Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 49


__ADS_3

Hei readers, stay healthy and stay safe ya. Maaf lama baru update😂


Author~



"Hana, aku sudah sampai di Swiss. Temui aku sekarang juga di dekat danau Brienz."



Hana langsung mengambil jaket tebal dan pergi menuju lokasi yang Hans sebutkan. Sebelum pergi, ia berniat untuk pamitan dan mengetuk pintu kamar Jay. Tapi, kakaknya tampaknya sedang menikmati malam yang romantis.



"Kamu sudah pamitan?" Hans langsung menggenggam tangan Hana yang dingin. "Kakakmu pasti akan cemas."



"Bagaimana bisa aku mengetuk pintu saat aku juga sadar kalau mereka sedang menikmati malam yang romantis? Hans, aku bisa mendengar suara aneh mereka." Hana sebenarnya penasaran apa yang orang sudah menikah lakukan sampai mengeluarkan suara aneh. Desahan.



"Haha!" Hans menahan tawa. Gadis yang benar-benar polos. "Aku yakin kamu belum pernah menonton film panas?"



Belum. Orang tua Hana, bahkan bibi dan Jay juga melarangnya menonton film tidak bermoral.



"Jangan nonton film kaya gitu nggak mendidik. Semua orang pasti bisa kalau sudah menikah. Lihat, pasangan tuna netra dekat rumah juga bisa kan mempunyai anak tanpa melihat video begituan?" Tante Celine selalu memberikan nasihat yang ringan dan mendidik.



"*Aw, so cute my baby*!"



Hans masih tertawa geli mendengar cerita lucu Hana. "Ayo peluk aku, Hana."



Hana menurut, ia memeluk Hans erat. Sudah dua belas hari mereka tidak bertemu. Kekasihnya semakin tampan saja. "Hans, kalau kita sudah kuliah. Kamu nggak akan putusin aku kan?"



"Kenapa kamu berpikir jauh?"



Sebenarnya, Hana ingin bilang ia akan pulang usai wisuda. Tinggal dengan kedua orang tua adalah hal terbaik.



"Aku mungkin akan menetap di Korea."



"Hah? Kamu akan kembali?"



Hans sebenarnya tidak rela. Hubungan mereka yang indah terhalang jarak. Apalagi Hana adalah tipikal gadis serius. Ia tidak pernah main-main dengan ucapannya.



"Kamu marah?" Hana menatap Hans.



"Bukan marah, lebih ke arah sedikit kecewa." Hans menyembunyikan kalung indah dalam genggaman tangannya.



"Apa yang sedang kamu genggam?" Hana penasaran, ia akhirnya menemukan sebuah kalung mutiara mahal. "Aku nggak percaya, tapi ini benar-benar indah, Hans."

__ADS_1



Hans memaikan kalung mutiara yang bulan lalu ia pesan untuk Hana. "Aku harap di masa depan, kamu akan tetap berkilau."



"Ah, aku juga berharapnya begitu."



Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk. Hana menyenderkan kepalanya dengan sangat santai. Meski beban di batinnya tidak terurai.



"Hans, kenapa orang tua selalu begitu? Ayah masih memaksaku untuk menjadi bayangannya."



"Apa Ayahmu tahu? Kamu sangat pintar menyanyi, apalagi saat acara amal tahun lalu. Apa dia tidak datang?" Hans masih ingat suara indah yang memikatnya setahun lalu. Gadis cantik dari Asia yang memukau.



Hana ingin sekali melanjutkan mimpinya, menjadi seorang penyanyi. Tapi, ayahnya bersikeras untuk membuatnya mundur teratur.



"Kamu mau jadi idol?"



"Penyanyi."



"Hana, apa kamu masih anak Ayah? Kenapa kamu tidak pernah mengerti keinginanku, aku hanya ingin membuatmu lebih unggul dari Jay."



"Persetan! Ayah selalu membuatku untuk bersaing dengan Kakak, padahal Kak Jay lebih baik dari Ayah!"




"Hans, kamu juga nggak akan menyerah kan dengan mimpimu?"



Hans terdiam. Bukan menyerah, alasan ia datang untuk pamitan sebelum pertandingan.



"Tentu, aku juga akan bertanding tiga hari lagi. Apa kamu mau memberikan sedikit semangat untuk pacarmu?''



Hana memeluk Hans. Kali ini, ia lebih bersemangat lagi untuk melanjutkan mimpinya. Suatu hari, ia ingin mengadakan konser dan membawakan lagu yang indah untuk Hans. Seseorang yang membuat hidupnya lebih bermakna dan berani mewujudkan mimpi.



"*Saranghae, I love you*... "



Nuri sudah melahap banyak makanan enak asli Swiss. Tidak lupa, ia akan berbagi fotonya dengan Chacha.


"Duh, mantul banget Cha!"


"Lo bisa gendut kalau makan mulu!''


"Kata Jay nggak masalah, dia juga tetap cinta." Nuri hanya tertawa, memang berat badannya bertambah dua kilogram semenjak menikah.


"Kafe rame banget tiap hari, Johan jadi sering pulang malam ngurus pembukuan nih."


"Loh si Raka ngapain tuh?"

__ADS_1


"Eih, Ri. Gue pikir, Raka naksir Asty deh sodaranya Chef Bima. Hahaha!"


"Seriusan?"


"Ya dua rius malah."


Sedang asik berbincang, Nuri harus mengakhiri panggilan telepon. Ia mendengar suara Hana bersama seorang lelaki.


"Kak?" Hana memegang tangan Nuri. "Ini Hans, kekasihku.''


"Sumpah ya cowoknya si Hana beneran kaya pangeran Eropa!"


"Halo, Hans. Aku Nuri, istri Jay. Ayo kalian duduk dulu, nanti aku buatkan minuman hangat."


Hans mengikuti Hana. Mereka duduk di ruang tengah.


"Dua cokelat panas datang." Nuri membuatkan coklat panas. Dapat ia lihat raut wajah Hana sangat berbeda dari kemarin. Ia sangat bahagia.


"Terima kasih," ucap Hans.


Nuri tahu diri, setelah obrolan singkat ia bergegas untuk kembali ke kamarnya. Jay sedang bekerja dari rumah, ia memakai ruang belajar Hana untuk rapat online.


"Kamu bisa pantau ruang tengah dari cctv. Begitupun ruang belajar." Jay hanya mengatakan hal tersebut sebelum sibuk.


Bosan. Nuri mulai menonton drama Korea. Antusiasnya masih sama, begitupun dengan impian untuk bertemu Kim Taehyung.


"Duh, nyesel banget dulu nggak nonton konser bities!"


Sejam berlalu. Nuri lalu membuka ipad Jay, ia ingin mengetahui apa yang Hana dan Hans lakukan di ruang tengah.


"Apa-apaan ini?"


Terkejut. Nuri melihat sebuah pemandangan yang mengejutkan. Hana tertidur di pangkuan Hans, sementara Hans pulas dengan duduk memegang tangan Hana.


"Aku pikir cuma drama yang romantis." Nuri tersenyum lega.


Jay masuk tanpa mengetuk pintu. Ia berniat mengambil usb di dekat meja rias Nuri. Tapi, ia justru melihat sang istri tidur dengan memegang ipad. Pose yang sangat lucu.


"Apa dia nonton drama lagi?''


"Apa dia nonton konser online lagi?"


Jay menaruh ipad kembali di meja. Ia juga mengecek cctv. Hana dan Hans yang tidur pulas di ruang tengah.


"Maaf ya, aku masih harus bekerja." Jay mengusap wajah istrinya.


"Hmmm... " suara gumaman imut dari Nuri.


"Kamu belum tidur kan?"


Nuri tiba-tiba beranjak dari ranjang dan memeluk Jay. "Ya belum, tadi aku lagi lihat cctv memantau Hana dan Hans."


"Tapi kamu juga nonton drama?"


"Hehehe, iya."


Setelah menikah, ada satu kebiasaan yang mungkin akan dimaklumi oleh pasangan.


"Jay, apa kamu masih sibuk?"


Jay tidak dapat berbohong, ia sangat sibuk mengecek banyak laporan. Waktunya sangat mahal. Daftar investasi yang harus ia kerjakan, awasi dan evaluasi setiap harinya banyak. Seandainya Nuri tahu, ia bekerja lebih keras semenjak menikah.


"Kamu harus makan, kamu juga harus mandi kan Jay?"


"Kalau makan belum. Apa kamu mau masak sesuatu? Nasi goreng sepertinya enak."


Tidak butuh waktu lama untuk memasak nasi goreng telur. Nuri membuatkan empat piring nasi goreng.


"Kalian juga butuh makan kan?"


Hana dan Hans juga ikut makan malam.


"Ini enak, terima kasih." Hans sangat menikmati makan malam sederhana mereka.


"Terima kasih juga Kak," ucap Hana.

__ADS_1


"*Thank you, my wife."


Bersambung*...


__ADS_2