
Raka mulai merasa ada yang janggal dengan sang mantan.
"Hei!" teriak Eyang Raka.
"Eh, Eyang... " ucapnya kaget karena sedari tadi melamun.
"Kamu ini kok, seringnya kalau nggak belanja online ya melamun di kandang sapi." Eyang Raka diam-diam mengamati kelakuan aneh cucunya semenjak gagal tunangan dengan Nuri.
"Lagi mumet." Raka pergi meninggalkan kandang sapi dan duduk di dekat kebun.
Diam-diam ia masih menyimpan foto cantik mantannya yang berwajah glowing.
"Gue yakin Nuri pasti kepincut bule Eropa, selain Oppa-oppa dia kan demen banget bule Eropa."
Ia mengecek saldo rekening bank, belum cukup untuk membuatnya ke Paris untuk memastikan sendiri apakah Nuri benar sudah berubah dan menjadi seperti gadis Eropa.
"Duuuhhh....kacau ahh!" ia berteriak sendiri dan kesal.
Kalau Nuri memang sudah berpaling, ia akan merasa bersalah karena menggagalkan pertunangan demi hal konyol.
Nuri tertawa riang karena menistakan sang mantan, Raka. Ia hanya ingin membuat Raka kesal dan menyesal.
"Hahaha!" ia masih saja girang.
Jay yang merasa tidak enak, ia hanya diam dan berbaring dengan nyaman.
"Aduh Jay, maaf ya... maaf banget."
Jay hanya mengangguk. Ia tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang permasalahan asmara orang lain karena bukan gayanya. Ia adalah tipe orang cuek dan masa bodo dengan percintaan orang lain.
"Kamu dengar tadi? Mantan pacarku mulai gila... hahaha."
"Ah begitu ya." Jay malah merasa Nuri yang sedikit gila karena tertawa berlebihan di ruangan yang seharusnya hening.
"Apa kamu bilang ke Eric?"
"Aku bilang kok. Chef Eric bilang aku harus jagain kamu disini." Nuri masih memasang wajah sangat ceria karena berhasil balas dendam.
"Oh, terima kasih." Jay masih lemas.
Nuri yang sedari tadi menatap layar ponsel tanpa henti membuat Jay penasaran.
"Nuri, kamu pas nganggur juga gini?" Jay hanya penasaran tidak ada niat untuk menyinggung.
"Iya aku malah punya teman pengangguran juga loh." Nuri tersenyum bangga membicarakan sahabat baiknya, Chacha.
__ADS_1
Jay berbalik, ia lalu tidur karena efek obat yang ia minum tadi. Nuri dengan senang hati masih menjaga Jay tanpa banyak protes. Ia justru ikut makan jatah Jay, buah-buahan yang di sediakan oleh klinik.
"Lihat itu," pasien yang sedang berjalan menunjuk ke arah Nuri.
"Kenapa Nek?" tanya perawat yang membantunya berjalan.
"Dia gadis yang rakus. Dia memakan jatah makanan pasien. Aku yakin pacarnya pasti malu makanya tidur membuang muka."
Perawat yang terpaksa ikut melihat juga menyadari hal serupa. "Ya... terlihatnya begitu ya Nek.''
"Lihat dia sedang tertawa keras di saat pacarnya sakit begitu, astaga gadis muda sekarang..." pasien lansia tersebut sangat terkejut melihat fenomena pagi hari yang membuatnya kesal.
Ia yang masih menikmati tontonan seru dari drama Korea, tidak terlalu mempedulikan sekitar. Sesaat ia tertawa lalu menangis karena menghayati cerita. Sementara pemuda tampan di dekatnya masih tertidur pulas.
Sebenarnya, Chef Eric telah menceritakan banyak hal tentang Jay. Ia adalah pekerja keras yang tidak bergantung dengan status orang tua.
"Chef sebenarnya aku hanya menebak ya, Jay anak orang kaya?" ia penasaran.
"Terlihat jelas kan? Dia anak orang kaya raya, Nuri. Kamu kalau tahu hotel Wilson Swiss?"
"Yang semalam tarifnya ratusan ribu dolar, Ayah Jay bekerja sebagai eksekutif di hotel itu kok."
Nuri masih menghitung berapa rupiah tarif hotel yang Chef Eric sebutkan.
"Semalam tarifnya hampir 1,5 milyar rupiah Chef. Kalau di tempatku, ini bisa beli rumah mewah kalau nggak ya mobil mewah."
Mata Nuri penuh dengan bayang-bayang dolar. Ia hanya membayangkan jika menjadi menantu Ayah Jay pasti derajatnya akan langsung sejajar dengan sosialita. Ia masih merasa jengkel karena setahun lalu, ia dan Chacha merasa sangat terhina karena sebuah reuni SMA.
"Hei, lihat tuh si Firdha abis nikah sama duda tajir langsung jadi sosialita gitu deh, Bund." Chacha yang menggandeng Nuri untuk pergi ke stan makanan daripada memandangi geng menyebalkan.
"Dih baru juga pake tas Herme\* udah sok banget!" batin Nuri.
Ia saling tatap dengan Chacha. Mereka memandang tas masing-masing.
"Ahh... kita cuma gembel, Ri."
__ADS_1
"Beli dua diskon, free ongkir." Nuri merangkul sahabatnya.
"Eh, Nuri sama Chacha juga datang. Hehe.'' Firdha menyapa mereka, ia ingin sekali menyalami kedua teman kelasnya di masa SMA. "Maaf ya sis, baru balik nih dari Eropa abis nemenin suami."
Chacha memasang wajah tersenyum meski dalam hati mengumpat.
Nuri hanya tersenyum, ia menyadari bahwa Firdha memang orang kaya baru tapi terlalu berlebihan dengan menyebutkan hal-hal tidak berfaedah seperti suami dan Eropa, terkesan sangat pamer karena naik tahta dalam waktu singkat.
"Nuri, kapan nih undangannya?" sindir Firdha.
"Ahh, gue masih beberapa tahun lagi deh." Nuri menanggapi dengan santai, meski dalam hati ia sangat kesal.
"Oh iya, gue denger lo gagal tunangan ya?"
Chacha sudah tidak tahan lagi. Ia mengeluarkan jurus kebanggaan.
"Hei kata siapa lo, Fir? Nuri tuh udah punya tunangan super tajir lebih tajir daripada suami lo dong, kalau lo ke Eropa jalan-jalan kan? Tunangan Nuri asli orang Eropa loh!"
Nuri hanya bisa takjub dengan kekuatan halu milik Chacha yang semakin pro.
"Hah seriusan, Ri? Lo diem-diem suka bule? Gue pikir lo masih sama cowok yang sering lo jemput di depan gang itu?" Firdha kebetulan dulu pernah melihat Nuri menjemput Raka di depan gang kost.
Nuri hanya mengangguk, ia tidak ingin mengakui apapun. Ia ingin pergi dan rebahan di kasur.
Sebenarnya ia bukanlah tipikal gadis matre, tapi ia juga harus realistis. Ia tidak bisa menikah dengan sugar daddy seperti Firdha, ataupun mempunyai karir sebagus Bang Nanda. Ia hanya seorang gadis biasa yang mempunyai harga diri tinggi dan kemauan keras untuk maju.
"Chef, apa Jay jomblo?"
"Dia kayaknya udah putus dengan pacarnya akhir tahun lalu."
Berkat bocoran dari Chef Eric, Nuri akan mendekati Jay lebih maksimal.
"Jay... " Nuri membenarkan selimut Jay.
Jay yang sebenarnya tidak tertidur lumayan terkejut dengan sikap Nuri yang menjadi lebih lembut dari kemarin.
"Kamu ganteng banget si... "
Jay jelas merasa malu mendengar pujian dari seorang gadis, ia juga lelaki normal.
Banyak gadis yang melakukan pendekatan dengannya hanya karena mengetahui Jay kaya raya, beberapa mengaku karena melihat visual Jay yang tampan dan pecinta merek mewah membuat sangat elegan. Tidak ada yang setulus Nuri, mau menjaga ketika ia sakit dan membuatkan makanan ketika ia lapar tengah malam.
"Nuri?"
Nuri yang sedang tersenyum karena membayangkan hal-hal romantis dengan Jay lalu kaget. "Eh, iya?"
"Apa kamu suka denganku?"
To be continued...
__ADS_1