
Seperti mimpi.
"Siapa dia?" Nuri mendapati seorang wanita yang tidak ia kenal berada dalam rumah.
"Kamu pasti Nuri ya?"
Wanita seusia dengan ibunya memeluk Nuri sangat erat. "Alhamdulillah, Sayang. Kamu udah sehat?"
Aneh, Nuri seperti mendengar suara wanita tersebut. "Maaf, Anda temannya Ibu?"
"Loh ini kan Tante Siska, kamu lupa ya?"
Nuri menunduk, ia merasa bersalah karena tidak mengenali sahabat dekat sang ibu. "Maaf ya, Tan."
Tidak masalah jika Nuri hanya mengenali dirinya sebagai orang asing, meski di masa kecil yang menggemaskan dulu. Tante Siska tidak pernah lupa untuk memberikan buah tangan seperti boneka barbie.
Jay memberikan salam. Ia sudah bertemu dengan Tante Siska saat melayat setahun lalu. Awalnya memang kaget. Tapi demi kebaikan Nuri, mereka kompak tidak menceritakan hal-hal yang membuat pikiran. Demi kestabilan jiwa Nuri.
Sudah sejam lebih sang istri menangis di kamar mendiang kakaknya. Haru tentu saja, Jay hanya membiarkan Nuri melepas semua tangisan. Banyak sekali hal yang seharusnya mereka bahas. Belum lagi setelah ini, ia harus menenangkan Chacha. Perkara rumah tangga memang terkadang ribet. Bukan hanya Raka, Candra, Jay juga heran dengan Johan. Kenapa orang bisa semudah itu berubah.
"Jay... " Nuri memeluk sang suami. Jay yang masih menemani dalam segala situasi hidupnya seperti sayap pelindung saat rapuh terbang. "Kamu masih nungguin aku, Jay?"
"Hmm... gimana setelah menangis lama?"
Dengan menangis selama itu, Nuri justru berpikir lain. Apakah tangisannya berguna untuk sang kakak dan kakak iparnya? Tidak. Mereka butuh doa yang tulus.
"Kita pergi ke Labuan Bajo ya?" Jay memeluk lagi sang istri. Sudah dua tahun lamanya ia juga menantikan kehadiran sang buah hati. "Kamu mau kan, Bae?"
"Tentu, ayo pergi."
"Soalnya Jack juga akan ada urusan di hotel sana."
"Gimana kalau aku juga ajak Chacha? Dia juga butuh hiburan Bae."
Hanya mengiyakan semua keinginan sang istri. Jay ingat bagaimana Daddy memperlakukan Mommy.
"Aku nggak tau harus bagaimana berterima kasih denganmu?"
"Caranya cukup kamu tersenyum bahagia."
Chacha lebih banyak diam semenjak bercerai. Tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa Johan adalah mantan suaminya. Dia pergi meninggalkan kenangan pahit.
Jika masalahnya ada pada kenyataan Chacha yang tidak bisa hamil, ia mungkin akan merelakan sang suami untuk pergi dan mencari wanita baru demi meneruskan keturunan. Ada titik dimana seorang wanita dianggap gagal jika tidak bisa memberikan keturunan.
Apa boleh buat? Perkara diberikan atau tidak, Tuhan lebih tahu. Manusia tidak bisa memaksa apalagi mengatur.
"Gue denger Cha, lo udah cerai?" Nuri datang dengan pertanyaan, anehnya yang tampak sedih adalah Nuri. "Lo nggak papa, Cha?"
Satu pertanyaan yang Chacha harapkan dari seseorang adalah menanyakan keadaannya. Bukan mencari tahu alasan kenapa mereka berpisah.
__ADS_1
"Mana mungkin gue baik-baik aja, Ri."
Tampak jelas, tatapan mata Chacha sangat tajam ketika tertekan. Nuri mengenal sang sahabat lebih baik dari siapapun.
"Johan... " Chacha menangis dalam pelukan sang sahabat. "Berubah...."
Nuri menepuk pelan bahu Chacha, ia tidak ingin menyuruh berpaling dari perasaannya yang begitu dalam. Tapi mencintai terlalu dalam sepihak juga menyakitkan sekali. Tangisan Chacha menjadi ketika mengingat mereka pernah berbagi ranjang.
"Jadi, Cha. Bener berita kalau Johan udah punya yang baru?"
Chacha mengangguk.
"Gue masih nggak percaya aja karena Johan lebih bucin dari suami gue. Tapi gue yakin kalo dia bukan jodoh lo, Tuhan bakal kirimin seseorang yang lebih baik."
Nuri yang telah melewati maut hanya bisa memberikan sedikit nasihat untuk sang sahabat. Klise terdengarnya, tapi beberapa kasus perceraian memang terjadi sebagai bentuk petunjuk.
"Gue penasaran, Cha. Siapa cewek yang Raka maksud?"
"Loh ini cewek bukannya selebgram yang dulu sering nongki di kafe?" Nuri mengamati lagi, ternyata wanita idaman lain Johan memang seoeang selebgram. Wajahnya mirip salah satu member *girlgroup* hanya saja akhlak mereka berbeda. Nuri yakin itu.
"Lo menyadari semua ini kapan, Cha?"
Chacha terdiam lagi. Awal retak memang karena beda pendapat. Chacha tidak suka dengan teman-teman selebgram Johan. Selain lebih muda, pakaian mereka juga terbuka dan terlihat kasar saat berbicara.
"Kamu kenapa si jadi berubah?" Johan pernah menanyakan pertanyaan yang menyakitkan. Bukan Chacha yang berubah. Hanya dirinya sendiri yang perlahan tenggelam dalam gemerlap dunianya. Tidak seperti dulu. Sikapnya semakin dingin.
"Gimana kalau kita *divorce* aja, Cha?"
Dunianya runtuh seketika. Kata-kata yang tidak pernah Chacha bayangkan keluar dari mulut sang suami selama ini, akhirnya terucap dengan tatapan datar.
"Kamu juga nggak bisa hamil kan? Bener kata ibuku, cewek kalau nggak bisa hamil itu sensitif dan menyebalkan."
__ADS_1
Saat itu, ia menahan segala amarah yang ada. Dan membiarkan kata-kata jahanam keluar dari mulut Johan dengan cepat. Tentu tangan kanannnya ingin sekali menggampar wajah sang suami, tapi ia tetap berbakti meski tidak bisa tersenyum lebar.
Candra, sebagai saudara kembar yang juga mendengar pertengakaran mereka. Tidak mungkin ia diam saja. Candra menarik Johan dan menyeretnya menuju dekat kolam renang.
"Jaga bicara lo, Han!"
"Gue bilang kenyataannya kok? Lo marah?"
Satu pukulan melesat tanpa hambatan di wajah mulus *glowing* Johan.
Akhirnya keluarga pun menyetujui peceraian Chacha. Seandainya bisa memutar waktu, Chacha tidak akan memilih Johan sebagai suami. Tapi masih ada yang mengganjal kenapa Johan berubah begitu cepat. Tidak seperti dirinya di masa lalu.
"Lo tahu nggak Ri? Gue sampe pernah minum soju karena gue bener-bener kacau."
Nuri juga tidak bisa menyalahkan Chacha. "Lo putus asa sampe harus nyicipin soju?"
"Candra terpaksa bohong dan bilang kalau dia yang minum di depan ortu. Gue masih nggak nyangka Johan bakal jadian sama Maya."
Maya? Semakin dilihat lagi fotonya, Nuri ingat kalau mereka pernah bertemu belum lama. "Maya ini yang adik iparnya Firda bukan si? Mukanya mirip sama yang gue lihat kemarin di bandara Swiss."
"Ya itu, Ri. Padahal selevel Maya dia bisa kan dapatin seseorang yang lebih dari Johan?"
Sstt. Nuri jadi ingat cerita Jay tentang orang yang menatapnya sangat lama saat antri membayar. Satu diantara mereka terus bicara, satunya lagi menatap Jay kagum. Mengagumi bagaimana ada orang yang sangat tampan dan sangat kaya belanja untuk istrinya.
"Maya itu emang pelakor. Gue rasa Firda tau semua ini dan dia masih diem ke gue."
"Setan itu, dari dulu gue kurang demen sama dia. Lo ingat jaman gue dijemput Mas Dika dia nyebar gosip kalo cowok gue anak Binus bawa mercy!" Nuri kesal. Ia teringat masa lalu.
Chacha tersenyum.
*Bersambung*...
__ADS_1