
Nuri kembali, ia merasa tidak enak karena sudah bolos kerja dan pelatihan.
"Chef, maaf ya." Ia menghadap Chef Eric di ruang manajer.
"No problem. Bagaimana kabar Jay?"
"Dia sudah pulang kok, tadi di jemput."
"Oke. Jam empat sore kamu harus ikut kelas ya." Chef Eric tersenyum.
"Oke, Chef!" Nuri memberi hormat.
Ia harus membantu bagian kasir di toko roti.
Beberapa jam kemudian.
Nuri mulai memahami pekerjaan yang harus ia lakukan. Hanya membantu mengemas roti, memasukannya dalam wadah dan tersenyum mengucapkan terima kasih.
"Thank you for coming... "
Lebih dari enam jam ia terus mengatakan terima kasih untuk para pengunjung. Untungnya, beberapa karyawan mengerti bahasa Inggris dan kebanyakan pelanggan juga mengerti bahasa Inggris.
"Bagaimana, Nuri?" Susan, karyawan bagian kasir.
"Menyenangkan juga ya."
"Syukurlah. Apa kamu mau makan roti untuk makan siang?" Susan lebih tua dari Nuri, ia sangat perhatian kepada karyawan lain.
"Boleh."
Susan mengambilkan roti brioche.
"Wah, ini bau mentega dan telur yang sangat kuat." Nuri mencium wangi mentega dan telur yang sangat kuat.
Susan menjelaskan berbagai jenis roti dan roti mahal yang dipajang di etalase dekat kasir.
"Ada beberapa yang menggunakan emas sebagai hiasan," Susan menunjuk ke sebuah roti kecil berwarna coklat berhias emas.
"Hah? Apa ini yang namanya makan emas?" Nuri mendekat ke kaca etalase, ia baru pertama kali melihat roti emas.
Beberapa karyawan lain ikut gemas menyaksikan ekspresi Nuri yang lucu.
"Dia lucu sekali,"
"Aku pikir dia berusia 18 tahun."
Andre, tunangan Susan juga seorang penghias kue yang handal. Nuri di ajak Susan untuk melihat Andre yang sedang menghias kue pesanan.
"Apa kamu senang?" Susan merasakan getaran bahagia dari diri Nuri.
"Sangat senang. Andre juga sangat berbakat!" ucap Nuri antusias.
"Terima kasih, Nuri." Andre hanya bisa menunjukan sedikit bakatnya karena mendekati makan siang, ia juga sangat lapar.
Nuri merasakan nyaman di hari pertama bekerja. Ia akan mencoba melupakan insiden penipuan yayasan. Ia akan fokus menatap masa depan.
Menyaksikan Susan yang sangat perhatian dengan Andre, ia jadi teringat masa lalu. Dulu, ka dan Raka bekerja di kantor yang sama dan sering makan seblak atau mie ayam bersama.
"Kenapa, Nuri?'' tanya seseorang berseragam putih dari dapur.
"Melihat Susan dan Andre, jadi ingat pacarku dulu." Nuri membaca papan nama, Paul yang sedang bertanya padanya.
"Aku pikir kamu pacar Eric," Paul tertawa.
"Bukan. Pacarku dekat dari sini, tapi ia belum datang." Nuri memasang ekspresi sedih, ia mendadak kangen Jay.
Toko roti "Dream" tutup selama setengah jam ketika siang. Banyak pengunjung datang di pagi hari, biasanya mereka adalah pengunjung kedai kopi terdekat. Kopi selalu nikmat bersanding dengan roti di pagi hari.
Meski sudah diganjal roti, ia tetap merindukan nasi. Ia teringat betapa nikmat masakan Ibu di rumah apalagi nasi goreng buatannya.
"Kangen Ibu... Ayah sama Bang Nanda..."
Ia sedang memikirkan banyak hal, termasuk perasaan Ayah dan Ibu jika mengetahui ia ditipu.
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu toko.
Susan membukakan, ia sudah paham jika Jay datang di siang hari.
"Hei, Jay!" Teriak beberapa karyawan toko yang selesai makan.
"Hei," Jay mengetuk meja di dekat Nuri.
"Jay?" Nuri kaget, ia sedang tidak memakai make up tebal dan wajahnya pucat karena memakai lip balm natural.
Jay membawakan kotak makan siang, ia memesan makanan khas Indonesia, nasi goreng telur untuk kekasihnya.
"Wah, ada apa ini?" Susan dan Andre mendekat.
"Apa dia pacarmu, Jay?" tanya Andre.
"Hmm." Jay hanya mengangguk.
Susan menarik Nuri, ia ingin memberi sedikit informasi tentang Jay.
"Ayahnya bulan lalu datang ke Paris naik pesawat jet pribadi. Kamu sangat kompeten sekali, Nuri." Susan berbisik, ia takut Jay akan dengar.
Nuri kaget, tapi ia akan berpura-pura tidak mengetahui kalau Jay sangat kaya.
Raka memiliki alasan kenapa dulu ia membatalkan pertunangan.
"Mungkin ini salah gue dulu," ia merenung di dekat gudang penyimpanan pakan sapi.
"Lagi ngapain kamu?" Eyang Raka ditemani asistennya, Pardi datang.
Raka sedang tidak ingin berdebat dengan Eyang, ia hanya tersenyum dan pergi. Sebuah kesalahan yang dulu dia lakukan adalah menghina kesukaan Nuri.
"Ngapain nonton gituan?" Raka sering kesal melihat Nuri yang sibuk nonton drama Korea.
"Ini ceritanya bagus loh. Ternyata anaknya dititipin gitu ke sahabatnya, padahal Bokapnya tajir kan kasihan..."
"Lah kayak gitu mah cuma ada di drama, masa iya di dunia nyata? Hahaha," Raka tertawa.
Ia menyesal kenapa dulu tidak menonton drama yang Nuri tonton. Mirip dengan kisahnya. Setahun silam, Ayah kandung Raka datang. Seseorang yang sering Raka panggil "Om Kaya" ternyata adalah Ayah biologisnya.
"Kenapa kalian baru bilang pas aku mau tunangan?" Raka saat itu kecewa, ia menangis mengetahui kenyataan.
"Maafin, Papi... Papi emang udah sepakat sama Bapak kamu untuk memberitahu pas kamu mau nikah tapi Papi udah nggak bisa lagi menahan." Om Kaya yang Raka kenal selama ini, seseorang yang sering mengenalkan dengan hal-hal mewah.
"Udahlah, Hend. Raka juga udah tahu." Bapak Raka, Pak Seno, memberi jalan tengah.
"Aku pikir kaya ginian cuma ada di drama Korea, ternyata benar ada." Tatapan mata kesedihan.
__ADS_1
Saat itu ia berlari di tengah derasnya hujan menuju jembatan. Ia ingin sekali mengakhiri hidup karena selama ini hanya anak buangan.
"Papi janji bakal ngasih apapun buat Raka!" Pak Hendri, Papi Raka sampai menyetir tanpa sopir demi mengejar Raka.
Raka lebih sedih lagi karena selama ini ia tidak pernah dimanjakan oleh kekayaan sang Papi. Ia marah karena Papinya lebih sering ke Eropa seorang diri tanpanya.
"Anda orang yang egois." Tatapan matanya sinis.
"Maafin, Papi."
"Harusnya kan aku juga menikmati kekayaan. Tapi justru mengirimku ke tempat yang sederhana sementara Anda pergi ke Eropa dengan nyaman."
"Papi janji bakal ajak kamu kalau ke Eropa, Papi juga udah buatin kartu buat kamu." Pak Hendri memberikan *black card* untuk Raka.
Ia mulai berdamai dengan kenyataan setelah diguyur hujan.
Ananda Bakti Diswari, kakak Nuri. Manajer di sebuah perusahaan internasional.
"Kenapa lo?" Dika menepuk bahu temannya.
"Kepikiran sama Nuri nih. Dia ketipu yayasan bodong di Paris."
"Hah? Kok bisa?" Dika sangat kaget, ia yang juga bertetangga dengan Nanda.
"Dulu pas kita liburan kantor kan ada brosur yayasan pelatihan gitu gue kasih ke Nuri,"
Nanda memasang wajah yang panik. Ia yang merupakan idola kantor, sebagai manajer tampan, tinggi dan tak terkalahkan.
"Lah terus gimana keadaan Nuri? Dia udah nemu tempat latihan pengganti belum?"
"Udah, katanya ada yang bantuin dia di Paris, Nuri masuk pelatihan bikin roti gratis tapi harus kerja paruh waktu di toko roti. Gue sebagai Kakak juga tetep sedih... "
Nanda menempelkan wajah tampannya di papan ketik, ia sangat frustasi dan ingin menyusul sang adik.
"Kenapa si Nanda?" Cyntia, Direktur baru juga sering memperhatikan Nanda.
"Katanya lagi kepikiran adiknya," ucap Intan, sekretaris Cyntia yang juga pacar Dika.
Cyntia akhirnya memanggil Nanda ke ruangannya. Ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim Nanda untuk ikut kunjungan ke kantor pusat di Prancis.
"Ini benar, Bu?" Nanda langsung sumringah begitu membaca laporan yang Cyntia berikan.
"Kamu baca aja persyaratannya. Bagus untuk karir kamu juga nantinya."
"Terima kasih, Bu." Nanda sangat bahagia.
Cyntia sebenarnya sudah menunjuk orang dari departemen lain, tapi mendengar kisah Nanda yang sangat sayang dengan adiknya, ia tersentuh.
"Benar, Bu. Nanda tuh nggak pernah mau diajak clubing. Yang ada malah dia milih nemenin adiknya buat beli cilok." Intan pernah memberitahunya dulu.
Usia mereka hanya berbeda 1 tahun. Cyntia sudah memasuki usia 31tahun, sedangkan Nanda masih 30 tahun.
"*Dia imut juga kalau senyum,"
Bersambung*...
__ADS_1