawa kegirangan.
Jay yang mendengar merasa tidak enak untuk Nuri.
__ADS_1
*To be continued*...