
Selamat berpuasa ya readers, jangan lupa berikan like and vote kalian untuk author. Update 3 hari sekali yaa😍🤗~~
Hana bangun lebih pagi dari biasanya. Sebenarnya semalam ia mendengar suara aneh dari kamar sang kakak, tapi ia tidak ingin bertanya. Hubungan suami-istri bukan lingkup bagi remaja menjelang dewasa sepertinya.
"Hmm, jadi kangen Hans." Hana membuka ponsel bergambar apel dengan kilauan emas sebagai pelindung ponsel (soft case). Tidak ada pesan maupun email dari Hans.
Yang ia takutkan, Hans akan pergi meninggalkannya. Keluarga mereka lumayan ketat untuk mendisiplinkan seorang anak. Meski Hans sudah berusia delapan belas tahun lebih. Mereka masih saja tetap seorang anak ingusan yang tidak tahu seberapa bahaya bermain dengan cinta di usia yang belum cakap.
"Apa yang kamu lakukan?" Jay menghampiri sang adik yang setengah melamun di dekat kolam renang. "Ini masih pagi, Hana."
Dulu, ia dapat memeluk dengan bebas Jay. Saudara sepupu yang sempurna di matanya. Dulu, mereka juga bebas berfoto. Kini, Hana memiliki rasa canggung.
"Kak, kamu keliatannya senang ya setelah menikah dengan istrimu?"
Jay tersenyum polos. Menikah memang sangat menyenangkan daripada saat mereka pacaran. Perbedaannya jelas.
"Iya begitulah, menikah memang sangat menyenangkan."
"Ayah bilang menyenangkan itu cuma untuk awal pernikahan. Sisanya, kamu hanya harus terbiasa mengalah dengan istrimu." Hana pernah mendapat nasihat dari sang ayah di masa lalu.
"Nggak semuanya kaya yang ayahmu katakan. Kamu lihat ayahku? Da sangat bahagia kan mendapatkan istri yang cantik dan kaya?"
Hana tertawa. Jay masih seperti yang dulu, masih suka bercanda. "Aku penasaran, siapa yang menyatakan cinta lebih dulu? Kakak atau kakak ipar?"
"Nuri. Dia yang mengejarku duluan."
Dari balik jendela dekat dapur, Nuri menguping percakapan suaminya. Memang benar, ia lebih dahulu menyatakan cinta. Rasanya, menikah dengan orang yang ia cintai seperti mimpi. Jay bagaikan seorang pangeran di mata Nuri.
"Hubunganmu dengan Hans?"
Hana diam. Ia juga ingin memastikan kondisi hubungan mereka. Hans mungkin sedang menjauhinya karena keadaan, dipaksa keadaan.
"Kamu mau nonton konser Kpop nggak?" Jay mencairkan suasana.
__ADS_1
"Hmm, boleh. Aku juga suka dengan BTS akhir-akhir ini."
"Beneran?" Nuri langsung bergabung, ia sangat suka membahas tentang BTS. Maklum, jiwa fan girl yang masih kuat di dalam dirinya.
"Kakak juga suka? Siapa bias Kakak?"
"Semuanya suka, cuma kalau pilihan hati tetap Kim Taehyung." Nuri dengan santai menjawab, tanpa memikirkan wajah cemberut sang suami.
"Benar, dia yang paling tampan. Hehehe."
Jay meninggalkan obrolan. Ia akan mulai bekerja dari rumah. Sesuai ketentuan yang berlaku, tidak boleh terlalu banyak datang ke kantor di saat pandemi. Ia juga sudah memborong banyak masker kesehatan.
"Baiklah, rapat pagi kali ini cukup."
Selesai memimpin rapat lewat video, ia memutuskan untuk mengecek dokumen tinjauan bisnis, merger dan akuisisi.
"Kamu kapan membawa istrimu menghadapku?" Kakek Jay, Tn. Clarkson.
"Nunggu waktu yang tepat. Pasti akan aku kenalkan. Jaga kesehatan, Kek."
"Tentu, aku akan ingat. Kalau begitu, selamat siang. Aku harus melanjutkan kerja dari rumah."
Setelah mematikan telepon, ia teringat orang tua dan adik angkatnya. Sudah lama sekali tidak bertemu. Jay langsung menelepon sang ibu.
"Jay, anakku."
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Hmm, aku sedang menemani adikmu tidur. Jay, rasanya senang sekali memiliki bayi kecil seperti ini."
"*Mommy, you look so happy*."
"*Yeah, Mommy is happy*."
__ADS_1
Setelah memastikan sang ibu yang semakin bahagia dari hari ke hari. Jay membaca email dari Andres, isi email berupa tautan dokumen bisnis. Ada juga email yang ia belum baca dari penjaga vila.
"Ada sesuatu terjadi di vila. Bukan hal besar, tapi bacalah jika anda ingin tahu detailnya."
Jay mengklik tautan yang penjaga vila kirimkan. Artikel tentang dua orang selebgram terkenal di Indonesia yang bertengkar saat liburan di vila. Jay menyewakan vila mewah pemberian Nenek Hwang.
"*Ah, s*\*\*\*!"
Raka berangkat ke kafe lebih pagi, sudah dua minggu semenjak Nuri menikah, hal yang dapat ia lakukan adalah membunuh waktu untuk melupakan sang mantan.
"Bos, mulai minggu depan kayaknya udah banyak reservasi nih buat acara bukber." Toni, sang pegawai bagian reservasi melapor.
"Iya Ton, temen kerja gue jaman di bank juga udah reservasi buat bukber."
"Bos, masih kepikiran sama Mba Nuri apa?" Toni sedikit menahan tawa.
"Hush," ucap Raka.
Memang si kelihatan sekali, tapi Raka perlahan sudah ingin membuka hati untuk orang baru. Di sudut dekat taman, ia melihat Asty yang sedang bicara dengan Bima, juru masak kafe. Penasaran, ia mendekat.
"As, masih kepikiran soal dia ya?" Bima menepuk bahu sang adik sepupu. Meski terlihat sangar di dapur, dia sangat menyayangi sang adik.
"Iya, Mas. Aku nggak tau harus gimana lagi, menghadapi kenyataan itu emang jauh lebih berat ya?" Asty menyeka air matanya. Alasan ia berani pergi dari kota kelahiran adalah sang mantan. Tidak ada lagi harapan untuk hubungan mereka.
"Mas udah denger dari ibumu, beneran As lo dikatain begitu?" Bima yang mendengar kisah Asty dari sang bibi.
Asty hanya diam untuk beberapa waktu. Ingatan tentang masa indah hubungannya di masa lalu, kenangan yang mereka buat bukan sekedar gurauan masa muda.
"Yaudah, kamu boleh koh nangis. Mas mau cek bahan-bahan di dapur." Bima pergi meninggalkan Asty. Ia melangkah ke gudang penyimpanan.
Raka pernah mendengar kisah Asty dari Johan dan Chacha.
"Asty, kasihan ya?" Chacha memasang ekspresi sedih.
"Loh, anaknya ceria begitu kok?" Raka belum mendengar kisah cinta Asty.
"Hush, diem aja lo kalau nggak tau. Jadi bos nggak pekaan!" Johan kesal, ia melempar tisu ke wajah Raka.
"Jadi, Asty tuh sama mantan pacarnya dulu udah seriusan. Cuma pas dia datang ke rumah mantan pacarnya yang kaya, ibunya tuh langsung bilang nggak suka karena beda level." Chacha menjelaskan sedikit informasi dari Bima.
"Parah!" Raka tiba-tiba kesal. Ia memang mengutuk pembagian kelas sosial dalam masyarakat yang menyebalkan.
"Untung mertua gue nggak begitu." Johan merasa bersyukur, tidak pernah mengalami hal sedramatis kisah Asty. "Eh, gue yakin Asty bakal dapatin cowok yang lebih kaya."
Chacha dan Candra saling bertatapan. Masih ada kisah seperti di sinetron dalam kehidupan. Asty gadis yang sangat sopan dan cantik.
"Coba ikutin aja tuh jejak Nuri. Dapatnya Jay Jang, apa nggak mantep tuh?" Candra asal berceloteh.
Mereka menatap Asty. Gadis muda yang seharusnya menikmati banyak waktu justru sibuk membantu sang juru masak utama. Bekerja dengan keras akan membuat kita lupa, sesakit apa harga diri kita saat dihina karena status sosial.
"Asty, lo jarang baperan nih pasti?"
"Malah nggak tuh. Ngapain coba kita baper sama orang kalau dia cuma kirim chat doang, dia ngetiknya pake jari bukan hati."
"Wih, dek Asty!" Siska merangkul Asty.
Raka menyadari kalau ada orang yang lebih muda dan lebih dewasa dari dirinya.
__ADS_1
"*Dia terkadang mirip Nuri, tapi aku pikir dia jauh lebih dewasa dari kami."
Bersambung*...