
Part spesial untuk pelajaran kehidupan ya readers.
"Mbak, maaf ini hape ketinggalan di meja tadi." Nuri membawakan ponsel berwarna ungu milik wanita yang datang sendirian ke kafe.
Wanita dengan rambut panjang berwajah sangat cantik. Tidak, raut wajahnya muram. Tidak ceria seperti pelanggan lainnya.
"Maaf Mbak bukan kepo, apa Mbak lagi ada masalah?"
Nuri menggiring pelanggan tersebut untuk duduk di dekat taman kafe. Suasanya segar, banyak tanaman hijau dan bunga berwarna cerah. Bukan sok peduli, tapi baru pertama kali melihat seorang wanita dengan tatapan yang menyedihkan.
"Panggil aku Delia, kayaknya kita sebaya."
"Kelahiran 95 ya? Panggil aja Nuri."
Mereka tersenyum ketika membahas umur. Bisa dibilang, dua wanita dewasa yang belum menikah tapi memiliki kisah cinta yang berbeda.
"Maaf nih Del, kamu kayaknya bukan orang asli ibu kota deh. Kamu dari mana?"
"Luar kota. Aku baru pulang dari luar negri, Ri. Udah dua tahun ternyata."
"Kerja atau lagi kuliah, Del?"
Delia hanya tersenyum tapi seperti ada air mata yang ia sembunyikan. Sorot mata kesedihan yang tak tertahankan.
"Aku... "
Nuri peka, ia langsung menawarkan tisu dan mengajak Delia untuk masuk ke ruang rahasia. Ruang dimana Nuri dan Chacha menangis tanpa ketahuan banyak orang. Ruang kedap suara.
"Kamu nggak ada yang jemput, Del?"
"Nggak ada. Aku mau naik kereta tapi baca di instagram kafe ini lagi hits jadi mampir."
Nuri memberikan sebotol air mineral untuk teman barunya. "Kamu cantik banget, Del. Masa si jomblo?"
Tidak mungkin seseorang dengan paras jelita seperti dia lajang. Nuri baru pernah melihat wanita yang lebih cantik dari selebritis Korea.
"Aku nggak mau pulang, Ri. Banyak banget hal menyakitkan di kota asalku. Aku harap bisa menghindari ini dengan pergi ke Eropa, nyatanya enggak. Semua harus aku hadapi sendiri."
"Kamu nggak punya teman, Del?"
__ADS_1
Delia menatap Nuri. Senyuman tipis dan raut wajah tegasnya mengisyaratkan ia memang tirak memiliki teman.
"Ceritain aja, Del. Daripada kamu tertekan, aku siap menampung cerita kamu. Meski baru pertama bertemu, tapi aku rasa kamu orang yang baik."
Terima kasih. Delia masih bersyukur masih ada orang seperti Nuri, tidak menganggap dirinya aneh. Justru menyambut dengan ramah orang asing.
"Hari ini, hari pernikahan orang yang aku sukai dengan sahabatku, Ri. Rasanya pertemanan kami sudah rusak sejak dia mulai membenciku."
"Kok bisa sahabatmu nikah sama gebetanmu?"
"Ceritanya panjang. Di dunia ini kita memang nggak boleh terlalu berharap dengan orang lain."
Delia mulai bercerita tentang awal mula masalah pertemanannya. Ada seorang laki-laki yang membuat sahabatnya berubah. Laki-laki yang menyukai Delia bernama Aldi.
"Mas Aldi sangat baik. Pas aku lagi mencari Hector di Eropa, dia selalu kasih aku semangat hidup. Dia adalah orang yang aku sukai."
"Aku nggak nyangka kamu beneran seorang pejuang ya? Kamu ke Eropa cuma buat bertemu seseorang yang kamu kenal lewat dunia maya?"
Ada banyak cerita cinta indah di dunia nyata maupun dunia maya. Nuri memahami hal tersebut, tapi ia hanya kagum sosok yang terlihat lemah seperti Delia ternyata bermental baja ketika berurusan dengan cinta.
Takjub. Baru kali ini, ia merasa sedih meski hanya mendengar sebuah kisah cinta dunia maya. "Kamu bertemu dengan Hector nggak, Del?"
Delia hanya tersenyum. Lagi-lagi, Nuri dibuat penasaran. "Pasti Hector sangat tampan sampe kamu meringis gitu hayo?"
"Hmm."
Nuri membawakan camilan dari kulkas kecil di ruang rahasia. "Ini aku yang buat lo, cobain."
"Wah enak banget, yummi gitu." Delia melahap keu dengan potongan sedang tanpa banyak tingkah.
"Kamu butuh energi setelah menangis."
"Kalau kamu Nuri, kamu pasti sudah memiliki seseorang yang spesial?" Delia hanya menebak dari ekpresi wajah Nuri yang tersipu malu ketika menatap layar ponsel.
"Tentu, kita satu jalur. Aku juga bertemu dengannya di Eropa, Paris."
"Wow, suka pria Eropa juga ya. Hehe."
__ADS_1
Akhirnya tiba saat Delia menunjukan foto Hector Alger, kekasih hatinya. "Ini Hector."
"Hah?"
Tidak mungkin. Nuri pernah melihat pria tersebut di toko roti. "Tunggu, dia pelanggan roti kami di toko."
"Beneran? Kamu pernah melihat Hector?"
Tentu.
Nuri sedang menjelajahi ingatannya di masa lalu. Dua tahun silam, saat ia bekerja di toko roti mikik sepupu Jay, Chef Eric.
"Nuri, kamu tahu pelanggan tampan itu juga dari Asia." Susan pernah mengatakan hal tersebut. Nuri terlalu fokus kepada Mr. Jang, kekasihnya. Tidak begitu memikirkan pria tampan lain kecuali Kim Taehyung.
Nuri sering membungkuskan roti untuk Hector. Yang ia tahu saat membayar, Hector menggunakan uang tunai. Tidak seperti orang lain yang mencintai uang digital.
"Dia benar Hector pelanggan toko kami, Del. Mr.Alger."
"Nuri, apa ini sebuah kebetulan yang indah? Aku merasa senang bertemu denganmu."
Nuri juga merasa senang.
"Aku lihat foto kamu sama teman-teman kamu sangat indah. Beruntung sekali kamu punya banyak teman."
Ada perasaan sedih yang menghampiri. Dulu, ia memiliki sahabat baik, sejak kecil mereka bersama. Bahkan bekerja di tempat yang sama, kuliah di jurusan yang sama di akhir pekan.
"Bagaiamana caranya agar punya banyak teman? Aku sedikit iri. Temanku sekarang... "
"Del, pasti menyakitkan banget ya disakitin temen sendiri? Malah kalau sahabat, itu sakitnya lebih dalam kan?''
"Yang paling menyakitkan bukan disakiti dengan kata-kata, tapi ketika teman kita lupa banyak momen bahagia dan sedih yang kita bagi bersama. Tertawa cuma karena hal sepele."
Untuk banyak orang yang memiliki sedikit teman atau justru tidak memiliki teman, memiliki seseorang yang mau jadi pendengar sudah lebih dari cukup. Karena tidak semua orang pandai bergaul dengan watak seseorang yang akan kita sebut teman.
"Jay adalah pasangan, kekasih, teman bagiku." Nuri ikut terharu. Jay memang mendapatkan posisi paling indah melengkapi semua kehadiran.
"Hector adalah sahabat, orang tersayang dan kenangan masa mudaku." Delia juga tersenyum kuat, tidak lagi menangis seperti ia meningat sahabat baiknya di masa lalu.
"Kamu jangan benci sahabatmu, Del. Aku yakin dia akan menyesali ini di masa depan."
"Nggak kok, aku masih menyanyangi sahabatku. Makanya aku pulang untuk memberikan selamat untuk pernikahan mereka. Dua orang yang aku sukai."
Ponselnya berdering. Delia langsung tersipu malu.
"Where are you, Honey?"
"On the way to railway station."
"Take care, Honey. Text me if you home."
Nuri yang mendengar percakapan Delia ikut tersipu malu. "Duh, jadi kangen Jay."
"Dia adalah calon suamiku, Ri. Pelanggan toko roti di tempat kamu dulu bekerja."
"Kamu hebat banget, Del. Kamu melewati badai besar, kamu juga menunggu dengan sabar."
Delia menceritakan tentang Hector yang terpaksa menikah lalu bercerai karena sang istri memilih untuk kembali dengan mantan kekasihnya.
"Terima kasih ya, Nuri. Sampai jumpa kembali." Delia berpamitan. Senang sekali bercerita dengan Nuri, sosok yang ceria dan bijak.
"Oke, mampir lagi ya sama Hector kalau aku menikah!"
Raka yang terlalu kaget melihat Nuri dengan teman yang sangat cantik. "Widiw, cantik banget temen lo!"
"Siapa dia, Beb?" Chacha yang baru datang juga kaget. Tidak ada teman masa SMA mereka secantik wanita tadi.
"Dia temanku, teman cantik, calon istri dari kerabat di toko roti dulu.''
"Yang jelas calon suaminya beruntung dan betah di rumah, eh kamar.'' Johan ikut bergabung dalam pembicaraan.
*Bersambung...
*Extra*
Delia dan Hector dari novel terbaru yang judulnya "Kebenaran Tentangmu" jangan lupa mampir ya gaes. See ya. Love ya. Stay healty, stay safe and stay cute.
__ADS_1
Author🤗*