
"Apa Anda luang siang ini?"
Banyak sekali mahasiswi yang sering mengirim pesan dan email yang di luar konteks. Mark tidak membalas. Ia menyalakan musik dan mengaktifkan earbuds.
Tidak banyak orang yang berjalan di awal pagi. Cuaca yang semakin dingin, membuat tarikan selimut lebih indah.
Setibanya di swalayan, Mark langsung melihat catatan belanja. Dan yang paling menyebalkan adalah pukul sembilan akan ada pesta diskon swalayan.
"Ah, aku butuh susu skim, mentega, minyak zaitun, cereal, madu... "Sudah beberapa minggu tidak belanja, banyak sekali kebutuhan yang harus ia beli.
Di pagi yang dingin, ia melihat seseorang tersenyum begitu hangat. Tampak dari kejauhan, seorang wanita tertawa begitu riang.
"Padahal mereka cuma belanja." Mark hanya kagum kenapa wanita muda itu terlihat begitu bahagia ketika memilih sayuran.
"Terima kasih, Bi."
Tidak bermaksud menguping, tapi Mark juga membutuhkan beberapa sayuran segar untuk membuat salad sayur.
"Nuri, jangan sungkan."
Mendengar nama Nuri, ia teringat seseorang dengan nama sama. "Dia?" dan ternyata memang benar itu adalah Nuri yang sama.
Mark mendekat, ia menyapa. "Selamat pagi."
Nuri yang Mark lihat kemarin berbeda dengan yang ia temui di pagi hari, tidak memakai riasan tebal namun cantik natural.
"Oh, Mark!" Nuri langsung menyambut Mark. "Apa kamu suka belanja di pagi hari?"
"Iya. Bagaimana denganmu?"
Nuri ditemani Bibi Amelia, seperti biasa, mereka belanja di hari akhir pekan. "Apa kamu sudah sarapan?"
"Ikut dengan kami nanti ya, Bibi akan masak sesuatu yang enak." Bibi Amelia menawari Mark untuk mampir.
"Apa ini tidak masalah?"
Mereka tertawa, Nuri dan Bibi Amelia tampaknya sangat bahagia. "Tidak Nak, aku juga setiap akhir pekan memasak untuk anak ini." Bibi Amelia mencubit pipi sebelah kanan Nuri.
Selesai berbelanja, Mark ikut mobil Nuri. Mereka menuju ke rumah Nuri.
"Arthur, ini temanku, Mark. Dia datang untuk sarapan. Jika kamu ingin pergi ke gereja, pergilah Arthur."
"Baiklah." Arthur beruntung bekerja dengan Jay maupun Nuri, toleransi agama mereka sangat tinggi. Arthur juga beberapa kali memasakan masakan asal Indonesia di hari lebaran.
"Duduklah yang nyaman." Nuri membantu Bibi Amelia ke dapur, ia juga berniat membuat roti tawar. Sudah lama tidak mengasah bakat menjadi baker.
Mark duduk dengan posisi yang nyaman, di ruang tamu, tidak ada foto Nuri dengan mendiang suaminya begitupun foto keluarga. Rumah tiga lantai elegan dengan cat berwarna putih.
"Dia sangat kaya." Hanya itu kesimpulan yang Mark dapatkan.
Lima belas menit kemudian Nuri membawakan minuman hangat untuk Mark. "Minumlah, aku akan membantu di dapur."
"Terima kasih, Nuri."
Mark membaca makalah yang tertunda, untungnya ponsel jaman sekarang begitu canggih dengan layar yang bisa berputar dan dilipat. Pantas beberapa dosen muda juga menanyakan harga ponsel pintar yang Mark beli.
"Ponsel ini temanku yang merekomendasikannya, dia bekerja di perusahaan pembuat ponsel."
"Aku yakin ini sangat membantu kan?"
__ADS_1
Ponsel yang ia beli adalah ponsel pasangan. Lisa juga memiliki model yang sama dengan warna berbeda. Banyak sekali kenangan yang masih berkaitan dengan Lisa.
Berhenti. Ia mencoba melihat sesuatu yang terlihat. Seseorang yang tiga kali ia temui dalam sebulan. Entah takdir atau memang tidak sengaja, Mark sangat berterima kasih kepada Nuri. Sapu tangan mahal pengusap air mata.
"Dia sangat cantik dengan riasan natural... " Mark merasa ia melihat dua sosok Nuri, saat di halte dan saat di rumah. Berbeda sekali.
"Mark, ayo makan."
Tidak ada orang yang menolak makan gratis, termasuk Mark yang seorang dosen muda tampan. "Maaf, aku suka sekali ditawari makan gratisan begini."
Nuri menyiapkan makanan yang lezat, ia tahu untuk orang Asia pasti sangat menyukai nasi goreng. "Makanlah, aku tahu kamu pasti merindukan nasi. Hehehe."
"Terima kasih, Bibi, terima kasih Nuri. Lain kali aku yang akan mentraktir kalian."
"Hmm, Nuri bilang kamu itu dosen. Apa Pak Dosen juga bisa memasak?" Bibi Amelia sedikit menggoda.
"Tentu, kakek seorang koki hebat. Aku juga bisa memasak."
Menikmati nasi goreng yang lezat, Mark sangatlah puas sampai menambah porsi. "Maaf, aku sangat suka nasi goreng buatan Anda."
"Makanlah, sebentar lagi kue buatan Nuri juga matang."
"Terima kasih, Bibi." Mark merasa begitu hangat, suasana seperti keluarga.
Nuri sedang menerima panggilan.
"Baiklah, terima kasih." Nuri segera mengakhiri panggilan lalu bergabung kembali di meja makan.
"Dari siapa?" Bibi Amelia penasaran.
"Desainer pakaian, Paolo Albert. Dia mengundangku di acara *fashion show."
"Aku cuma dengar, kalau koleksi pria milik Paolo Albert musim ini sangat mahal. Rektor kampus juga memakai koleksi Paolo Albert musim lalu dan sangat keren."
Nuri membaca email yang Jack kirimkan. Ia telah mengetahui garis besar penyelesaian masalah.
"Kamu nggak apa-apa?" Jack bertanya karena cemas.
"Hmm... "
Setelah melewati badai yang menerjang dalam hidup ditambah lagi beban yang harus ia pikul seorang diri, sungguh ia merasa sesak tiap kali mengingat kepergian mendiang suaminya. Kedatangan sang ibu kandung juga membuatnya terpukul.
Terkadang, ia menulis isi hatinya di dalam buku harian. Tidak ingin membebani mereka. Chacha, Bang Nanda sudah memiliki kehidupan pernikahan yang sibuk karena kelahiran sang buah hati. Raka yang sudah menikah dengan Asty juga perlahan menjauh, tidak sedekat dulu. Candra sering menanyakan kabar, tapi ia juga sibuk mengurus kafe.
"Jay, bagaimana ini?" Nuri memeluk foto pernikahannya yang begitu indah di masa lalu.
__ADS_1
Tetes demi tetes air mata terus saja hadir ketika mengingat tentang Jay. Nuri tidak tahu lagi harus berbuat apa, mengambil langkah tepat secepat apa.
Ia selalu menangis sendirian di kamar kedap suara.
"Jay, bolehkah aku memiliki seorang teman? Berbeda dengan Raka, kamu pasti akan menyukainya."
Nuri menampar pipinya, ia harus sadar. Ada kewajiban seorang anak, meski ayah kandungnya tidak pernah merawatnya.
Jack telah menganalisis tentang Barens Property. Ia juga telah membantu Nuri berbicara dengan pengacara dan ibu tiri Nuri, Ny. Estella.
"Ny. Estella Barens bilang, ia sudah menemui keluarga Clarkson menyampaikan perminta maaf karena telat berkunjung sebagai wali sah."
Benar, tidak semua ibu tiri memang jahat. Nuri hanya belum bisa secepat itu menerima kenyataan bahwa ia memiliki banyak ibu. Terlalu membingungkan untuk dicerna.
"Nuri, Ibu akan selalu ada buat kamu." Ibu juga sangat baik dan tetap sama.
Tapi, bagaimana dengan ibu kandung yang sudah bahagia dengan keluarga barunya. Seolah meminta Nuri agar menjauh dari kehidupan harmonis miliknya.
"Selesaikan semua untuk mendiang ayahmu, Nuri. Mami tidak akan meminta seperakpun, asal kamu kaya dan bahagia."
Yang ia pikirkan adalah materi dapat membawa kebahagiaan. Pernahkah, ia merasa kasihan melihat sang putri yang harus memikul banyak beban berat?
"Ny. Estella juga bilang, salah satu syarat dalam wasiat ayahmu adalah kamu berhak menerima semua kekayaan, saham dan perusahaan selama kamu ada pendamping yang kompeten. Aku sudah menjelaskan tentang Jay, tapi mungkin kamu harus... " Jack agak ragu untuk meneruskan.
"Menikah lagi? Apa itu maksudmu?!"
Seseorang menekan bel di malam hari, bukan Arthur, ia akan pulang besok pagi. Nuri mengintip dari balkon lantai dua.
"\*Mark?"
__ADS_1
Bersambung\*...