
Nuri seketika terdiam mendengar pertanyaan Jay.
"Kamu lagi nge-prank ya? Hahaha." Ia hanya ingin bangun dari mimpinya, mustahil Jay menanyakan hal serius begitu.
"Nggak. Aku tanya serius kok." Ekspresi Jay menjabarkan segalanya.
Nuri harus menjawab apa adanya tapi ia merasa sangat malu karena Jay memasang wajah lumayan jutek. Ia takut ditolak.
"Kentara banget soalnya.'' Jay sengaja memancing agar Nuri mengakui terlebih dahulu. Ia memang sering ditembak cewek duluan.
"Hmm... bagaimana ya?" Ia mulai memasang wajah dramatis penuh harap.
Jay masih menggodanya, ia ingin mengetahui seberapa keras usaha Nuri untuk mencuri hatinya.
"Jay, sepertinya aku memang suka kamu sejak kemarin. Aku juga nggak tahu kamu mau bilang aku ini gila apa aku cewek aneh, tapi aku selalu jujur. Aku sangat menyukai sikapmu. Aku juga sangat menyukaimu, ya karena kamu tampan dan kaya." Nuri mengacungkan jempolnya, ia dengan santai mengucapkan pernyataan cinta. Lumayan juga menurutnya karena menonton drama Korea, ia bisa jadi bicara manis.
Jay tertawa keras.
Suasana menjadi tegang antara Nuri dan Jay. Mereka tidak bicara untuk beberapa menit. Jay hanya rebahan karena masih merasa tidak enak badan. Nuri juga masih sibuk dengan ponselnya. Ia diam-diam menonton youtube.
"Ah, Kim Taehyung... " gumamnya.
Ia ingin sekali berteriak karena merasa gemas dengan sosok idolanya, tapi ia lebih gemas lagi dengan Jay yang tidak bicara.
"Aku gampang bosan." Jay berbalik dan menatao ke arah Nuri.
Nuri kali ini cuek, ia tidak terlalu menanggapi. Ia mengira itu hanya sebuah prank. Tidak terlalu membawa perasaan adalah hal yang baik.
"Nuri, apa kamu marah?"
"Marah kenapa? Aku pikir kamu cuma lagi iseng aja kok, jadi nggak bakal baper si."
Kali ini Jay yang merasa sedikit kecewa, ternyata Nuri anggap hanya sebuah keisengan semata.
"Serius." Jay memasang wajah jutek.
Nuri berpaling, ia tidak lagi menatap layar ponselnya.
"Sekarang aku yang tanya. Apa kamu suka denganku?" Ia menyerang balik Jay.
"Hmm, kamu mau nggak kita coba selama sehulan. Misal, salah satu dari kita bosan bisa putus dan jadi teman."
Nuri tersenyum sengit. Pengalaman cinta di masa lalunya sudah banyak, tapi bertemu orang sejujur Jay juga baru sekali. Baginya, Raka dulu yang bosan namun banyak alasan lebih menyebalkan.
"Bagaimana, Nuri?" Jay memasang wajah penuh harap.
"Kalau misal salah satu dari kita nggak ada yang bosan. Mau dibawa kemana hubungan ini?"
"Itu terserah kamu."
"Oke."
Hari itu, hari ketiga ia di Paris dan sudah mempunyai kekasih baru.
Dua jam kemudian.
Jay bangun tidur, tidak ada Nuri di dekatnya. Ia keluar untuk mencari kekasih barunya. Berkali-kali juga ia menelfon Nuri tidak ada respon.
"Masa baru jadian dua jam langsung kabur gini?" Ia mulai kesal.
Di depan ruangan Jay, ia melihat gadis yang memakai hoodie sedang menangis.
"Nuri?" Ia berjalan untuk menghampiri kekasihnya.
"Jay... " Nuri menghapus air matanya, ia tiba-tiba malu menatap Jay.
"Kenapa kamu menangis?"
Jay duduk di sebelah Nuri.
"Lihat ini, Jay." Ia menunjuk ke arah layar ponselnya.
__ADS_1
"Oh." Jay yang mengira ada masalah besar, ternyata hanya sebuah adegan pembunuhan dalam drama. Ia mengabaikan Jay karena sedang asyik menonton lewat aplikasi.
"Hiks... aku nggak kuat lagi." Nuri menyender ke bahu Jay.
"Ini kan cuma drama," ucap Jay dengan santai.
"Apa? Kamu anggap ini cuma drama? Kamu nggak merasa kasihan? Paman ini udah kehilangan anak, dia juga ditusuk penjahat!" Tiba-tiba Nuri berteriak.
Jay benar-benar dibentak. Ia hanya diam. Mereka baru jadian selama dua jam lebih tapi Nuri sudah menakutkan seperti Ibu tiri.
Raka masih kepikiran, ia harus melakukan sesuatu. Ia mencoba menanyakan kepada Bang Nanda.
"Halo, Bang. Gue mau tanya nih!"
"Tanya apaan lo?" Bang Nanda masih berada di depan komputer.
"Nuri kok nginep sama bule bang? Gue kemarin telfon Nuri, ada suara cowok Eropa gitu." Raka masih terbakar api cemburu. Ia masih tidak percaya Nuri berpaling dengan cepat.
"Lo lagi halusinasi, Ka?" Bang Nanda yang masih sibuk, jarinya masih mengetik dengan indah. Ia tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Raka.
Raka merasa bahwa Bang Nanda memang masih marah padanya karena memutuskan Nuri sebelum acara pertunangan kala itu. Ia memiliki alasan sendiri yang belum berani ia ceritakan kepada siapapun termasuk keluarganya sendiri.
"Kalau belum siap mendingan jangan mainin hati anak orang deh, Bapak yang malu banget sama Ayahnya Nuri." Bapak Raka juga sama, ia sangat kesal dengan ulah Raka yang aneh.
Belum lagi, Chacha. Ia bahkan mengumpat dan mengutuk Raka.
"Eh Raka, gue nggak terima ya lo giniin Nuri, sahabat gue yang cantik dan glowing. Lo pikir lo Lee Min Ho? Atau lo merasa setampan Kim Taehyung hah?" Chacha memakinya dengan suara sangat sinis dan bibir nyinyir.
"Lo harusnya bersyukur Ka, mana ada cewek cantik yang mau setia jemput lo di depan gang gini." Candra, kembaran Chacha pun ikut menasehati Raka.
Berita putusnya hubungan Raka dan Nuri sudah menjadi hal paling heboh di kalangan teman kerja mereka termasuk Mas Jaka, manajer mereka.
"Loh kok bisa putus mendadak?"
"Lo selingkuh ya?"
Dihujani dengan banyak pertanyaan dari netizen, Raka memilih diam. Ia memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa ia ceritakan.
__ADS_1
"Maafin gue, Ri." Ia menatap foto mereka awal menjalin hubungan, masa yang sangat manis karena Nuri sangat baik kepadanya.
"Apa si yang lo sembunyiin dari gue? Apa lo selingkuh? Ada pelakor yang lebih dari gue?" Nuri saat itu menangis, ia merasa hancur berantakan.
Ia akan jujur ketika waktunya tiba, apa alasan yang membuatnya putus dari Nuri. Seharusnya pertunangan itu hanya ditunda, tapi Nuri terlanjur marah.
Raka menelepon seseorang.
"Jadi gimana ni Mas Raka, apa mau dikirim sekarang atau kapan?"
"Kirim besok aja sekalian deh."
Ia lalu mematikan panggilan.
Raka kembali stalking instagram Nuri. Ia masih terkejut dengan unggahan Nuri. Befoto dengan banyak bunga.
"Pasti seseorang ingin mendapatkan perhatianmu. Lebay banget pake kirim bunga banyak banget!" Ia kesal sendiri.
"Lagi ngapain kamu?" Eyang Raka memperhatikan kelakuan Raka yang makin hari makin aneh. "Apa kamu yakin nggak mau ke Rumah Sakit bagian kejiwaan?"
"Nggak lah. Aku masih waras kok." Ia pergi begitu saja keluar dari kandang sapi.
"Dasar bocah nakal!" Teriak Eyang Raka.
Eyang Raka dapat membaca gerak-gerik sang cucu. Semenjak Raka tahu bahwa ia adalah anak angkat dan ayah kandungnya datang lalu, sifatnya menjadi berbeda. Raka menjadi semakin aneh.
Meski hanya anak angkat, orang tua kandung Raka tetap berhubungan dekat. Menyamar sebagai Paman kaya yang sering ia banggakan kemana-mana. Apalagi ia mendaptakan ibu tiri baru, karena dulu ibunya meninggal ketika melahirkan Raka.
"Raka, Papi baru pulang dari Spanyol nih sama Mami. Kamu mau Papi beliin apa?"
"Aku mau liburan ke Paris, Pi."
"Gampang itu, kamu punya pasport kan? Papi kan udah ngasih black card sejak tahun lalu."
Raka tersenyum puas. Ia akan mengejar cinta Nuri kembali dan akan melabrak bule yang mencoba merebutnya.
__ADS_1
\*Bersambung....