
Bukankah dia orang yang ada di toko rotimu, Eric?"
Eric baru mengingat. Jack pernah datang sebelum hari natal. Suasana toko sangat ramai, masing-masing pekerja sibuk dan kewalahan.
"Dia yang pernah bantu angkut bahan-bahan kue."
"Ya, kamu juga menyuruhku untuk membuang cangkang telur."
Mereka sudah pernah bertemu.
"Nuri, ini adalah Jack. Dia saudara Jay, tapi mereka sangat dekat seperti kakak-adik. Jack adalah pemilik J.J Corp bersama Jay." Eric memandu perkenalan secara profesional. Bukan mencomblangi, tapi situasi mereka sama.
"Salam kenal. Jack." Jack berwajah lebih arogan dari Jay, ia lebih tinggi 4 cm dan berambut hitam.
"Nuri... "
Tidak terlalu lama, Nuri langsung undur diri. Ia ingin sekali tidur. Cerita dari Jack dan Eric sudah membuktikan kalau Jay adalah orang yang sangat mengagumkan di dalam hidupnya.
Pukul empat pagi. Setelah mengantar keluarga Jay dan keluarga besarnya, Nuri bergegas kembali ke dalam rumah. Di rumah tiga lantai yang begitu sunyi tanpa dia nyatanya sangat menyayat hati.
"Jay, ini sudah tujuh hari."
Meski ia bergumam, tapi suara Nuri jelas terdengar. Ia memandangi foto pernikahan dalam ukuran besar sambil menangis kecil. Orang-orang mungkin belum bangun karena begadang.
"Sayang... bagaimana aku harus memulai hidup tanpa kamu?"
"Ini sudah tujuh hari. Kamu pergi dari hidupku, Jay Jang Clarkson."
"Tuhan akan menjaga kamu lebih baik dari aku, Jay." Rasa yang tidak mampu diungkapkan. Kesedihan yang sukar untuk pudar. Kehilangan dia, si penyemangat hidup.
Tepat pukul lima pagi, ia bangun, tidak, Jack mendengar tangis dari ruang tengah. Seseorang yang menangis sendirian dengan suara menyakitkan.
"Dia?" Jack membuka matanya, jelas itu istri Jay yang menangis.
"Sepertinya kamu tidak tidur?" Jacj mendekati Nuri. Di satu sisi, ia harus mengakui pilihan Jay kali ini sangatlah berkualitas.
"Dia tidak akan terganti, bukan?" Jack menyala lagi, ia menyalakan pemantik untuk membakar kayu.
"Aku harus akui kali ini, pilihan Jay memang di luar ekspetasi."
Nuri tidak terlalu menggubris Jack yang mengajaknya bicara.
"Jay pernah bilang padaku, istrinya akan marah kalau banyak perjalanan bisnis."
"Bukankah kamu sudah pernah menikah. Kamu memberinya beban berat kan?" Nuri ingin mengajukan keluhan meski terlambat.
"Maaf kalau sering membuat Jay lembur bahkan di rumah. Aku juga tidur sehari hanya 2-3 jam."
Jack sudah mengetahui kalau kekayaan Jay yang bukan main itu akan diwariskan untuk istrinya. Ayah dan ibu Jay sudah menolak untuk mendapat warisan.
"Paman dan bibi mungkin menolaknya, karena mereka jauh lebih kaya. Tapi, asal kamu tahu. Dia menghadiahimu kapal pesiar termahal."
"Yacht?"
"Hmm."
Tentang kapal pesiar. Nuri hanya bergurau tentang impian ngawurnya di masa lalu.
"Andai aja aku punya kapal pesiar, mungkin akan mengubah hidupku. Aku kepikiran saat kerja di Paris."
"Apa kamu mau?" Jay saat itu memang bertanya. Nuri hanya menganggap gurauan.
"Hehehe, itu cuma gurauan."
Memang benar, jika bergurau dengan orang yang menatapmu secara tulus akan menjadi sebuah kejutan ketika ia mewujudkan keinginan aneh yang mungkin terdengar seperti halusinasi.
__ADS_1
"Aku cuma mau memberikan apa yang kamu minta."
"Aku tidak menyangka." Nuri tidak lagi menangis, ia menerima sebuah kertas indah dari Jack. "Jay sangat romantis."
"Kapal ini bernama NURI." Jack memberikan kunci dan kartu kepemilikan. "Semoga kamu bisa lebih kuat dalam menjalani hari-hari."
"Terima kasih, Jack."
Dia tersenyum.
"Cha, ada apa?" Nuri yang baru turun dari lantai tiga begitu terkejut. Seorang wanita datang dengan air mata.
"Dia bilang, dia orang yang Jay selamatkan." Chacha hanya menangkap inti pembicaraan.
Arthur yang ikut mengantar wanita tersebut menuju ke ruang tengah. "Duduklah dan minumlah air hangat."
"Maafkan, maafkan aku. Seharusnya suamimu tidak usah menyelamatkanku." Wanita bermata biru dan berambut hitam pekat terus menunduk. Ia merasa sangat bersalah.
"Seharusnya, kamu berterima kasih karena suamiku menyelamatkanmu kan? Kalian adalah orang asing."
Wanita itu berlutut, "Aku adalah orang paling gila."
"Orang sepertiku tidak layak untuk hidup bukan? Atau kenapa suamimu begitu mulia?"
Nuri terdiam, di satu sisi hatinya sangatlah terkoyak, perasaannya bercampur luka kehilangan yang sukar padam.
"Suamiku adalah orang berhati malaikat. Tolong jangan buat hidupmu begini, mari kita hidup dengan nyaman. Aku juga tidak menuntutmu. Aku ingin kamu lebih menghargai hidup."
"Maaf... "
Nuri sebenarnya membenci sebuah fakta. Kalian tahu sebuah kalimat sia-sia? Iya, pengorbanan Jay akan sia-sia jika melihat orang yang ia selamatkan juga semakin goyah.
Setelah semua percakapan yang melelahkan. Nuri menutup pintu kamar. Chacha, Candra dan Raka berulang kali mengetuk.
"Ri, makan dulu yuk." Raka sudah membuat mi goreng kesukaan Nuri. "Ini favorit lo!"
__ADS_1
Tidak ada jawaban. Kali ini, Candra mengetuk pintu. "Ri, gue udah beli seblak mix cuanki kesukaan lo nih tinggal nyeduh aja."
Sama. Tidak ada reaski.
"Udah, biarin Nuri sendirian aja dulu." Chacha justru memberinya ruang untuk Nuri sendiri. Ia dapat menangkap inti percakapan wanita yang Jay tolong. "Mungkin Nuri ingin meluapkan emosi terpendamnya di dalam kamar. Kita nggak usah ngeganggu dulu, oke?"
"*Terima kasih, temen-temen. Kalian selalu ada di saat suka dan duka. Maaf ya, gue masih perlu waktu untuk membenahi perasaan yang acak ini*."
*Ada kalanya waktu akan menyembuhkan luka, tapi ada kalanya, waktu justru memperparah luka. Jay tidak pernah mengkhianati cinta kami. Hanya saja, aku kesal*.
"*Kenapa suamimu harus menyelamatkanku?" pertanyaannya membuatku marah, tapi aku mencoba menahan amarah di depan banyak orang. Bukan demi terlihat elegan, tapi ini etika yang Jay ajarkan. Etika berkualitas yang menawan*.
*Ada suatu malam, dimana kami saling memandang satu sama lain di bawah selimut yang sama*.
"*Kamu tahu, apa yang membuatku lebih menghargai diriku*?"
"*Apa?" tanyaku*.
"*Kamu, Nuri. Kamu adalah alasan aku lebih menghargai diriku, hidupku dan pekerjaanku. Kamu adalah alasan terbaik dari semua alasan*."
*Aku kira itu hanya sebuah rayuan sebelum menutup malam. Tapi, itu adalah ungkapan yang sangat berarti untukku*.
*Kepergianmu dari dunia menyisakan banyak sekali sesak di dada. Aku tidak tahu, kenapa melihat video perjalanan menjadi sangat bahagia. Aku bisa mendengar jelas tawamu, melihat jelas wajah yang selalu menggemaskan meski bukan bayi*.
*Aku sudah menemui semua keluarga besarmu. Mereka adalah orang-orang baik. Lingkaran keluargamu adalah lingkaran orang-orang yang beradab. Aku bisa pastikan itu*.
"*Kak?" Hanna menyempatkan di sela jadwal berlatihnya untuk datang*.
"*Unnie!" Hanna memelukku erat, ia menangis dalam pelukan. Sama seperti saat ia menangis di depan Jay. "Bagaimana ini*?"
"*I can't believe it*!"
__ADS_1
*Bersambung*...