
"Kok merengut, Nuri?"
Nuri menatap sinis manusia yang sedang berbicara dengannya. Tidak ada sisi romantis dari Jay meski sangat kaya.
"Hebatnya dia masih manggil gue dengan nama, Bund!"
Ponsel Jay berdering sejak tadi. Ia langsung mengangkat panggilan video dari ibunya.
"Mom, good morning!"
"Morning too, Honey."
Nuri yang lebih pendek dari Jay tidak bisa mengintip seperti apa wajah cantik Mommy Jay. Suaranya saja begitu halus dan elegan.
"Kamu lagi di toko Eric ya?"
"Iya nih. Mommy sedang apa ya di sana kan malam?"
"Nongkrong nih santai sendirian, hiks." Suara elegan yang terkesan lebih imut daripada suara Nuri.
Nuri sangat penasaran seperti apa sosok ibu kandung Jay, apa seperti sosok ibu dalam drama yang ia tonton?
Jay lalu membungkuk sedikit, ia ingin mengenalkan ibunya.
"Ini pacarku, Nuri, dia dari Indonesia. Dia juga kerja sama ikut kelas Eric, Mom."
Celine, ibu Jay masih muda. Ia terlihat lebih muda bahkan dulu sempat dikira kakak Jay oleh mantannya.
"Hebat ya Nuri, Mommy jadi malu nggak punya bakat bikin kue nih. Hehehe...."
Nuri benar-benar minder. Ia melihat sosok perempuan yang berusia 50 tahun namun berwajah muda bak artis Korea. Dibalut dengan pakaian yang elegan dan perhiasan mahal yang mencolok.
"Calon mertuaku lebih gaul dariku."
Ia tiba-tiba rindu sang ibunda. Meski setiap hari sering chating. Rasa rindu kali ini semakin menggebu ditambah lagi berita baik yang Bang Nanda berikan tentang kunjungan kerjanya. Ia ingin sekali dibawakan sambal kacang.
Jay sudah mengakhiri panggilan video.
Nuri memisahkan diri, ia ingin menelepon ibunya.
"Bu... "
"Eh, Adek. Kamu lagi ngapain hari libur?"
"Ini mau sarapan. Ibu sama Ayah lagi ngapain?" Ia mengusap air mata rindu, tidak ingin terlihat cengeng di mata Jay.
"Mau ke pengajian nih sama Ayah. Nanti lagi ya Dek, jaga diri baik-baik."
"Hmm, Ibu juga."
Nuri menatap tembok putih di depannya. Ia menyadari Jay sedang berdiri di belakangnya. Bayangan pria jakung itu terpampang bahkan aroma wangi tubuhnya juga begitu terasa.
"Nuri kemari," Jay menarik tubuh kekasihnya lalu mendekapnya lembut.
"Cuma kangen aja sama Ibu, soalnya tadi kamu kan juga teleponan." Nuri menangis di dekapan Jay.
Perasaan yang ia rasakan berbeda dari kisahnya di masa lalu. Mereka belum lama bertemu. Tapi ada rasa nyaman yang mengikat. Jay sangat menghargainya.
"Aku pikir dulu kamu pasti player?"
Jay tersenyum tipis. Memang ia pernah menjalin asmara lumayan lama dengan gadis asal Asia juga, namanya Lusi. Tapi baginya itu hanya masa lalu untuk apa ia bercerita. Nuri adalah masa kini dan masa depan baginya.
"Bukannya kita juga pernah punya pacar kan di masa lalu. Kamu malah sering teleponan kan?" Jay meledek Nuri agar kesal.
"Raka itu masih ngutang dulu. Sekarang aku cuma mikirin kamu aja." Nuri melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jay.
"Hah? Kok aneh gitu? Pernah lihat di salah satu postingan kamu kan dia kelihatan ganteng."
Nuri tersentak kaget. Jay diam-diam stalking.
"Jay sebenarnya kamu mau ngomong apa?" Nuri mengamati, tingkah Jay seperti anak kucing yang minta sesuatu.
"Double date."
"Ayo!" Nuri langsung bersemangat, ia tidak mengira kencan ganda ada dalam dunia nyata.
"Kita nggak harus pakai baju pasangan kan?" tatap Jay penuh harap.
"Boleh juga," ucap Nuri dengan senyum mengembang yang membuatnya semakin imut.
Nanda sedang istirahat. Ia memutuskan untuk makan di kafetaria kantor. Lumayan banyak antrian namun tidak seramai di kafe depan kantor.
__ADS_1
"Menunya apa ni, Mang?"
"Biasa lah, Mas Nanda. Kalau nggak orek tempe sama daging ya paling sop ayam. Hahaha..." Mang Udin, pegawai kafetaria yang akrab dan suka bergurau dengan Nanda.
Nanda mengambil lauk sebagai pelengkap nasi. Dika dan Intan akan makan bersama di kafe depan. Mereka adalah pasangan hits di kantor. Intan adalah selebgram, followers-nya mencapai ratusan ribu.
"Nanda?'' tanya seseorang di depannya.
"Bu Cyntia?" Nanda langsung tersenyum.
Mereka langsung pindah ke meja kosong di sudut kafetaria. Tidak banyak yang menyadari kalau diam-diam, Nanda sering sekali salah tingkah di depan direktur cantiknya.
"Gimana Adek kamu di Paris, Nda?" tanya Cyntia basa-basi.
"Alhamdulillah, Bu. Katanya si baik-baik aja malah udah punya gebetan baru." Nanda tertawa tipis untuk menutupi grogi.
"Adik kamu pasti cantik, makanya cowok Paris aja langsung suka tuh."
"Dia imut si, kalau cantik juga cantikan Bu Cyntia menurutku," ucap Nanda dengan ekspresi malu-malu.
Cyntia tidak begitu menanggapi jika ada yang memujinya cantik, baginya itu sudah hal biasa. Ia ingin sekali seseorang mengatakan bahwa dia wanita yang cukup baik.
Cyntia mengerutkan alis. Ia mencoba ingat, siapa yang dimaksud Nanda. "Kapan?"
"Kayaknya dua bulan lalu deh."
Cyntia sontak tertawa geli. Dua bulan lalu ia memang pergi dengan lelaki tampan yang tak lain adalah saudara kembarnya.
"Dia kembaranku tuh," ledek Cyntia dengan tatapan menggoda.
Nanda kembali tersenyum. Hatinya menjadi lebih baik setelah berprasangka buruk selama dua bulan kepada bosnya.
"Kalau kamu Nanda? Kamu suka gadis muda apa yang lebih dewasa?"
"Aku suka wanita yang baik." Dengan tegasnya ia mengatakan hal yang membuat Cyntia jatuh semakin dalam perasaannya.
Cyntia tersenyum sembari mengakhiri makan siangnya bersama Nanda.
Mereka kembali ke ruangan masing-masing.
Di tempat yang berbeda, malam hari.
__ADS_1
Dika mengajak Nanda untuk melihat ikan hias di rumah Mas Beta alias Candra.
"Widih mobil Candra sekarang udah BMW aja nih," puji Dika.
Nanda tidak terlalu menanggapi. Ia hanya ingin membeli ikan hias dengan warna yang indah untuk koleksi aquarium rumah.
Setelah memencet bel. Chacha keluar dengan wajah juteknya menyambut tamu.
"Kenapa lo?" tanya Dika.
"Lagi bete aja, Mas." Chacha masih memasang wajah yang jutek.
Lima menit kemudian. Raka keluar bersama Candra membawa banyak camilan mulai dari kentang goreng mekdi, ayam goreng keefci, martabak manis muklis, pentol goreng mas al.
"Lo lagi banyak duit nih! Mobil siapa tu di depan?"
"Mobil Raka, ini juga traktiran dari Raka."
Nanda menatap sengit mantan kekasih adiknya. Sementara Raka hanya bisa berdoa agar Bang Nanda tidak menjahatinya di malam minggu yang indah ini.
"Maaf, Bang. Kayaknya lo masih dendam sama gue nih?" tanya Raka penuh ragu.
"Gue enggak dendam, cuma kecewa. Lo kok bisa gituin Nuri?"
"Sebenarnya dua hari sebelum acara tunangan. Gue baru dikasih tahu kalau gue anak angkat, Bang. Ditambah lagi tetangga gue, Mbah Sosro bilang masalah weton."
Semua mata tertuju kepada Raka.
"Hari gini lo percaya gituan?'' Dika tertawa sampai terjungkal.
"Otak lo emang harus di *upgrade*."
Raka lega sudah berkata jujur kepada Bang Nanda, tapi ia juga sedang berpikir lagi, kenapa dulu ia sangat parno hanya masalah sepele.
"Jadi pesen mie ayam Andien nggak nih?" celetus Candra untuk mencairkan suasana.
"Lo pikir ini sinetron?'' tanya Chacha heran.
"Tapi kayaknya enak nasi goreng Nana deh," ujar Dika.
Mereka semua menikmati pesta camilan sampai tengah malam.
__ADS_1
\*Bersambung...