
Tidak ada manusia sempurna.
"Kamu tau nggak, Han? Janji di awal pernikahan kita apa?" Chacha menahan suaminya dengan sebuah pertanyaan tajam.
"Udahlah, Cha... kita jalani masing-masing."
Tidak ada alasan lain yang bisa Johan katakan, karena memang dia sudah merasa cukup dengan semua permasalahan rumah tangga mereka. Demi kebahagiaan bersama.
"Kasih tau satu hal apa kekuranganku?"
Johan berbalik, ia mengembalikan cincin pernikahan. "Kamu nggak salah, Cha. Mungkin gue aja yang brengsek."
Sudah lama ia bersembunyi dalam luka seorang diri semenjak perceraian. Kedatangan Nuri mengubah sedikit demi sedikit suasan hati Chacha.
"Di mana sekarang Johan tinggal?"
"Dia tinggal di apartemennya."
"Gue harus kasih dia pelajaran biar otaknya lurus!" Nuri sudah bersiap, ia bahkan membawa tongkat bisbol dan golf.
Chacha menahan sang sahabat agar amarah reda. "Udahlah, Ri. Mungkin gue aja yang salah karena belum bisa hamil kan?"
Memikirkan tentang kehamilan, Nuri juga merasa agak sedih. "Nasib kita kok gini amat, Cha. Gue juga belum bisa hamil... kasian Jay."
"Nggak kasian, Ri. Jay itu tipikal cowok setia, dia nggak akan mempermasalahkan keturunan apalagi weton kan?"
Nuri mencubit Chacha. "Bisa-bisanya lo malah ngelawak gini si, Cha?"
Chacha memeluk Nuri. Sejak dulu mereka sering berbagi energi kebahagiaan dan mengurangi kesedihan dalam jiwa dan raga.
"Oh iya, Cha. Lo mau ikut nggak sabtu ini gue sama Jay mau ke Labuan Bajo. Ada kenalan Jay yang mau mampir lo, Jack namanya."
"Ohh... "
Nuri sedang mengemasi pakaian Jay dan juga dirinya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Mark meneleponnya.
"Dokter Mark, apa kabar?"
"Bagaimana keadaanmu? Apa sesuatu terjadi? Maaf aku sedikit cemas."
Aneh. Nuri merasa ada yang salah. Ia lalu mengakhiri panggilan dan berlari mencari sang suami.
"Jay! Jay Jang Clarkson!"
Mendengar teriakan Nuri, Jay langsung menangkap sang istri. "Kenapa, Bae? Aku abis berendam."
Belum saatnya menceritakan keanehan Mark. Nuri hanya ingin memeluk sang suami di saat ia mulai merasa takut. Karena mimpi panjang yang tidak masuk akal tersebut.
"Aku nggak enak... di rumah banyak orang. Bagaiamana kalau kita ke hotel, Bae?" Jay berbisik pelan.
"Oke... " Nuri tersenyum.
Malam hari, Jay dan Nuri pergi ke hotel bintang enam di kawasan Jakarta. Jay sudah melakukan reservasi online. Dulu, ia pernah bekerja di hotel juga.
"Bae, aku sudah *check-in*."
Setelah mendapatkan kunci kamar, Nuri pergi lebih dulu. Sepanjang jalan menuju kamar, ia melihat banyak orang memperhatikan langkahnya.
"*Kenapa ni orang-orang kok ngeliatin gue begitu*?"
Berusah untuk tetap percaya diri, Nuri bukanlah selebritis dengan jutaan pengikut di instagram. Tapi pakaian yang ia kenakan sangat mencolok. Apalagi tas mewah edisi terbaru. Suami dan ibu mertuanya sangat menyukai *luxury* *things*.
__ADS_1
Sampai di kamar hotel. Nuri merebahkan tubuhnya, ia juga melihat notifikasi aplikasi untuk menonton drama Korea.
"Duuh... gue ketinggalan dua episode nih!"
Setengah jam kemudian. Jay datang dengan membawa buket bunga besar berwarna putih.
"Tapi ini bukan ulang tahun pernikahan kita. Jay... terima kasih." Nuri mengecup bibir Jay.
"Ini hari yang bahagia, karena aku bisa berkengan lagi dengan istriku." Jay yang malu-malu menyembunyikan wajah merahnya. "Bae, terima kasih telah bertahan sampai hari ini demi aku."
"Demi kita, Jay. Kamu adalah suami terbaik yang Tuhan pilihkan."
Jay ingin menangis karena haru. "Terima kasih untuk segala hal, Bae."
Bukan hanya membawa buket bunga, Jay juga membawakan hadiah. Saat keluar, ia melihat ada boneka beruang cantik.
"Maaf ya... boneka ini murahan.''
Nuri sangat menyukai sisi lain dari Jay, saat ia tertunduk malu karena membeli barang murah. Ia jadi teringat awal mereka berkencan. Betapa kaget Jay mengetahui harga tas dan sepatu murahan milik Nuri.
Jay mengunci pintu. Setelah mandi, ia menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Parfum edisi terbaru dengan klaim mampu menaklukan cinta dalam waktu semalam. Jay akan membuktikan sendiri.
"*Bae, come here*!"
"Bagaimana, apa suamimu makin tampan?" Jay menggoda sang istri.
Harus Nuri akui semenjak Jay tidak merubah gaya menjadi semakin maskulin dengan kumis tipis dan brewok tipis seperti pria bule. Nuri tidak mungkin berpaling.
"You are so handsome."
"Thank you, Honey."
Mereka saling tatap sambil tertawa. Ada yang bersinar setiap kali mereka bertatapan dalam waktu yang lama. Orang bilang, jika belum resmi menikah tidak akan mengerti rasanya ditatap mesra dengan cara halal karena dia adalah pasangan kita.
"Jay... "
"Hmm?"
Jay tidak butuh waktu lama untuk melampiaskan segala kerinduan serta kebutuhan seorang suami.
Setiap kali melihat Nuri tertidur dalam dekapannya ia justru merasa terlindungi. Hidupnya mulai terarah semenjak bertemu Nuri. Nuri yang tidak peduli tentang masa lalu Jay. Bahkan ia tidak pernah bertanya dengan siapa ia tidur di masa lalu.
"Kok kamu nggak tidur?" Nuri terbangun.
"I can't sleep tonight, Bae.''
__ADS_1
"Why?"
Jay tidak menjawab lagi, ia hanya mendekap sang istri. Ada kalanya ia juga merasa lapar di jam yang salah karena terlalu lelah.
"Apa kamu lapar, Jay?" Nuri hampir tertawa ketika mendengar perut keroncongan sang suami. "Ayo kita makan malam!"
"Aku menghabiskan banyak tenaga tadi, hehehe."
Nuri merangkul Jay. "Ini kalau dibandingin sama Om Toto pas kerja di Afrika, capek mana?"
Jay langsung tertawa. Benar juga, selama hidup Jay belum pernah mencangkul di kebun seperti Om Toto.
Mereka akhirnya keluar dari kamar dan memutuskan untuk makan malam di restoran hotel.
"Kok rame banget, Mba?" Nuri bertanya kepada salah satu pelayan restoran.
"Loh ini kan di booking sama selebgram itu, Maya Andini. Katanya ultah gitu."
"Gimana, Jay?"
Jay tidak masalah dengan sedikit kebisingan asal perutnya kenyang.
Kehadiran Nuri dan Jay mencuri banyak perhatian dari tamu undangan pesta selebgram tersebut. Apalagi Jay, dengan wajah maskulin yang membuat terlihat sangat tampan dan tegas seperti pria elegan.
"Lihat tuh pasangan yang pake baju Gucci! Gila banget asli cowoknya cakep banget kaya modelan Hollywood!"
"Lihat tuh si cewek, tasnya mencolok banget! Itu tas baru kan yang kemarin kita lihat di ige?"
Nuri mengamati sosok Maya dari kejauhan. Bisa-bisanya Johan meninggalkan Chacha demi wanita lain. Yang lebih menyebalkan, Johan juga berdiri di dekat Maya. Seperti tidak tahu malu atau harga dirinya sudah jatuh karena memikat wanita kaya seperti Maya.
Kesal. Nuri tidak bisa terima ketika sang sahabat harus menangis tiap malam, sementara Johan bersenang-senang di pesta.
"Hei, Johan. Apa kabar?" Nuri mengejutkan semua orang. Jay hanya mengikuti langkah sang istri. Urusan perutnya sudah selesai.
"Nuri?! Jay Jang?!"
"Ya ini gue, Han. Bestie dari mantan istri lo!" Nuri dengan sangat keren menuangkan air mineral di sepatu Johan. Karena jika menyiram air di wajah seperti adegan dalam drama, Nuri akan menjadi *headlights* berita online keesokan harinya.
"Oh jadi ini Maya yang berhasil membuat bestie gue lo ceraiin?"
Jay menahan tangan sang istri, banyak orang melihat ke arah mereka. Tapi bagaiamanapun, Nuri marah juga wajar.
"\*Keep calm, Bae."
"I can't, Bae! This blastard must wake up!"
Bersambung\*...
__ADS_1