Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 60


__ADS_3

*Hey readers, update 3 hari sekali ya. Jangan lupa berikan like, vote and subscribe ya. Kritik dan saran kalian sangat membantu ya :) *




Berita kematian J.J Clarkson sudah tersebar.



"Nggak mungkin! Kami baru main golf seminggu yang lalu!"



Tidak ada yang menduga. Bahkan mantan kepala sekolah saat Jay di asrama sangat terpukul. Ia beserta dua guru datang ke pemakaman Jay.



"Anak ini adalah anak populer di kalangan gadis di masa lalu."



"Benar. Apapun tentang Jay, semua akan menjadi hits."



Mereka memakai pakaian hitam rapi, tapi wajah mereka sendu. Beberapa alumni juga datang. Jay ternyata sangat terkenal. Banyak sekali alumnus dari TK, SD, SMP, SMA dan bahkan kuliah.



"Semoga selalu tenang." Tangkai demi tangkai bunga mereka sematkan.



"Tuhan akan menjagamu lebih baik."



"Aku belum memberinya selamat karena sudah menikah."



Beberapa senior terkenal di bidang keuangan juga datang. Banyak sekali orang yang menyukai Jay semasa ia hidup.



"Kamu adalah junior paling menyebalkan, Jay. Kamu sudah lebih kaya dari kami, tetapi kamu pergi tanpa pamit begini?"



"Kamu berhutang satu kali permainan denganku, Jay. Permainan catur yang kamu lupakan."



Satu per satu mulai datang lalu pergi. Cuaca semakin abu. Bahkan langit ikut merasakan sedih yang sama dengannya.



"Kami turut berduka cita, Ny. Jang." Celine menerima banyak ucapan bela sungkawa.



"Terima kasih, Ketua John."



Belum lama ini, Celine sering bermimpi buruk. Memimpikan masa kecil Jay, ia yang selalu merengek minta pulang di acara peragaan busana.



"Maafkan aku, Jay." Celine menatap lama makam sang putra. "Aku berjanji akan menjaga Nuri."



"Sayang, ayo kita pergi. Aku semakin sedih melihat putraku." Ayah Jay, Clarkson merangkul sang istri. "Mari kita menenangkan pikiran di tempat yang lebih tenang."



Melihat putra dan menantunya, Kakek Jay juga bergegas pergi. "Ini semua salahku. Karena kedatanganku mengunjunginya, ia berakhir begini."



"Kenapa, Ayah?" Celine menanggapi pernyataan sang mertua. "Kenapa harus Ayah yang bertemu terakhir dengannya?"



"Maafkan aku, Celine. Kedatanganku mungkin sangat membuatmu jengkel."



"Jay bahkan meneleponku, dia memintaku untuk akur denganmu!"



Sebagai seorang ibu, wajar bagi Celine untuk emosional. Putra yang sangat ia sayangi, yang juga ia lahirkan di usia muda sudah pergi di usia yang lebih muda darinya.



Rintihan tangis dari segala emosi yang ada dalam batin bercampur dengan air hujan yang membanjiri menandakan jejak duka yang sangat perih.



"Kakek, tolong biarkan tante Celine untuk lebih tenang." Eric menemani sang kakek, ia juga merasa sangat kehilangan. Seperti mimpi buruk.



Nuri mengenakan selendang berwarna abu tua. Beberapa kolega Jay menyapanya. Sebagian merasa terkejut, sebagian lagi sudah pernah bertemu dengannya.



"Terima kasih," ia merasa bersyukur banyak yang datang ke pemakaman sang suami.



"Kamu istri Jay?"



Nuri mengangguk pelan. Ia baru bertemu dengan dua wanita dengan gaun hitam yang elegan. "Kalian teman sekolah atau kuliah Jay?"



"Kami teman sekolah Jay. Kami ikut berbela sungkawa."



Nuri dapat memastikan kalau kerabat Jay bukanlah orang biasa. Mereka adalah orang-orang kaya, terhormat dan sangat berkelas.

__ADS_1



"Saat kami sekolah, Jay adalah salah satu murid tertampan di asrama. Kamu beruntung menikah dengannya."



Sangat. Nuri merasa sangat beruntung. "Hmm, dia pasti sangat mempesona."



Keluarga Nuri sudah pulang ke Indonesia. Hanya Chacha, Candra dan Raka yang masih menemaninya.



"Makasih ya Cha, Chand, Ka." Nuri menyalami ketiga teman terbaiknya. "Kalian udah dateng ke acara pemakaman suami gue."



"Kita temen, Ri. Akan selalu ada buat lo." Raka memberi senyum tulus. Meski mereka dulu pernah saling mencintai.



"Lo harus tegar." Candra menyemangati Nuri. "Lo biasanya kan makan seblak bareng kita!"



Berkat kehadiran teman dekat, keadaan Nuri mulai membaik. Keluarga besar Jay juga sangat baik.



"Kabari kami ya." Kakek dan Nenek Jay juga berpamitan. Mereka ada pertemuan penting di Jeju lusa.



"Hubungi Paman dan Bibi juga."



"Hana akan datang berkunjung." Paman Jang memegang tangan Nuri. "Bersabarlah, Nak." Ia memiliki dua anak perempuan, ia lebih peka daripada ayah Jay.



"Terima kasih semuanya." Nuri membungkuk, ia belajar dari Jay cafa mengucapkan dengan elegan.



"Celine sudah pergi bersama bayi mereka. Ayah Jay sudah menunda banyak rapat penting. Maafkan mereka ya." Nenek Jay, dia sangatlah baik. Sosok nenek yang selalu Nuri idamkan.



"Terima kasih, Nek." Nuri memeluknya erat.



Setelah semua orang yang lelah beristirahat. Nuri diam-diam pergi ke lantai tiga. Di ruangan pribadi Jay, dekat perpustakaan mini miliknya. Nuri menemukan banyak kejutan.



"Jay... "



Nuri duduk di sofa, ia membuka buku album kenangan masa SMA milik suaminya. "Imut sekali."




Sekolah mahal memang berbeda. Perbedaan yang sangat kentara adalah seragam. "Berapa juta harga seragam kamu, Jay?"



Jay menyimpan foto-foto masa SMA dalam satu buku besar bertuliskan "Memoria".



"Athena?" Nuri juga melihat foto Jay dan Athena yang sedang tertawa riang di dekat lapangan basket.



"Louis dulu seperti ini?" Nuri terkejut melihat penampilan jabrik Louis di masa lalu. "Jamet banget."



Lalu ada satu foto yang lumayan mencuri perhatian Nuri. Jay berforo dengan kakak kelas laki-laki. Tapi, di belakang foto ia menuliskan tulisan "Sunbae, gumawo!"



"Aku baru melihat orang ini. Dia juga tidak datang ke pemakaman Jay." Wajah dingin dengan tatapan mata tajam. "Padahal dia tampan, tapi kenapa terlihat kejam?"



Lagi, Nuri menemukan foto Jay dengan senior kesukaannya di masa kuliah. "Dia lagi?"



"Siapa si orang ini? Jay kelihatannya sangat dekat dengan dia, dari SMA sampe kuliah juga bareng dia."



Jay tidak pernah membahas tentang kakak kelas, yang ia bahas adalah masa sekolah yang indah dengan cinta pertamanya, Athena.



Beranjak dari bangku, Nuri lalu mengambil acak salah satu foto dari kotak berwarna coklat tua dengan tulisan "Graduate".



"Dia lagi?" Nuri mulai curiga, sedekat apa hubungan mereka. Apa mungkin mereka bertengkar, karena Jay tipikal orang yang malas membahas seseorang yang menyakitinya.



Jay tampak bahagia setelah lulus S1 dari kampus Stanford, senior kesukaannya juga datang. Pria dingin itu mengenakan pakaian biru dengan celana krem. "Apa dia kakak Jay?"



Nuri mengacak-acak isi karton, ia menemukan sebuah memo dengan tulisan yang sangat rapi.



"Jay, kamu sudah lulus ya, selamat adikku."



Melotot tanpa henti. Nuri sangat terkejut, bagaimana bisa seperti ini? Sejak kapan Jay memiliki seorang kakak selain Eric dan Danny? Benar-benar plot twist dalam sebuah kisah keluarga.


__ADS_1


Nuri tidak bisa hanya duduk dan menebak-nebak hubungan mereka itu apa. Ia langsung menanyakan kepada Eric.



"Siapa dia? Apa kamu mengenalnya, Eric?" Nuri memperlihatkan foto Jay dengan seniornya.



Eric tertawa kecil, "Kamu jangan berpikir hal aneh."



"Aku percaya Jay normal, cuma ini. Apa dia kakak Jay?"



Eric sebenarnya juga mengenal pria dalam foto. "Dia adalah alasan Jay bertarung dalam dunia bisnis yang kejam. Sepupu jauh Jay, dia adalah... "



Obrolan tengah malam Eric dan Nuri terganggu. Seseorang mengetuk pintu pelan, tapi terdengar suara mobil di depan rumah.



"Aku saja." Eric bergegas menuju lantai bawah, ia membukakan pintu.



"Wah, siapa ini?" Eric menyindir, ia belum membuka pintu sepenuhnya. "Apa tuan muda kita sudah kembali?"



"Berisik!"



Pria dengan mantel berwarna krem itu, langsung duduk di sofa. Ia tidak banyak bicara usai mengunjungi makam sang adik di malam hari.



"Apa kamu pernah bertanya betapa berat beban yang kamu berikan untuk Jay selama ini?" Eric sudah lama menantikan momen ini, dia ingin sekali memukul pria yang sedang duduk itu. "Tapi, Jay tidak pernah membencimu."



"Aku... "



Eric mengambil sebotol anggur mahal dari lemari. Nuri tidak mendekat, ia hanya menguping dari kamar tamu.



"Maafkan aku, Jay... " suaranya berat dan terasa sesak.



"Minumlah."



"Aku terlalu memaksakan semuanya."



"Kamu tahu, Jack? Adik kecil kita selalu bilang, berhentilah terlalu banyak minum anggur."



Namanya adalah Jack, cucu dari kakak kakek Jay. "Belum lama ini aku bertanya. Bagaimana kehidupan setelah menikah? Dia bilang sangat indah, dia memiliki istri yang sangat menggemaskan dan cantik."



"Nuri adalah wanita pertama yang membuat Jay merasa hidup."



"Aku baru melihat istrinya di foto. Kamu mengenalnya?"



"Dia ada di lantai dua. Besok saja kita berbincang dengannya. Biarkan Nuri istirahat."



Tidak. Nuri tidak bisa terlelap. Ia justru menguping dari balik pintu kamar tamu. Sepertinya, lelaki bernama Jack itu memang akrab dengan Jay.



"Arthur bilang padaku, ia sedang menemui keluarga wanita yang Jay selamatkan."



"Kakekku juga sudah bertemu dengan mereka. Kita tidak boleh menyalahkannya kan?"



Jack menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ia sedang memikirkan banyak hal. Penyesalan tidak memberi selamat atas pernikahan sang adik. "Maafkan kakakmu ini, Jay."



Nuri membungkam mulutnya, ia menangis. Semakin larut mendengar percakapan kedua kakak Jay membuat dadanya sesak. Jay begitu istimewa di mata mereka. "Jay, sayangku... " ia terus mengucapkan nama suaminya, memanggilnya dalam diam.



"Ini saat yang tepat kan Jack untuk memberitahu semua orang kamu adalah pemilik J.J selain Jay?"



Nuri hanya pernah mendengar Jay mengatakan sosok atasan yang sesungguhnya. "Aku juga punya atasan. Dia sedikit lebih berkuasa dari kakek, dia sangatlah legenda."



"Apa kamu masih galau setelah bercerai tiga tahun lalu?"



Nuri membuka pintu kamar di ruang tamu, matanya masih sembab karena menangis. "Maaf, aku menganggu kalian."



Jack beralih dari yang awalnya sedang menikmati segelas anggur, ia menatap lama istri adik sepupunya. "Tentu, tidak. Apa kamu Nuri?"



"*Aku pernah melihat orang ini."


__ADS_1


Bersambung*...


__ADS_2