
Jay merasa buruk. Kemarin, mereka berjanji akan menikah tapi lihat ia sudah membuat Nuri sedih kembali. Lagi dan lagi, orang terdekatnya yang menyakiti Nuri.
"Margareth pasti sibuk, Paul juga sedang membantu Chef Eric di hotel." Nuri ingin mengalihkan topik.
"Kamu nggak marah?"
Nuri masih tersenyum tipis. Tidak ada alasan untuk marah dengan Jay, kalau marah dengan dua orang temannya mungkin.
"Aku marah dengan kedua temanmu bukan dengan kamu, Jay."
"Aku nggak pernah merasa seburuk ini di depan orang lain." Jay menunduk, ia memang malu terhadap Nuri.
Benar yang Saki katakan, pasti akan ada orang yang tidak menyukainya. Jay memang incaran banyak gadis cantik. Pesona Jay berbeda dengan kebanyakan orang.
"Kenapa kamu harus menjadi Jay Jang?" Nuri mengusap halus wajah kekasihnya. Tampan dan mempunyai kulit yang halus.
"Aku juga nggak tahu," Jay malu, ia masih menghindari tatapan tapi memeluk Nuri yang sedang berdiri.
Semakin hari, rasa hangat hanya dengan memeluk Nuri. Rasa lelah seharian bekerja seolah hilang hanya karena Nuri mengusap wajahnya dengan lembut. Sentuhan orang yang tulus.
"Aku nggak mungkin bisa jauh lagi dari kamu."
Nuri yang awalnya hanya memanfaatkan Jay, perlahan perasaan mereka terjalin begitu kuat. Ikatan dua hati yang sangat dalam. Tapi, ia harus mengontrol diri. Tidak baik jika berlama-lama dengan Jay apalagi tidak ada orang lain.
"Kamu mau makan apa?" Jay selalu mencari cara untuk mengalihkan pikiran yang mulai menjurus ke hal dewasa. "Aku akan masak."
"Aku mau makan nasi goreng." Nuri bertingkah manja, sudah lama sejak Jay membawakan nasi goreng.
Jay belajar sedikit saat mengurus cabang hotel di Indonesia. Membuat nasi goreng sederhana. Ia mulai menyiapkan bahan dan peralatan untuk memasak.
"Kamu lupa nih!" Nuri memakaikan celemek dapur yang lumayan imut.
"Apaan nih?" Jay tertawa geli melihat motif celemek yang mirip celemek anak balita.
Nuri memeluknya dari belakang, ia ingin mempraktikan sebuah adegan drama. Memasak sambil dipeluk kekasih hati, katanya akan menambah rasa menjadi enak.
"Katanya kalau begini bakalan jadi enak rasanya... "
"Bukan enak, tapi bikin susah gerak."
Nuri dapat mencium bau parfum Jay yang begitu kuat, parfum mahal memang berbeda. Meski parfum mereka couple, tapi tetap saja terpikat dengan bau wangi Jay.
"Nuri, ini bahaya. Tolong, kamu duduk ya di kursi atau nonton drama.'' Jay tidak bisa membentak Nuri. Ia belajar dari Daddy, tidak boleh menaikan nada bicara apalagi dengan wanita.
"Sayang." Nuri masih menggoda Jay, kali ini dia membuat finger heart. "Aku cinta kamu."
Nuri yang dulu hanya bermimpi, kini merasa dari hal yang kita sebut mimpi. Terkadang ada sebuah harapan yang menjadi doa. Tuhan punya rencana yang lebih baik ketika mengaitkan dua hati.
Jay membuatnya belajar banyak hal baru tentang kehidupan. Selama menjalin hubungan, Nuri belum pernah melihat Jay mabuk parah. Toleransi alkohol Jay tinggi, ia mempunyai asam lambung.
"Jay, apa kamu bahagia denganku?"
"Always."
Menyenangkan sekali, ketika saling bergandengan tangan, berjalan bersama meski hanya untuk melepas penat beberapa menit.
"Kamu senang saat teman-temanmu datang?" Jay tidak lupa bertanya.
__ADS_1
"Hmm, seneng dong. Jay, mereka bilang ingin bertemu denganmu.''
"Ada mantanmu kan?" Jay sedikit cemas bercampur cemburu.
Nuri tertawa. Jay terlihat cemburu. Melihat orang setampan Jay cemburu karena Raka, sungguh seperti mimpi. Justru kenyataan lebih baik dari mimpi.
"Kamu adalah segalanya sekarang, besok dan seterusnya." Nuri mencubit hidung mancung Jay.
Jay memutuskan untuk menginap di kamar Chef Eric, karena sudah terlalu malam. Margareth pulang pagi karena mengerjakan tesis bersama kekasihnya. Paul juga pulang setengah jam setelah Margareth.
Nuri selesai dengan rutinitas sebelum tidur, mencuci muka, memakai serum dan krim malam.
"Beb, lo tau? Raka mau ngenalin gue ke Johan. Lo udah pernah ketemu Johan kan?"
Mendengar pesan suara Chacha, Nuri justru ingin sekali memukul Raka.
"Bisa-bisanya si Raka ngenalin Chacha sama Johan alias paduka?''
Dulu saat pertama Raka mengenalkan teman baiknya. Raka selalu bangga, kalau dia adalah Johan, karyawan bagian Customer Service. Terkenal dengan julukan "Paduka". Bukan cuma berwajah tampan, Johan memiliki kulit yang putih lebih dari Nuri.
"Duh, ceweknya Raka ya?" Johan saat itu masih memakai seragam bank tapi yang membuat Nuri kagum adalah gaya berpakaiannya terlihat seperti idol kpop. Memakai cardigan dengan warna hijau.
"Iya, gue Nuri."
Raka tertawa puas setelah mengenalkan teman baiknya.
"Eh, Nuri, lo kelihatannya kaya cewek kpop?"
"Gue? Iya gue emang kpopers koh, Han." Nuri agak malu, karena Raka menentang hobinya.
Kaget lagi, Nuri menelan ludah. Ia sudah mengamati Johan sedari tadi, tidak ingin menduga lebih jauh.
"Gue army, kalau lo?"
"Gue jelas banget Reveluv lah." Dia memamerkan wallpaper ponsel.
Nuri hanya tertawa. Johan memang terlihat mirip dengan salah satu bias Chacha, tapi sifat mereka beda. Jauh dari ekspetasi.
Jay terlihat marah. Louis sudah menyuruh Eva untuk membawa Lusi menemui Jay.
"Apa yang kamu katakan?"
Lusi masih enggan bicara. Salah satu trik memberontak yang sejak dulu ia mainkan. Berharap Jay akan luluh kembali.
"Kamu nggak boleh begini, Eva." Louis juga merasa bersalah. Pacarnya sudah keterlaluan.
__ADS_1
Eva juga enggan bicara.
Jay tidak ingin menambah lagi masalah untuk Nuri.
"Lusi, aku memang udah nggak bisa sama kamu. Bukan karena Nuri, dari dulu aku kurang suka dengan sikapmu."
Selalu mengatakan hal yang sama. Lusi menganggap dirinya sudah berubah dan menjadi lebih dewasa. Tapi, semenjak mendengar Jay akan mewarisi hotel *Blue*. Hotel terbaik dan termewah di Jeju, Korea Selatan.
"Tapi kita pernah saling cinta. Kamu lupa saat menciumku?'' Lusi memegang tangan Jay. Dulu, mereka pernah dalam hubungan yang indah. Jay pernah mencium bibirnya dengan sangat lembut.
"Semua sudah berlalu. Kita sudah berakhir.'' Jay tidak suka mengungkit kenangan masa lalu.
Tidak ada yang baik jika terjebak kenangan masa lalu. Prinsip Jay, ketika sudah berakhir maka ia akan mencoba melupakan segala hal romantis.
"Apa gadis itu sudah tidur denganmu?" Lusi bertanya karena penasaran. Sejak dulu, Jay masih misterius. Tidak terlalu suka *clubing*, mereka bahkan tidak pernah tidur bersama. Sesuatu yang di luar akal tapi memang nyata.
Louis mengajak Eva untuk pergi ke luar kafe. Suasana mereka tidak baik. Jay terlihat sangat kesal. Lusi pun tampaknya semakin keterlaluan.
"Biarkan mereka bicara. Kamu juga harusnya jangan ikutan jadi jahat dengan Nuri."
Eva tidak menanggapi. Ia justru cemas terhadap Lusi. Jay tampak sangat marah.
"Kamu bilang hal ini juga ke Nuri? Kamu membuat gadis baik terlihat rendahan, Lusi. Asal kamu tahu, dalam suatu hubungan ada yang lebih indah selain ciuman dan tidur bersama. Ketulusan." Meski marah, Jay tidak pernah membentak orang apalagi seorang wanita.
"Iya, aku bilang! Memang gadis itu nggak tahu malu. Dia sama saja kan kaya \*bitc\*\*."
"You think, you better than her\*?"
*Bersambung*...
__ADS_1