Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 69 (S2)


__ADS_3

"Mark?"


"Ada apa?"


Nuri memakai piyama dress dengan warna abu muda dan memakai kaca mata untuk menutupi wajah sembab akibat menangis selama dua jam.


"Oh, maaf aku menganggu ya? Aku lupa tas belanjaku ketinggalan. Karena banyak sekali makalah yang harus dikoreksi, aku baru sempat kemari." Mark merasa tidak enak, ia melihat wajah sembab yang tertutup indah dengan kaca mata mahal Gucci.


"Aku akan mengambilnya, tunggu sebentar."


Beberapa menit kemudian, Nuri membawakan barang Mark yang tertinggal di ruang tamu. "Ini kan?"


"Benar, terima kasih. Seharusnya aku meneleponmu dulu, tapi kita belum bertukar kontak. Bolehkah aku menambahkan kontakmu?"


Nuri dengan senang hati menerima ajakan Mark untuk bertukar kontak, menyimpan dengan nama asli.


"Lain kali, aku akan mentraktir kamu dan Bibi Amelia. Aku pamit dulu." Mark begitu sopan, dia pemuda yang sangat berpendidikan.


Nuri mengantar Mark sampai gerbang depan. Ia melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan, Mark."


Mark membawa mobil di malam hari karena cuaca semakin dingin. Tapi, tatapan mata miliknya jauh lebih dingin.


"Apa dia menangis sendirian?" Mark masih melihat dari spion, memantau Nuri dalam jarak jauh. "Dia baik-baik saja kan?"


Tidak dapat lagi menutupi air mata yang mulai menetes. Setelah Mark melaju, Nuri masih berdiri di depan gerbang. Dulu, saat Jay pergi, ia akan menunggunya di depan gerbang di dekat lampu taman yang terang.


"Semua, membuatku semakin takut. Apakah aku sudah benar, Jay? Kenapa aku harus memikul semua beban ini?"


"Bolehkah aku bersandar dan bilang, aku nggak baik-baik saja saat ini."


"Semua menyakitkan... "


Nuri menutupi wajahnya yang menangis, beberapa mobil berlalu dari hadapannya. Tanpa, ia sadari, seseorang datang.


"Kamu?''


Yang dapat ia lakukan adalah menutupi seorang wanita yang sedang menangis. "Maaf, aku kembali."


"Untuk apa?" Nuri bertanya karena penasaran, kenapa orang asing harus peduli dengan penderitaan orang lain. "Untuk apa, Mark?"


"Aku melihat kesedihan di matamu. Kamu mencoba menyembunyikannya sejak di halte kan?"


"Maaf, aku... "


Ketika melihat matanya seperti terbakar. Hati Mark begitu sakit, meskipun di masa lalu, Lisa jarang menangis sesedih ini.


"Apa kamu selalu begini?'' Mark masih berdiri menutupi Nuri agar tidak terlihat sedang menangis deras meski tidak bersuara keras.


"Di matamu, aku tahu. Kamu mencoba menyembunyikan luka dengan senyuman kan? Aku juga tahu, pasti sangat sulit kan melalui ini semua?"


Nuri mengangguk, ia mengiyakan semua pertanyaan Mark. Sekian lama, baru ada seseorang yang benar-benar memahami luka yang ia dapatkan selama ini. Ia juga membenci dirinya yang tidak tumbuh dewasa dengan cerdas.


"Sulit... menanggung beban sendirian."


"Jangan memaksakan dirimu, kamu butuh kebahagiaan juga. Kamu butuh sandaran untuk berbagi luka, berbagi cerita."


Nuri sendiri bingung, harus bagaimana mengatakannya. Bisakah seseorang membantunya melewati begitu banyak rintangan, meski bayangan Jay tidak mudah pudar dalam hidupnya.


"Sama seperti kamu saat memberiku sapu tangan untuk menutupi air mata. Aku bersedia menjadi orang yang kamu butuhkan, meski aku tahu bayangan mendiang suamimu masih jelas ada."


Mark menarik Nuri, ia memeluknya erat. "Kamu butuh seseorang untuk berbagi beban. Aku tidak akan menuntut apapun, aku akan menerimamu dalam segala keadaan."


Tidak tahu harus berkata apa, Nuri hanya semakin menangis. Ia tidak menyangka akan bertemu Mark setelah kehilangan Jay. Apakah adil untuk memulai hubungan baru dengannya? Dia yang belum pernah merasakan pernikahan.


"Tapi, aku seorang janda, Mark. Kamu adalah... "


"Janda bahkan lebih terhormat daripada orang yang hidup bersama tanpa ada ikatan." Mark bukan tertarik karena Nuri adalah janda kaya raya, tapi ia sudah tertarik sejak Nuri memberikan sapu tangan di halte. Seseorang yang begitu tulus.

__ADS_1




"Apa Anda baik-baik saja, Bu?" Mimi penasaran, ia melihat wajah bingung Nuri. "Apa ada yang menyatakan cinta? Apa ini Pak Jack?"



"Enyah."



"Benar, Bu. Banyak karyawan yang meramal kalau kalian itu serasi."



"Jack itu seperti kakak bagiku, tidak lebih. Ia juga memiliki selera tinggi terhadap wanita. Ingat siapa mantan istrinya."



Mimi setuju, jelas bukan Nuri selera Jack. Kalau dipikir lagi, Jack juga sudah mempunyai anak berusia lima tahun yang sangat nakal.



"Aku harus menikah lagi, Mimi. Aku bingung memikirkan ini."



"Bagus kalau Anda menikah lagi, setidaknya Anda tidak kesepian, Bu. Mungkin, suami Anda juga bisa membantu mengurus Barens Property kan?"



Pendapat Mimi boleh juga, Nuri memang sedang menyusun sebuah rencana. Tante Estella juga sudah menanyakan berulang kali, jika memiliki seorang kandidat pendamping lebih baik segera meresmikan pernikahan. Tidak usah mengadakan resepsi mewah, cukup buku pernikahan dan akta pernikahan resmi.



Setelah memikirkan banyak hal, Nuri menjelaskan tentang pernikahan mereka. Mark meluangkan setidaknya dua jam setiap hari berdiskusi tentang pernikahan.




Semenjak Nuri menjelaskan tentang pernikahana secara agama, ia membaca banyak artikel dan bertanya kepada salah seorang dosen asal Iran.



"Aku terkejut, Anda akan menjadi muslim. Tapi pastikan Anda melakukan apa saranku." Emran, dosen jurusan geologi memberikan banyak petuah.



Mark tidak bisa berkata banyak, ia ditemani Nuri pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan sebelum pernikahan mengenai salah satu syarat.



"Kamu nggak papa, kan?" Nuri bertanya karena ia melihat wajah Mark begitu tertekan sebelum menuju ruangan.



"Ini juga untuk kesehatan seorang pria kan? Aku tidak menyangka, Emran sudah melakukan ini sejak kecil. Tidak terbayang, betapa sakitnya ini."



Nuri memegang tangan Mark sambil berbisik, "Kakak angkatku sudah melalui ini sejak usia 12 tahun."



Mark benar-benar ingin kabur, tapi tidak bisa. Begitu dokter datang dengan dua orang perawat. Rasanya ingin sekali pingsan sejenak.

__ADS_1



"Teknologi semakin canggih. Kamu tidak usah cemas. Dalam beberapa menit sudah selesai."



Nuri menunggu dengan santai. Ia sudah memberitahu keluarga dan kerabat dekat tentang rencana pernikahan mereka.



"*Mommy*, ikut senang. Jay tidak akan marah dengan keputusan ini."



"Abang akan usahain buat datang, tapi kalau Cyntia masih repot nih."



Nuri juga menelepon Chacha, ia menjelaskan situasi yang sebenarnya kenapa ia begitu cepat menikah lagi.



"Nggak papa, Beb. Hidup terus berlanjut, sekarang lo lagi ngapain nih?" Chacha sambil menggendong Joa, sang buah hati.



"Nunggu dia selesai disunat, Cha."



Johan yang tidak sengaja mendengar percakapan sang istri dengan sahabatnya langsung tertawa keras. "Bilang apa lo tadi, Ri? Hahaha!"



"Iya bener, dia lagi di dalam tuh. Sakit nggak sih, Han?"



Johan benar-benar hilang kendali, ia tertawa terpingkal. "Dulu jaman gue si sakit banget asli. Nggak tau ya jaman now, mana dia udah gede. Hahaha!"



Saat sedang asik membahas, dokter datang daj mengatakan sukses. Perawat juga membawa Jay dengan kursi dorong.



"Teknologi benar-benar canggih," Mark hanya mengucapkan itu setelah selesai dengan wajah menyebalkan.



"Ayo, aku nanti akan mentraktirmu ayam panggang madu." Nuri ikut tertawa, ia jadi ingat di masa lalu, Bang Nanda remaja telah melalui tanpa banyak air mata.



Mark terpaksa mengambil cuti seminggu. Nuri membantunya dengan mendorong kursi roda.



"Terima kasih, kamu telah melalui ini dengan hebat.''



Saat membuka pintu mobil, seorang gadis menahannya. "Maaf, permisi. Apa yang terjadi dengan dosen kami?"



"*God damn it!"

__ADS_1



Bersambung*...


__ADS_2