
Nanda sudah sampai di Paris. Hal yang pertama akan ia lakukan adalah memantau gerak-gerak lewat Candra.
"Aman, Bang. Kita malah abis makan bareng." Pesan yang dikirimkan Candra cukup membuatnya lega. Rileks.
Menjadi seorang kakak, memiliki tanggung jawab yang lebih berat lagi ketika adiknya begitu imut.
"Loh, orang tua kamu ngga nitipin makanan buat adikmu, Nda?" Cyntia biasa melihat kunjungan keluarga membawa banyak makanan dan camilan. Nanda bahkan membawa satu koper ukuran sedang bertuliskan suprem* .
"Oh, Ayah dan Ibu realistis kok Bu. Adek juga ditanya mau dibawain apa jawabnya kalau bisa duit." Malu, Nanda sedikit mengalihkan pandangan.
"Adikmu lucu juga ya. Dia jujur banget nggak sih?''
"Jujur tapi nyebelin juga kadang."
Sambil menunggu makan malam. Cyntia mengecek kembali dokumen yang sudah ia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Nanda mengambil beberapa pose selfie. Kenang-kenangan untuk sahabat tercinta, Dika. Karena perjalanan bisnis, Dika terpaksa lembur menggantikan Nanda. Meski keputusan untuk mengundur acara pertunanangan bukan sesuatu yang salah.
"Aku yakin si, Intan jadi bisa introspeksi diri loh. Dika juga harus ambil keputusan yang benar."
Tidak terlalu menggubris, Nanda masih sibuk mengambil beberapa foto dirinya yang makan malam di Paris. Terlihat kampungan mungkin di mata Cyntia, tapi Nanda tidak peduli.
Beberapa gadis juga gemas melihat Nanda. Bahkan ada sekelompok gadis Indonesia yang menghampiri Nanda.
"Mas kok mukanya kaya Park Seo Joon si?" ledek gadis dengan syal biru tua.
"Iya nih, Mas malah lebih ganteng kok!"
Tertawa dengan gombalan para gadis muda. Nanda seolah lupa, di dekatnya ada bos muda juga.
"Ah kalian bisa aja."
Merasa tidak enak dengan Cyntia. Nanda langsung mengalihkan topik.
"Ah, maaf ya Bu."
"Nggak apa kok, kamu lumayan hits juga ya Nda?"
Terlihat Cyntia kurang nyaman. Ekspresi wajahnya kentara. Oh, tidak, harusnya Nanda sudah mulai pendekatan tapi ia selalu lupa hatus memulai dari mana.
"Maaf ya, kamu pasti risih?" Nanda menatap tajam, ia juga ingin terlihat sedikit tegas.
"Kamu pikir kamu siapa?"
Mendengar perkataan Cyntia, ia mulai sadar ada jarak di antara mereka.
"Nggak Nda, bercanda. Hahaha!"
"Lelucon orang cantik meski garing tetep aja aestetik."
Ada kalanya, kita merasa jauh meski jarak mereka dekat. Meski sudah sampai Paris, tiba-tiba ia merindukan suasana rumah. Bagaimana nasib ikan hiasnya? Ayah hanya fokus dengan satu aquarium.
"Dika nitip apa ke kamu?"
"Mintanya si elvi, tapi dompetku bisa menjerit." Meski malu dengan kondisi dompet, Nanda masih saja terlihat keren.
"Beliin aja sesuatu yang sedang hits, banyak kok toko bekas pakaian branded." Cyntia sudah beberapa kali datang ke Paris, ia lebih paham.
"Aku juga mau beli buat seseorang."
Untuk seorang wanita yang sangat cantik dan karismatik. Cyntia.
Ada sebuah luka yang kembali menganga. Rasanya tidak rela melihat Nuri mesra dengan lelaki lain. Apalagi lelaki itu baru mengenalnya, tidak seperti Raka, yang merasa sudah memahami Nuri.
"Liat apaan lo?" Chacha menyeret Raka.
"Dia kedinginan, Bro. Lo jangan baperan!" Candra juga ikut menyeret Raka.
Raka mulai memikirkan beberapa trik untuk menguji seberapa pantas bule itu dengan Nuri. Tadi saja, ia merasa sangat terluka mendengar gadis lain menghina Nuri.
"Besok pas Nuri libur, ajak Jay juga buat ketemu. Gue pengin liat!" Raka mengepalkan tangannya.
Lumayan seram melihat seseorang dibakar api cemburu. Chacha juga sebenarnya sedang banyak pikiran. Ia juga merasa cemburu, tapi takdir cintanya memang belum indah untuk sementara.
"Ka, bukan lo aja yang lagi emosional. Bayangin gue, Mas Dika kan mau lamaran."
__ADS_1
Benar juga, Raka langsung membaik emosi jiwanya. Ada yang lebih sakit hati. Di dunia ini bukan hanya dirinya, tiap detik pasti ada orang yang sedang galau atau patah hati.
"Terus lo udah nyatain perasaan lo?" Raka jadi penasaran.
"Udah lah, tapi ya gitu deh. Mas Dika gaje!"
Candra hanya menyimak cerita mereka. Ada sesuatu yang harus ia pantau lewat sosial media meski berada di benua Eropa. Lelang ikan hias.
"Udahlah Cha, gue yakin Mas Dika lagi mumet juga. Pekerjaan kantor dia nambah soalnya soibnya ke Paris." Raka hanya melihat status sosial media Mas Dika, sedang banyak kerjaan dan tertekan.
Chacha tidak ingin lagi sebenarnya membicarakan cinta yang menyedihkan. Mungkin ia bersalah mengira Mas Dika mirip dengan *oppa* idaman.
"Kayaknya cuma Candra aja deh yang nggak pernah pusing dengan masalah percintaan."
Memang menyenangkan tidak terlalu memikirkan cinta. Candra sudah menekuni hobi yang menghasilkan banyak uang. Ternak ikan, bisnis pakan kucing dengan gizi tinggi, dan juga bisnis kurma setiap bulan puasa. Setiap bulan meski tidak kerja kantoran, ia mendapatkan setidaknya tujuh juta rupiah.
"Gue malah kepikiran cowok yang namanya Saki tadi. Dia kayak artis nggak si? Kaya pernah liat gitu tapi lupa dimana deh."
Raka dan Candra juga merasakan hal serupa. Mungkinkah Saki itu artis menyamar?
"Nah, ini gue setuju." Candra tiba-tiba membuka mulut untuk bicara.
"Gue lebih marah liat cewek yang mirip anggota blekping tadi loh, dia ngomongnya kelewatan." Raka masih saja tidak terima.
Saat mereka mengobrol hal-hal konyol. Tiba-tiba ponsel Raka berdering.
"Walah, semprul!" Eyang Raka terlihat marah, suaranya sangat cetar.
Raka mengecek kembali ponsel lama miliknya. Beberapa kali ada panggilan dari juragan sapi.
"Loh, Eyang, ada apa kok ngamuk? Aku lagi di Eropa loh."
"Kamu salah anterin pesanan, wong jelas tulisannya kan rumah Pak Salah. Kenapa kok malah nyasar sampai rumah Pak Benar?"
Raka mendadak ingat. Sesuatu yang membuat tidurnya terus kurang nyenyak. Ganjalan pikiran yang akhirnya terungkap. Salah alamat.
"Ini semua salah Johan."
Berawal dari ketidakhadiran salah satu pegawai kandang sapi, Saswi. Raka terpaksa mengantarkan pesanan sapi.
"Han, sibuk nggak?" Raka mendekati teman baiknya di kampung, Johan.
Johan bukanlah seseorang yang sibuk, ia juga pengangguran yang hobi rebahan dan foto selfie lalu pajang instagram.
"Ngapain?" Johan sedikit menyebalkan, meski wajahnya sering disebut idola gadis kampung.
__ADS_1
Johan yang mencatat semua pesanan di hari Saswi absen. Raka sudah menduga pasti orang seperti Johan sering tidak fokus. Ia terlalu fokus mengagumi betapa tampan dirinya.
"Dih pantes banyak yang bilang wajah gue mirip idol kpop."
Raka menahan tawa. *Apanya yang mirip*?
"Minta kirim satu ekor ya ke alamatnya Pak Salah."
Johan saat itu kurang fokus karena sedang memilih baju mana yang harus ia beli, mumpung diskon.
"Ini beneran?"
"Iya, Pak, ini tuh benar."
Tanpa ragu dan tidak tahu malu, Johan justru menulisnya Pak Benar.
"Ah, ternyata Pak Benar, tadi bilangnya salah."
Raka pasti akan menghajar Johan ketika merwka bertemu.
"Terus gimana?"
"Iya, Pak Benar ngomong ke Pak Salah."
Setelah mendengar banyak hal dari Eyang, Raka lega, meski ia tidak akan diam melihat kelakuan sembrono Johan.
"Kenapa lo?" Chacha dan Candra kompak.
"Johan buat ulah lagi."
Ah, mereka sudah kebal mendengar kisah menjengkelkan tentang teman Raka yang bernama Johan.
"Gue penasaran, gimana si wajahnya Johan?" Chacha belum pernah melihat, kalau Nuri sudah pernah bertemu. Johan dulu bekerja di bank swasta terkenal.
Candra juga sudah pernah bertemu dengan Johan sekali. Memang hanya Chacha yang belum melihat wajah Johan.
"Ni, lo liat aja." Raka hanya menunjukan foto profil Johan.
Kaget dan juga sangat takjub. Johan malah mirip dengan salah satu bias Chacha di grup sebelah.
"Lo, tau Cha? Dulu pas di bank, Johan tuh dipanggilnya paduka soalnya dia paling cakep sama paling banyak customer."
"Kerja di bank mana si? Gue baru liat ni orang emang beneran mirip paduka!" Chacha langsung semangat. Duh, padahal sebentar lagi Mas Dika akan bertunangan.
Raka diam-diam punya ide. Akan sangat bagus ketika dua orang itu saling mengenal. Hobi mereka hampir sama.
"Han, temen gue naksir lo." Raka mengirim *chat* kepada teman baiknya.
__ADS_1
*Bersambung*...