Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 15


__ADS_3

*Love you so bad...


Love you so bad*...


Ia sedang berjalan sambil mendengarkan lagu fake love - BTS. Earbuds yang pernah Bang Nanda berikan sangat berguna bagi Nuri untuk menyalurkan hobi streaming.


Tadi. Ia berlari meninggalkan mereka. Tidak ingin lagi mendengar betapa sempurna paras gadis bernama Lusi.


"Aku tau, dia pasti lebih muda dariku."


"Aku juga tau kok. Kita nggak selevel."


Nuri hanya membiarkan kakinya untuk melangkah. Ia juga menolak semua panggilan entah dari Jay, Raka maupun Chacha.


"Kami baru saja menikmati momen indah sebentar."


Udahlah!


Nuri semakin kesal. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar. Batinnya sedang gaduh. Fisiknya sangat kuat untuk menerima hinaan atas harga dirinya.


"Kamu nggak mau balikan sama dia cuma gara-gara gadis biasa sepertiku?" Nuri menirukan cara Eva berbicara. "Hah?!"


Mungkin ia memang tidak sekaya Jay. Lingkaran pertemanan mereka juga berbeda. Keluarganya yang hanya keluarga biasa, tidak kaya juga tidak miskin. Ayah Nuri bekerja sebagai Kepala Bagian di kantor swasta, sedangkan Ibu Nuri hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Mobil yang mereka punya hasil jerih payah kakaknya. Bang Nanda juga yang merenovasi rumah sederhana menjadi rumah dua lantai.


"Bang, kenapa kamu nggak balik kerja lagi di luar negri?"


"Enak si gajinya gede, Dek. Tapi kalau lebaran sedih lo." Bang Nanda setelah lulus S1 bekerja di Seoul, Korea Selatan. Ia bekerja di perusahaan pembuat ponsel terkenal.


"Di kantor yang sekarang kan gaji Abang nggak segede pas di Korea?" Nuri masih kepo saat itu.


"Dari usia 22 tahun, aku udah bekerja di sana selama dua tahun terus lanjutin S2 di Australia. Kadang ya capek, tapi kerja di sini kan deket rumah. Bisa bareng keluarga juga."


Bang Nanda adalah tipe pria yang sangat mencintai keluarganya. Meski dulu, ia sempat menjalin hubungan dengan seseorang.


Seandainya Jay lebih tegas terhadap hubungan mereka.


"Hei, Nuri!" seseorang berlari sambil berteriak.


Saki. Pemuda yang juga bekerja di kedai kopi.


"Saki?" Nuri mendekatinya untuk memastikan apa benar itu Saki.


Penampilan Saki sedikit berbeda ketika melepas seragam kerja. Ia terlihat seperti mahasiswa yang sedang berjalan di kampus.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Abis jalan-jalan aja."


"Bohong. Kayaknya tadi kamu pergi naik mobil kan dengan pacarmu?" Saki tidak sengaja melihat Jay dan Nuri masuk mobil yang sama.


"Hmm... " Nuri sedang tidak berselera untuk banyak bicara.


"Apa yang terjadi, Nuri?" tanya Saki cemas.


Mereka memang hanya sebatas rekan kerja beda toko yang saling menyapa jika berpapasan. Awalnya Saki yang mendengar kalau toko roti sebelah mempunyai karyawan baru asal Asia.


"Apa yang kamu lakukan kalau pacarmu sendiri tidak memihakmu?"


Dia bertengkar dengan kekasihnya yang super kaya.


"Aku pasti akan kecewa. Tapi lebih baik kamu mengangkat telepon darinya kan?" Saki melirik ke layar hape Nuri.


Nggak lucu tapi ia memutuskan untuk ngambek.


"Kamu nggak takut pacar kayamu itu direbut gadis lain?" Masih melirik layar ponsel Nuri, panggilan dari Jay yang terus diabaikan.


Dia juga hanya wanita biasa. Ia punya batasan kesabaran. Eva hanya orang asing yang baru mengenalnya. Tidak ada hak untuk membandingkan siapa yang lebih pantas bersama Jay.


Saki tidak terlalu pintar untuk membuat seorang gadis tertawa. Ia hanya mengusulkan beberapa tempat makan Asia yang terkenal di Paris.


"Katanya kalau makan enak, amarah cepat reda."


Benar juga. Nuri juga dulu sering bertengkar dengan Raka karena hal sepele. Amarahnya reda karena hal sepele juga. Raka membawakan rujak buah dari kedai koprol yang terkenal.


"Apa kamu mau makan? Kayaknya banyak nasi goreng juga sama sate loh."

__ADS_1


Ajakan mencari jajanan untuk pecinta kuliner memang hal yang paling mengenyangkan.


Di perjalanan, ia melihat toko peralatan untuk membuat roti. Mixer model terbaru yang berjajar di etalase depan, pemanggang listrik canggih membuatnya merasa terhibur sejenak.


"Coba aja gue punya banyak uang."


"Saki, kenapa kamu bekerja di kedai kopi? Biasanyan kan mahasiswa S2 lebih nyaman tinggal di asrama kampus kan?"


"Aku harus mandiri, Nuri. Usiaku sudah 26 tahun, tidak enak meminta uang tambahan terus. Hehehe." Saki tertawa renyah, gigi gingsulnya terlihat jelas.


Tiba di tempat.


Seperti biasa. Nuri akan mengambil foto dirinya dalam keadaan yang oke untuk dikirim ke grup chat keluarga. Prinsipnya, meski terluka batin ia harus tetap ceria di mata keluarga.


"Bagus banget jepretannya!" Nuri kembali ceria setelah melihat hasil jepretan Saki yang pro.


Mereka tertawa sambil menikmati jalanan di sekitar.




Dari jarak yang lumayan jauh. Jay hanya ingin memastikan kekasihnya bersama temannya. Ia sudah tahu hubungan perteman Nuri dan Saki dari mulut Susan.



Ia ingin sekali meminta maaf. Tidak. Ia ingin sekali menampar dirinya karena membiarkan Nuri terhina seperti tadi.



Jay mencoba untuk menghubungi Nuri. Sudah sepuluh kali panggilan telepon darinya di abaikan. Wanita memang begitu.



"Kamu sudah kenyang?"



"Udah nih. Ayo kita cari *bubble tea* !"




"Kamu udah pernah ketemu Park Jimin belum?" Saki ingin mencairkan keadaan.



"Belum, kita ketemunya di mimpi, hiks. Emang kamu udah?"



"Pernah si datang ke konser BTS waktu di Jepang Adik sepupuku suka banget soalnya."



"Wow, aku aja belum pernah datang ke konser mereka loh padahal mereka pernah ke Indonesia."



Mereka sedang mengantri untuk memesan teh boba.



Tiba-tiba ada sebuah pemandangan mengejutkan di depan mereka.



Tujuh orang pegawai kedai boba tiba-tiba menari dengan iringan musik yang familiar di telinga Nuri.



"Wow, aku pikir mereka Bangtan Boys!" beberapa gadis histeris.


__ADS_1


"Apa dia mirip Jeon Jungkook, kelinci kita?'' ucap lagi salah satu dari mereka.



*Oh my my my, oh my my my*


*You got me high so fast*~


*Boy with luv*~



Takjub sampai tak berkata-kata. Nuri melangkah maju untuk melihat mereka. Ia ingin mencubit salah satu pegawai boba yang sangat mirip idolanya. Kim Taehyung.



"Ommo!"



"Aigoo...."



Saki tidak tahu harus bilang apa. Ia yang pernah melihat konser langsung merasa memang mirip sekali apalagi pegawai yang berwajah tampan itu.



"Selamat menikmati boba gratis untuk kalian semua!" ucap pegawai boba tampan tersebut.



"*Cha gue pikir ini beneran mereka atau cuma orang mirip. Gue ketemu orang yang mirip Kim Taehyung. Gue juga ketemu yang mirip Jeon Jungkook, bias lo*!"



"Siapa yang mentraktir?" tanya Saki dengan wajah polos.



"Dia." Menunjuk ke arah seseorang yang berdiri di tempat parkir. "Katanya dia yang mau bayar semua. Selamat menikmati ya!"



"Jay?"



Nuri membawa minuman boba dan berjalan ke luar untuk menemui Jay.



"Nuri," ucapnya pelan.



"Males!" Nuri masih enggan untuk berdamai.



Saki tidak ingin ikut campur. Ia justru sibuk bertanya dengan salah satu pegawai boba yang tadi menari.



"Kamu kok mirip banget artis?"



"Aku nggak mirip. Cuma banyak yang bilang aja duplikatnya. Hehehe.... "



"Oh begitu."


__ADS_1


\*Bersambung....


__ADS_2