
Raka berlari begitu melihat Nuri sedang menangis. Dia melihatnya.
"Cha, gue duluan!"
Mereka baru sampai di depan toko roti. Tepat di sebelahnya, ada sebuah kedai kopi yang ramai pengunjung. Candra masih mencoba beradaptasi, apa benar ia sudah menginjakan kaki di Paris atau hanya mimpi.
Raka berjalan pelan. Ia ingin memastikan bahwa suasana hati mantan kekasihnya kondusif.
Kafe mendadak ramai, orang-orang mengerubungi tiga gadis berwajah Asia dengan warna rambut berbeda.
"Lihat, gadis itu mirip banget ya sama member Blackpink."
"Ah, gadis-gadis Asia sangat manis tapi kenapa mereka berteriak begitu?"
Nuri masih menghadapi dua lawan sekaligus. Saki sudah berusaha melerai, tapi kekuatan emosional para gadis lebih menakutkan.
"Dengar ya, kamu itu nggak selevel sama Jay." Eva masih kesal dengan perlakuan Jay minggu lalu.
"Kamu baru mengenalnya. Aku sangat mengenal Jay, kami tumbuh besar bersama. Kamu,--"
"Kamu harusnya lebih sopan!"Nuri tidak tahan lagi. Ia tidak ingin melakukan kekerasan apalagi menampar sesama perempuan.
"Hah! Sopan? Apa kamu tahu sopan santun setelah merayu Jay? Apa kalian sudah tidur bersama?" Lusi masih tidak terima, ia ditolak Jay untuk balikan.
Eva tersenyum kecut. Tidak ada yang menyangka selera seorang Jay Jang Clarkson sebatas gadis biasa yang bekerja di toko roti. Tidak bermutu untuk bersaing dengan sahabatnya, Lusi.
"Kamu nggak akan pernah diterima Paman," bisik Lusi kesal, ia melirik.
"Lihat, saat Jay membawanya kencan ganda, dia hanya mengenakan pakaian murah. Sekarang rupanya sudah berkelas?"
Margareth baru saja selesai ganti pakaian. Dia mendekat dan mencoba memahami situasi.
"Kamu nggak terima? Kamu nggak suka?" Nuri terkekeh. Dia benar-benar merasa seperti adegan drama. "Apa kamu juga mau menyiramku air apa mau ngasih uang buat putus?"
Raka tersenyum lega. Tidak ada yang lebih baik dari Nuri, ketika menghajar serangan hinaan, orang-orang yang menghinanya justru akan tertekan atau minimal mentalnya ciut. Itulah, Nuri, gadis kuat.
"Eva, dengar. Harusnya kamu minta maaf kan? Apa perlu aku menelepon Jay atau Louis? Oh ya, satu lagi, Lusi, aku bukan hanya tidur bersama dengannya. Kami akan menikah."
Speechless.
"Wow," Saki tidak dapat berkata-kata.
"Apa benar itu?" Margareth saling tatap dengan Saki.
Terdengar tepuk tangan meriah dari jarak yang cukup dekat. Raka untungnya pintar bahasa Inggris, ia memahami apa yang mereka debatkan.
"Bravo, Sista!"
Nuri bisa melihat banyak yang mendukungnya Bahkan ada Chacha dan Candra.
"Lo, ada bayangan mereka juga?"
Nuri mengamati lagi. Bukan sekedar bayangan, itu memang pendukung nyata yang datang untuk menyemangatinya di medan perang.
"Beb!" Mereka saling berpelukan. Rasanya bahagia bercampur haru.
"Hi, annyeong!" Raka melambaikan tangan untuk menandai kehadirannya paska perang.
Eva dan Lusi merasa sangat malu, mereka memutuskan untuk pergi. Mungkin ia akan mengalah untuk beberapa saat. Nuri lumayan sulit untuk dipahami. Jalan pikirannya tidak biasa.
"Bebal total! Apa dia begitu matre sampai tidak tahu malu?" Lusi masih kesal. Ia tidak akan menyerah juga demi mendapatkan Jay Jang.
"Apa dia tahu kalau Jay itu dapat warisan hotel Blue yang terkenal di Jeju?" Eva tidak percaya jika Nuri setulus yang Louis katakan.
Nuri bersama teman-temannya masih menikmati canda tawa. Terlihat begitu berbeda ketika bertemu sahabatnya.
"Perkenalkan ini Saki dan Margareth, mereka bekerja paruh waktu dan juga sedang kuliah S2."
Margareth tersenyum ramah, ia tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia. Saki juga hanya bisa tersenyum terus.
"Aku Raka, mantan pacar Nuri." Raka dengan bangga memperkenalkan diri.
Jay Jang Clarkson.
__ADS_1
Sebenarnya ia tidak ingin bekerja di hotel yang bukan milik keluarganya, tapi ayahnya bersikeras untuk menitipkan Jay di bawah pengawasan kerabatnya.
"Semua bilang, kamu masuk karena koneksi, Manajer?" Salah satu pegawai lobi penasaran dengan rumor lama yang beredar.
"Benar, aku masuk karena Presdir kita."
"Wow, Anda jujur sekali ya?"
Jujur dan sangat pengertian itulah Jay. Daya pikatnya sangat mematikan. Apalagi saat ia berjalan, terlihat karismatik.
"Kamu tidak suka memakai dasi?" Pimpinan pernah bahkan sering menanyakan hal serupa.
"Aku lebih suka gayaku sendiri."
Pimpinan sangat memanjakan Jay seperti cucu kandungnya sendiri. "Baguslah kalau kamu nyaman."
"Anda mau beli sesuatu?" Jay menawarkan promo yang ia dapatkan lewat email. "Aku dapat diskon 75%."
"Aku bahkan mengenalnya. Kenapa harus repot belanja lewat aplikasi?"
Jay terkadang suka melucu. Bukannya tidak tahu seberapa luas koneksi Pimpinan, tapi beliau terlihat kesepian. Anak dan cucunya hanya memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memiliki semua propertinya.
"Tentu."
Bohong. Jelas terlihat, pria berusia 66 tahun tersebut sangat kesepian. Meski kaya raya pun, tidak semua kebahagiaan dapat dibeli dengan uang kan?
"Kembalilah ke ruanganmu."
"Baik."
Jay mengerti, inilah alasan kenapa pepatah terkenal muncul. Kebahagiaan tertinggi adalah mempunyai keluarga yang saling menyanyangi.
"Jay!" Louis berlarian, nafasnya masih terengah.
"Ada apa?" tanya Jay.
"Lusi datang, dia pergi menemui pacarmu tadi."
Jay tidak perlu menunggu penjelasan lebih lanjut dari Louis. Dia mengenal Lusi dan juga Eva sangat baik, mereka terkadang membuat masalah jika bersama. Dulu pun demikian.
__ADS_1
Mobilnya melesat. Tidak butuh waktu lama. Jay sudah sampai di toko tempat kekasihnya bekerja.
"Nuri... " Jay melihat Nuri tengah tertawa bersama teman-temannya. Lega.
Saki keluar. Ia merasa penat dan ingin merokok sesekali.
"Hei,'' Jay mendekat, meski sedikit terganggu dengan kepulan asap rokok Saki.
"Pacarmu sudah baikan."
Tidak setiap momen dalam hidup menyenangkan. Nuri punya cara tersendiri untuk mengatasi masalah. Tidak seperti Jay, dia merasa gagal menjaganya. Sudah dua kali orang terdekat, menyakiti kekasihnya. Ia juga menyadari, perbedaaan di antara mereka mungkin penyebab semua masalah muncul.
"Aku malu, tapi aku usahakan untuk melihat Nuri. Apa dia baik-baik saja? Temanku sudah keterlaluan, aku juga tahu." Jay masih tidak enak hati.
"Lebih baik kamu bicara dengan mantan pacarmu. Menurutku, dia sudah keterlaluan. Kamu bisa cek di cctv, apa yang mereka katakan." Saki sebenarnya masih kesal, tapi ia bukan siapa-siapa Nuri. Sebatas teman tidak baik untuk berlebihan.
Jay menunggu di tengah cuaca yang semakin dingin. Ia tidak membawa syal maupun mantel. Makan pun tidak sempat. Nuri adalah prioritasnya.
"Hatciih!" Udara malam semakin dingin. Jay masih menunggu di teras pintu samping toko.
Nuri datang setelah berpisah dengan teman-temannya.
"Jay!" Nuri bergegas menghampiri kekasihnya. "Kamu nggak bawa jaket?"
Jay hanya tersenyum. Ia sudah menahan dingin selama satu setengah jam. Tangannya hampir membeku.
"Ayo masuk,'' Nuri menggenggam kedua tangan Jay. "Kamu sudah hampir membeku loh."
"Maaf ya, temanku pasti menyakitimu lagi."
"Kalau aku bilang nggak sakit hati pasti bohong, Jay. Sekarang, kamu masuk dulu ya?" Nuri masih mencemaskan kondisi Jay.
"*Terima kasih, Nuri. Kamu adalah seseorang yang sangat hangat*."
Raka melihat dari kejauhan. Nuri memapah Jay untuk masuk. Entah apa yang dipikirkan Nuri masih saja membiarkan orang tidak tahu diri seperti itu untuk masuk.
"\*Fu\*\*\*!"
Bersambung\*...
__ADS_1