
"Apakah aku baik untukmu?"
Nuri tertekan mendengar pertanyaan Jay. Ia juga bukan gadis yang baik.
Untuk beberapa saat, mata mereka saling tatap. Ada senyum mengembang di antara rasa gugup. Setiap orang memiliki kisah masa lalu yang berbeda. Nuri tidak pernah menanyakannya. Ia memang tidak suka membahas masa lalu.
"Aku juga bukan seseorang yang baik. Tapi aku percaya Tuhan selalu memberikan kesempatan seseorang untuk berubah lebih baik." Nuri hanya mengutip sedikit nasihat Bang Nanda.
"Kadang kamu kaya penyair."
Nuri tertawa. Ia juga merasa demikian. Apa mungkin akibat terlalu banyak menonton drama romantis jadi ia pandai menyusun kata-kata puitis.
Chef Eric masih dalam perjalanan bisnis di luar kota. Toko tetap berjalan seperti biasanya. Ramai lancar tanpa ada sisa roti, kecuali untuk karyawan. Dan di malam hari, Jay akan datang usai pulang bekerja.
"Jay, kamu nggak bosen?" Nuri melirik ke arah kekasihnya yang sedari tadi menatap layar. "Lihat apaan sampe segitunya?"
Jay sedang memilih baju. Setelah mendapat kabar gembira. Diskon 60% untuk pelanggan VVIP.
"Mau beli baju."
Nuri tidak perlu mencari tahu berapa harga baju yang ingin Jay beli. Bukan tandingan.
"Kamu mau beli juga nggak?"
Tidak perlu bersandiwara. Nuri langsung ikut memilih. Merek asal Prancis yang sangat populer di kalangan selebritis tanah air. Kesempatan tidak datang dua kali.
"Duuuh, akhirnya gue bisa punya baju kaya yang Syahrini pakai."
"Jay, kamu nggak anggep aku matre?"
"Hahaha." Jay hanya tertawa.
"Serius?"
Jay merangkulnya. Ia tidak pernah menganggap Nuri adalah gadis matrealistis. Mereka masih sibuk memilih lagi. Diskon yang Jay dapatkan bukan kaleng-kaleng.
"Aku masih dapat 80% nih, soalnya Mommy nggak terlalu suka merek ini." Jay memiliki wajah yang menggemaskan ketika ia menyebut Mommy.
"Kenapa nggak buat aku aja?" Nuri yang tidak tahu malu hanya tersenyum.
"Kamu suka warna lilac?"
"Lagi tren kok, sekali-kali lah mengikuti jaman." Sebenarnya ia sudah lama ingin membeli sweater lilac bermerek, tapi isi dompetnya selalu mengisyaratkan untuk menyerah.
"Kakak mau ke Paris minggu depan, Jay."
"Kabar baik. Aku jadi ingin menyambutnya. Kamu kasih nih voucher hotel buat makan sama menginap." Jay mendapat keuntungan sebagai jajaran eksekutif hotel, kartu gratis untuk keluarga atau kerabat.
Nuri langsung mengambilnya tanpa malu-malu. Meski bukan ruangan president suit, hotel tempat kekasihnya bekerja sudah sangat mahal untuk jajaran rakyat jelata.
"Maaf ya, ini bukan ruangan VVIP. Soalnya ada acara pernikahan keluarga artis Hollywood."
"Nggak masalah, Sayang." Nuri mencubit pipi Jay. Hubungan mereka sangat sehat, kecuali fantasi liar Nuri.
Ada sebuah perasaan bahagia dalam dirinya. Berbeda dari masa lalu, hubungan asmara yang seperti inilah yang memang Jay selalu idamkan. Tidak terlalu banyak adegan cium apalagi masuk kamar. Sesuatu yang berjalan natural sangatlah berkelas.
"Bukan drama CEO gitu deh, aku juga bukan CEO."
Sedang di dekat empang. Raka terpaksa ikut dengan Candra memancing.
"Gue nggak suka banget kepanasan." Ia terus mengeluh karena lupa memakai tabir surya. "Bisa kebakar nih gue."
Cuek. Candra hanya fokus dengan ikan-ikan yang sedang mengantri untuk memakan umpan buatannya. Rahasia kecil demi kesuksesan memancing.
__ADS_1
"Jadi gimana, Chacha ikutan nggak ke Paris?"
"Kayaknya dia juga kangen Nuri ya pasti ikutan si. Apalagi kalau gratis gini!"
Dua hari lagi mereka akan berangkat ke Paris. Tiket sudah Raka pesan lewat aplikasi. Sebenarnya, ia mendapat diskon yang lumayan besar.
Raka sudah mempersiapkan mentalnya untuk bertemu saingan di Paris. Tidak mudah. Tapi, ia diam-diam sudah mengamati gaya berpakaian Jay lewat instagram.
"Dih cowok pakai bajunya kok model gini." Raka heran kenapa Jay sering memakai baju dengan warna terang.
"Eh diem deh!" Lo pikir lo itu modis?" Chacha adalah pembela Jay. "Lo lihat tuh merek apa, mana si Jay yang di tag sama rumah mode. Jelas dia levelnya udah beda."
Raka menurut. Ia diam. Memang benar, penampilan Jay terlihat sangat berkelas. Berbeda dengan dirinya yang hanya memakai kaos polo polos dengan jeans gelap. Jauh.
"Tertekan kan lo?"
"Gue lebih tertekan saat denger lo bicara." Raka membalas sindiran Chacha. "Betewe, Cha. Gue denger lo naksir Mas Dika?" Raka menahan tawa.
Chacha tidak berkutik. Ya, dia memang menyukai tetangga Nuri itu. Sosok *oppa* yang ia lihat secara nyata selain Bang Nanda adalah Mas Dika. Karisma Dika terpancar ketika mengenakan kaca mata minus.
"Keliatan banget, Cha. Gue pikir sejak dulu lo kalau natep Mas Dika emang beda kan?" Raka tidak menyangka orang seperti Chacha, kpopers akut bisa terpincut seorang Mas Dika.
"Mas Dika udah mau lamaran sama pacarnya." Chacha sudah ingin menyerah sejak lama.
"Lo salah kalau nggak ungkapin perasaan. Nyesel lo ntar!" Raka ingin membuat kesepakatan yang tidak begitu licik. "Apa gue bantuin?"
Ada udang di balik batu. Jelas, gerak-gerik menyebalkan Raka mengisyaratkan sebuah rencana yang busuk. Chacha bukanlah gadis bodoh. Ia cepat tanggap.
"Lo jelas minta gue bilang ke Nuri, kalau lo sama Jay lebih baik lo?"
"Nggak kaya gitu. Gue cuma takut aja Nuri buat mainan. Lo lihat tuh data perceraian orang yang nikah sama bule! Gue nggak mau." Raka terlihat dramatis tapi ia tidak salah. Semenjak penyanyi idolanya, Aura yang menikah dengan bule lalu bercerai.
"Kecemasan lo lebay," saut Candra.
"Setelah lo percaya weton sama ramalan Mbah Sosro, gue bener-bener nggak nyangka kalau otak lo bermasalah." Chacha tidak bisa membayangkan ekspresi marah Nuri jika mengetahui alasan Raka menggagalkan tunangan. "Sama satu lagi, Ka. Lo coba deh buat nonton drama tentang kedokteran jiwa."
__ADS_1
Dalam suasana yang tegang. Raka tidak berkutik. Candra yang masih sibuk dengan ikan \*\*\*\*\*\* yang berjajar di teras. Chacha yang masih kepikiran juga dengan Mas Dika.
"Bang," Candra membuka pintu gerbang begitu melihat motor sekupi milik Nuri.
Bang Nanda datang. Tidak bersama dengan Mas Dika.
"Siapa tuh?" tanya Raka penasaran.
Chacha ikut penasaran. Ia baru melihat perempuan secantik itu selain di drama. Hany memakai kaos dan celana jeans saja sudah terlihat cetar.
"Ini Bos di kantor." Bang Nanda datang dengan Cyntia. Perempuan cantik itu juga sangat menyukai ikan hias. Kebetulan beberapa hari lalu, Cyntia iseng membuka halaman instagram Mas Beta alias Candra.
"Halo, Cyntia." Cyntia tersenyum malu, sebenarnya mereka lebih muda darinya tapi ia canggung.
"Wah, kirain pacar Bang Nanda. Tapi nggak mungkin wanita cantik gini mau si ama dia. Hehe." Chacha meledek. Ia berjanji akan mengabari Nuri tentang hal mengejutkan ini.
"Dia katanya liat instagram lo, pengin ikutan beli."
Ada yang familiar. Raka seperti mengenal sosok Cyntia.
"Bentar, Mba. Mba Cyntia dulu dateng ke nikahan Pak Hendry kan?"
"Loh, kok tahu Om Hendry?" Cyntia juga merasa familiar dengan wajah Raka. Lumayan terlihat mirip dengan Om Hendry.
"Ya kenal, dia kan Papiku."
Bang Nanda tidak memahami situasi yang terjadi. Tapi, ia juga tidak asing dengan nama Pak Hendry.
"Jadi kamu pasti Raka ya?"
"Kok tau si?"
"Lah yang ada di grup keluarga baru ditambahkan kan namanya Raka, katanya anak Om Hendry." Cyntia memperlihatkan anggota grup *whatsapp* dari Wiraguna Family.
"Lo beneran Ka saudaraan sama Bos gue?" Bang Nanda berbisik.
Candra dan Chacha saling tatap. Mereka tidak paham siapa itu Wiraguna.
__ADS_1
\*Bersambung...