
Mimpinya salah. Bukan Mark, masih tetap Jay. Dia selalu memperlakukan Nuri dengan sangat hati-hati, bak seorang ratu dalam hidupnya.
"Jay... " Nuri memegang ujung hidung mancung sang suami.
Jay masih tidur setelah mereka melewati malam yang panjang. Lebih panjang dari malam romantis mereka berdua usai menikah.
"Bae, tidur lagi. Aku benar-benar ngantuk dan lelah," Jay masih bisa berbicara tapi sentuhan tangan lembut sang istri di bibirnya membuat Jay membuka mata.
"Kenapa kamu bangun lagi?" Nuri bertanya sambil meledek. "Kita sudah melakukan beberapa ronde tambahan loh?"
Jay tersenyum sengit. Ia merasa bahagia tapi juga merasa kalau sang istri memang lebih bersemangat dari biasanya.
"Aku tidak menyangka, ukurannya udah selevel F cup?"
Nuri melempar bantal ke arah suaminya. Kejadian ini pernah ia mimpikan juga tapi dengan orang berbeda. Pada kenyataannya tetap Jay dan selalu Jay.
"Ini juga gara-gara kamu kan?"
"Hmm, Bae. Bisakah kamu memanggilku juga Bae?"
"Bae..."
Jay tersenyum cerah, ia merasa sangat bahagia sampai enggan tidur. Nuri masih tetap sama seperti dulu. Cara menatapnya adalah yang paling indah.
"Bae, kamu harus tidur."
Tidur dalam pangkuan sang istri adalah hal yang selama dua tahun lebih Jay rindukan. Belaian tangan wanita yang kita nikahi berbeda dari seorang kekasih di masa lalu tentunya.
Tidak ada yang akan merubah perasaan mereka. Ikatan cinta mereka lebih kuat setiap harinya. Jatuh cinta dengan orang yang tepat, menikah di waktu yang tepat.
"I never asking more than your love."
"Sure. I love you so much, Jay Jang."
Semua perlahan membaik. Nuri sudah tidak memikirkan lagi soal mimpi panjang yang menyimpang. Tapi tetap saja aneh, kenapa bisa ada Mark?
"Seminggu lagi kita pergi ke Indonesia. Kebetulan perjalanan bisnis kali ini ke dekat situ. Apa kamu senang, Bae?"
Seperti nostalgia masa lalu. Awal mereka menjalin hubungan. Kekonyolan di masa itu. Jay akan selalu bertanya. "Apa kamu senang?"
Tujuannya adalah memastikan bahwa Nuri bahagia. Dan juga salah satu syarat agar Bang Nanda di masa lalu menyetujui hubungan mereka.
"Do you love her?"
"Yes, I love her so much."
"Make her happier than today."
Sebuah syarat sederhana yang diajukan oleh seorang kakak untuk kebahagiaan sang adik. "Jaga dia, Jay."
Kata-kata yang selalu terngiang. Jay juga tidak pernah mengira kakak iparnya akan mengalami kecelakaan pesawat yang mengerikan. Sangat menyedihkan mendengar penjelasan pihak maskapai ketika berkunjung ke rumah korban. Jay meminta Raka saat itu mentranslit beberapa kalimat yang susah ia pahami.
Banyak kemungkinan terjadi, salah satunya adalah takdir. Jay yang memikirkan bagaimana jika suatu hari Nuri sadar dan menangis histeris karena kepergian sang kakak.
__ADS_1
"Aku senang karena akan mudik, Bae. Tapi aku juga sedih karena kehilangan kakak kandungku dan kakak iparku. Dia adalah kakak terbaik dalam hidupku."
Sama seperti dulu, Jay memeluknya ketika bersedih. "It's okay, it will be okay, Bae... "
"He is the best brother for me, Bae."
"I know."
"Bisakah aku bilang, kalau aku nggak baik-baik aja?"
"Tentu, Bae." Jay lagi-lagi mengusap air mata Nuri. Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya. Ia selalu meluluhkan hati, menenangkan batin yang berantakan.
Seperti ada sinar di kedua bola mata indahnya. "Terima kasih, Bae.''
Mereka berjanji lewat jari kelingking untuk saling mendukung satu sama lain. "Aku akan jadi supporter nomor satu dalam hidup kamu."
Nuri yang kesulitan menjangkau wajah Jay karena selisih tinggi badan. "Bisakah kamu menunduk, Bae?"
Jay langsung paham. Ia menunduk tanpa banyak protes.
Nuri mengecup bibir Jay. "Thank you, Bae."
"Tapi kenapa namaku masih disimpan seperti dulu? Super Rich Bae?"
"Hahaha!"
Nuri hanya tertawa geli. Dulu mereka hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu di pesawat.
"Dulu, kalau ingat kamu di awal bertemu sangat lucu." Nuri mencubit pipi sang suami. "Aku pikir kamu itu pengangguran kaya raya, Jay."
Hah?
Nuri buru-buru mengecek sosial media. Ia langsung melepas pelukan erat nan wangi sang suami. "OMG! Jungkook! Taehyung! Jimin! Jhope! Namjoon! Suga! Jin!"
Dia kembali seperti semula. Jay merasa lega.
Nuri berjoged ria. Pemandangan yang sudah lama ia rindukan. "Aku udah order album baru mereka pake duit kamu, Bae!"
"Asal kamu bahagia."
Mark juga datang untuk melakukan pemeriksaan rutin. Ia juga melihat pemandangan yang tak biasa. Dua tahun lebih, ia melihat pasien hanya tidur.
"Pagi." Mark menyapa Jay terlebih dahulu. "Ada apa dengan Nyonya Jang? Dia seperti menang lotre."
"Dia memesan album baru BTS, Mark."
Mark juga menyadari satu hal. Nuri sangat cantik ketika tertawa ceria. Tidak seperti yang ia lihat dua tahun belakangan. "Dia enerjik sekali ya?"
"Iya, Mark. Begitulah istriku. Bagaimana kamu dan Lisa? Kapan akan bertunangan?"
"Mungkin tahun depan. Tergantung Lisa juga."
Nuri mulai kelelahan, ia juga malu karena sang dokter pun melihat kegilaannya. "Hei, Dokter Mark."
__ADS_1
"Nyonya Jang enerjik sekali ya?"
"Ahahaha, iya."
Scarf yang menutupi leher Nuri lepas, ada bagian yang seharusnya orang lain tidak lihat. Bekas ciuman semalam. Sang suami melampiaskan semua kerinduan selama dua tahun.
"Ahahaha, Jay!" Nuri menabok pantat sang suami.
"Oh, hahaha!" Jay kemudian tanggap dan memasang kembali scarf yang jatuh ke lantai.
Mark melakukan pengecekan seperti biasa. Kondisi vitalnya mulai normal. Tapi, perasaannya sedikit canggung karena melihat Nuri dari dekat. Sangat cantik.
"Maaf ya, Dok. Itu sesuatu yang berlebihan bukan?"
"Itu wajar untuk orang yang sudah menikah. Apalagi suami Anda, pasti memendamnya sejak lama."
Mark tidak mampu menatap Nuri. Nuri menyadari hal tersebut.
Jika di dalam mimpinya, Nuri menikah Mark. Itu adalah hal paling mustahil. Mereka adalah orang asing yang tidak bisa saling tatap. Mark juga terlihat misterius.
"Selanjutnya, Anda akan langsung ke RS?" Nuri iseng bertanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Mark bukan dosen.
"Aku akan pergi ke rumah sakit, lalu mengisi kuliah di siang hari."
"Anda juga dosen?"
"Kenyataannya memang begitu. Suami Anda dulu adalah adik kelas kekasihku."
Takut. Aku mulai takut dengan fakta mengejutkan kalau dia adalah dosen. Seperti dalam mimpiku juga, dia menjalin asmara dengan seorang gadis bernama Lisa.
"Dokter, terima kasih."
Dokter Mark sering tertangkap canggung ketika kita hanya berdua. Aku saat itu semakin merasakan aneh yang tak biasa.
Ada apa?
Kenapa seperti de javu?
Jay bilang, Mark berusia setahun lebih tua darinya. Lisa adalah kakak kelas Jay di masa SMA.
"Are you okay, Bae?"
Aku yakin sesuatu yang tidak benar terjadi. Tuhan masih membiarkanku untuk bernafas lagi dan menemuinya.
Jay memelukku erat, ia tahu mungkin mimpi buruk karena tidur panjang mulai menggoncang jiwaku. "It's okay, Bae."
"Jay, aku takut..."
"Kamu tidak usah takut. Aku sudah mendengarnya dari Profesor John, kamu mungkin mendengar percakapan orang-orang yang berkunjung, makanya beberapa nama orang asing kamu ingat, Bae. Jangan terlalu dipikirkan soal mimpi buruk itu lagi, oke?"
Jay orang yang sangat logis. Dia hanya belum menyadari sesuatu tentang Mark. Mark yang memandangku dengan tatapan tidak biasa.
"Mari." Mark berpamitan dengan kami. Ia ramah seperti biasa. Hanya perasaanku saja, aku mulai mencurigainya.
__ADS_1
Bersambung...