
"Cha, temui gue di alamat yang gue kasih. Ini gue di vilanya om Barens, suami tante Lin soibnya ibu."
Chacha tidak tahu masalah apa yang sedang sahabat baiknya hadapi, tapi bersyukur karena seorang kenalan Ibu Nuri kebetulan menikah dengan pria kaya di Jerman dan mereka memilki vila kosong untuk Nuri tinggal.
"Kamu tau nggak Cha salah satu alasan perceraian kita?"
"Nggak."
"Karena kamu lebih mentingin Nuri daripada aku!"
Saat itu ada Arte, meski tidak paham pembicaraan Johan dan Chacha. Arte diam-diam memulis dan mencari terjemahannya di google.
"Padahal Nuri bukan saudara kandungmu, tapi seolah dia itu kaya adik yang harus selalu kamu jaga."
Chacha tidak menanggapi, memang saat itu Nuri dalam kondisi tidak sadar. Jay juga kerepotan karena harus bekerja dari rumah sambil mengurus Nuri. Wajar seorang sahabat menjaganya beberapa kali. Toh, saat itu Johan juga memberikan ijin.
"Jika itu aku, aku pasti akan datang untuk menemuimu di rumah sahabatmu. Bukankah lebih enak begitu? Bukan melarangmu membantu sahabatmu sendiri." Arte tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat hati Chacha tergerak.
"Kaca yang retak memang bisa di isolasi, tapi tidak bisa lagi sejajar."
Johan bukan ingin menambah luka di hati Chacha, tapi ia ingin agar Chacha melupakan masa lalu mereka yang buruk.
"Ayo pergi," Arte menarik tangan Chacha. "Ada banyak makanan enak yang belum kita makan."
"Hmm... " Chacha tersenyum.
Chacha merasa bersyukur bertemu dengan teman seperti Arte, dia dewasa dan rasional. Bukan seseorang yang banyak menuntut.
"Setelah luka di hatimu sembuh, ayo kita menikah. Aku dengar dari Lou, cara terbaik memiliki cinta utuh wanita yang pernah terluka adalah ini."
Chacha menangis haru, ia mengiyakan ajakan Arte bukan karena ia gampangan. Tapi dalam hatinya lebih yakin lagi, berbeda saat dulu Johan menyatakan keseriusan. Saat Arte, semua lebih terasa jelas. Dia adalah tipe ideal yang selalu Chacha inginkan.
"Aku juga berhasil membeli tiket konser BTS di Amerika. Enaknya kalau kita bisa pergi bersama kan?" Arte menyodorkan dua tiket VVIP secara online.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku bisa cuti kapan saja. Perusahaan ini adalah bisnis keluarga, tapi aku lebih nyaman berada di yayasan seni keluargaku. Aku juga menunggu kamu melukis lagi."
Entah darimana Arte bisa tahu tentang Chacha yang dulu melukis sebelum terjun ke dunia gambar digital. "Aku tidak yakin bisa melukis lagi. Semenjak kalah kompetisi dan mereka bilang karyaku tidak memiliki rasa, aku tidak melukis lagi."
"Kamu bisa melukis lagi dengan rasa. Aku akan memajangnya di galeri."
"Apa benar kata Jack, kamu pernah bekerja di National Gallery of Art?"
"Itu dulu sebelum dipaksa oleh orang tua untuk ikut mengurus bisnis keluarga kami."
"Arte benar-benar seorang pecinta seni sejati."
Arte menggenggam tangan Chacha. Pria tampan keturunan Paris - Dubai tersebut terlihat sangat bahagia. Seperti menemukan seorang puteri di padang rumput.
"Ayo kita pergi menemui sahabatmu."
Seseorang yang menggandeng tanganmu dan menunjukan sebuah dunia baru, itulah Arte di mata Chacha.
"Arte... " Chacha refleks memeluk Arte. Dari jarak yang lumayan jauh, Johan dan Maya juga melihatnya.
"Kamu masih kepikiran dia?" tanya Maya.
__ADS_1
"Udah berlalu, May."
Firdha yang juga berada di dekat Maya, awalnya memang menentang hubungan mereka. Bagaimanapun Chacha adalah teman meski mereka dulu tidak akur.
Nuri mengunci diri di pintu kamar sebelum pergi ke vila Barens. Jay tidak mengatakan sepatah kata. Dia pasti lebih terkejut. Berusaha mengingat kejadian di masa lalu, sebelum ia bertemu dengan Nuri.
"Nuri... '' Jay berdiri di depan pintu kamar sang istri. Dari dalam hatinya ia merasa menjadi seorang lelaki brengsek yang melukai indahnya pernikahan.
"Jay... " Nuri hanya bisa membatin. Ia juga masih jongkok sambil menangis di balik pintu. Meski tidak keras, Jay paham. Air mata yang menetes pasti sangat menyakitkan.
Mungkin jika ia mendobrak pintu akan melihat air mata yang terbakar bukan karena kebencian atas pengkhianatan. Jay tidak berkhianat. Hanya saja Nuri dilanda perasaan bersalah yang sangat dalam dan mulai berandai-andai untuk pergi dari hidup Jay.
"Maaf... "
Jay akhirnya pergi. Meski dilanda kekacauan karena mengetahui kebenaran yang terlamabat. Cara berpikirnya tetap rasional.
Langkah pertama yang ia lakukan adalah melihat kembali cctv kejadian lima tahun yang lalu. Berikutnya, ia menelepon sang kakek yang tak lain tuan besar dari keluarga Clarkson generasi keempat.
"Jadi itu alasan kakek datang setiap tahun kemari?"
"Tentu, aku sebenarnya tidak ingin memberitahumu karena Jiya yang memintaku untuk menjaga rahasia ini demi kebaikan rumah tanggamu."
Setelah menjelaskan beberapa poin penting, Jay mendapatkan sebuah kesimpulan. Jika Crystal adalah anak biologisnya, ia akan memulai bertanggung jawab penuh.
Pagi hari pukul empat. Nuri sudah bersiap pergi meninggalkan rumah besar mewah milik suaminya. Sekali lagi, ia akan meninggalkan Jay demi kebaikan semua orang terutama Cyrstal.
Jay yang tidak pulang ke rumah justru datang pagi-pagi sekali mengunjungi makam Jiya. Dengan penuh penyesalan, ia bahkan menangis di makam teman terbaiknya semasa kuliah MBA tersebut.
__ADS_1
"Jiyaaa, maafkan aku untuk semua hal yang terjadi. Terima kasih telah melahirkan malaikat kecil yang akan menguatkan hidupku sekarang. Maaf karena tidak mengingat apapun tentang malam itu."
Dan satu hal yang lebih mengejutkan Jay, gadis kecil berusia lima tahun itu sangatlah bijak.
"Crystal, ini Daddy. Dulu Mama pernah bilang suatu saat Daddy akan menjeputmu dan juga membawamu keliling dunia dengan pesawat jet pribadinya loh." Paman Zack mengantar Crystal, ia juga terlarut haru. Seandainya saja Jiya masih ada di dunia, mungkin ia akan sangat bahagia.
"Daddy?" Crystal yang tidak pemalu itu langsung memeluk sang ayah. "Daddy aku ternyata sangat tampan, Kek!"
"Maaf, Daddy terlambat." Jay menggendongnya. Mereka saling bertatapan lama. Crystal tidak mirip Jiya, justru lebih mirip Hana kecil di mata Jay.
Sebelum membawa pergi Crystal, Paman Zack memberikan sesuatu dari kotak lama Jiya. "Bacalah Jay."
Sebuah surat yang Jiya tulis sebelum mengalamj kecelakaan.
***Dear Jay, My Bestie***.
***Ketika kamu baca surat ini, mungkin aku sudah pergi sangat jauh. Hei, Jay, my bestie. Apa kabar? Tentu kamu sangat bahagia menikahi wanita yang selalu kamu idamkan. Kamu jahat Jay, tidak memberitahuku. Aku juga jahat, tidak berani memberitahumu kebenaran. Aku harap kalian akan menerima Crystal, dia pasti akan lebih mencintai kamu dan istrimu***.
***Oh ya, saat hamil besar dan pergi ke toko Eric, aku melihat senyuman terindahmu saat bersamanya. Aku memutuskan untuk tidak menjadi penganggu dan sekuat tenaga bertahan demi Crystal. Maukah kamu menjaganya dengan tulus menggantikan aku? Terima kasih Jay, kamu membuatku bahagia dengan kehadiran gadis kecil berwajah sepertimu. Kamu adalah teman terbaik. Kamu adalah orang yang sangat aku cintai. I love you two***.
***Your bestie, Jiya Zack***.
"Apa arti Jay untukmu?"
"Jay Jang adalah seorang pria hebat. Aku percaya satu hal. Jay adalah pria baik." Jiya pernah mengatakan sebuah rahasia kepada Mark.
"Tapi dia... "
"Jay adalah teman terbaik dalam hidupku, Bestie."
*Bersambung*...
__ADS_1