
PLOT TWIST AGAK GILA, TOLONG DIMAKLUMI YA GAESS😂🤣
"Jay!"
Nuri terbangun dari tidur malamnya. Suasana yang terasa sangat berbeda. Setelah berteriak memanggil nama Jay, ia merasa bersalah. Bagaimanapun, suaminya kini bukan Jay. Ia bukan hidup dalam drama, dimana Jay akan bangkit lagi dari kubur dan mencarinya.
"Sebenarnya, siapa orang yang paling kamu cintai? Jay atau Mark?"
Berkat Jay, Nuri merasakan banyak cerita menjadi dewasa dengan elegan. Beberapa malam, ia lebih sering memimpikan Jay. Tentu, ia merasa bersalah jika bertatapan dengan Mark.
"Apa aku mulai gila?" Nuri bertanya dengan dirinya sendiri. Kejadian yang baru saja ia alami seperti mimpi. Tiba-tiba ia menjadi putri Barens, tiba-tiba juga ia harus kehilangan Jay.
Jika ini mimpi panjang dan kehadiran Mark adalah sebuah ujian, Nuri akan merasa bersyukur.
"Nuri?"
Suara yang selalu ia rindukan selama dua tahun lebih. "Kamu sudah sadar?"
"Jay?" Nuri meraba wajah Jay. "Ini kamu Jay?"
Jay mencubit wajah Nuri, ia masih tidak percaya dengan kenyataan. Nuri terbangun dalam tidur panjangnya selama 800 hari. Sebuah mukjizat yang Tuhan hadiahkan.
"Kamu tahu nggak dua tahun lebih, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri untuk terus menunggu kamu sadar, Sayang." Jay memeluk erat Nuri.
Apa-apaan ini?
Yang pertama Nuri lakukan adalah membasuh wajah, memastikan untuk waras. Tidak mungkin yang ia alami selama ini adalah mimpi? Lalu kenapa dalam mimpi ia menikah lagi? Apa ini sebuah peringatan keras akan bahaya orang ketiga?
"Tanggal berapa sekarang?" Nuri masih dalam keadaan syok berat. Ia juga pernah bermimpi segila ini dan kemudian bangun, tetap ada Mark dalam ingatannya.
Kegilaan macam apa ini?
Setelah mandi dan berdandan wangi, Nuri turun. Semua orang mencemaskannya. Bibi Amelia sampai menangis terharu, masih tidak percaya jika Nuri sadar. Karena semua orang hampir menyerah dengan keadaan.
"Tunggu, bukannya Jay waktu itu kecelakaan?" Nuri menatap lembut ke arah Bibi Amelia. "Truk itu menabrak Jay, Jay menyelamatkan wanita itu kan Bi?"
"Sayangku, Nuri. Jay memang mengalami kecelakaan, kamu berlari panik, justru kamulah yang jatuh dan tidak sadarkan diri. Dokter sudah berjuang dengan keras selama ini, termasuk Jay juga terus berdoa."
"Jay, kenapa ingatanku menyimpang begini?" Nuri bertanya lagi, ia seperti orang yang kembali dari petualangan antara hidup dan mati. "Dalam mimpiku, kamu yang meninggalkan aku lebih dulu... "
Jay memeluknya dengan erat. Bahkan jika dalam mimpi panjang Nuri tidak pernah bertemu dengan Jay, ia akan tetap menerima keadaan sang istri. Seseorang yang kembali dari maut akan mengalami guncangan kejiwaan.
"Jika di dalam mimpimu tidak pernah ada aku, percayalah Nuri... aku selalu menemanimu."
Kenyataan yang mengingatkan Nuri kembali tentang awal mereka jatuh cinta di Paris. Jay memang keajaiban yang Tuhan kirimkan untuk Nuri.
"Dan dia adalah doktermu, Mark."
Tertampar untuk kedua kalinya. Ternyata, ada orang yang bernama Mark di sekitar Nuri selama ini. "Dokter?"
Mark membungkuk, ia memperkenalkan diri kembali. "Selamat pagi, Nyonya Jang."
"Dokter Mark?"
Wajah yang sama dengan Mark yang ada dalam mimpinya. Hanya saja, profesi mereka berbeda. "Terima kasih."
Mark tersenyum tipis, ia lalu mengecek keadaan Nuri dengan hati-hati. "Kondisinya vitalnya sudah normal, hanya saja mungkin akan merasakan pusing dan tekanan psikologis."
"Syukurlah... " Jay memeluk erat sang istri. Tidak pernah terbayangkan jika Nuri mendahuluinya pergi dari bumi.
"Kalau begitu, harap Nyonya jangan memikirkan hal berat terlebih dahulu."
__ADS_1
Penjelasan dari semua hal.
"Aku nggak pernah menyangka kalau kita mengalami kecelakaan di hari yang sama, Nuri." Jay menggenggam tangan Nuri.
"Yang aku tahu, kamu pergi lebih dulu Jay! Kamu meninggalkan aku seorang diri, dan itu sangat memyiksaku."
Nuri tidak mungkin menceritakan tentang pernikahan keduanya dengan Mark. Toh itu hanya mimpi. Tidak terjadi dalam kenyataan. Tapi melihat Jay berlinang air mata, Nuri percaya ikatan cinta mereka semakin kuat dari hari ke hari.
"Mark adalah rekomendasi dari keponakan Arthur, Lisa."
Dan lagi, orang dengan nama Lisa juga memang ada. "Dia keponakan Arthur?"
Dari balkon lantai dua, Nuri dan Jay sedang berpelukan erat. Dua tahun lebih tidak saling memeluk. Bahkan, ada saat Jay harus membawa banyak dokumen ke rumah. Mengadakan rapat secara online.
"Maafkan aku, Jay... " Nuri menyembunyikan tangisan dalam pelukan suaminya. "Kamu pasti melalui hal berat saat menjagaku."
"Hush... sudah tugas suami untuk menjaga istri dalam keadaan terburuk sekalipun."
"Ah, bahagianya." Nuri tidak ingin melepas pelukan.
Nuri juga ingin mencari tahu secara mandiri. Ia memulai dari kabar terkait Chacha dan Johan.
"Nuri?!"
"Cha, maaf gue baru buka hape. Lo sama Johan gimana kabar?"
Chacha bingung bagaimana harus mengatakan kabar yang tidak baik. Haruskah ia berbagi beban dengan sang sahabat yang baru bangun dari koma?
"Baik-baik aja, Ri. Lo beneran kan Nuri? Gue bakalan jengukin lo."
"Janji lo ya?"
"Iya, Ri."
__ADS_1
Kabar baik pertama yang ia dengar sangat melegakan. Tapi, nada bicara Chacha berbeda. Nuri tidak puas. Ia lalu menghubungi sang mantan kekasih, Raka.
"Ka?"
Raka sempat menampar wajahnya sendiri. "Alhamdulillah, Nuri. Gue ikutan seneng."
"Makasih atas doa kalian juga kok. Ka, gimana kabar Chacha? Mereka udah punya anak kan?"
Raka menggigit jari, ia juga bingung bagaimana mengatakan hal buruk kepada orang yang baru bangun dari mimpi buruk.
"Semuanya baik kok, Ri."
Bohong. Kalian sedang menutupi sesuatu. Nuri hanya mengikuti firasat, ia tidak ingin bertanya lagi.
Terbesit sejenak, Nuri lalu menghubungi salah seorang warga terjujur di lingkungan mereka. Mas Dika.
"Mas, gue pasti ganggu waktu lo ya? Tapi pliss ceritain kalau bisa lo rangkum kejadian dalam dua tahun ini. Selama gue nggak sadarkan diri."
Mas Dika saling bertatapan dengan istrinya. Kejujuran adalah sebuah kunci utama.
"Gue udah diskusiin sejak lama hal ini sama Intan, kalo suatu saat lo pasti bakalan telfon gue Ri. Oke, pertama kalinya gue denger soal kecelakaan Jay agak *speechless*. Tapi lo tahu apa yang membuat gue lebih terkejut? Lo juga kecelakaan di hari yang sama sampe koma lama. Dua tahun lebih kan?"
Nuri merasa intonasi Mas Dika lebih berakhlak dari biasanya. "Terus apa lagi Mas?"
"Nanda pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya, Ri. Aku yakin Jay belum berani mengatakan ini sekarang."
\*Seperti ditampar berulang kali. Ini pasti hanya mimpi buruk saja kan? Banyak sekali kegilaan yang aku alami. Ingatan yang terus menyimpang dari kenyataan.
"Nanda mengalami kecelakaan juga, bukan hanya Nanda tapi Cyntia. Kecelakaan pesawat."
"Tentang Chacha, gue masih nggak percaya juga. Misteri kepergiaan Johan dari rumah selama setahun."
Jay tidak memberitahuku.
__ADS_1
Bersambung\*...