
Sapaan
Hei gaes udah sampe part 20 ya. Yuks tulis kritik dan saran kalian lewat komentar! Jangan lupa juga ya jadiin paporit :)
Ada sesuatu yang membuatnya sedih tiba-tiba.
"Kamu kenapa?"
"Tiap denger kalau Bang Nanda punya gebetan, aku..."
Perasaan yang wajar. Kebanyakan adik perempuan pasti takut kakak laki-laki mereka akan berubah dan menjauh.
Jay tidak punya kakak. Ia hanya punya saudara sepupu. Pasti rasanya cemburu.
"Kamu sangat peduli ya dengannya?"
"Sangat."
Jay ingin sedikit menghibur Nuri, tapi ia tahu candaannya sangat kaku. Kurang humoris.
"Nuri, kamu mau nonton konser Kpop nggak?" Dia punya tawaran yang lebih baik dari siapapun.
"Konser siapa?"
"Itu yang kamu jadiin foto profil sama wallpaper hape."
"Mau!'' Nuri langsung kegirangan. Rasa sedihnya sudah hilang berkat Jay. Tapi, untuk Chacha, Nuri punya solusi lain. Ia akan menjalankan rencananya sendiri.
Jay diam-diam, eh dia sengaja membeli tiket konser boy band yang Nuri suka. Ia memesan kelas VVIP.
"Makasih, Sayang." Nuri menggambar tanda hati dengan selai di roti. "Kamu pengertian."
"Nggak juga kok, aku cuma mau liat kamu bahagia."
Perasaannya semakin besar. Jay juga tidak tahu kenapa ia begitu memperjuangkan kebahagiaan Nuri. Baginya, melihat gadis imutnya tersenyum sudah lebih dari cukup.
"Jay, kamu udah banyak banget buat aku bahagia. Kamu ngabulin permintaanku, kamu juga selalu mengalah." Nuri malu-malu kucing, ia semakin terpesona dengan Jay. Setiap hari ada saja momen membuat cinta mereka berkembang.
"Nanti, kalau kamu mau pulang ke Indonesia. Aku mau antar kamu."
__ADS_1
"Terima kasih," Nuri mengusap wajah halus Jay.
Meski hubungan mereka masih seumur jagung. Ada keyakinan dalam diri masing-masing untuk menjalin komitmen. Mungkin akan mengarah ke hubungan yang serius. Usia mereka sudah terbilang dewasa, meski sebenarnya Jay masih seorang bayi di mata *Mommy*-nya.
"Aku harus ke hotel, ada hal mendesak." Jay berat sebenarnya meninggalkan Nuri seorang diri.
"Hati-hati di jalan. Nggak usah ngebut."
Setelah mobil Jay pergi. Nuri memutuskan untuk membeli roti bakar dan kopi susu di kedai sebelah. Ia melihat ada Saki yang sedang bekerja.
"Biasa." Nuri sering membeli camilan malam di kedai kopi, rasanya malas untuk pergi jauh-jauh apalagi di malam hari.
"Tunggu sebentar, nanti aku antarkan." Saki sangat lihai melayani pelanggan.
Sambil menunggu pesanan datang. Nuri sedang menyusun konsep rencana. Ia sudah tahu kalau Mas Dika akan bertunangan minggu depan. Mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk Chacha maju. Tapi, ia akan membantu. Sebagai seorang sahabat, setidaknya ini langkah yang bagus.
Nuri menelepon Mas Dika.
"Ada apa Ri?"
Dika sedang main game online di warnet, ia pulang lebih cepat karena suntuk. Tidak, ia banyak pikiran.
"Ngomong aja, Ri."
"Chacha naksir lo dari jaman SMA. Percaya atau nggak, dia bahkan bilang posisi lo di hati dia sama Jungkook BTS tuh sama. Sama-sama dia cintai. Gue awalnya nggak percaya, tapi saat denger lo punya pacar dia itu hancur. Nggak kebayang kan lo? Dia denger lo mau lamaran aja dia udah tertekan lahir dan batin. Gue denger dari Candra, dia sering melamun. Mas, lo nggak harus terima dia. Minimal, lo tahu perasaan dia."
Dika terdiam sejenak. Ia sebenarnya paham kalau Chacha itu sering tersenyum berlebihan di depannya. Bukan menggoda. Ada yang cepat dia respon dari sebuah rasa suka.
"*Pantesan, Chacha sering nanya lowongan kerja*."
Raka tidak menyangka akan bertemu dengan saudari yang cantik jelita seperti Cyntia.
"Ternyata kalian malah saudara." Nanda hanya kagum.
Raka tersenyum licik. Dia sangat bahagia melihat ekspresi kaget Bang Nanda.
Setelah memilih ikan hias yang menurutnya sangat cantik, Cyntia bergegas pamit. Banyak yang harus ia persiapkan untuk perjalanan bisnis ke Paris.
"Makasih ya."
Candra tidak menyangka kalau wanita secantik itu sangat paham ikan hias. Tidak lupa, Cyntia membayar ikan hias lebih mahal.
"Makasih ya, Mbak."
"Dadah, Mbak Cantik!" Chacha melambaikan tangan.
__ADS_1
"Yang boncengin lo, naksir lo Mbak!" Raka iseng ingin memancing emosi Bang Nanda.
Cyntia hanya tertawa. Nanda salah tingkah, Raka tidak salah, tapi ia sangat malu. Memang benar wanita elegan sangat berbeda.
Mereka tidak langsung ke rumah Nanda. Cyntia mendadak ingin mencoba makan seblak.
"Antriannya rame banget,"
"Ini seblak termantap loh Mba, hehe." Nanda sering mengantar Nuri.
Sambil menunggu antrian. Mereka duduk di depan ruko. Ada hal yang ingin Nanda bicarakan. Tentang sahabatnya.
"Mba, maaf ya. Aku mau tanya soal Intan."
Cyntia menoleh, ia sebenarnya sudah memprediksi Nanda pasti akan menanyakan sesuatu tentang hubungan Intan dan Dika.
"Tentang Intan ya?"
"Iya, Mba. Intan nggak selingkuhin Dika kan? Aku pernah liat dia dijemput cowok lain."
"Sebenarnya dia nggak selingkuh. Dia cuma bingung, semakin kesini, dia makin ragu dengan Dika. Justru, mantannya Intan tuh ngasih harapan lagi untuk bersama." Cyntia hanya tahu dari apa yang Intan ceritakan.
"Oh, jadi begitu. Aku pikir dia ada main loh. Dika juga semakin ragu."
Ada saja sesuatu terjadi mendekati rencana pertunangan. Umum jika banyak pasangan tiba-tiba membatalkan pertunangan. Tentu, bukan hal yang mudah untuk membuat sebuah keputusan.
Nanda belajar dari apa yang ia lihat. Nuri dan Raka yang gagal tunangan. Sementara, kisah cintanya yang begitu indah di masa lalu harus berakhir karena takdir. Kekasihnya meninggal beberapa tahun lalu. Hidup dalam kenangan. Terkadang ia merindu seorang diri. Gadis cantik bernama Mirae, teman satu kampus saat S2 di Australia.
Kali ini, saat menatap dari dekat wajah Cyntia. Mereka memiliki senyum cerah yang sama. Membuat hatinya bergeming.
"Percaya aja Nda, Intan itu wanita yang bijak kok. Dia nggak bakal salah ambil keputusan. Justru, gimana Dika aja si."
"Aku juga harap Dika kali ini lebih waras." Nanda tersenyum. Ia sebenarnya sering tersenyum jika dekat dengan orang yang ia sukai.
"Hm, iya."
Raka dan Candra juga pergi ke luar. Mereka lapar. Karena Raka sekarang kaya, Candra sering meminta traktir makanan. Tidak terlalu mahal, tapi harus antri. Makanan rakyat jelata dengan rasa sultan adalah idola banyak orang jaman sekarang.
"Antri banget si," Raka sebal dengan antrian yang panjang. Ia tidak sabar mencicipi rasa dari es sultan.
"Sabar, Bos. Antri!"
Lokasi es sultan dekat dengan seblak langganan Nuri dan Nanda. Raka melihat dari jarak lumayan dekat Cyntia sedang tersenyum malu-malu dengan Nanda. Jelas sekali terpancar asmara.
"Liat apaan lo?" Candra sudah selesai mengantri.
"Sepupu gue yang cantik sedang jatuh cinta." Raka tersenyum licik lagi, ia ingin memanfaatkan keadaan sebelum mereka besan.
"Gila si! Bang Nanda selalu dapet cewek cantik terus. Gue kapan ya, Ka?" Candra meratapi nasibnya, meski ia tidak begitu jelek.
"Hahaha! Lo makanya nggak usah kebanyakan mikirin ikan deh, sekali-kali lo jalan."
"Sok nasehatin, cinta lo juga kandas."
Nasib mereka sama. Pemuda lajang yang kesepian, hobi dengan binatang peliharaan adalah obat kegalauan mereka. Dalam hati, rasa sepi sering menghantui.
"Kamu Raka kan?"
Raka langsung menoleh. Seseorang mengenalinya.
"Lupa ya?"
Raka tidak terlalu ingat.
"Mas kan yang dulu sales kartu kredit kan?"
Ah, perempuan tersebut mantan customer. Raka ingat, dulu mereka bertemu di mall.
"Mas Raka udah nggak kerja di bank lagi ya?"
"Nggak. Sekarang udah kaya. Hehehe."
Candra tersenyum sinis. Nasib Raka lumayan bagus, setelah mendapatkan kekayaan mendadak, mempunyai sepupu yang sangat cantik. Kali ini, di dekati perempuan cantik juga.
"Gapapa, Bet. Ikan hias lo lebih cantik."
Bersambung...
__ADS_1