Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 76 (S2)


__ADS_3

Melewati malam yang panjang sebelum perkemahan kampus. Mark masih terjaga, ia tidak tidur sama sekali.


"Ehm... " seseorang dalam pelukannya masih terlelap.


"Ini udah pagi," Mark mencium pipi istrinya. "Apa kamu libur?"


"Aku libur... " Nuri masih mengantuk.


Mark akan mengisi kelas siang hari, ia membiarkan sang istri untuk menebus jam rindu mereka lebih lama.


"Terima kasih untuk tadi malam." Mark memeluk erat dan lebih erat. Siapa sangka setelah berpisah dengan cinta pertama yang menyakitkan, ia menemukan cinta baru yang tepat.


"Apaan... " Nuri malu untuk menunjukan wajahnya.


"Kamu masih malu? Kamu sudah melihat semuanya tadi malam padahal, hehehe."


Nuri memukul wajah Mark dengan bantal.


"Kamu menemukan pakaian ini dimana?"


"Di koper!" Nuri juga kaget saat membuka koper, ternyata Mark lebih jahil dari yang ia pikirkan. "Kamu sengaja kan?''


"Kode untukmu."


Yang membuat Nuri semakin malu adalah melihat proporsi tubuh suaminya sendiri. Terlihat kurus tapi ketika Mark melepas kemeja dan baju polosnya, semuanya berakhir.


"Kamu sering pergi gym?"


"Setiap hari aku berolahraga, kecuali seminggu saat itu."


Nuri tertawa jika mengingat kejadian usai operasi Mark.


"Aku mau mandi." Mark meninggalkan kecupan di kening istrinya. "Terima kasih untuk tanda yang kamu buat."


Nuri mengambil jubah mandi yang Mark siapkan di dekat meja, ia beranjak dari ranjang dan mengecek sesuatu lewat cermin.


"Ah, kampret!"


Nuri harus mengakui dua orang itu sangat berbeda. Jay di masa lalu, tidak akan meninggalkan bekas ciuman di leher. Sementara Mark, dia sangat agresif.


Selesai mandi, Nuri membalut lehernya dengan scarf Versace.


"Selamat pagi, Istriku." Mark sudah menunggu Nuri di ruang makan.


"Pagi. Kamu langsung pergi setelah makan?"


"Aku harus mengecek persiapan untuk perkemahan. Kamu harus menepati janjimu untuk ikut."


Nuri mengangguk. Ia meneruskan makan.


Mark menghabiskan makan lebih cepat, ia sangat terburu-buru setelah mendapat telepon dari pihak kampus.


"Sampai jumpa nanti malam!"


Arthur tertawa melihat ekspresi Nuri menahan geli. Ikut merasa bahagia karena Nuri sudah menemukan pengganti Jay. Orang yang sangat berbeda namun tulus.


"Aku harap Anda lebih bahagia lagi jika memiliki momongan kan?"


"Kami belum memikirkan tentang itu, Arthur. Barens Property adalah fokus utama sekarang."


Selain bekerja untuk JJ, Nuri juga diam-diam pernah datang ke kantor pusat Barens Property bersama Arthur tanpa sepengetahuan Tante Estella.


"Kamu sudah mengeceknya, Arthur?"


"Sesuai dugaan Jack, ini benar."


Nuri meremas tisu makan, ia membuangnya lalu meremas lagi. "Bulan depan, tim audit JJ akan datang untuk mengeceknya lagi.''


Arthur tidak ingin banyak berkomentar sebelum tim audit dan Jack menyelediki perkara kasus Barens Property.


"Bersabarlah, aku yakin Jack akan menemukan celah. Dulu, Jay juga pernah semarah ini jika bisnis keluarga dikacaukan orang luar."


Nuri memegang teguh banyak prinsip hidup Jay dalam berbisnis.


"Bukannya musuh paling menakutkan adalah keluarga sendiri?"


Tidak ada yang lebih menakutkan selain sesama anggota keluarga yang saling menjatuhkan demi sebuah warisan.


Nuri tidak bisa membayangkan bagaimana dulu Jay mendapat banyak kebencian karena menolong bisnis keluarga Athena.


"Pasti menyakitkan sekali... "




"Prof, leher Anda kenapa?"



"Dicakar kucing semalam."



Rachel semakin sebal jika melihat sang dosen pujaan semakin dimabuk asmara.

__ADS_1



"Rachel, bukankah mereka melewati malam yang panas dan bergairah? Lihatlah, bekas cakaran kucing itu."



"Begitukah?"



Setelah semua kelas berakhir di sore hari. Mark tidak langsung pulang, ia harus bertemu salah satu dosen statistika. Ia ingin menanyakan beberapa hitungan dalam bisnis.



"Aku akan membawa dokumen ini dan mempelajarinya di rumah. Aku akan mengabarimu. Tapi, ini menarik. Profesor Mark menantu keluarga Barens?"



"Ya begitulah, terima kasih sudah membantu. Maaf merepotkan, Anda."



Mark telah mengurus beberapa urusan pribadi yang penting.



Memutuskan untuk pulang tepat waktu, Mark justru ditinggal lagi oleh sang istri.



"Aku akan pulang terlambat, Mark. Ada urusan mendadak."



Enam jam lamanya, Mark menunggu kepulangan Nuri.



"Aku ngantuk," Mark rebahan di sofa ruang tengah.



Asisten rumah tangga sudah pulang, ia sudah mengabari Nuri.



"Nyonya, sepertinya tuan tertidur di sofa."




Mark memeluk bantal sofa, ia sangat lelah dan mengantuk karena kemarin malam meghabiskan malam yang panjang. Masih terngiang, saat mereka berada dalam satu selimut.



Jam berdenting tepat pukul dua belas malam. Mark terbangun lagi, ia terkejut melihat Nuri sedang menjaganya tidur.



"Aku pikir tadi ini bantal sofa, ternyata paha orang." Mark merebahkan lagi badannya di sofa ia memegangi tangan sang istri.



"*Menikah itu menyenangkan*."



Tidak tega membiarkan istrinya tidur di sofa, Mark menggendong Nuri ke kamar mereka.



"Tidurlah, kamu sangat lelah." Mark menarik selimut dan bersiap untuk tidur.



Beberapa menit kemudian, seseorang memeluknya sangat erat. Menangis dalam pelukan.



"*What's wrong, Honey*?''



Tidak ada masalah, Nuri hanya bergumam dalam tidur. Mengalami mimpi buruk. Berada dalam pelukan Mark sangatlah nyaman.



"Besok kita harus bangun pagi untuk perkemahan." Mark mencium tangan yang terus melingkari badannya.



Pagi hari, Mark dan Nuri bangun di waktu yang sama. Mereka mengemas keperluan untuk *camping* selama dua hari dua malam. Arthur juga ikut repot.


__ADS_1


"Apa ini tidak terlalu banyak?'' Mark dan Arthue kompak bertanya setelah melihat Nuri dengan tiga koper ukuran sedang.



"Satu koper untukmu, Mark. Dua itu milikku. Aku juga membawa beberapa tas untuk kita, jaket juga."



Tidak tahu harus bagaimana, Mark sudah menggendong ransel yang jauh lebih mudah. Yang ia perlukan hanya beberapa pakaian dan yang terpenting adalah kamera mahal miliknya.



Arthur mengantar kedua majikannya menuju ke kampus tempat Mark mengajar. Ada beberapa dosen muda yang langsung menyambut kedatangan Mark dan istrinya.



"Halo, ini pasti istri Prof. Mark?"



"Hei semuanya, namaku Nuri Barens. Istri Mark. Salam kenal."



"Hei, aku pikir itu Lisa." Seseorang berbisik kepada Mark, ia terkejut rekan kerjanya begitu cepat berpaling.



"Dia adalah istriku."



Sementara para mahasiswa yang ikut berpartisipasi masih menahan kesal karena idola mereka membawa pasangan hidup.



"Lihat, Profesor Mark dan istrinya. Mereka mengenakan pakaian yang sangat mahal."



"Aku sebagai pengamat *fashion*, sangat memuji gaya istri profesor."



Rachel yang juga ikut berpartisipasi tidak terlalu terkejut karena pernah bertemu sebelum perkemahan.



"Dia terlihat seperti seumuran kita?"



"Cih, dia hanya wanita tua." Rachel menjawab pertanyaan dengan sangat menyebalkan.



Nuri ikut membantu Mark mendirikan tenda. Pertama kalinya mengikuti perkemahan di cuaca yang dingin bersama seseorang.



"Aku membawa selimut elektrik." Mark mengusap wajah lelah sang istri.



"Kamu sering mengikuti perkemahan semacam ini?"



"Sering, aku kan dari dulu ikut klub fotografi di sekolah."



Suasana sangat gaduh, beberapa orang datang berlalu di dekat tenda mereka.



"Tenda pria dan wanita dipisah untuk mahasiswa kecuali untuk dosen yang sudah menikah atau membawa keluarga. Selamat malam, selamat beristirahat semua. Besok pukul enam pagi jangan sampai terlambat.''



Setelah memastikan semua anggota klub hadir, Mark pergi ke tendanya.



"Mark!" Nuri memeluknya dengan girang.



"Kenapa?''



"Mark, aku ingin ke toilet tapi takut."


__ADS_1


*Bersambung*...


__ADS_2