Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 40


__ADS_3

Jatuh cinta adalah sesuatu yang manusiawi. Patah hati juga adalah bagian dari jatuh hati dengan baik. Ingat, tidak semua cinta wajib mendapatkan balasan. Perasaan tulus adalah kunci dalam sebuah hubungan hati maupun jatuh hati.


"Kenape lo, Ka?" Mas Dika merangkul Raka yang terlihat muram.


"Gue nggak nyangka Jay bakalan datang. Spicles aja Mas."


Mas Dika melihat sesosok lelaki tampan dengan pakaian elegan sedang memegang tangan Nuri. "Oh jadi dia yang dulu gue cari sama Nanda?"


"Soal wajah gue kalah, soal harta juga tajiran dia."


"Hmm, begini Ka. Lo juga harus menata batin sekarang, coba membuka hati lo deh. Jangan memaksakan lo harus sama Nuri, Nuri kan nggak mau. Dia maunya jadi teman lo."


"Nasehat bapak-bapak emang terbaek lah."


Raka akan mulai belajar untuk membuka hati. Mungkin jalan terbaik untuk melupakan.


Acara berjalan lancar. Banyak sekali tamu yang datang baik keluarga, kerabat maupun teman kantor pengantin.


Nuri juga tidak menyangka Jay akan datang di saat yang tepat. Tidak ada yang sia-sia penantian dan doanya selama ini. Jay masih sama seperti yang dulu.


"Aku pikir ini mimpi," Nuri masih mencubit pipi Jay. "Tapi kamu nyata."


"Maaf karena aku pergi selama itu."


"Hmm, aku percaya ada sesuatu yang membuatmu lebih fokus. Tapi kenapa kamu berhenti kerja di hotel?"


"Nanti aku ceritain semuanya." Jay mengusap wajah kekasihnya. "Kenapa kita nggak menikah aja bulan ini?"


"Bar-bar!" Nuri mencubit perut Jay.


Chacha terbawa suasana, ia justru meneteskan air mata terharu. Akhirnya Nuri dan Jay kembali bertemu. "Nggak nyangka... hiks... hiksss."


"Udah takdir kali, Beb. Udahlah nggak usah sampe nangis, make up ntar luntur. Aku nggak bisa dandanin soalnya."


Banyak mata yang tertuju pada mempelai. Cyntia yang sangat cantik dengan gaun lilac, begitupun Nanda dengan jas putih yang elegan. Bersatunya dua keluarga menjadi satu. Bersatunya dua pribadi dengan sifat yang berbeda. Pernikahan mereka di usia yang dewasa terlihat lebih indah dengan persiapan yang matang.


"Bu Cyin, selamat ya.''


"Beb, selamat ya."


"Say, samawa ya!"


"Barakallah, Cyntia dan Nanda."


Cyntia terlihat sangat bahagia saat berbincang dengan sahabat semasa kuliah di Amerika. Sementara Nanda sedang berhadapan dengan kenyataan yang menggelikan.


"Ampuni Om, Nda." Om Toto ditemani adik ipar Nanda, Dewa.


"Udah gue beresin Bang, ni kunci mobilnya." Dewa begitu cekatan membereskan masalah.


"Ahh anjir, rasanya mau marah tapi nggak mungkin. Istri gue aja lagi girang begitu."


"Yaudahlah, Om." Nanda kali ini sangat bijak. Lebih baik menemui kerabat semasa kuliah dan kerja di luar negri.


Om Toto mendapat omelan yang sangat pedas dari Dewa.


"Nggak usah kepincut iklan dong Om, jadinya ribet! Untung aku bukan kembaranku yang nanganin, Cyntia jauh lebih galak dari Nuri."


Tidak berani Om Toto mendekat. Ia memilih pergi ke sisi yang sepi tapi dekat dengan stan makanan. Terlihat Raka, Johan dan Dika yang sedang asik berbincang. Chacha, Nuri dan satu lelaki asing yang sepertinya ia paham.


"Loh?" Om Toto ingin memastikan. "Ini kaya seseorang yang nggak sengaja aku ketemu deh."


Pengalaman kerja Om Toto di luar negri bukanlah isapan jempol. Dari benua Afrika hingga Amerika, ia sudah pernah singgah.


"Hello, Mr. Clarkson?"


Kaget.


Jay, Nuri dan Chacha saling bertatapan. Jay masih hafal wajah pekerja di Afrika Selatan, perusahaan keluarga Athena adalah perusahaan yang memiliki banyak pabrik, sebagian pekerjanya adalah tenaga kerja asing dari Asia.

__ADS_1


"Dia adalah Pamanku, Om Toto."


"Benarkah?" Jay sangat antusias. "Senang berjumpa kembali."


Sebuah kebetulan yang membuat Nuri dan Chacha tercengang.


"Sangat membagongkan, tapi Om Toto jago banget Cha kalau ngomong Inggris sama Itali."




Nuri berada di kafe usai acara resepsi Bang Nanda. Ada pesanan kue ulang tahun milik salah satu selebgram terkenal bernama Marsya.



"Hufft, kelar juga."



"Keren banget Mbak Nuri kalau bikin kue ultah mah."



"Ah bisa aja lo, Sis."



Siska akan menyimpan di etalase kue dekat kasir. Acara ulang tahun selebgram terkenal itu pukul delapan malam.



Jay tidak bersama asisten pribadinya, Andres. Sebenarnya ada beberapa urusan di hotel lama terkait pekerjaan. Tapi, ia ingin menikmati waktu melepas rindu dengan Nuri.




"Nggak lama. Kafe milik kalian keren juga konsepnya." Jay mengamati sekitar, banyak gadis muda yang memperhatikannya.



"Jay memang selalu jadi pusat perhatian ya?" Nuri tersenyum geli.



"Aku mau minta maaf karena dua tahun kemarin ada banyak permasalahan bisnis dan juga keluarga besar."



Nuri belum tahu sosok adik angkat Jay yang tak lain adalah cicit Nenek Hwang.



"Aku punya adik baru."



"Hah?" Nuri tidak bisa lagi berkata-kata.



"Dia bukan adik kandung, tapi kami menyanyanginya. Kamu harus menyapa keluargaku juga kan untuk membahas pernikahan kita?"



Baik. Biarkan Nuri menghela nafas sebentar, kedatangan Jay secara mendadak saja sudah merupakan plot twist. Ditambah seorang adik baru. Ah, rasanya seperti drama.


__ADS_1


"Nenek Hwang meninggal beberapa hari usai pernikahan Susan. Dia ingin sekali bertemu kamu, Nuri."



Melihat raut wajah sedih Jay, tidak mungkin ada dusta di antara mereka. "Aku ikut berduka cita, maaf dulu aku juga mengalami trauma. Aku juga takut kehilangan kamu, Jay. Rasanya aku malas untuk bangun tidur, karena nggak ada kamu."



Jay mengeluarkan sapu tangan mahal untuk mengusap air mata Nuri yang jatuh. Mungkin dalam drama romantis, pelukan akan sangat membantu. Tapi bagi Jay, membiarkan Nuri menangis hingga semua sesak di dada usai.



"Berat banget... saat itu, tapi ada akun aneh yang terus mengisyaratkan kalau kamu itu hidup. Akun siapa itu yang sering mengirim pesan?"



"Asisten pribadiku, Andres. Akun instagram dia memang seperti akun palsu ya?"



Jay merangkul Nuri. Terlihat sangat elegan karena tangan kanan Jay memegang sehelai sapu tangan untuk menyeka air mata kekasihnya.



"Pak, itu pacarnya Mbak Nuri ya?" Siska bertanya kepada Raka dan Johan yang baru tiba.



"Wow, gile." Johan lumayan mengakui gaya berkelas Jay.



Raka tidak berkomentar, ia yang banyak bicara tiba-tiba kehilangan kata-kata. Mengakui kekalahan adalah jalan ninja Raka.



"Udahlah, Ka. Cari dong ganti Nuri. Tapi inget lo jangan buat patokan harus dapatnya kayak si Nuri."



Masih enggan untuk menanggapi. Raka justru memilih pergi ke ruangannya. Yang pertama ia lakukan adalah rebahan sambil makan coklat delpi.



"Papi gue aja sampe kagum liat gaya Jay. Gue harus tanya dimana dia beli baju sama sepatu gaul itu deh."



Raka memang punya pemikiran yang unik. Dia sudah tidak memikirkan persaingan cinta. Hanya saja, gaya pakaian Jay, sepatu yang dia pakai tadi sangat keren.



"Dari mana si Nuri kenal sama makhluk bumi kaya gitu?" Mas Dika juga takjub dengan *outfit* kondangan Jay.



"Ya di Paris lah, Mas."



"Lo harus percaya Ka, Jay tadi ngasi hadiah ke Nanda tuh voucher menginap di hotel mahal mana dua minggu. Apa bukan sultan?"



"\*Hmm... dipikir-pikir emang beneran Jay itu lebih sultan dari seorang sultan. Apa di masa lalu keluarganya menemukan harta karun di gua?"



Bersambung\*...

__ADS_1


__ADS_2