
Nuri membaca pesan menyentuh dari sang kakak dan kakak ipar.
Bang Nanda
Dek, semoga kamu dan suami sehat selalu ya. Sekarang kamu harus lebih dewasa dari kemarin-kemarin oke. Kalau ada sesuatu atau masalah bilang aja ya.
Mbak Cyn
Nuri, gimana kabar kamu sama Jay?
Sehat selalu ya, cuaca di Eropa pasti sedang dingin sekarang?
Jangan lupa untuk kabarin Mbak ya?
Luv 😚😘
Nuri sudah dua kali membaca pesan menyentuh dari sang kakak. Rasa rindu pasti ada, Nuri sangat dekat dengan kakaknya.
"Apaan si, bang Nanda tetep aja nggak suka pake smeli!"
Yang ia lakukan di awal pagi adah merapikan kamar tidur, menyiapkan perlengkapan mandi sang suami, memilih baju untuk suami dan membuat sarapan pagi.
"Sayang!" Jay berteriak di awal pagi. Ia sedang mencari sepatu olahraga tapi tak juga menemukan. "Lihat sepatu jordan aku?"
Nuri langsung melepas celemek, ia lalu ikut membantu Jay. "Terkahir lihat kayaknya di dekat pintu loh?"
"Iya, aku juga taruhnya disekitar situ."
"Kamu sarapan dulu. Aku nanti akan cari." Nuri menuntun Jay menuju ruang makan. "Aku juga harus bangunin Hana."
Terlihat seperti seorang ibu rumah tangga, Nuri masih pemula. Banyak hal yang harus ia pelajari, adaptasi yang harus cepat. Ternyata menjadi seorang istri memang sedikit repot.
"Hana, Hana Jang!" Jay berteriak kembali. Pagi ini ia sudah berteriak beberapa kali. Akibat suasana hati yang buruk. Sepatu kesayangannya hilang dari pandangan.
Tidak terlalu suka melihat Jay cemberut, Nuri pergi ke lantai bawah. Kamar Hana berada di dekat ruang tengah.
"Tok... tok... tok!" Nuri mengetok kamar Hana. "Hana, ayo sarapan."
Jay yang sudah duduk di kursi makan, lalu beranjak. "Hana Jang! Ayo bangun!"
Lima menit Nuri dan Jay mengetok tanpa ada jawaban dari Hana. Jay lalu membuka pintu kamar dengan kunci duplikat.
"Nggak ada orang."
"Kemana Hana?" Nuri yang bangun lebih awal tidak mendengar suara Hana. "Nggak mungkin kabur kan?"
Jay langsung menelepon sang adik. Tidak juga ada jawaban, ponsel Hana juga tidak dibawa pergi.
"Jay," Nuri merasa Jay pagi ini berbeda. "Sebenarnya apa yang membuat kamu bad mood ?"
Ya, pagi ini Jay seperti bukan Jay yang biasa Nuri temui. Apakah ini sikap lain yang tersembunyi atau dia memang kesal karena ulah sang adik? Nuri tidak ingin bertanya lebih jauh.
"Apa kamu merasa aku kesal denganmu?" Jay memegang tangan sang istri. "Sayang?"
"Kalau kamu kesal karena sepatu jordan mahalmu belum ketemu, maaf. Aku belum menjadi istri yang baik untukmu!" Nuri justru kesal, terbawa perasaan dan pergi ke lantai dua. Mereka adalah pengantin baru, meski sudah mengenal lama. Ada sifat baru Jay yang sulit untuk Nuri prediksi. Manja.
Banyak pikiran. Semenjak bertemu dengan kepala sekolah di sekolah Hana, ditambah lagi masalah vila mewahnya di Bali.
"Andres, kamu kalau bisa pergi ke Bali urus vila. Bilang jika pihak terkait tidak mau mengganti rugi, aku yang akan menghadapi mereka."
"Tentu, Bos. Vila mewah Anda sudah banyak diburu oleh penyewa kaya dari Amerika, tapi penyewa lokal justru membuat kacau."
Setelah meminta Andres menyelesaikan vila di Bali. Jay pergi keluar untuk mencari Hana terlebih dahulu.
"Maaf, apa kamu mencari gadis muda dari Asia itu ya?"
Jay tidak mengenal siapa lelaki yang mencegatnya di jalan dekat vila. "Maaf, Anda siapa?''
"Aku tetangga kalian, namaku Arman. Aku melihat dia pergi sekitar jam 3 pagi menuju jembatan."
"Oh, Arman. Salam kenal, aku Jay Jang Clarkson, kakak gadis muda tersebut." Jay baru bertemu dengan tetangga seperti Arman, lelaki muda keturunan timur tengah di Swiss. Jarang sekali.
Jay meminjam sepeda Arman, ia bergegas menuju jembatan. Hana mungkin sedang banyak tekanan. Ayahnya yang kurang peka, ibunya yang sibuk belanja dan sang kakak kandung yang semakin sibuk dengan keluarga kecilnya.
__ADS_1
Jembatan kecil di dekat danau kesukaan Hana, danau Brienz.
"Hana selalu menangis di danau.'' Jay lega melihat Hana. Tapi, ada seseorang bersama Hana. "Hans?"
Jay lalu memastikan sendiri. Benar, Hana sedang menangis bersama Hans di dekat danau.
"Kesel banget gue!" Nuri melihat Jay yang sedang berjalan menuju pintu. Ia masih saja kesal dengan sikap menyebalkan Jay, tapi malas untuk bercerita dengan orang lain. Semenjak menikah, ia mulai belajar menyimpan keluh kesahnya sendiri. Chacha juga sudah menikah, tidak enak bercerita banyak hal ketika Johan juga bersamanya di malam hari.
Nuri memutuskan untuk menonton drama Korea. Menghilangkan amarah yang paling ampuh baginya.
"So swit!" Nuri sengaja berteriak keras sambil rebahan.
Jay mendengar teriakan sindirian dari sang istri. Ia tidak mengetuk pintu. Jay langsung membawa makanan yang tadi ia beli di jalan menuju pulang.
"*Älplermagronen*, makaroni penggembala Alpine."
Nuri mulai tersenyum ketika harum makanan khas Swiss menusuk hidungnya. Makaroni yang dimasak bersama daging, kentang, bawang dengan saus keju nikmat.
"Enak banget!"
"Maaf, aku banyak pikiran." Jay menutup wajahnya. Ia malu sekaligus bahagia karena melihat istrinya kembali ceria.
"Jay, apapun itu. Tolong jangan jutek lagi seperti tadi ya? Aku beneran takut. Aku takut kamu kecewa menikah denganku."
Tidak. Tidak ada rasa kecewa menikah dengan orang yang ia cintai. Yang ada perasaan yang lebih bahagia setelah pertengkaran kecil mereka.
"Hana udah ketemu?"
"Dia lagi di danau Brienz sama Hans."
"Lega... "
Jay mematikan smart-tv. Ia mengunci pintu kamar. Hari ini begitu dingin, ia ingin sekali tidur di siang hari bersama sang istri.
"Jay, apa kamu yakin?" Nuri memahami kode keras sang suami. "Ini masih siang loh?"
"Kamu harusnya menurut kan dengan suamimu?" Jay mendekap erat Nuri, entahlah mungkin sudah naluri setelah menikah. Mencium aroma parfum dari tubuh dan pakaian Nuri adalah kesukaan Jay.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu."
"Kenapa?"
Nuri merasa ada yang salah dengan perutnya. Gejala awal menstruasi. "Aku mau ke toilet dulu."
Benar yang Nuri duga, sesuai dengan tanggal biasanya. "Maaf, Jay. Ini sudah waktunya kamu libur dulu. Hehehe."
Jay sudah membuka bajunya, tubuh proposional indahnya terlihat jelas. "Libur?"
"Hmm, iya libur seminggu." Nuri agak malu menatap sang suami, Jay semakin tampan ketika berada di kamar.
"Baiklah." Jay sedikit kecewa tapi ia adalah pria sabar.
Yang mereka lakukan jauh lebih indah, Jay tertidur di pangkuan sang istri. Nuri mengusap wajah dan rambut Jay.
"Aku merasa kamu jauh lebih manja dari anak balita loh?"
"Aku mungkin memang pria yang manja. Salahkan saja *Mommy*, dia juga memperlakukanku seperti bayi ketika aku sudah dewasa."
"Gantian!" Nuri merasa nyeri karena awal menstruasi. Kini mereka berganti posisi.
"Enak banget ya boboan di pangkuan suami yang tampan. Hehehe."
"Perut kamu masih sakit?" Jay mengelus area perut Nuri. "Rasanya pasti lebih sakit dari kepleset di salju ya?"
"Ya jelas, hanya wanita yang tahu."
Setelah percakapan sederhana beberapa menit, mereka sama-sama tertidur.
*Bersambung*...
\*Extra Part\*
Danau Brienz, Swiss.

__ADS_1