
Mark menaruh secangkir teh panas di meja untuk tamu yang datang tak terduga.
"Apa kamu juga terkejut?" Mark bertanya kepada tamu yang tak lain adalah Nuri.
Nuri menonton dengan sangat fokus video Jiya. Sebenarnya ia sudah meneteskan air mata semenjak awal video.
"Jadi ini alasanmu bilang Jay adalah pria brengsek?"
"Lalu apa julukan untuk suamimu?"
Untuk menyelamatkan harga diri sang suami, Nuri pamit lebih cepat. Banyak hal yang harus ia lakukan sendiri. Tentu, pikirannya tidak karuan. Seorang istri yang baru saja mendapatkan kenyataan bahwa suaminya memiliki anak dengan wanita lain pasti terpukul.
"Aku harus menjaga kewarasanku. Bisa jadi Mark benar, Jay salah. Atau bisa jadi itu hanya salah paham." Nuri membatin.
Kemarin Jay memang sempat mengakui satu kesalahan bodoh di masa lalu. Nuri tidak mempermasalahkan Jay di masa lalu karena itu sudah berlalu. Tapi semakin dipikir, tentang anak, tentunya berbeda. Ada ikatan biologis yang tidak boleh diputus.
"Mommy... apa kabar?"
"Baik. Apa terjadi sesuatu Nak? Suaramu seperti orang yang menangis loh?"
"Momm, berapa usia adiknya Jay?"
"Dia sudah masuk kelas pra-sekolah, tahun ini tepat 4 tahun."
Bukan seperti yang Jay pikirkan, adik angkatnya bukan anak kandungnya. Memikirkan bagaimana perasaan Jiya saat mengandung seorang diri membuat Nuri semakin tenggelam dalam air mata.
"Dimana anak itu, Profesor?" Nuri bertanya lewat telepon.
"Aku akan mengirimkan alamatnya lewat pesan singkat."
Lemas dan tidak tahu harus menguatkan hatinya bagaimana. Mulutnya mungkin mampu mengatakan hal manis seperti baik-baik saja untuk menutupi semua kesedihan yang terjadi secara mendadak. Rasanya seperti terjun di tebing yang tinggi didorong seseorang secara mendadak.
"Jay... " jika diingat lagi cara wanita bernama Jiya menyebut nama Jay begitu lembut dengan mata berbinar. Terpancar jelas rasa cinta yang begitu dalam.
Nuri mengikat scarf untuk menutupi rambutnya, ia juga memakai kaca mata hitam. Air mata terus jatuh semenjak Mark memutar video tentang Jiya. Seseorang dari masa lalu yang Jay bahkan tidak pernah katakan. Athena juga sedang sibuk mempersiapkan pameran di galeri perhiasan keluarganya. Tidak mungkin ia menganggu dengan pertanyaan yang kurang menyenangkan.
__ADS_1
Hal yang paling menyebalkan lagi bagi Nuri hanya satu. Tidak ada lagi sosok kakak, Bang Nanda. Tidak ada lagi pelukan hangat seperti dahulu kala apalagi sekedar kata-kata semua akan baik-baik saja. Kehilangan Bang Nanda adalah pukulan terbesar dalam hidupnya. Seandainya ia dulu lebih awal sadarkan diri dan tidak merepotkan siapapun. Semua mungkin akan baik-baik saja.
"Ri, lo kenapa?" Chacha yang awalnya iseng VC, tiba-tiba menyadari Nuri dalam kondisi buruk. "Ada apa? Kenapa ekspresi lo kayak gini?"
"Cha, gue... "
"Lo diem Ri, gue bakal ikut ajakan Arte buat lihat pameran dan sekalian temuin lo!"
Selalu Chacha yang menjadi orang pertama yang peduli. Dari dulu ia tidak pernah berubah. Bahkan di saat terburuk dalam rumah tangga, Chacha masih menyempatkan untuk menghiburnya tanpa diminta pun ia akan datang.
"Denger ya, kamu itu beruntung dek. Punya satu temen kaya Chacha daripada seratus temen nggak berguna di kehidupan." Bang Nanda pernah mengatakan hal yang indah saat Nuri pernah bertengkar dengan Chacha karena hal sepele, tiket nonton konser band indie di ibukota.
Setelah podcast viral sudah tidak viral lagi, Nuri sempat membaca sebuah komentar netizen yang terekam dalam memorinya.
Comments :
Gue pernah liat seseorang ya di real life kaya loverbird kya mereka gini, begitu semua orang bilang kalau mereka ini couple goals abis apalagi si cowok itu cakep and soon to be direktur gitu. Tanpa disangka istrinya gugat dia cerai gitu, nggak ada gosip orang ketiga ataupun apa dan fyi aja itu bos gue. Nyatanya ketika seseorang semakin dijadiin bias justru berimbas kurang baik juga.
Dengan bermodalkan keberanian, Nuri memantapkan langkahnya menuju sebuah rumah besar dengan cat berwarna putih sejuk. Di depan gerbang tertulis nama "Prof. Zack Elbret".
Nuri mengangguk, ia masih memasang wajah sedih namun dengan sangat hormat ia membungkuk. "Maafkan saya dan suami saya, Prof... "
Prof. Zack adalah paman dari Jiya, setelah kehilangan orang tua, dia adalah wali sah Jiya Zack. "Berdirilah, Nak."
"Aku tidak pantas... "
Seorang gadis kecil berusia lima tahun turun dari lantai atas dibantu oleh seseorang. "Linda, aku mau turun."
Nuri saling tatap dengan gadis kecil cantik bak Dulce Maria (telenovela terkenal era 2000). Rambutnya lurus sebahu dengan poni lucu. Ada senyum yang sekilas mirip dengan Jay, mata yang juga mirip Jay.
"Siapa tante ini, Kek?" ucapnya lembut. Melihat bicaranya lancar, dia pasti anak yang cerdas dan pintar.
Nuri memeluknya. Memastikan hangatnya malaikat kecil yang belum pernah melihat sang ayah. "Crystal?"
Gadis kecil tersebut tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Nuri. Seperti saat Bang Nanda menenangkannya begitupun Jay. "Don't cly... Aunt... "
__ADS_1
Setelah pertemuan tak terduga dengan Crystal, Nuri sadar satu hal. Dia menyadari gadis kecil tersebut butuh kasih sayang ayahnya.
"Bagaimana pertemuan kalian? Aku rasa Jiya sudah memberitahu kakek mertuamu sejak dulu, itu yang Prof. Zack katakan." Sebelum bertemu Crystal, Mark terlebih dahulu memberitahukan sebuah rahasia.
"Ada alasan kenapa dulu beliau datang ke rumah kalian sebentar, karena ia menghabiskan malam bersama Crystal."
Di dalam taksi, Nuri menangis sejadinya. Ia tidak tahu harus mengadu ke siapa lagi. Tidak mungkin ia pulang dan memeluk suaminya sambil tersenyum dan bilang baik-baik saja.
"Bang Nanda... " yang ia pikirkan hanya bagaimana menjaga agar orang tuanya tidak kepikiran.
Sopir taksi yang melihat hanya diam, ia tidak tahu harus bertanya apa. Yang dapat ia lakukan hanya memutarkan lagu agar suasan hati penumpang elit tersebut membaik.
"Sepertinya Anda orang Asia. Putriku sedang menyukai lagu ini, " (memutar lagu BTS - Life Goes On)
Ketika lagu diputar, Nuri berhenti menangis dan justru teringat masalah yang Chacha alami. Mereka saling menguatkan. Benar juga Bang Nanda, mempunyai satu teman seperti Chacha pasti membantu.
"Aku juga menyukai lagu ini, Pak. Terima kasih. Ambil saja kembaliannya."
Sopir taksi baru pertama menemui seorang wanita dari lingkungan kelas atas yang ramah dan baik hati seperti Nuri.
Di depan gerbang, Jay sudah berdiri dengan tatapan tegas. "Kenapa kamu mematikan ponsel dan pergi sejak subuh?"
Nuri tidak tahu harus menghadapi Jay bagaimana. Ia memilih bungkam.
"Bae, kamu kenapa? Apa sesuatu terjadi? Apa kamu bertemu Mark?"
Nuri juga tidak menjawab. Seharian ini pikirannya penuh, dimulai dari kejujuran Mark yang menggunakan hipnotis lalu kebenaran tentang Jay Jang.
"Nuri... "
Nuri maju beberapa langkah bukan untuk melakukan sesuatu yang romantis, ia justru meminta Jay untuk menonton video Jiya.
"*Aku harus bersiap untuk kehilangan Jay."
Bersambung*...
__ADS_1