Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 91 (S2)


__ADS_3

"Jay... "


"Hmm?"


Nuri memejamkan mata, ia juga memeluk erat tubuh Jay. Karena sudah lama ia merindukan berkendara motor bersama Jay. Selama dua tahun, ia tidak melakukan kencan istimewa dengan suami tercinta.


"Jay Jang, saranghae!"


"Apa? Yang keras dong!" Jay sengaja.


"Jay oppa, saranghae! Saranghae Jay Jang!"


Jay menghentikan motornya. Ia berbalik menatap sang istri. "Bilang lagi, Bae."


"Saranghae... "


"Haneul mankeum ddang mankeum saranghae."


Suka. Setiap kali mendengar Jay menjawabnya dengan bahasa cinta, bak di drama Korea.


"Cuacanya makin panas. Kamu mau minum es nggak?"


Nuri terus memeluknya meski banyak orang lewat di jalan yang ikut tersenyum. "Es jeruk buatan Jay."


"Repot, Bae. Tuh deket sini ada juga kok kafe."


"Teh boba!"


"Oke!" Jay berbalik dan siap untuk melaju.


Jaraknya dekat, hanya butuh beberapa menit. Nuri menyadari beberapa orang terus menatapnya. Mungkin karena video podcast kemarin atau memang karena Jay yang mempesonakan wanita.


"Bae... " Nuri menempel di sekitar sang suami. "Jangan lama-lama."


"Ada apa ini? Tiba-tiba jadi manja?" Jay menyentil dahi Nuri. "Aku kan cuma bayar minuman, Bae."


Tidak mempedulikan sekitar, Jay justru memilih bangku di pojokan. Sofa panjang yang nyaman. "Duduk, Bae."


"Ah, malu... " Nuri menutupi wajahnya. "Kamu mau rebahan di depan umum gini?"


"Meluruskan kaki,"


"Banyak orang mengenali kita semenjak podcast kemarin." Nuri masih menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Segerombolan gadis muda yang terlihat seperti mencibirnya.


"Efeknya udah bisa kamu rasakan kan, Bae? Bayangin gimana Chacha tadi kalau ada yang berhasil motret sama Johan dan Jack?"


Nuri meminum es jeruk sambil menjejalahi instagram. Jay juga terus memantau beberapa dokumen dari layar ponsel mahalnya.


"Lihat tuh cewek yang duduk dipangkuan cowok cakep itu!"


"Daebak banget asli! Cowoknya vibes kaya blasteran surgawi nggak si, kayak nggak nyata gitu... "


"Ceweknya biasa banget nggak si? Kayak nggak pantes... " salah satu dari gadis muda yang terus melirik ke arah Nuri memang sudah menonton podcast viral kemarin. "Itu yang ada di yutub kan masuk podcast viral?"


"Iya itu, sobi mantan istrinya Johan. Tapi beneran cowoknya cakep banget ya, mana pake baju branded semua tuh!"


"Jangan ngomong ceweknya biasa dong, itu mbaknya cantik tau kek cewek Korea gitu kok."


Nuri tanggap, ia langsung duduk terpisah. "Bae, aku di sini aja."


Jay tidak akan membiarkan sang istri dicibir begitu saja. Ia justru berbaring di paha Nuri. "Begini juga boleh, rebahan ternyaman."


Nuri mengusap halus wajah Jay. Wajah putih yang halus, tanpa noda bekas jerawat. "Muka kamu lebih halus dari aku ya?"


"Skincare yang membantuku, Bae." Jay masih sibuk memantau harga saham, ia juga mengecek banyak email masuk.


"Aku masih ada sedikit bekas jerawat nih... "


Jay menutup ponselnya. Menatap sang istri dari jarak dekat. "Nggak masalah buatku."


"Kamu curang, Jay!"


Jay mencium pipi kanan Nuri. "Ayo sekali lagi, Bae."


Mereka mengabadikan momen mesra lewat selfie. Banyak orang yang melihat merasa iri. Jay yang terlihat sangat mencintai Nuri.


"Gila banget mbak itu beruntung dapat pasangan kaya cowok tadi ya?"

__ADS_1


"Bener-bener beruntung si kata gue."


Tidak terasa waktu semakin sore, Jay dan Nuri bergegas. Ada acara jamuan makan malam dengan kolega bisnis JJ.


"Bae, kamu mau pake jas apa?"


"Setelan gucci yang ada di koper, Bae. Nggak usah pake dasi."


Nuri dengan cekatan mengambil setelan Jay, membersihkan dengan mesin khusus. "Ini udah siap."


Jay yang baru keluar dari kamar mandi, melepas piyama hotel dan membiarkan sang istri memakaikan baju. "Kenapa?"


Nuri selalu malu setiap melihat badan six pack sang suami. "Kamu keren dan wangi... "


Satu kecupan mendarat di bibir Nuri.


"Istriku juga cantik, imut, wangi dan manja." Jay memeluknya bangga.


"Jay, terima kasih ya. Kamu yang selalu memperlakukanku seperti ratu."


"Ini janjiku dengan kakakmu, Bae. Buatlah Nuri selalu bahagia, perlakukan dia seperti ratu. Jangan berani kamu membuatnya menangis karena sedih. Aku selalu ingat ucapannya."


Tersentuh, bahagia dan perasaan yang meluap membuat Nuri dan Jay terjatuh di ranjang.


"Ah, waktunya kurang tepat!" Jay berteriak.




Johan mengunci diri. Sudah dua jam ia tidak ingin diganggu siapapun. Yang ia pikirkan adalah kejadian siang tadi. Tentang pria asing yang mulai membuat mantan istrinya tertawa bahagia.



"Bu, Johan... "



"Cerain aja, Chacha. Dia nggak bisa hamil alias mandul kan? Kamu nggak usah menutupinya dari Ibumu!"




"Kemungkinannya kalau ditinjau dari medis itu nggak bisa, Mas. Kita nggak tahu bisa jadi ada keajaiban dari Tuhan."



"Kok bisa kaya gitu dok?"



"Kita sudah melakukan yang terbaik, tolong untuk menghiburnya. Berat untuk wanita mengetahui hal seperti ini."



Andai saja menutupi kejujuran semudah mengetik pesan. Johan berpura-pura mendekati Maya, lalu menjalin hubungan. Tidak pernah asa rasa cinta seperti di masa lalu. Formalitas selebgram saja.



"Wah Johan pengikutmu udah 1 jutaan ya di instagram!"



Mungkin efek menjalin asmara dengan selebgram hits seperti Maya, atau memang konten Johan lebih bermutu sekarang.



Mendapatkan popularitas namun kehilangan seseorang yang berharga seperti Chacha, bukan harga yang impas.



Ia juga sudah menonton podcast viral. Bukan hanya sekali, Johan sudah menonton lima kali. Saat Chacha meneteskan air mata bercerita tentang rumah tangga mereka.



"Kehilangan suami lebih menyedihkan. Kami terbiasa tertawa, tidur dan makan bersama tiba-tiba harus solo gini. Johan adalah orang baik yang selalu bangunin aku untuk solat subuh berjamaah, Johan juga orang yang akan menguatkan jika aku rapuh."

__ADS_1



Air mata seorang pria adalah tanda kejujuran. Johan menangis tanpa bersuara. Dalam ingatannya, muncul momen-momen indah awal mereka menjalin asmara.



"Ini Johan, Cha. Temen gue yang mukanya mirip salah satu bias lo!" Raka yang mengenalkan mereka.



"Johan."



"Chacha."



Raka meninggalkan mereka. Membiarkan Johan untuk lebih terlihat keren.



"Kamu kok mirip personel Seventeen?" (Boy Band Seventeen)



"Ahaha iya! Banyak juga orang di instagram komennya begitu loh. Padahal gue mah lokal asli Jawa."



"Iya mirip banget soalnya... hehehe."



Setelah basa-basi, Johan akhirnya mengajak Chacha untuk minum es yang viral. "Gue lihat si di explore ige, ini es katanya viral banget! Top banget loh!"



Chacha tertawa pelan, ia agak malu. "Oh ya, kamu keliatan banget selebgram loh."



"Ini gara-gara dulu bikin video jaman di bank, iseng doang malah viral. Hahaha!"



"Kamu dapet endorse dong?"



"Dapet, gue juga terima aja tuh endorse lokal jaman di kampung. Dari yang 50 ribuaan malahan, Cha."



"Biasanya tarif endorse selebgram kan di atas 300 rb, Han. Kok kamu murah si? Hahaha."



"Kadang gue kasian aja, ada toko online kecil yang butuh bantuan promosi. Sering juga gue gratisin loh, mereka jadi yang sering kirim gue makanan."



"Wow, keren!" Chacha mengacungkan jempol untuk sikap baik hati Johan.



Semua sudah menjadi kenangan. Johan hanya bisa mengingat.



"\*Kangen kamu, Cha."



Bersambung\*...


__ADS_1


Note\*


Jangan lupa ya berikan koment, like dan vote agar author cemungud. Thx so much readers, semoga sehat selalu kalian.😘


__ADS_2