Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 21


__ADS_3

Jay Jang Clarkson, pemilik akun JJ.Clarkson tersebut sudah terbiasa hidup mewah sejak lahir. Baginya merupakan anugrah karena menikmati kekayaan orang tua. Tapi, ia juga tertekan sebagai anak orang kaya raya.


"Lihat tuh, kekayaannya mencolok banget."


"Iya masa masih SD udah pamer."


Bukan salahnya. Ibu Jay, merupakan ibu muda saat itu. Ia yang gemar sekali megoleksi pakaian mewah, semua brand fashion yang mahal.


"Mommy, aku kalau kaya gini malu." Jay pernah protes karena penampilannya terlihat seperti Ricchie Rich, anak orang kaya Amerika yang sangat terkenal.


"Nggak ada masalah kan? Kamu pasti saat dewasa akan berterima kasih sama Mommy."


Jay kecil sering dipaksa menemani ibunya menonton acara fashion week.


"Celine, ini anakmu?"


"Oh, iya. Beri salam sama Paman." Celine mencubit Jay yang cemberut.


"Halo, Paman. Aku sangat menikmati acara." Bohong. Ia terus saja mengumpat kesal. Seharusnya ia pergi bermain PS dengan Louis.


"Nanti, kalau kamu besar. Jadi model aja." Paman Sam, adalah desainer terkenal, teman kampus Mommy Jay.


"Nggak lah, mendingan jadi CEO apa Direktur. Kaya drama yang Mommy tonton."


"Hush, bisa marah suamiku kalau dia jadi model."


Ayah Jay bukanlah seseorang yang sangat menawan seperti yang orang tebak. Dia hanya pria biasa yang kebetulan kaya raya.


"Sayang, kamu belum juga menemui Ayahmu?"


"Ah, males."


Bukan durhaka, hubungan mereka buruk. Masalah yang dihadapi orang kaya selalu samam Seputar keluarga dan harta. Ayah Jay malas pulang.


"Kamu nggak ketemu Ibumu?" Celine sebenarnya prihatin. Tapi, sifat mereka juga sama. "Kalian masih gengsi?"


Masalah yang sebenarnya Ayah Jay dapatkan saat memutuskan untuk menikah muda. Usianya mungkin masih 24 tahun saat itu.


"Apa Daddy belum juga akur dengan Kakek?" Jay kecil perlahan menyadari masalah.


"Kalau pria tua itu datang, bilang jangan membawa banyak barang. Rumah kita cuma dua lantai."


"Tapi Kakek sering memberiku kartu-kartu aneh."


Orang tua Jay kaget. Jay mengeluarkan beberapa kartu unlimited akses uang. Kakeknya sangat menyanyangi cucu bungsunya. Selain berwajah tampan, Jay baginya adalah harapan untuk masuk jajaran eksekutif hotel keluarga Wilson.


"Ayah dulu membiarkanku sengsara di Amerika. Lihat, dia memberinya banyak uang tanpa batas."


"Sayang, kamu sepertinya butuh minuman dingin. Aku akan buatkan jus stroberi." Celine memahami suaminya.


Tumbuh dengan didikan yang sangat baik. Jay menjadi sangat berbeda dengan kebanyakan anak orang kaya.


"Kamu benar, nggak enak juga sering clubing." Louis menyadari betapa bijak nasihat Jay di masa lalu.


"Kita bisa kok melakukan hal lain."


Jay dan Louis bergabung dengan klub berkuda. Kebanyakan adalah anak orang kaya.


"Jay, pacarmu pasti bangga denganmu nanti." Louis sering kagum, toleransi alkohol Jay.


"Biasa.''


Setelah mendapat surat tugas untuk mengurus manajemen sementara di Indonesia. Jay bisa sekalian bersantai atau mengunjungi Bali. Ia juga sudah lancar bahasa Indonesia. Tidak ada masalah serius selain patah hati di masa lalu.


Jay tidak pernah membayangkan akan bertemu cinta barunya, Nuri. Seseorang yang mampu membuatnya takluk dengan hal unik. Membuka matanya tentang kesederhanaan hidup.


"Apa kita akan lembur lagi?" tanya Jay.


"Tidak, Bos. Kita bisa bersantai untuk sesaat." Louis juga merasakan lelah yang sama.


Jay akan pulang tepat waktu. Ia mengusahakan semua demi bertemu dengan Nuri. Mendengar perkembangan kelas pelatihan Nuri, menyaksikan betapa konyol tingkah Nuri.


"Nuri."

__ADS_1


"Jay!" Nuri langsung mendekat begitu Jay datang.


"Kamu capek?" Jay mengusap pipi Nuri yang sedikit kotor terkena tepung.


"Duh, iya. Hehehe."


"Kalian kadang terlihat seperti pasangan suami istri loh.'' Susan sering meledek. Memang kenyataan, mereka terlihat lebih serius dari ahri ke hari.


Jay akan mengajak Nuri pergi untuk makan malam. Semenjak kencan ganda yang menyebalkan dulu, Nuri enggan untuk bertemu lagi dengan teman Jay.


"Louis bilang, Eva sangat menyesal."


"Oh." Nuri tidak ingin lagi menanggapi Eva yang menyombongkan temannya.


"Apa ada masalah?"


Nuri hanya tersenyum manis. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Jay. Pekerjaan Jay sudah sangat banyak di hotel.


Nuri minta mobil Jay untuk berhenti sebentar. Tidak tahu mengapa, rasanya ia ingin sekali memeluk Jay. Berbeda rasanya jika memeluknya, lelah akan menjadi musnah.


"Kamu pasti lelah,'' bisiknya.


"Hmm, iya. Peluk yang lama." Jay bersikap manja hanya di depan kekasihnya. Memalukan.


"Kamu hebat.''


Ini pertama kalinya, Nuri mengatakan sesuatu yang begitu manis dan terlihat tulus. Jay memeluknya lebih erat dari biasanya.


"Aku mau memberimu sesuatu."


"Apa?"


Nuri tidak ingin memberikan spoiler. Ia hanya menyuruh Jay untuk memejamkan mata. Tidak boleh mengintip.


"Penasaran nih." Jay tidak ingin berekspetasi tinggi. Sudah berapa kali ia selalu tertipu.


"Tada!" Nuri mengeluarkan sesuatu.


"Ah, itu." Jay tidak berdaya. Ini bukan ciuman seperti yang pernah ia bayangkan.


"Koyo Jepang?"


"Yups! Saki bagi-bagi koyo. Hahaha."


Terlihat sangat tulus. Tapi, Jay tidak suka memakai koyo di badan.


"Ini bermanfaat banget kan?"


"Tentu."


Nuri tahu Jay pasti kecewa. Makanya, ia sudah menyiapkan hadiah kejutan.


"Jay... "


Nuri menjadi lebih berani. Ia berani untuk mencium kening Jay. Sebenarnya, ini terbalik.


"Je t'aime...."




Chacha tidak menyangka Mas Dika akan mengajaknya untuk makan berdua. Sebenarnya, Nuri sudah memberitahunya. Antisipasi.



"Ada apa ya Mas?" Chacha sebenarnya malu, tapi ia juga senang. Namanya juga makan gratis di mekdi.



"Apa itu bener, Cha? Lo suka sama gue udah lama?"


__ADS_1


Tanpa basi-basi. Ingin mengakui, tapi ia tidak enak. Mas Dika sebentar lagi akan bertunangan. Dorongan dari Candra, Nuri dan Raka lumayan juga.



"Ya, itu bener. Tapi kan bukan jodoh... jadi lupain aja Mas. Selamat ya mau tunangan, ciyee." Chacha bersembunyi di balik tawa riang.



"Bisa-bisanya lo malah bilang ciye?"



Sambil menikmati menu baru mekdi yang lumayan mahal, Chacha sedang merangkai kalimat bagus untuk Mas Dika yang sebentar lagi akan menjadi tunangan orang.



"Cha, kalau misal gue bukan tunangan orang. Lo mau sama gue yang kaya gini?"



"Hah apa maksud lo si Mas? Lo tuh keren, udah mapan. Lihat deh lo udah punya mobil import kayak gitu kan, gaji juga gede."



"Gue masih di bawah Nanda loh," Dika sedikit minder.



"Tapi gue punya saham kok, Cha."



"Saham apaan? Cuan maksud, Mas Dika?"



Memang sedang marak orang berlomba investasi.



"*How you like that, that, that*..."



"Gue iseng beli saham di agensi mereka yang nyanyi lagu itu."



Sebuah kebetulan macam apa, Chacha tidak menyangka kalau Mas Dika adalah kpopers juga. Lebih akut lagi, dia ikutan beli saham di Yege.



"Kenapa Mas Dika baru ngomong?"



Mas Dika sebenarnya pernah nonton konser Blackpink di Indonesia.



"Mas Dika pasti punya akun palsu ya? Pasti ikutan *war* nih! Hahaha! Chacha tidak sanggup lagi tertawa. Ia hampir menangis.



"Bias gue itu Jisoo."



Dengan wajah malu-malu, ia mengakui jati dirinya. Intan sudah tahu, Dika juga tahu mungkin alasan Intan risih karena pernah melihat foto isi kamar Dika. Poster besar empat gadis cantik.



"\*Gue sebenarnya malu karena udah tua tapi masih ngefans ginian."

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2