
Kepulangan Nuri sangat dinantikan. Ia langsung menuju rumahnya. Orang tua yang merawatnya sejak kecil seperti anak sendiri.
"Ayah, Ibu, Om Toto." Nuri langsung memeluk mereka dengan erat.
"Wah, anak Ayah cantik banget ya!"
"Ponakan Om juga makin cantik nih, selamat datang kembali."
"Ibu juga kangen banget lo sama Nuri." Nuri masih enggan melepas sang ibu.
Nuri sudah menjelaskan kenapa Mark tidak bisa ikut, ia tidak bisa mengambil cuti yang lebih lama lagi setelah menikah.
"Bagaimana kabar suamimu?" Om Toto kepo, ia merasa Mark kurang akrab dengannya.
"Baik, dia kan lagi pemulihan Om. Abis sunat. Hahaha!"
"Oh iya."
Melupakan sejenak urusan bisnis, Nuri makan dengan lahap. Ia sangat rindu masakan ibu, seblak di kedai langganan juga.
"Bang Nanda nanti nyusul katanya, kamu jangan jauh-jauh ya." Ibu masih menganggapnya seorang gadis kecil, padahal Nuri sudah berusia 30 tahun lebih beberapa bulan.
Nuri mengendarai sepeda motor matic menuju rumah sahabatnya, Chacha. Ia membawa hadiah untuk satu rumah.
"Nuri!" Chacha membuka gerbang, ia tidak percaya kalau sahabatnya mudik setelah insidwn menyakitkan beberapa tahun silam. "Ayo, masuk! Gue udah siapin seblak kesukaan lo."
"Om, Tante." Nuri menyapa orang tua Chacha sekaligus memberikan dua bingkisan.
"Duh, makasih banget ya Ri. Tante tuh kangen banget lo sama kamu."
"Om juga lo, biasanya ada gadis-gadis nyeblak di rumah ini sekarang udah sepi nih."
Sambutan yang hangat. Nuri sudah menganggal rumah Chacha adalah rumah kedua baginya. Ia hafal setiap perubahan yang terjadi, mulai dari cat rumah yang berganti sampai sofa ruang tamu yang semakin moderen.
"Johan yang renov. Oh ya, Joa lagi tidur nih. Nanti kalau dia bangun pasti nyariin."
"Keren! Gimana kafe, Cha?"
Chacha tertawa. Ia menahan beberapa cerita lucu. "Lo harus liat sendiri. Raka kan abis merid tuh, jadi Johan keteteran banget. Betewe, gimana suami baru lo?"
"Gue minta maaf banget, dia belum bisa ikut mudik. Namanya juga dosen."
"Lo tau nggak saat Johan denger suami baru lo itu dosen, dia bilang, kok kaya novel sebelah si? Hahaha."
Nuri tertawa keras. Ia juga berpikiran sama, Mark seperti tokoh dosen tampan dalam novel romansa. Tiap membicarakan Mark, ia merasa bersalah. Nuri membuka ponsel, tidak ada pesan dari Mark.
"Kamu lagi ngapain?"Chacha membawakan es kesukaan Nuri, pop es. "Mikirin suami ya, ciyee."
"Ah, gue nggak tau Cha. Ruang kerja dia tuh banyak banget buku-buku. Kerjaannya baca makalah, ngoreksi tugas dan nyiapin materi."
"Beda banget sama Jay ya? Gue inget jaman Jay kerja di hotel Hilton Paris, dia aja bisa cuti nyempetin ngasi makan lo." Chacha belum pernah bertemu langsung, ia tidak bermaksud menghakimi kepribadian orang lain. Jay sangat ramah di awal mereka bertemu.
Nuri mengerti, Chacha belum mengenal baik Mark.
"Lo harus bertemu dia, Cha."
Selain melakukan pertemuan pelepas rindu, Nuri juga mengerjakan kewajibannya bekerja. Andres dan Jack berada di Bali untuk mengatur pertemuan dengan seorang investor lokal terkenal.
"Bagaimana bisa dia menjadwalkan perjalanan bisnis sesibuk ini?" Nuri mengeluh kesal kepada Andres.
"Kenapa? Apa mulai merindukan suamimu?''
Nuri tersenyum, mungkin benar, ia mulai merindukan Mark. Selama dua minggu berpisah, Mark juga sibuk sendiri. Awal semester memang sangat merepotkan untuk dosen.
"Tenang saja, kita dapat memantau gerak suamimu."
"Terkadang aku melihat aktifitas membosankan. Dia hanya pergi ke ruang baca, ruang kerja dan bekerja."
Andres senang melihat perubahan Nuri yang perlahan dapat memeluk lukanya karena kehilangan Jay di masa lalu. Terapi psikis yang ja jalani. Hal yang membuat Andres kagum adalah kelapangan hati Nuri untuk memaafkan penabrak.
__ADS_1
"Apa dia sudah tahu mengenai Jay?"
"Hmm, dia bilang mereka pernah bertemu secara tidak sengaja di acara makan malam."
Andres yang menngikuti Jay sejak lama, tahu betul bagaimana Jay dikenal oleh banyak orang terkenal. Sopan, rendah hati dan mewah.
"Jay adalah seseorang yang hebat." Jack datang dengan membawa beberapa dokumen.
"Bos!" Andres langsung mendekat.
"Pagi." Nuri menyapa seperti biasa.
"Sepertinya aku menganggu jadwal bulan madu kamu ya?" Jack membawakan buket bunga untuk Nuri. "Selamat bekerja kembali."
Nuri menerima buket dengan senang hati. Jack bagaikan seorang kakak yang memperhatikan adik perempuannya.
"Karena kamu maupun Jay adalah adikku."
Sesuai jadwal, Jack akan bertemu dengan salah seorang pengusaha kaya di Bali. Beliau juga salah satu klien penting dari JJ.
"Selamat siang,"
"Duduklah."
Pak Wayan datang ditemani asisten dan istrinya. Ia menyambut hangat dengan membawakan makanan lezat, ayam betutu.
"Ini enak sekali, Pak Wayan." Nuri langsung melahap tanpa sisa.
"Terima kasih lo. Aku liat, kamu bahasa Indonesianya bagus."
"Saya memang dibesarkan di Indonesia, Pak."
"Dari wajah kentara banget tau Pah, Mbak pasti keturunan nih?" Bu Wayan langsung menyerbu pertanyaan. "Masih muda banget udah menikah ya? Itu cincin berliannya loh. Hehehe."
Nuri tersenyum kembali.
"Saya udah 30 tahun lebih kok, hehehe."
Jack bertukar dokumen dengan Pak Wayan, mereka membicarakan mengenai perjanjian. Nuri menemani Bu Wayan ngobrol.
"Menikah saat dewasa itu rasanya berbeda ya?"
__ADS_1
"Apalagi saya baru menikah, Bu. Suami malah nggak bisa ikut mudik ke Indo."
Bu Wayan menatap ke arah jendela. Ada banyak pepohonan kelapa indah yang berjajar di dekat pantai. "Beginilah hidup. Aku iri melihat pohon kelapa yang berguna dan juga indah."
Nuri menatap pemandangan yang sama, namun dengan perasaan berbeda. Dulu, ia pernah datang ke Bali bersama Jay. Mereka mengurus vila Jay yang terbengkalai.
"Kamu sangat cantik loh, Nak. Ibumu pasti sangat bangga dong?''
Bicara tentang ibu. Nuri sering merasa sedih. Ia memiliki tiga ibu, siapa yang paling bangga dengannya saat ini? Ibu kandung yang acuh? Ibu tiri yang sangat baik? Ibu angkat yang sangat tulus?
"Saya berharapa demikian, Bu."
Setelah menyelesaikan urusan bisnis. Jack, Nuri dan Andres tidak langsung pergi. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di dekat pantai.
"Ah, Bali luar biasa!"
"Inilah namanya rileks," Jack duduk dengan posisi nyaman, ia juga memakai kaca mata uv berwarna hitam.
"Apa kamu meninggalkannya dengan nenek pengasuh lagi?"
"Dia ikut ibunya."
Putra Jack sudah seperti keponakan untuk Nuri dan Jay.
Tiga orang dengan kisah berbeda duduk berjajar dengan nyaman. Andres yang sangat patuh dengan sang istri. Jack seorang duda tampan dan kaya yang tidak terlalu memikirkan cinta. Nuri yang sedang memikirkan Mark diam-diam.
Mark menghubunginya. Ia ingin melihat kondisi sang istri.
"Kayaknya kalian sangat santai?" Mark dapat melihat melalui panggilan video, sang istri yang sedang duduk berjemur.
"Kami sudah selesai di Indonesia, besok akan pergi ke Singapura. Apa yang kamu lakukan sekarang?"
"*Thinking of you. How are you, Honey? I miss you so much right now*."
"*I a\*\*m trully fine... how about you? Why you look seriously, Mark*?"
"*I got a problem*."
Beberapa detik kemudia Mark mengirimkan gambar. Nuri langsung melotot saat membukanya.
"\*Damn it!"
__ADS_1
Bersambung\*...