Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 9


__ADS_3

Nuri tidak menyangka kalau Jay akan membawakan makanan yang ia idamkan, nasi goreng, bahkan Jay menunggu hingga kelas pelatihan selesai untuk mengajak Nuri pergi.


"Jay, terima kasih ya." Ia menyalami Jay.


"Aku seharian ini sibuk, maaf ya."


"Iya, aku kenyang nih." Nuri menatap Jay penuh cinta.


"Nuri, apa kamu sudah jujur ke orang tuamu?" Jay tiba-tiba cemas.


"Aku baru ngomong ke Kakak si, yang jelas dia belum ngomong ke Ayah sama Ibu. Dia pasti lagi mau nyusulin aku." Nuri meringis.


Jay tersenyum lega. Ia sebenarnya takut kalau Nuri terus berbohong tentang kondisinya di Paris dan juga tentang penipuan yayasan.


"Maaf, aku sibuk seharian."


"Nggak masalah, Jay."


Mereka berjalan menyusuri jalanan di dekat toko roti. Ada sebuah kafe terkenal untuk nongkrong anak muda di malam hari. Jay mendapatkan rekomendasi dari instagram.


Nuri berjalan di belakang Jay, ia melirik sebentar melihat gaya rambut baru Jay yang sangat keren baginya.


"Kamu potong rambut, Jay?"


"Iya, menurutmu bagaimana?" Jay mendekat, ia menunduk agar sejajar dengan Nuri.


"Keren," bisik Nuri.


Jay malu, wajahnya sedikit memerah. Meski banyak gadis yang mendekatinya dulu, ia jarang merasa malu jika bukan karena suka.


"Nuri, kamu udah pernah kiss ?"


Nuri serasa mendengar sesuatu yang mengerikan, ia tidak bisa mengatakan tidak, karena di masa lalu ia pernah ciuman dengan Raka.


"Pernah, kalau kamu?" Nuri memasang wajah tegas untuk menyerang Jay.


Jay tertawa, ia hanya bermaksud untuk bercanda.


"Aku juga pernah. Ayolah, ini Eropa. Aku nggak mungkin bilang belum."


Suasana menjadi sedikit canggung. Nuri jadi merasa tidak enak. Ia mencium bau wangi yang sangat harum dari badan dan pakaian Jay, tetapi ia mencium bajunya yang bau mentega.


"Kamu kenapa?" Jay mengamati kekasih barunya yang lumayan aneh.


"Aku jadi kurang percaya diri. Kamu bau wangi cologne mahal, aku malah bau roti sama mentega." Nuri memasang wajah cemberut.


Jay membawakan hadiah kecil untuk Nuri.


"Wah ini parfum sama anting mahal," Nuri bahagia melihat parfum yang dulu ia hanya lihat di sosial media.


Jay memberikan anting chopardz, hadiah dari Mommy karena Nuri sudah menjaganya ketika sakit.


"*Gila ini kan parfum yang cuma gue lihat di drama sama instagram..."


"Ini anting juga harganya selevel motor gede*."


Nuri ingin sekali memeluk Jay tapi dia juga malu karena di tempat umum. Ia juga ingin memegang tangan Jay, tapi malu karena melihat jam tangan mewah yang sangat mencolok.


"Lihat si kaya ini dia sengaja pakai jam tangan milyaran biar gue minder," gumamnya.


"Kamu suka?"


"Aku suka barang-barang mahal apalagi dikasih."


Bagi Jay, ia jarang melihat seseorang yang jujur seperti Nuri. Gadis yang berbeda dari pacarnya di masa lalu.


"Aku hidup sederhana karena Ayahku ngajarin kaya gitu, lihat aja nih, ponsel masih buatan China."


Kebetulan mereka berdiri di dekat toko ponsel.


"Kamu mau ganti ponsel nggak?"


Nuri selalu realistis. Ia tidak akan menolak kesempatan.


"Mau dong, yang ini udah lola banget buat nonton drama." Ia memasang wajah memelas namun imut.


Jay sebenarnya tak sengaja mendengar saat Nuri mengeluh ponselnya saat menonton drama di klinik.


Pandangan Nuri tertuju ke sebuah merek. Poster tampan yang membuat nyaman di padangan.


"Wow, aku mau yang ini." Ia menunjuk ke ponsel pintar keluaran terbaru asal Korea.


"Oke," Jay langsung mengurus pembayaran.


Nuri sedang menghitung berapa uang dalam rupiah yang Jay keluarkan untuknya seharian.


"Gila hampir 25 juta," ucapnya lirih.


Jay juga membeli ponsel baru untuknya. Terlihat seperti ponsel pasangan.



__ADS_1


Jay Jang Clarkson, pemuda keturunan Asia-Amerika. Ia berasal dari keluarga yang sangat kaya di Amerika, kebetulan Kakeknya juga orang terpandang. Ia sudah dimanjakan dengan kemewahan sejak kecil.



"Apa kamu suka sama dia?" Eric pernah bertanya kepadanya di awal membawa Nuri.



Nuri memang tidak secantik dan semewah mantan kekasihnya di masa lalu. Tapi, ia melihat sesuatu yang berbeda dan unik dari Nuri yang membuatnya bisa gemas.



"Apa Nuri tahu kamu kaya?"



"Mungkin," jawab Jay.



Awalnya Eric, sepupu Jay, juga menduga Nuri hanya menyukai Jay karena kaya dan tampan. Ternyata ia tulus saat merawat Jay sakit.



"Nuri, apa kamu menyukaiku karena tahu aku kaya?" ia terang-terangan bertanya.



"Kalau kamu kaya itu kan fakta, kalau aku suka kamu karena kamu baik dan dapat diandalkan."



Jay diam-diam mengganti bio di instagram dengan inisial "N". Pengikutnya sudah sangat banyak, ia padahal bukan selebgram. Hanya beberapa merek mewah sering menandai instagramnya.



"Hahaha!" Ia tertawa ketika melihat postingan foto Nuri yang menurutnya *absurd*.



Ia lebih penasaran dengan mantan Nuri yang sering menelfon, Raka.



"Oh dia lumayan juga," Jay sempat mencari tahu tapi ia tidak perlu cemas.



Nuri mulai mengikuti pelatihan di kelas Eric, sepulang kerja dari hotel ia akan mampir untuk melihat perkembangan belajar kekasihnya.




Di tempat yang berbeda.



Nuri akan mengulang pelajaran yang Chef Eric ajarkan. Ia harus membuat roti seperti contoh di kelas pelatihan.



Dreet... dreet.



Ponsel baru Nuri bergetar, Raka meneleponnya.



"Ada apa lagi si?" Ia sangat kesal jika diganggu ketika sedang memanggang roti.



"Gue mau nyusul lo, gue mau jelasin kenapa dulu gue batalin pertunangan kita." Raka sangat antuasias, ia sudah membuat pasport dan mengurus visa.



"Usaha sapi lo benar-benar sukses ya Ka?" Nuri ingin tertawa, ia tidak menyangka Raka mendadak sukses.



"Gue juga mau bayar hutang COD, gue udah transfer. Lo cek lagi deh."



Nuri mengecek isi rekeningnya, tiba-tiba ada saldo 15 juta dari Raka.



"Lo nggak usah berlebihan Ka, gue transfer balik yang sisanya."


__ADS_1


"Nggak usah, itu buat biaya hidup lo disana." Raka ingin sekali membantu Nuri yang tertipu.



"Serius lo dapat uang banyak ini dari bisnis sapi atau lo menang kuis?" Nuri masih tidak menyangka yang dulu pelit dan sangat irit bisa loyal mendadak.



"Sebenarnya gue tahu kalau lo ketipu yayasan, Ri. Gimana hidup lo disana?" Raka sangat cemas, ia yang tahu lebih dahulu tentang penipuan yayasan berkat forum anonim di sosial media.



"Ya gini, untung pacar gue deket."



"Pacar? Maksud lo, bule itu?" Raka sangat kessl, ia memukul guling.



"Iya, emang kenapa?''



"Gue tahu dulu gue salah, Ri. Tolong jangan gegabah mencari pacar di luar negri, apa lo pikir pria Eropa polos?" Raka mencoba mengingatkan.



Terkadang, Nuri juga berpikir hal yang sama. Jay sangat baik, apa dia akan meminta balas budi suatu hari nanti.



Ia banyak berpikir semenjak Jay bertanya kemarin. Barang mahal yang Jay berikan sangat mencolok, ia memang menikmati tapi ia meragukan apakah Jay tulus atau hanya menunggu balas budi Nuri.



"Gimana nih, Cha?" Ia menceritakan keluh kesahnya kepada Chacha.



"Bener juga si Raka, gue yakin cowok Eropa nggak polos. Lo yakin nggak Jay tulus?"



"Gue masih di ambang keyakinan, antara iya atau nggak nih. Tapi sorot mata doi emang tulus. Gimana kalau suatu hari Jay menagih sesuatu?" Pikiran Nuri mulai ngawur.



"Stop! Jangan diterusin, jatuhnya kaya drama yang lagi gue tonton. Hiks... " Chacha juga memikirkan hal serupa apalagi Jay yang tampan menawan, tinggi dan tajir.



"Misal Jay minta nikah ya lo jawab iya aja deh," solusi terbaik dari sahabatnya.



Pukul sembilan malam. Jay datang membawa minuman hangat.



"Jay, kamu lagi?" Nuri masih mengenakan setelan piyama bergambar kartun.



"Aku ganggu ya?" Jay sangat gemas ketika melihat gaya berpakaian Nuri di malam hari, piyama karakter.



"Aku cuma mau ngasih ini, kata Eric kamu lagi sibuk bikin kue."



"Jay, jujur saja, aku bukan gadis yang mungkin kamu pikir. Meski bagimu terlihat matre, aku bukan gadis gampangan. Maaf, kalau kamu meminta balas budi untuk sesuatu... " Nuri memalingkan wajah, ia malu namun takut.



Jay justru tersenyum.



"Aku nggak akan meminta balas budi. Aku kesini karena aku memang kangen kamu," Jay mendekat, ia meniup tepung terigu yang bersarang di rambut Nuri.



Perasaannya aneh, Nuri merasa bahagia meski itu hal yang sangat sederhana. Lebih bahagia daripada saat diberikan hadiah mahal.



"Jay," Nuri memeluk Jay.



"\*Saranghae..."

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2