
Katakanlah sesuatu yang membuatmu ingat ada hari dimana kamu adalah seseorang yang lemah tanpa kehadirannya.
"Jay... " Nuri masih menjadikan foto tampan Jay sebagai wallpaper ponsel mahalnya. Tidak akan terganti.
Tahun sudah berganti beberapa kali, ia melewati seorang diri. Hanya kesibukannya mulai bertambah, ditambah lagi tanggung jawab sebagai anggota keluarga Clarkson.
"Cha, kalau gue bilang. Semakin kaya, gue justru merasa hampa." Ia masih sering mencurahkan isu hati, berbagi cerita dengan Chacha.
"Gue bisa mengerti dari cerita lo, Ri. Kadang lo merindukan masa lalu kan? Dimana kita bahagia cuma karena seblak."
Ya, ia merindukan saat semua masih sederhana. Tidak serumit hari ini.
"Lo harus kuat, Ri."
"Hmm, makasih ya Cha. Berkat lo juga, gue jadi semakin kuat."
Chacha sudah memiliki anak, nama panggilannya adalah Joa. Usianya masih dua tahun, tapi ia sudah sangat cerewet seperti sang ayah.
"Jay, maaf... aku belum bisa memberimu kebahagiaan yang utuh, menjadi seorang ayah."
Setelah rutinitas di pagi hari, Nuri memulai dengan mengecek jadwal hariannya. Ada beberapa kelas yang harus ia ikuti. Kelas etika, kelas bisnis dan kelas memasak.
"Kamu pasti capek?" Athena bertanya, ia juga sudah melewati kelas tambahan terlebih dahulu di masa lalu.
"Kalau boleh jujur, aku belum terbiasa.''
"Yang paling menyebalkan adalah acara pesta, jamuan makan malam dan perkumpulan klub sosialita."
"Sebenarnya aku malas mengikuti semua itu."
"Tapi, ini kewajiban kita. Bertahanlah setelah kelas selesai, kamu boleh memilih tinggal dimanapun."
*Persetan dengan tuntunan.
Aku adalah aku. Kenapa aku harus menanggung semua beban ini, Jay? Bukannya kamu bilang, aku bebas menentukan pilihanku tanpa terikat dengan aturan ketat mereka. Ini penyiksaan batin. Bahkan, keluargaku sendiri tidak mendidik kami seperti ini.
"Nyonya, mari."
"Pagi, Nyonya."
"Selamat siang, Nyonya."
Aku bilang ini sangat membuat muak. Pantas, Jay membebaskan diri dengan Eric pergi ke Paris. Kalau aku kabur, ini seperti menyerah di tengah perang.
"Kamu capek?"
"Hmm, agak. Bang Nanda lagi dinas kemana?"
"Lagi di Kalimantan nih, Dek. Kamu udah terbiasa dong dengan sikon di keluarga Jay?"
"Terbiasa... "
Bohong. Aku membohongi keluargaku sendiri. Aku seorang diri di tengah puluhan orang, berbincang dengan bahasa yang berbeda.
"Raka gimana kabar, Cha?"
"Oh, Raka udah nentuin tanggal pernikahan sama Asty. Bulan depan. Lo balik kan, Beb?"
"Hmm, gue usahain."
Semenjak Chacha memiliki bayi, aku memang menurangi intensitas untuk membicarakan masalah hidup. Tidak ingin menambah bebannya. Ia sudah lelah mengurus bayi kecil.
Sore hari setelah kelas-kelas wajib yang harus diikuti selesai. Ada waktu bebas untukku. Terkadang, aku membaca novel, menonton drama.
"Kamu tahu, Nak? Aku sudah mengalami ditinggal orang tua, saudara, dan suami. Yang paling berat adalah ditinggalkan suami." Petikan dialog dalam drama yang realistis.
Aku ingin sekali bermimpi kejadian seperti beberapa tahun lalu, saat awal kami bertemu di Paris. Tidak ada begitu banyak beban.
__ADS_1
"Hei!"
"Kamu ngapain kemari?"
Saat ia melambaikan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang kopi dari kedai kopi Saki adalah momen pagi yang menyenangkan saat itu.
"Aku mau ketemu Eric," Jay yang agak malu dengan wajah memerah yang mempesona.
"Atau mau ketemu aku?" aku menggodanya dengan asal.
"Hah?''
Ekspresinya saat itu begitu lucu. Aku baru pernah melihat orang dewasa yang malu-malu dan menutup wajahnya dengan sapu tangan mahal.
"Kamu menutupi wajah dengan sapu tangan LV?"
Awalnya, ini pasti gila, dunia kami berbeda. Ia diluar jangkauan, tidak mudah untuk digapai seseorang sepertiku.
"Aku nggak bisa bayangkan, Jay."
"Apa?"
"Hidup tanpa kamu."
"Kamu harus bisa, Nuri."
Sekali saja, aku ingin ia datang memelukku erat dalam mimpi dan bilang, "Sayang, kamu telah melewati masa-masa sulit ini dengan hebat."
"Nuri, makanlah." Ada saat dimana kami bertengkar karena hal sepele dan sikap tempramentalku mendominasi. "Ayo, makanlah. Kamu sudah dua hari kan nggak mau makan sejak awal menstruasi."
"Kamu yang masak?"
"Iya, kata Chacha kamu suka mi goreng instan." Jay membuatkanku dua porsi indomie goreng lengkap dengan hiasan seperti di kemasan.
"Jay... maaf." Aku langsung memeluknya erat. "Aku masih terlalu kekanakan ya dalam rumah tangga kita?"
"Hah? Kamu memang masih kekanakan, tapi kamu nggak usah merasa bersalah karena ini ya?"
Aku menangis haru dan juga malu. Jay mengelap air mata dengan sapu tangan mahalnya. "Kamu harus jadi lebih kuat lagi di masa depan."
"Janji?" ia menyegel janji kami di kelingking.
"Janji."
"Nyonya?" Arthur dan Andres sudah menungguku di sebuah tempat rahasia.
"Ayo kita mulai."
Selama setahun lebih mereka adalah orang-orang yang membantuku dalam manajemen bisnis di J.J.
"Bagaimana dengan Jack?"
__ADS_1
Jack adalah CEO yang lebih berkuasa, karismanya saja mampu meluluhkan Bank Swiss untuk bertekuk lutut.
"Andres, apa sebenarnya yang Jack lakukan? Kenapa harus kita yang menemui mitra bisnis?"
"Meski terlihat seperti malas bekerja atau datang ke kantor, Jack bekerja lebih keras."
Dalam dua tahun, aku hanya bertemu dengan Jack beberapa kali. Ia hanya dapat dihubungi lewat panggilan video.
"Sebenarnya, apa kesibukanmu sekarang?"
Pernah saat ia menelepon, aku mendengar suara berisik seperti mesin-mesin besar.
"Apa kamu mendengarku?"
"Iya, aku dengar."
"Tolong perhatikan bagaimana kamu mengelola manajemen inti."
"Baiklah, Nyonya Jang."
Dari yang aku dengar, Jack telah berpisah dengan istrinya yang merupakan cinta pertama di masa sekolah karena kesibukannya.
"Iya benar, saat itu aku menemani Jay menemui Jack. Kamu harus tahu ekspresi wajahnya saat mantan istrinya bilang tidak ada lagi kesempatan, ia sudah lelah."
"Apa dia cantik? Aku pikir selevel Jack bukanlah seorang budak cinta?"
"Dia cantik, dia cerdas, dan dia adalah teman sekolah Jack. Kamu pasti juga mengenalnya, ayolah." Andres tertawa, ia mengingat di masa lalu saat bos besar memasang wajah sendu.
Aku tidak bisa membayangkan secantik apa mantan istri Jack, tapi Jay bilang istri kakaknya itu sangat terkenal. Semua orang bisa mengetahui namanya hanya dari tanda tangannya.
Arthur menyalakan siaran televisi. Kebetulan acara gosip panas. "Apa ini waktu yang pas untuk membicarakan dia?"
"Nyonya, jika Anda ingin melihat mantan istri Jack itu dia."
Dalam siaran televisi, ada seseorang yang menjadi idola banyak orang di dunia. Seorang desainer terkenal keturunan Asia, juga memiliki tubuh yang lebih bagus daripada seorang model.
"Apa kalian semua sedang menghiburku? Itu kan Naree Kim, siapa yang tidak mengenal dia?"
"Aku sudah bercerai beberapa tahun lalu. Akan bagus jika anakku memiliki Papa lagi bukan?" dalam wawancara yang ditayangkan sedang membahas isu Naree yang akan menikah lagi dengan seorang direktur rumah mode dunia.
"Pantas dia dan Jay saling mengikuti di instagram."
"Naree sudah memiliki puluhan juta followers di berbagai sosmed, instagram, twitter dan weibo."
Pantas Jack menangis untuknya. Wanita secantik Naree begitu anggun, elegan dan terus terang. Aku sudah mengikutinya lama.
"Bagaimana tanggapan mantan suamimu, Naree?"
"Jack bilang ya baguslah anak kita mempunyai dua ayah yang hebat."
Kami bertiga saling bertatapan.
__ADS_1
Bersambung*...