
Raka mendapat banyak saran dari ayah kandungnya, Papi Hendri. Merek mana yang lebih cocok untuknya.
"Jangan lupa, Nak. Kamu juga beli buat Eyang sama Bapakmu."
"Ibu enggak? Mami gimana?"
"Belikan saja tas. Ibu-ibu pasti lebih suka tas."
Saran yang membantu. Raka dan Candra memutuskan untuk belanja tanpa Chacha.
"Chacha masih tidur?" Raka heran, ia yang lelaki saja tidak malas. Bangun selalu pagi sebelum subuh. "Gue aja sampe ngecek jadwal solat di Paris."
"Gue denger alarm lo, makanya ikut bangun langsung solat juga."
Berbekal ponsel pintar. Dua pemuda itu mulai menjelajahi berbagai toko. Bukan tandingan, rumah mode memang berkelas. Tidak salah kenapa Syahrini menghabiskan banyak uang membeli tas, sepatu dan baju asal Paris.
"Balenciag* !" Candra heboh, ia baru pernah melihat kaos putih mahal. Lebih mahal dari ikan hias Mas Arwana.
"Aku mau beli tas juga." Raka mengambil salah satu koleksi tas bahu pria yang tren. "Lo mau nggak?"
"Mau dong! Kalau bisa yang warna hitam deh. Hehe." Candra hanya pernah melihat di instagram.
Raka termasuk teman yang loyal. Dulu, saat miskin, mungkin sedikit berhemat. Dia pelit. Uangnya pas untuk bertahan hidup.
"Gue pernah liat Mas Dika pake merek ini."
"Bang Nanda aja masih pakai merek yang lebih murah dari ini kok." Raka juga sering melihat kemewahan dari seorang Mas Dika. "Bro, jangan bilang Mas Dika itu anak orang tajir?"
Candra tidak tahu pasti. Yang ia pernah dengae dari Bang Nanda maupun Nuri, orang tua Dika termasuk orang kaya. Apalagi kakek Dika, katanya tuan tanah.
"Yang gue liat si, Mas Dika memang sukanya makan kerupuk. Tapi mobil dia udah mobil mahal sejak dulu."
"Merendah untuk meroket? Astaga!"
Raka sudah selesai belanja. Semua mendapat jatah. Setelah setengah hari berkeliling, mereka pergi untuk makan siang ke kedai kopi dan toko roti tempat Nuri bekerja. Roti Paris memang berbeda. Cita rasa elegan dan sangat mengenyangkan.
"Dimana Nuri?" Raka bertanya karena toko tutup. Ada pegawai toko yang sedang berbincang dengan rekannya.
"Toko tutup hari ini. Ada karyawan yang menikah."
Ah, Raka ingat. Nuri kemarin mengatakan akan pergi ke resepsi pernikahan teman kerja bernama Susan dan Andre.
"Aku boleh kesana?"
"Tentu, kamu kan teman Nuri. Datanglah."
"Terima kasih." Raka tidak tahu dengan siapa ia berbicara. Yang penting, ia akan menemui Nuri.
Candra terpaksa mengikuti Raka. Mereka sudah tahu lokasi pernikahan Susan. Kondangan di benua Eropa, rasanya agak malu tapi keren.
"Harus pake batik nggak si?" Candra tidak ada persiapan. Dengan pakaian casual tapi keren, ia percaya diri.
"Mendingan pake baju biasa. Ngamplop nggak? Gue sama Johan kalau di kampung biasa ngamplop."
"Lo yang udah nuker duit, nah gue? Gue ikut meramaikan aja deh, Ka."
Dua pemuda sebaya itu tertawa. Rasanya mereka dulu hanya bermimpi untuk menginjak tanah Paris. Siapa sangka, diundang acara pernikahan?
"Bang, nanti abis kondangan aja kita ketemu ya?"
"Oke, Dek."
Nuri mematikan telepon. Setelah melepas semua kesedihan, hatinya merasa lega. Saatnya bersiap kondangan.
"Udah jangan nangis lagi ya?" Jay masih setia mengibarkan bendera kedamaian. Mengipasi Nuri dengan kipas kertas bergambar idola kekasihnya. "Katanya mau dandan?"
Nuri masih memasang wajah cemberut. Hubungan mereka baru memasuki tahap serius, tapi mulai ada saja gangguan.
__ADS_1
"Wah, gawat!" Nuri lupa tidak membawa skin care ataupun *make up*.
"Kenapa? Ada apa lagi?"
"Jay, ini bener-bener gawat. Aku nggak bawa skincare sama make up." Lumayan menyedihkan kalau pergi ke resepsi pernikahan dengan wajah natural tanpa riasan. "Nanti orang bakal mikir gembel sama pangeran koh kondangan bareng?"
Jay tertawa sangat keras.
"Hahaha!"
"Jay, kok malah kamu ketawa. Bantu cari solusi dong!" Nuri mencubit perut Jay.
"Udahlah, wajah kamu udah glowing kok. Pakai aja lipstik merah udah cukup kan?"
Tidak. Nuri menolak keras saran Jay. Dalam sejarah kondangan selama bertahun-tahun, ia selalu merias wajah. Riasan natural namun cerah dan lipstik oren kesukaannya.
"Tenang. Aku sudah memanggil *MUA* kok. Untuk merias kamu dan menata rambutku." Jay memang punya tradisi unik, setiap akan menghadiri acara formal, ia memanggil jasa \*MUA.
"Love you, Bebe\*."
Nuri mengenakan setelan prad\*, sedangkan Jay masih setia dengan merek kesukaannya. Butuh waktu hanya setengah jam untuk merias wajah Nuri.
Jay tidak suka mengenakan dasi. Selalu memakai scarf medium dari guc\*\* sebagai aksesoris penambah gaya. Tidak lupa, ia akan memilih jam mana yang sesuai dengan warna baju.
"Kamu mendapatkan jam tangan Patek Philippe?"
Nuri tidak tahu perbincangan mereka. Yang ia pahami dua orang penata rias memuji jam tangan Jay. Jam tangan yang terlihat normal, namun sangat mahal senilai 10 juta dolar.
"Kemarilah, Nuri." Jay memegang tangannya. "Ini salah satu cincin koleksi terbaru dan jam tangan baru."
Jay membantu memasang cincin dan jam tangan mahal dari merek chopar\*. "Cantiknya."
Mungkin cara setiap orang beda. Ada yang memperlakukan kekasihnya bak ratu, memberikan hal-hal indah yang disukai kaum hawa. Ah, rasanya semua wanita juga suka dengan kemewahan. Tapi, dalam hati kecil Nuri semua seperti mimpi. Takutnya ketika bangun dari mimpi indah, semua tinggal kenangan dengan batas waktu.
"Ayo, berangkat!" Jay kali ini menggunakan mobil lain. Terlihat mencolok dan menandai kelasnya.
Benar saja banyak yang mengakui Jay Jang Clarkson adalah seseorang yang sangat berkelas.
"Kamu kenapa kok dari tadi diam?" tanya Jay.
__ADS_1
"Nggak kok, aku baru sadar kalau kamu sangat kaya Jay."
Jay mengelus tangan Nuri meski sedang menyetir. "Bagiku hal yang membuatku terlihat sempurna adalah ketika kita menikah, lalu punya anak. Dulu, aku ingin meniru jejak orang tuaku menikah di usia muda."
"Tapi, aku bukan orang kaya. Kelas kita berbeda."
Berkali-kali Jay mendengar ucapan yang sama. Semua manusia itu sama. Bernafas dan memiliki hak asasi. Kenapa hanya harta yang orang pikirkan sebagai tolak ukur? Kelas sosial tidak akan membuat manusia menjadi unggul.
Jay menghentikan mobilnya sebentar. Dia memakaikan *scarf* di leher Nuri.
"Cantik." Jay memeluk Nuri.
Nuri tersipu malu, semakin lama mengenal Jay rasanya semua hal berat menjadi ringan. Suara detak jantung Jay, adalah hal yang paling indah. Hembusan nafasnya, harum semerbak. Entah parfum apa yang membuat Jay wangi. Nuri sangat suka sesuatu yang harum.
"Parfum kamu wangi banget sampai ngomong pun wangi." Nuri enggan melepaskan pelukan. "Nggak mau lepas ah!"
"Sepuluh menit lagi ya? Bisa bahaya kalau lebih lama." Jay juga seorang pria dewasa yang normal yang mempunyai batasan.
Sepuluh menit berlalu dengan indah tanpa ada ujian. Jay berhasil lolos dari ujian.
"Sayang, aku boleh minta tolong?" Nuri mengedipkan mata, sebuah modus gadis imut.
"Apa?"
"*Let's take a selfie with me*!"
Dengan latar mobil *sport* mahal, Nuri berpose sendirian mengenakan prad\*. Jay sudah terbiasa dengan hal-hal tidak terduga. *Pantas saja dia tadi bertingkah imut banget*.
Mereka juga mengambil foto berdua dengan posisi Nuri bersandar di bahu Jay dengan latar mobil mewah. Perbedaan tinggi badan yang mencolok.
Cekrek. Puluhan kali mereka pose berdua. Mulai dari pose romantis, manyun, ekspresi jelek sampai ada satu foto unik. Jay menyentil dahi Nuri.
"*Saranghae, Jay Jang Clarkson. Sorry Kim Taehyung, I love him more than loving you*!"
"*Thank you so much, Sweetie*."
\*Terima kasih, Jay. Semenjak mencintaimu aku mengerti rasanya memiliki kekasih hati yang sesungguhnya.
Bersambung\*...
\****Extra\*
__ADS_1
Hei readers setia, jangan lupa ya tetap like dan jadiin favorit kalian okey? Saranghae 😍***